Sebelum baca, like, kasih gift, komentar dan vote ya.😉
Reuni seharusnya jadi ajang silaturahim, tapi tidak bagi Novan dan Haris. Mereka ikut reuni untuk menjawab tantangan Andre musuh bebuyutannya sejak SMP, yaitu syarat hadir Reuni harus membawa pacar, dan bukan bohongan. Sialnya, tantangan itu datang ketika Novan baru saja putus, sedangkan Haris masih juga jomblo.
Novan dan Haris tidak ingin kalah. Berbagai cara dilakukan, mulai dari mencari di dunia maya instagram, facebook, tiktok, twitter, bahkan sampai ikut kelas motivasi, tapi selalu saja gagal.
Apakah Novan dan Haris berhasil dapat pacar dan bisa datang ke acara Reuni sekaligus mengalahkan Andre? Baca kisah seru dan kocak mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laode Insan & Sungkono Pastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Mimpi Jorok
Waktu terus bergulir. Novan dan Haris semakin merasa terdesak dengan tantangan yang diberikan Andre. Di satu sisi, mereka berdua sempat beberapa kali tanpa sengaja bertemu Andre yang menyibir karena Haris dan Novan belum juga dapat pacar.
“Ciiieee ... yang dulu ngaku playboy, sekarang masih jomblo,” ejek Andre ketika siang ini mereka kembali bertemu tanpa sengaja.
Kata-kata yang diucapkan Andre cukup jelas dan terekam kuat di benak Novan dan Haris, menyesakkan dada.
Saat ini di depan salah satu kedai makan yang ada di sebelah pojok dalam mall tidak begitu ramai, hanya beberapa orang melintas. Tapi Novan dan Haris tetap saja merasa malu ketika mendengar perkataan Andre karena harga dirinya sebagai lelaki serasa dikoyak-koyak. Apalagi pertemuan tidak sengaja di Mall ini semakin menyiksa batin karena waktu deadline tantangan reuni sudah dekat, sedangkan Novan dan Haris belum juga dapat pacar.
“Kalau nanti sampai waktu reuni lo masih jomblo juga, gagal dapetin pacar, mending lo berdua pake rok saja, iya nggak?” jelas Andre mengejek. Saat ini ia bicara penuh percaya diri sambil tertawa bersama Sheila dan beberapa teman gadis geng mereka di SMA yang sekarang sedang jalan bersama.
Walau ikut tertawa, tapi Sheila diam-diam seperti ada sesuatu yang tersembunyi di dalam hatinya ketika melihat Novan. Perasaan ingin balas dendam bercampur benci tapi rindu.
Novan dan Haris hanya memendam rasa kesal dalam hati, hampir saja ia ingin meladeni perkataan Andre, bahkan tangan Haris sudah mengepal ingin mengajak berantem tapi ditahan Novan. Pertengkaran batal terjadi karena Novan tidak ingin memancing keributan di dalam Mall.
Kemudian Andre dan Sheila menghampiri sejenak salah satu pelayan gerai makan yang berdiri di depan pintu masuk, berjarak lima meter dari tempat mereka. Ia ingin menanyakan meja kosong yang tersedia.
“Ris, kayaknya kita harus hati-hati juga dengan Sheila. Dia sekarang beda, tidak seperti dulu saat SMA. Lagipula kita hanya berteman beberapa bulan di kelas satu karena dia waktu itu pindah sekolah. Sepertinya dia jadi musuh dalam selimut, diam-diam dia membantu Andre karena pacarnya. Apalagi usaha kita selalu gagal,” jelas Novan agak berbisik dekat telinga Haris.
“Iya juga ya, Sheila kan sudah dua minggu ini pindah kos di kosan pak Mali,” sahut Haris.
“Iya makanya, Gue juga baru sadar. Pantas gerak-gerik kita selama ini seperti ketahuan Andre. Mulai sekarang kita harus menjaga rahasia, rencana kita jangan sampai ketahuan, termasuk Sheila. Gue juga akan coba sekali untuk bisa bicara sama dia dan bertindak seolah-olah kita nggak tahu kalau dia mata-mata Andre,” jelas Novan serius sambil berbisik pelan ke Haris.
