Azqia Azara, di angkat menjadi seorang putri oleh pengusaha kaya raya di usianya yang kala itu baru menginjak 10 tahun.
Selama tujuh tahun bersama, gadis cantik yang sering di panggil Ayana rupanya diam-diam menyimpan perasaan terhadap sosok ayah angkatnya tersebut.
Bagaimana reaksi pria itu kala mengetahui fakta anak perempuan yang ia angkat menjadi putrinya justru menyukainya bukan sebatas adanya hubungan ayah dan anak, melainkan sebuah perasaan suka layaknya wanita normal pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SantikaKumala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DILY Bab 30 ~ Marah Tak Beralasan
Selama melihat matahari terbenam, Ritz terus diam dengan wajah yang di tekuk.
Rasa kesal, cemburu dan marah masih pria itu rasakan hanya karena kehadiran pria asing yang tiba-tiba mengganggu gadis kecil kesayangannya.
Ayana yang tahu justru memilih diam dan fokus melihat matahari terbenam, bayangan wajah masam dan nada cemburu sang Daddy membuat hatinya seakan terbang ke langit.
Selama ini Ayana belum pernah melihat sisi cemburu Ritz, terlebih pria asing yang tadi mengganggunya bisa di bilang tampan dan memiliki postur tubuh yang mendekati sempurna. Tetapi, tidak bisa mengalahkan kesempurnaan yang di miliki pria tampan kesayangannya itu.
Waktu melihat matahari terbenam telah habis, saatnya mereka kembali ke Vila. Mengingat hari sudah mulai gelap.
Belum sempat Ayana meminta bantuan pada Ritz, nyatanya pria itu lebih dulu pergi meninggalkannya yang masih dalam posisi duduk di rerumputan.
"Sumpah demi apa, aku malah di tinggal Daddy." Kaget Ayana tidak percaya
"Daddy kenapa sih main pergi ajah, apa ia lupa ada bidadari cantik jelita yang mungkin saja di culik orang?"
"Dasar pria ngga ada romantis-romantisnya, cuma masalah gitu doang aku nya di diemin. Giliran ada maunya baru pura-pura cari alasan."
Ayana terus mengomel tanpa henti selama perjalanan menuju mobil.
Ritz yang belum sadar telah meninggalkan putrinya di tempat melihat matahari terbenam, terus saja melangkah cepat sampai di parkiran. Ia segera masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakannya.
Kesadarannya muncul setelah tanpa sengaja melirik ke arah kursi samping kemudi tidak ada Ayana di sana.
"Ya ampun, apa yang telah aku lakukan? Kenapa aku bisa melupakannya, ini semua gara-gara pria sialan itu. Awas saja jika sampai bertemu lagi, akan aku buat hidupnya tidak tenang jika masih mengganggu gadis kecil ku." Umpat Ritz kembali keluar dari mobil untuk mencari putrinya
Baru saja pria itu menutup pintu mobil, dari arah jauh Ayana berjalan pelan dengan mulut terus mengomel. Wajah cantiknya sampai terlihat lucu dan menggemaskan ketika sedang kesal.
"Ayana sayang, maaf tadi Daddy--,"
"Ngga usah banyak alasan, bilang ajah kalau sengaja ninggalin Ayana kan? Biar di culik sama tuh pria asing tadi, lumayan juga sih lagian orangnya tampan dan postur tubuhnya tidak buruk juga." Selak Ayana langsung memotong ucapan Daddy nya
Ritz yang masih merasakan kesal dan cemburu, berubah jadi emosi mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya.
"Bagus, senang banget ya di dekatin pria asing." Sindir Ritz dengan tatapan tajam
"Lah, bukannya tadi Daddy sendiri yang ninggalin Ayana di sana? Itu artinya Daddy sengaja kan, biar Ayana ketemu lagi sama tuh pria asing." Sahut Ayana santai
"Cukup!" Ritz segera menyalakan mesin mobil
Sepanjang perjalanan pulang ke Vila, antara anak dan ayah tersebut tidak ada yang buka suara sekedar mengobrol demi menghilangkan rasa bosan.
Tidak sampai dua puluh menit mobil yang di kendarai Ritz akhirnya sampai juga di Vila, kereta besi itu hanya di parkir Ritz sembarangan padahal sudah ada garasi khusus tempat parkir mobil.
Brak
Ritz keluar dari mobil lebih dulu seraya menutup keras pintunya.
Ayana sampai di buat kaget dengan kelakuan aneh pria itu.
"Wah, ngajak ribut kayaknya. Memangnya di kira aku ngga bisa marah apa, ini ceritanya yang salah siapa terus yang harusnya marah itu siapa?" Gumamnya pelan sembari keluar dari mobil
Dengan langkah kaki santai, Ayana masuk ke dalam Vila dan langsung saja menuju kamar.
Rasa gerah dan lengket membuatnya harus cepat-cepat membersihkan diri, apalagi waktu Maghrib hampir tiba.
Usai membersihkan diri dan berganti pakaian, Ayana menunaikan ibadah sholat Maghrib terlebih dahulu, meski tidak semua waktu dia kerjakan setiap hari, paling tidak ada dua atau tiga waktu mampu Ayana tunaikan untuk bersujud pada sang pencipta.
Bukan termasuk dalam golongan orang-orang yang solehah, atau pintar dalam ilmu agama. Paling tidak Ayana masih bisa mengerjakan apa yang di perintahkan sang pencipta serta menjauhi apa yang di larang.
