Dia membagi kehangatan Ranjangnya bersamaku dengan Ranjang lainnya, tapi ia tak bisa membagi hatinya meski hanya sedikit untuk ku.
Aku adalah Istri sahnya menurut hukum agama dan negara, namun baginya, aku tidak lah lebih dari sekedar Istri Partner Ranjangnya.
Mana lagi yang lebih menyakitkan? Dari pada Hidup bersama dengan orang yang tidak mencintai kita, dan merelakan pergi orang yang kita cintai.
Bagaiman dengan kehidupan Ayla esok jika ia terus menjalani hidupnya dalam ikatan rumit seperti ini? Akankah Ayla mampu bertahan? Atau kah ia harus menyerah.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI MALAM
Ineke yang di ikuti mobil Aryan dari belakang telah sampai di depan rumah kepala desa. Setelah menunjukkan rumah kepala desa, Ineke melajukan motornya untuk pulang, jarak rumahnya dengan rumah kepala desa juga cukup dekat, namun terhalang beberapa rumah lain. Karna rumah Ineke yang berada memasuki gang, sedangkan rumah kepala desa berada di jalur utama.
..."Terimakasih Nona!."...
..."Sama-sama pak, saya permisi dulu.!"...
Ineke berlalu tanpa sepengetahuan Aryan, Aryan baru bangun setelah pak sopir membangunkannya dan Ineke sudah hilang dari pandangan.
...****************...
Malam yang terasa begitu dingin, hujan lebat tiba-tiba mengguyur daerah gunung dan pedesaan. Angin bertiup kencang, Listrik padam, suasana menegangkan.
Ayla semakin risau, gelisah, tidak tenang, memikirkan Aryan, ia kini sudah menangis sambil berdoa di atas sajadahnya di temani Ineke. Ia menerangi rumahnya dengan senter listrik, dan flash dari ponselnya.
Sedangkan Aryan marah-marah dengan petugas di lereng bawah gunung yang melarangnya melakukan perjalanan mendaki gunung di situasi seperti ini. Jalanan akan sangat licin, pandangan yang terganggu karna hujan, itu akan sangat berbahaya.
Setelah begitu banyak orang yang berusaha menenangkannya, akhirnya Aryan mengalah. Ia menuruti kata para petugas disana untuk menunggu sampai esok hari. Untungnya sebelum listrik padam tadi ia sempat melakukan video call dengan Dion, mengingat disana ada Dion yang menjaga Zico, Aryan akhirnya bisa sedikit meredam emosinya.
..."Tidak akan pernah papah biarkan kamu sedetik tanpa pengawal Zico. Tidak lagi, kenakalan mu ini sudah cukup. Tidak akan pernah lagi."...
Aryan bergumam penuh emosi.
Yang sebenarnya adalah, Aryan merasa begitu khawatir dengan putranya itu, ia cemas takut jika terjadi sesuatu pada Zico. Dan Aryan tidak mau itu sampai terjadi.
...****************...
Karna cuaca yang berubah sangat ekstrem, segala kegiatan yang sudah di rencanakan pun gagal. Tidak ada acara api unggun yang sudah sangat di idamkan. Tapi rencana awal yang mengharuskan mereka turun pulang esok hari di batalkan.
Akan ada tambahan waktu setengah hari jika esok cuacanya cerah. Dan baru akan melakukan perjalanan turun untuk pulang di waktu siang.
Zico merasa kurang nyaman di tendanya, ia ingin menemui Arend yang berada di tenda sebelah. Entah kenapa ia merasa begitu suka pada teman yang baru di kenalnya itu.
Teman-teman di tendanya semua sibuk bermain game offline pada ponsel mereka. Ada juga yang sudah terlelap tidur.
Di luar hujan sudah tidak begitu lebat, hanya gerimis yang bunyinya gemericik bernada dengan indah, atau seram. (Tergantung yang mendengarkan dengan perasaan apa, hehe.)
Zico memutuskan untuk keluar tenda menuju tendanya Arend.
..."Arend, ini aku Zico. Bolehkah aku masuk?"...
Tidak ada jawaban.
..."Arend, apa kamu sudah tidur? Aku, aku?"...
Sejenak Zico berpikir mencari alasan untuk bisa masuk menemui Arend.
..."Aku lapar, apa kau punya sesuatu yang bisa ku makan?"...
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
..."Arend, aku kedinginan, di luar juga masih gerimis, aku!"...
Zico berhenti dari ocehannya ketik resleting tenda di buka oleh Arend dari dalam.
Dengan senyum mengembang Zico masuk kedalam tenda Arend. Dan ia kembali menutup pintu tendanya.
..."Arend, kamu belum tidur? Teman-teman mu yang lain sudah tidur, kenapa kamu masih terjaga?"...
..."Bagaimana aku mau tidur? Kau teriak-teriak terus dari luar."...
Sungut Arend kesal.
Arend membuka tas ranselnya, ia mengeluarkan beberapa Snack yang di simpan di dalamnya.
..."Makanlah"...
..."He he, iya terimakasih."...
..."Aku tidur di tenda mu ya malam ini?"...
..."Tidak, nanti akan sesak, setelah makan, kembalilah ke tenda sendiri."...
