NovelToon NovelToon
Mama

Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Action / Misteri / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika
Popularitas:51.6k
Nilai: 5
Nama Author: Arina rizqin

"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"

Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.

Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.

"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.

"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.

"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.

Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Mama 30

Nanda sedang menunggu kedatangan Rida, dengan Rara yang sedang menyantap makanan yang dipesan dengan lahap. Sampai membuat mulutnya belepotan.

Dia hanya duduk menatap Rara yang terlihat menggemaskan dengan tangan memangku kepala.

"Kak Nanda!" ketus Andin saat ia melihat Nanda tengah duduk di hadapan seorang balita.

"Andin." Nanda langsung berdiri saat mendapati kedatangan adik sepupunya dengan Rida di sebelahnya.

"Rara," panggil Rida seraya berjongkok.

"Mama!" seru Rara setelah mendengar panggilan sang mama.

Rara turun dari kursi dan langsung menerjang mamanya dengan pelukan kerinduan yang mendalam. Isak tangis terdengar dari bibir balita tersebut.

"Rara kangen, Mama," ucapnya seraya mengeratkan pelukan pada Rida.

"Mama juga kangen, Rara." Ibu dan anak itu saling melepaskan rindu dengan pelukan mendalam. Sedangkan Andin yang menyaksikannya menyeka air mata terharu.

"Andin kecewa sama, Kakak," bisik Andin tepat di telinga sang kakak sepupu. Nanda yang mendengarnya bergidik ngeri.

Bisa bahaya kalau adik sepupunya itu sampai membuka mulut soal perbuatannya pada sang paman.

"Udah ya, Sayang. Jangan nangis lagi. Sekarang Mama udah di sini," ucapnya guna menenangkan sang buat hati yang menangis terisak-isak.

"Kak," panggil Andin dengan tangan yang menyentuh puncak Rida.

"Maaf, Andin. Aku malah melupakan keberadaanmu," kata ibu beranak satu itu.

"Tidak apa-apa, Ka. Pasti Kakak sangat rindu sekali dengannya." Andin memberi pengertian pada wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak. "lebih baik Kakak bawa pulang saja, Rara. Pasti dia lelah. Lain kali aku akan berkunjung untuk bermain dengannya."

Rida langsung meraih Rara ke dalam pelukannya. Ia berpamitan sejenak pada Andin juga Nanda? Ah, lebih tepatnya hanya trenggilingtersenyum kecil sebagai tanda kecewa dan bahagia secara bersamaan karena Nanda tidak menyakiti anaknya juga kecewa karena Nanda berani menculik Rara.

"Kami pergi dulu, ya. Sampai jumpa nanti, Andin," pamitnya sambil tersenyum sebelum akhirnya benar-benar berpisah.

"Sampai jumpa, Kak." Andin memberikan kiss bye pada kedua orang itu.

Usai kepergian Rida juga anaknya, Andin bergegas duduk dan meminum minuman milik Rara yang tak sempat habis.

"Ah, akhirnya rasa haus ini menghilang." Setelahnya Andin langsung menatap Nanda dengan sinis. "Kau! Bedebah! MMengapa kau tega sekali menculik anaknya kak Rida!" Murka Andin sembari meremas tisu di tangannya untuk meredam amarah.

"Andin, ak--"

"Stop it! Don't say anything. Aku akan memberitahu Papa tentang perbuatan tak beradab ini," ancamnya. Andin merasa sangat geram pada pria di hadapannya itu.

"Don't! Please, don't do that, Andin." Nanda menahan tangan Andin yang siap untuk menekan nomor sang papa.

Mata pria berbaju putih itu nampak berair, tangannya menyatu membentuk sebuah ucapan permintaan maaf. Ia menggenggam tangan Andin dengan erat.

"Aku mohon padamu, An. Kau tau betul betapa mengerikannya om Danu, tidak ada yang bisa meredam amarahnya. Aku tidak berani menghadapi kemarahannya." Nanda terus memohon, membuat Andin merasa iba saat melihat wajah memelas kakak sepupunya.

"Astaga! Mengapa aku mudah sekali memberi maaf dan sulit sekali melihat orang terdekatku memelas seperti ini? Ya, Tuhan." Andin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

"Baiklah, aku tidak akan memberitahu papa soal ini. Tetapi, ada harga yang harus kau bayar untuk itu," ucap Andin menyeringai.

"Apapun akan aku lakukan," kata Nanda cepat setelah mendengar perkataan perempuan berambut sepinggang itu.

...***...

Bara menyaksikan Rida menggendong tubuh anaknya yang tertidur keluar dari dalam taxi. Ia sudah berdiri di depan lobi, saat mendapatkan pesan dari Rida ia bergegas menunggu di sana.

Saat Rida berjalan ke dalam apartemen, Bara langsung sigap berdiri di samping wanita tersebut.

"Berikan Rara padaku, biar aku yang membawanya." Bara ingin mengambil alih tubuh Rara, tetapi Rida langsung menghentikannya.

"Biar aku saja, nanti dia terbangun kalau pindah tangan. Tolong berjalanlah di depanku, aku butuh bantuanmu untuk membuka lift dan pintu." Bara mengangguk. Ia langsung berbalik dan berjalan memimpin.

