Riana, gadis manis dan baik hati, merasa bahagia karena menikah dengan seorang pria yang dia sangka memiliki sifat yang sama dengan sang papa. Bertanggung jawab, penyayang dan terutama setia. Pernikahan yang awalnya dia anggap akan mendatangkan kebahagiaan baginya ternyata menjadi awal dari penderitaan baginya. Riana tidak pernah tahu, kalau ternyata Bisma suaminya, ternyata telah menikah sebelumnya.
sanggupkah Riana bertahan menghadapi fitnahan demi fitnahan dari istri pertama Bisma?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita ketemu di pengadilan
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Tidak terasa sudah hampir sebulan Bisma tidak bisa menemukan keberadaan mamanya. Hampir setiap hari Bisma uring-uringan, merasa tidak memiliki semangat hidup. Dia merasa akhir-akhir ini semua masalah datang bertubi-tubi atas dirinya. Kehilangan investor terbesar, kerugian perusahaan yang lumayan besar, dan sekarang kehilangan mamanya.
Bisma sudah membuat laporan kehilangan, akan tetapi polisi tetap tidak bisa menemukan Soraya, mamanya Bisma.
"Ma, di mana kamu sekarang? apa kamu baik-baik saja atau bagaimana?" batin Bisma sambil mengusap wajahnya, frustasi
"Apa dosaku ya Tuhan? kenapa setiap masalah selalu datang bertubi-tubi? aku sungguh tidak tahu dosa apa yang aku perbuat," batin Bisma
"Apa ini tanda-tanda Tuhan untuk menunjukkan kalau aku sudah terlalu menyakiti hati Riana? Tapi bukan dia saja yang sakit, aku Bahkan lebih sakit dari dirinya yang begitu teganya memiliki anak dengan orang lain di belakangku," Bisma merasa bersalah, akan tetapi dia menepis rasa bersalahnya dan merasa kalau dirinyalah yang paling terluka dalam hal ini.
Tok ... tok ..
Suara ketukan dari pintu, menyadarkan Bisma dari lamunannya. Dia pun berteriak dari dalam,
"Masuk!" titahnya dari dalam ruangannya.
"Pak Bisma, ini hasil test yang tadi aku ambil dari rumah sakit, Pak!" ucap seorang pria yang merupakan asisten pribadinya, sambil meletakkan sebuah amplop berwarna putih yang bertuliskan nama sebuah rumah sakit.
"Terima kasih, Gung!" ucap Bisma sambil meraih amplop dari atas meja.
"Sama-sama,Pak! aku pamit keluar dulu," Pria bernama Agung itupun membungkukkan tubuhnya, kemudian memutar tubuhnya keluar dari ruangan Bisma.
Bisma membuka amplop berwarna putih itu, dan langsung mengambil isinya. Jantungnya berdetak dua kali lebih kencang untuk melihat hasil pemeriksaan kesuburannya. Ya, akhirnya Bisma benar-benar melakukan pemeriksaan kesuburannya tanpa sepengetahuan Dania, karena sudah terpengaruh dengan ucapan Farrel.
Mata Bisma membesar dengan sempurna melihat hasil pemeriksaan yang menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja, alias subur.
Tangannya mengepal dengan kencang, rahangnya mengeras dengan wajah yang sudah memerah, karena amarah yang amat sangat telah sampai ke ubun-ubun kepalanya.
"Brengsek! aku benar-benar sudah dibohongi mentah-mentah," Bisma menggeram dengan gigi yang gemeletuk.
"Hai ,Sayang! aku kehabisan uang, aku minta uang lagi dong," tiba-tiba Dania masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Bisma tidak menjawab sama sekali. Justru pria itu menatap Dania dengan tatapan yang menghunus tajam, seperti sebilah belati yang siap menusuk jantung wanita itu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa menatapku seperti itu?". Dania merasa aura di dalam ruangan itu sangat dingin, apalagi melihat wajah suaminya yang terlihat seperti siap menyerang.
"Sekarang kamu jelaskan padaku dengan jujur Dania. Apa aku benar-benar tidak bisa memiliki anak?"