Pertemuan tidak sengaja ini sebenarnya pertemuan yang sudah direncanakan sebelumnya melalui bantuan Sheila. Ia mendapat informasi rahasia kalau Novan dan Haris juga akan ke mall ini. Informasi itu berhasil ia gali dari Senja yang kebetulan tadi sempat berbincang dengan Novan dan Haris di halaman rumah kontrakan ketika mereka coba mengajak Senja ke Mall tapi ditolak. Itulah sebabnya Sheila bisa tahu Novan dan Haris ada di mall ini hingga terjadilah pertemuan mereka yang terkesan tidak sengaja. Tujuan Andre satu, agar bertemu dan meluapkan ledekan pada Novan dan Haris.
Usai memesan meja meski masih harus menunggu sesaat lagi, Andre kembali hampiri Novan dan Haris dengan senyum meledek.
“Oya, Ris, kita buktikan saja nanti sama si Andre banci ini, bahwa kita lelaki sejati!” tegas Novan dengan santai bicara pada Haris ketika Andre sudah kembali bergabung untuk melanjutkan obrolan perseteruan mereka.
Kali ini gantian Andre yang tersengat. Wajahnya yang sebelumnya ceria jadi berubah. Hampir saja ia membalas, tapi Sheila dan beberapa temannya berusaha mendinginkan, bahkan menariknya pergi. Apalagi antrian untuk masuk makan di dalam telah tiba karena meja untuk mereka telah ada.
Suasana yang tadinya hampir tegang dan ramai jadi terhindar. Andre hanya melihat sinis dan kesal. Perseteruan fisik hampir terjadi tapi bisa dihindari. Hanya saja, rasa dongkol masih terus berkecamuk di benak Novan dan Haris.
Mereka pun bubar dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tetapi kekesalan itu rupanya terus mengikuti hingga sampai di rumah. Novan dan Haris masih saja terbawa kesal pada Andre.
“Kita nggak boleh kalah, harus menang!” tegas Novan ketika malam hari mereka baru saja tiba di kontrakan.
"Iya, kita harus menang!" sahut Haris seraya keluar dari mobil dan menutup pintunya.
“Ris, gue mau keluar lagi ya, masih ada perlu mendadak dan penting nih," tegas Novan masih tetap di belakang kemudi.
Tanpa menunggu Haris bicara, Novan langsung kembali tancap gas tanpa memasukan mobilnya ke halaman kontrakan. Kali ini Novan ternyata ada perlu dengan orang tuanya yang kebetulan baru balik dari luar negeri setelah liburan seminggu
Haris yang juga lelah hanya mengangguk saja tanpa banyak pikir. Mobil Novan berlalu, dan Haris membuka pagar, lalu berjalan santai masuk ke halaman rumah kontrakan.
“Edodoe, kenapa tadi lupa minta kunci rumah sama Novan?” Haris baru sadar setelah memeriksa sakunya tidak menemukan kunci rumah. Ia hanya bisa menepok jidat dan sempat coba telepon Novan tapi tidak dijawab karena sedang menyetir.
Terpaksa Haris hanya duduk di kursi teras rumah kontrakan. Ia duduk lemas, lesu tidak bersemangat karena masih teringat dengan pembicaraan Andre. Ejekannya masih membekas di benak Haris. Tapi ia juga teringat dan setuju dengan pendapat Novan yang tidak ingin patah semangat untuk kalahkan Andre, dan terus bergerilya demi harga diri sebagai lelaki.
Malam ini, di teras rumah Haris tidak bisa segera masuk ke dalam rumah. Ia hanya duduk santai sendiri di kursi teras.
Akibat kelelahan, tanpa sadar Haris pun jadi tertidur di kursi teras rumah kontrakannya. Dalam tidurnya, ia sampai terbawa rasa gembira meluapkan perasaan, hingga tanpa sadar beberapa kali Haris tertawa sendiri dan terdengar cukup keras. Suaranya yang agak teriak itu ternyata membuat berisik keadaan di sekitar rumah kontrakan.
Pak Mali yang kebetulan belum tidur dan baru saja menikmati semangkok kecil bubur kacang ijo jadi penasaran. Ia keluar teras rumah mencari tahu sumber suara berisik yang tidak biasa sambil tetap membawa mangkok untuk menikmati bubur kacang ijo yang tinggal dua suap lagi.
“Suara apaan tuh? Baru malam ini kedengaran,” pikir pak Mali penasaran karena biasanya malam selalu tenang di area rumah mereka
Setelah sempat mengamati sejenak, akhirnya ia tahu dari mana sumber suara yang terdengar. Pak Mali jadi tidak sabar dan langsung menghampiri Haris yang belum juga berhenti dari suara berisik kayak orang kesurupan, ngelantur tidak jelas.