..."Emmmm, besok saat turun, sebelum pulang aku mampir dulu ya ke rumahmu.?"...
..."Kau akan ketinggalan bis."...
..."Tidak, aku akan pulang dengan mobil lain, ada yang datang menjemput ku."...
..."Jangan, kau akan menyesal, ibuku pasti tidak suka jika kau datang ke rumahku."...
..."Ibumu? Menyenangkan sekali. Aku akan tetap datang ke rumah mu, aku akan berkenalan dengannya, lalu mencoba masakannya. Pasti enak."...
..."Kau gila ya? Kau makan saja makanan ibumu.!"...
Zico langsung menghentikan aksi ngemilnya, ia terdiam tanpa kata. Arend melihatnya dengan ekspresi seperti itu jadi merasa bingung. Apa ada yang salah dengan ucapannya.
..."Kau kenapa? Mau minum?"...
Zico hanya menggeleng, menaruh Snack yang dipegangnya, lantas ia menangis dengan wajah menunduk di antara kedua pahanya.
..."Hei, kau kenapa? Kenapa menangis? Ada apa? Jangan membuatku takut."...
Arend merasa bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Ada apa dengan Zico si anak aktif yang selalu riang, dan kini tiba-tiba menangis dan bersedih.
..."Aku juga ingin memakan masakan mamaku, aku juga ingin membawa bekal masakan mamaku, tapi mama sudah tidak bisa memasakkan makanan untukku."...
..."Kenapa? Dia sakit?"...
..."Tidak, dia meninggal saat melahirkan ku."...
Zico menangis sesenggukan teringat mamanya yang tiada. Ia selalu menginginkan bagaimana rasanya punya mama. Bagaimana rasanya kasih sayang dari seorang mama. Zico selalu merindukan sosok mama dalam hidupnya yang belum pernah ia dapatkan.
Deg. jantung Arend serasa terhenti, tubuhnya terasa gemetar, ia merasa bersalah, dan air matanya pun ikut menganak sungai meski akhirnya ia bisa mengendalikan emosi sedihnya.
..."Maaf, aku salah bicara, aku tidak tahu"...
Zico hanya menggeleng dalam tangis.
..."Sudahlah, kau jangan menangis lagi, besok kau boleh datang ke rumahku, kau boleh mencicipi masakan ibuku."...
..."Benarkah?"...
Mata Zico berbinar, Arend merasa geli melihatnya. (Dasar cetakan kulkas.)
..."Kau jangan terlalu sedih lagi, kau kan masih punya papah, aku juga tidak memiliki orang tua yang lengkap. Aku hanya punya ibu, dan aunty Ineke, ayahku juga sudah tiada, dan ibu mengajariku untuk selalu mendoakannya. Tidak boleh terlalu bersedih."...
..."Ceritakan padaku tentang ibumu, aku ingin mengenalnya."...
Arend mulai menceritakan tentang ibunya. Baginya ibu nya adalah segalanya. Sampai tidak terasa Zico tertidur sambil terduduk. Arend membaringkan badan Zico lalu ia membaringkan tubuhnya sendiri di sampingnya. Zico tidur bersama Arend di tendanya Arend.
...****************...
Pagi telah tiba, mentari pagi terlihat sangat indah di balik dua bukit dari seberang danau, menyinari danau menjadikannya kemilau dengan air danau yang sangat jernih, udara yang begitu segar, meski terasa dingin. Namun tetap sangat menyenangkan.
Anak-anak sudah siap dengan baju tebal, lengkap dengan jaket, celana, sepatu, topi, sarung tangan dan beberapa anak juga tampak menggunakan syal.
Mereka bernyanyi menyambut pagi, sambil menunggu sarapan pagi. Setelah sarapan pagi siap, mereka sarapan pagi bersama.
Dion dan kedua Pengawal bawahannya merasakan hal yang sama, meski hawa terasa dingin, tapi sangat menyenangkan. Setelah malam mencekam yang mereka lewati malam tadi.
...****************...
Aryan bersiap mendaki gunung menuju Shelter 1 tempat Zico melakukan camping. Ia di temani oleh 2 Ranger di sana. Yang harus memastikan keselamatan dan keamanannya.
Ia ingin segera menemui Zico. Memastikan keadaan Putra nya itu.
INEKE harusnya bahagia
Walaupun kecewa dgn kelaukuan Rain yg selalu menyakiti
Beritahu Rain dia sdg mengandung anaknya, stlh Rain tahu barulah Ineke balas menyakiti Rain agar ga semena2 mentang2 Bos Mafia mau seenaknya.
Misalnya dgn tinggal serumah tp ga sekamar biar Rain merasa tersiksa berdekatan tp hanya bs memandang Calon Anak n Istrinya tp g bs menyentuh atau berbincang
Agar Rain berjuang menggapai cintanya
Walau sebenarnya Ineke hanya pura2 dingin acuh ga mudah disentuh saat berhadapan n berdekatan dgn Rain
Ternyata Ayla nyanyi Aryan n Nesa asyik mojok 2 an untung Ayla ga lihat tp walau gt kasihan Aylanya
Berkorban meninggalkan cintanya demi dijodohkan oleh Ayahnya kpd Aryan anak shbtnya
Tp Aryan mau menang sendiri enak sendiri