Hasrat seorang Casanova tiba-tiba saja menggelora tatkala dirinya bertemu dengan seorang model pakaian dalam di sebuah lift.
Namun, tak disangka wanita itu justru memukul wajahnya dengan sebuah tas besar.
"Kau memperlihatkan anggota tubuhmu di berbagai majalah dan media, bisa-bisanya kau menolak tidur denganku!"
"Aku begini untuk bekerja, bukan untuk menjual diri!"
bagaimanakah perjalanan Sang Casanova mendapatkan wanita incarannya?
Instagraam: @iraurah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iraurah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih Diingatan
Sudah berulang kali Bella mencoba menelpon Sofia, tapi tak satupun panggilan Bella yang diangkat.
Bella juga sudah mencari Sofia ke perusahaan dan rumah tempat tinggal Sofia, tetapi Sofia tak ada dimana-mana.
Sepertinya Bella harus menunda waktu untuk bertemu dengan sahabatnya tersebut, Sofia mungkin butuh waktu menenangkan diri, Bella harap ada kabar baik yang Sofia bawa ketika bertemu nanti.
Kini Bella dan Olivia pun memutuskan pulang, mereka sangat lelah hari ini. Kejadian tadi siang membuat keduanya mumet dan tak bersemangat melanjutkan aktivitas hingga sore menjelang.
Di dalam mobil Olivia dan Bella nampak terlihat lesu, Bella bahkan sudah tak bertenaga untuk sekedar duduk dengan tegak.
"Kak, aku ingin tanya sesuatu" Ujar Olivia yang sedang mengemudikan mobil.
"Hmm... Apa?" Gumam Bella malas.
"Apa benar kakak hampir diperkosa oleh CEO dari perusahaan Fernando'z Group?" Tanyanya.
Manik Bella seketika terjaga, ia lupa jika Olivia pasti mendengar obrolan tadi. Astaga... Apa yang harus Bella katakan? Ia harus mencegah Olivia agar tidak menyebarkan gosip ini kepada orang tua mereka!
"T-tidak.... Kau pasti salah dengar" Elak Bella.
"Halahhh..... Kakak tidak usah berpura-pura lagi, aku dengar dengan mata kepala ku sendiri. Kenapa kakak menutupi ini dari kami?" Desak Olivia menuntut kejujuran.
"S-siapa yang menutupi?! Aku tidak menutupi apapun" Jawab Bella berbohong.
"Ish kakak memang tidak pernah jujur! Kapan dia melakukan itu pada kakak?"
"Sudahlah... Anak kecil seperti mu tidak usah ikut campur" Ujar Bella tak ingin meneruskan pembicaraan.
"Atau jangan-jangan saat kakak tidak pulang ke rumah ya??? Oh... Iya benar! Jadi kakak berbohong pada kami semua? Kakak beralasan menginap di rumah teman karena sebenarnya kakak sedang bersama Om-om itu?" Tebak Olivia heboh.
"Kau ini kepo sekali sih?! Sudahlah, menyetir saja yang benar" Suruh Bella berusaha mengalihkan topik pembahasan.
"Wahhh....... Jadi benar? Kalau memom dan dan daddy tau mereka pasti menuntut penjelasan dari kakak loh" Ucap Olivia memanas-manasi.
Bella terperanjat, ia langsung melayangkan tatapan tajam pada saudara perempuan nya itu.
"Jangan coba-coba memberitahu memom ataupun daddy, awas saja! Aku bisa meminta Sofia untuk memindahkan tugas magang mu" Balas Bella penuh ancaman.
Olivia membulatkan netra hitamnya, ancaman Bella sungguh membuat Olivia kalah telak.
"Jangan kak! Aku janji aku tidak akan memberitahu mereka, janji!" Kata Olivia mencegah.
Bella menyunggingkan senyum kemenangan, selain dengan uang Olivia juga pasti akan menurut oleh ancaman.
"Baguslah"
"Lagipula memom dan daddy sebentar lagi akan pergi" Tambah Olivia.
Bella menoleh sembari mengerutkan dahinya, belum tau ada informasi terbaru apa seputar keluarganya itu.
"Memangnya mereka akan kemana?"
"Loh kakak tidak tahu? Memom dan daddy akan melanjutkan Tour nya yang kedua. Mereka sudah menyiapkan segala kebutuhan yang harus dibawa" Jelas Olivia lebih detail.
"Tour?? Are you serious? Oh My God.... Aku ingin sekali ikut" Lirih bella kecewa.
"Kenapa tidak ikut saja?"
"Tidak mungkin, akhir-akhir ini aku banyak jadwal pemotretan. Pastinya tidak akan ada waktu untuk berlibur" Keluhnya lagi.
"Sayang sekali, padahal jika kakak ikut siapa tau kakak akan bertemu dengan lelaki yang hilang itu" Sindir Olivia begitu tepat sasaran.
Gadis itu melirik sedikit ke arah sang kakak yang mendadak murung mendengar sindirannya.
Olivia tau apa yang kini tengah dirasakan oleh Bella, sudah beberapa tahun berlalu tetapi luka itu masih membekas di hati wanita cantik yang sekarang duduk di sebelahnya.
Hening.
Hening.
Hening.
Beberapa saat mereka kembali terdiam, mengatur suasana yang terasa sesak dan pengap.
"Kenapa kakak tidak membuka hati kakak untuk pria lain?" Ujar sang adik.
"Dari dulu aku tidak menutupi hatiku untuk siapapun, tapi memang belum ada yang pas saat ini. Entahlah... Aku juga tidak mau terlalu terburu-buru"