“Jangan tinggalkan akuuu!” suara Haris kali ini bukan tawa lagi, tapi seperti agak berteriak dalam igauan mimpinya. Tidak jelas apa yang ia mimpikan, suaranya terdengar cukup keras.
Tapi tiba-tiba suara teriak Haris jadi terhenti dan ia kaget. Ternyata Pak Mali yang telah berada di dekat Haris langsung saja menutup mulut Haris dengan mangkok. Haris gelagapan, kaget dan baru tersadar. Ia bangun dari kursi teras dan menoleh ke sekitar. Haris terbangun dari mimpinya dan bingung melihat dirinya tertidur di kursi teras rumah kontrakan. Lebih kaget lagi karena baru sadar ada Pak Mali yang sedang berdiri serius menatapnya.
“Pak Mali? Kenapa ada di sini? Ini kan sudah malam,” tanya Haris kebingungan dan belum menyadari yang terjadi.
“Berisik lo. Gara-gara lo tadi teriak-teriak nggak jelas, gue jadi nggak tenang. Lagian ngapain sih lo malam teriak-teriak? Di teras pula,” protes Pak Mali kesel.
Haris diam sejenak, dan baru sadar dengan apa yang terjadi.
“Maaf pak, tadi ternyata beta mimpi,” jelas Haris, ia jadi salah tingkah dan malu.
“Mimpi apa lo? Mimpi horor ya?” tanya pak Mali penasaran
“Nggak pak, tadi beta mimpi sama Senja,” jawab Haris spontan, jujur apa adanya.
“Hah?! Berani-beraninya lo mimpiin anak gue. Pasti lo mimpi jorok ya?! Dasar madesur!” Pak Mali terlihat emosi dan marah.
Haris kaget karena keceplosan bicara akibat masih mengantuk.
“Eh, bukan pak. Salah sebut.” Haris ingin membela diri dan memperbaiki ucapannya. Tapi lidah tak bertulang, apa yang sudah terucap, itulah yang diyakini Pak Mali.
Tanpa menunggu penjelasan lanjutan dari Haris, Pak Mali melihat ada sapu lidi dekat pot bunga tidak jauh dari kursi teras. Ia langsung ambil dan bergegas memukul pantat Haris dengan sapu lidi.
Merasa percuma untuk memberi penjelasan, Haris hanya berlari mengitari kursi teras dan Pak Mali terus mengejarnya, berusaha untuk memukul.
Dari balik jendela, Senja melihat Bapaknya yang sedang kejar-kejaran di sekitar teras. Senja hanya tertawa melihat kelucuan tersebut.
“Babeh apaan sih? Ada-ada aja deh,” ucap Senja.
Beberapa kali pukulan sapu lidi berhasil mengenai bokong Haris yang spontan berteriak kesakitan.
“Mamamiaa.. Ampun pak, beta salah bicara.” Haris masih coba berdiplomasi sambil berlari menghindar. Untung saja Pak Mali akhirnya merasa capek juga untuk terus kejar-kejaran dengan Haris.
“Aduh capek. Umur nggak bisa bohong," ucap pak Mali kelelahan. "Awas ya, jangan coba-coba ganggu anak gue!” lanjutnya lagi. Pak Mali bicara meluapkan kekesalan sambil mengepalkan tangan menyerupai bentuk pistol. Haris tampak melotot ketakutan. Untung saja pak Mali pun berhenti dan pergi kembali ke rumahnya.
Sampai larut malam, ancaman Pak Mali seakan masih menjadi mimpi buruk bagi Haris. Ia tidak bisa tidur karena terbayang ancaman Pak Mali, teringat isyarat tangannya yang membentuk pistol. Haris kembali merinding.
“Kalau macam-macam dengan anak gue! Lo bakal gue ... end.!” terngiang jelas kalimat Pak Mali sambil memeragakan tangannya yang bergerak vertikal di leher. Haris langsung mencoba memejamkan matanya.
ϓ ϓ ϓ
pokoknya semangat mencari yang baru💪
bawaanya Bukan romantis tetapi bosan dgr😁
Dasar Madesur 😁
Si Ibunya:Mata Emas😁..
upss,, mata duitan dah