Sehabis sholat, Ayana keluar dari kamar menuju ruang bersantai. Masih ada satu jam lebih sebelum makan malam tiba, dengan santainya gadis itu duduk bersandar di sofa panjang sembari bermain ponsel.
Seperti biasa, Ayana selalu berbalas pesan dengan sahabatnya, Letta. Ada saja yang di bahas kedua gadis itu, termasuk membicarakan soal Ritz.
#Isi Percakapan
@Letta
[Gimana sikap Om Ritz ke kamu, Aya? Ngga ada yang aneh-aneh kan?]
[Atau jangan-jangan ada yang kamu sembunyiin dari aku]
[Awas ajah kalau sampai ada yang ngga beres, aku akan buat perhitungan dengan Om Ritz]
[Eeh, tapi ngga mungkin juga sih, kalau Om Ritz sampai ngelakuin hal yang membuat kamu malah akan membencinya]
[Tahu aaa, malas aku mikirin yang tidak-tidak]
@Ayana
[Aman terkendali pokoknya, tapi ada yang mau aku ceritain ke kamu]
[Tadi aku minta Daddy jalan-jalan keluar Vila, aku pengen banget lihat matahari terbenam. Jadi deh kita keluar meski harus ada drama dulu sebelum pergi]
[Terus, pada saat kita sudah sampai di tempat tujuan, aku di biarkan pergi lebih dulu sementara Daddy masih berada di parkiran. Dan kamu tahu apa yang aku alami?]
[Aku tiba-tiba saja di samperin pria asing yang sok kenal dan akrab gitu, kebayang ngga sih gimana kesalnya aku dengan kehadirannya]
[Belum lagi di tambah Daddy yang belum juga kelihatan batang hidungnya, aku sampai kehabisan akal ngga tahu mau ngomong apa lagi sama tuh orang]
[Untung ajah Daddy sudah datang meski telat, katanya ketemu dengan sahabatnya di tempat parkir]
@Letta
[Terus, terus. Tuh pria asing yang kamu bilang tadi ngga di apa-apain kan sama Om Ritz?]
[Gila, nekat juga ya tuh orang samperin kamu. Apa jangan-jangan pas lihat kamu yang cantik ngga ada obat, pria itu langsung terpesona. Eyyaa]
[Ngga sampai ada pertengkaran yang terjadi kan?]
@Ayana
[Masih sok kepedean pengen bangat bisa kenal sama aku, tapi pas lihat Daddy udah kayak mau makan orang nyalinya langsung menciut]
[Aku kaget bangat tahu, Taa. Baru kali ini aku lihat Daddy cemburu dan marah cuma gara-gara pria asing itu]
##
Belum selesai Ayana membalas pesan sahabatnya, tiba-tiba saja ada panggilan masuk entah dari siapa.
"Hallo."
[Dasar adik nakal, lagi liburan Kakak ngga di ajak]
"Haha, maaf Kak. Kemarin Ayana liburan emang ngga di rencanain, tiba-tiba ajah di ajak Daddy."
[Lain kali kalau mau liburan Kakak di ajak juga, bosan tiap hari diam di rumah mana Kakak ipar mu itu posesifnya minta ampun]
"Siap Kakak sayang, tenang ajah. Lain kali Ayana pasti ajak Kakak. OK!"
Sambungan telefon langsung terputus karena orang yang berbicara dengan Ayana kedatangan tamu penting.
Ayana tidak sadar percakapannya dengan seseorang di telefon barusan ternyata di dengar Ritz, tetapi pria itu tidak tahu dengan siapa Ayana berbicara.
Belum juga emosinya hilang hanya karena masalah yang tidak terlalu penting, sekarang malah bertambah saat tidak sengaja mendengar putrinya begitu mesra berbicara dengan seseorang lewat sambungan telefon.
_Sudah cukup, aku tidak tahan lagi_. Geram Ritz berbicara dalam hati
Langkah kaki panjangnya terus mendekat ke arah sang putri yang masih setia duduk di sofa panjang, dengan nada penuh emosi Ritz angkat bicara.
"Kemarikan ponsel mu!" Pintanya tanpa basa basi
Ayana sampai kaget melihat kedatangan Ritz yang tidak dia sadari.
"Loh, Daddy kenapa? Tumben mau lihat ponsel Ayana?" Sahutnya keheranan
"Kemarikan atau Daddy akan marah pada mu!" Ancam Ritz tidak peduli dengan raut wajah bingung putrinya
"Daddy kenapa sih? Datang langsung marah-marah ngga jelas, mana minta ponsel Ayana pakai wajah masam begitu lagi." Protes gadis itu tidak suka
"Nih, ambil ponselnya sekalian ajah di makan biar marahnya ikut hilang. Heran banget deh, ngga ada hujan, ngga ada angin tapi kerjaannya pasang wajah dingin sama marah-marah mulu. Daddy tahu ngga sih, marahnya Daddy tuh ngga beralasan banget."
Ayana balik mengomel tidak peduli sudah semasam apa wajah Ritz sekarang.
"Untung sayang, kalau ngga udah Ayana sumpal pakai cabai buatan Bi Nani tuh mulut Daddy." Lanjutnya seraya bangkit dari duduk meninggalkan pria tampan yang melongo tidak percaya ternyata putrinya berani balik memarahinya
Ayana benar-benar di buat kesal, marahnya sang Daddy yang tidak beralasan sungguh baru pertama kali di lihatnya. Terlebih dia sendiri tidak tahu penyebab pria tampan kesayangannya itu tiba-tiba saja marah.