Mereka hanya diam tanpa berniat mengeluarkan suara. Keduanya bungkam, seperti tidak ada pembahasan yang menarik untuk dibahas.

Sampai di depan pintu apartemen, Bara bergegas membuka pintu untuk Rida dan anaknya. Rida memasuki apartemennya dan segera berjalan ke kamar untuk menidurkan sang anak di sana.

Dengan hati-hati Rida menaruh Rara agar tidak terbangun. Ia tidak ingin kalau sampai Rara merasa terganggu dan akhirnya terbangun.

Tidur yang nyenyak, Sayang. Batin Rida.

"Astaga," gumamnya terkejut saat melihat Bara berdiri di depan pintu kamarnya.

Ia keluar kamar dan menutupnya dengan pelan, hingga tidak menimbulkan suara apapun.

"Aku perlu bicara denganmu." Rida berjalan mendahului Bara menuju balkon apartemen.

"Silakan," ucapnya mempersilakan.

"Kau sudah memastikan perihal akta cerai kita?" tanya Bara to the point.

"Sudah," jawab Rida sambil menunduk. Ia takut. Ia takut kalau Bara berperilaku seperti saat di rumah sakit lagi.

"Jadi, kau mau bagaimana?"

"Maksudnya?" Rida bertanya balik.

"Kau mau kita benar-benar bercerai atau mempertahankan hubungan ini?" Rida seolah-olah diberi pilihan antara ibu dan ayah.

Di satu sisi ia masih mencintai Bara, di sisi lain ia takut tersakiti lagi. Ia trauma pada kejadian beberapa bulan lalu. Rasa nyeri tamparan masih membekas di hatinya, karena yang menamparnya adalah pria yang ia cintai.

Kalau ia ingin egois, ia ingin sekali memilih untuk bercerai. Tetapi, bagaimana dengan nasib Rara kedepannya? Apakah ia tega melihat Rara tumbuh besar menjadi anak broken home?

Tidak! Rida tidak mampu melihatnya. Tetapi, Rida juga butuh waktu untuk memikirkan segalanya. Ia harus berpikir jernih, agar tidak menyesali pilihannya di masa mendatang.

"Hei?" Bara menyadarkan Rida dari lamunannya. "bagaimana?" Bara mengulangi pertanyaannya.

"Berikan aku waktu, aku butuh memikirkan semuanya dengan matang." Bara mendesah kecewa. Ia pikir Rida akan langsung menerimanya kembali. Namun, setelah apa yang ia lakukan pada istrinya saat di rumah sakit waktu itu, akankah Rida tetap memilih untuk mempertahankan hubungan mereka?

Tetapi, Bara sungguh menyesali perbuatannya. Katakanlah ia tak tahu diri, setelah memperlakukan Rida dengan seenak hati, ia kembali untuk meminta Rida bertahan walaupun ia tahu kalau sudah menyakiti Rida terlalu dalam.

"Sepertinya langit mulai mendung, pulanglah. Hujan akan turun sebentar lagi." Langit memang gelap sekali, menandakan air dari langit yang siap tumpah ke bumi.

"Aku ingin menungggu Rara bang---"

"Masih ada hari esok, lagi pula Rara sedang tidur. Besok kau bisa datang kemari untuk menjenguknya." Bara sudah tidak bisa lagi mencari alasan untuk tetap bertahan di sana, akhirnya dengan terpaksa ia melangkah pegi meninggalkan apartemen yang menjadi tempat tinggal dua orang yang ia sayangi.

Ia menarik napas berat, lalu membuangnya sembari mendengus. Astaga! Sakit sekali diperlakukan seperti ini. Batinnya.

"Aku akan pergi, tolong jaga Rara dengan baik."

"Tenang, aku akan menjaganya dengan baik. Aju juga seorang ibu, aku paham dengan tugasku."

Merasa tak ada yang perlu dibicarakan lagi, Rida langsung menutup pintu apartemen usai Bara keluar dari sana.

...$$$...

1
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
belum jd istri sah uda berlagak. kujambak nanti kau ya nadia
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
semoga saja berhasil biar terbongkar tuh kebusukan Nadia.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
ayo Rida ungkap sampai tuntas
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
hilih, kesal sama Nadia. tega banget ngefitnah orang...
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
katanya ga selingkuh tapi sauang2an. apa sih ini orang? ngajak ribut??
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
suami istri sibuk dgn dunia masing-masing sehingga anaklah yg terbengkalai.
🅰🅽🅰 Ig: meqou.te
aku kok ya kasian sama bayinya.
Yusniar Zebua
lanjut
Wani Ikhwani
GWS mbak
ditunggu lanjutannya
A2NNALUP: Terima kasih, Ka. 💚
total 1 replies
Sh❤️≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ
jejak like dlu
Rahmalia Maricar
udah mampir ya like komen rate bintang 5 💞
ʀ𝖍𝒚𝖓𝖆
makin penasaran aku
Yusniar Zebua
lanjut
Eka
nyimak
Elfrina Tinambunan
up nya jangan dikit2 dan lama thor.. suka ceritanya
Herlin Herlina Herlin Her
lanjut thor,
Yusniar Zebua
lanjut
Rizqi
tetap semangat ya...
HIATUS
mampir sayang semangat
A2NNALUP: Makasih, Ka Dhe. 💜
total 1 replies
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!