Dania terkesiap kaget mendengar pertanyaan suaminya yang mengungkit kembali masalah yang menurutnya tidak akan ditanyakan oleh suaminya itu lagi.
"Ke-kenapa kamu berbicara seperti, Sayang? apa kamu tidak mempercayaiku lagi?" ucap Dania pura-pura sedih.
"Kamu jangan bersandiwara lagi, Dania. Aku tidak akan terkecoh lagi. Sekali lagi aku mau tanya, apa aku benar-benar mandul atau tidak?" suara Bisma meninggi membuat Dania kaget.
"Ke-kenapa kamu menanyakan hal itu lagi, Bis? bukannya aku sudah menunjukkan hasil diagnosanya?" Dania terlihat sangat gugup. Matanya membesar dengan sempurna begitu melihat amplop yang ada di atas meja. Dia melihat sebuah nama rumah sakit besar tertera di atas amplop itu.
"Gawat! apa dia selama ini, kurang percaya dengan hasil diagnosa yang aku tunjukan sehingga dia melakukan pemeriksaan sendiri?" batin Dania dengan wajah yang semakin pucat.
"Kenapa, apa kamu kaget melihat amplop itu?" sindir Bisma dengan nada yang bergemuruh.
Dania tidak menjawab sama sekali, wajahnya terlihat semakin pucat.
"Nih, kamu bisa baca sendiri apa yang tertera di kertas itu." Bisma melempar kertas hasil tesnya itu ke wajah Dania hingga kertas itu terjatuh ke lantai.
Dengan tangan yang gemetar, Dania meraih kertas itu dari lantai. Matanya sontak membesar melihat kalau kertas itu berisi hasil pemeriksaan kesuburan Bisma.
"Kenapa kamu membohongiku, Dania, hah?!" suara Bisma menggelegar, hingga membuat Dania semakin pucat.
" A-aku tidak membohongimu, Bis. Be berarti aku juga dibohongi oleh __"
"Diam! kamu jangan mengelak, mencari pembenaran lagi." Bisma menyela ucapan Dania yang berniat melakukan pembelaan lagi.
"Bukannya yang memeriksa kita selama ini Viona, teman kamu. Apa mungkin dia berbohong karena keinginan dia sendiri? aku yakin kalau kamu telah mengancamnya, Benar kan?" desak Bisma dengan manik mata yang berkilat-kilat, marah.
"Kamu jangan asal menuduh! jatuhnya bisa jadi fitnah, Bisma. Aku sama sekali tidak menyangka kalau hasil diagnosa itu tidak benar. Bisa jadi Viona salah ambil diagnosa," ucap Dania masih berusaha untuk membuat Bisma percaya padanya.
"Kamu kira aku bodoh, Dania? aku tidak bodoh. Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan tadi. Sekarang kamu tolong jelaskan, apa alasan kamu melakukan ini semua?"
"Sial! kali ini sepertinya Bisma tidak mudah percaya lagi padaku." Dania mengumpat dalam hati.
"Jawab, Dania!" bentak Bisma dengan suaranya yang menggelegar, melihat Dania yang berdiri saja tanpa ada niat untuk berbicara.
"Ya, surat diagnosa itu palsu. Aku mengancam Viona untuk membuat surat diagnosa palsu itu," kenapa? karena aku tidak ingin hamil dan melahirkan serta menjaga bayi. Hal itu pasti sangat merepotkan? ditambah dengan bentuk badanku yang nantinya pasti akan melar." ucap Dania mengaku tanpa sadar karena desakan Bisma.
"Kamu benar-benar gila, Dania. Jadi selama ini apa yang disuntikkan ke tubuhku? itu bukan vitamin seperti yang kamu bilang kan?"
"Bukan! itu Suntik hormon, supaya kalau kita berhubungan, aku tidak akan hamil," p
Brakk
Bisma memukul meja dengan sangat keras, Hinga membuat Dania hampiri melompat karena terlalu kaget bercampur takut.
"Kamu benar-benar perempuan ular, Dania. Aku menyesal telah mempercayaimu. Kamu benar-benar membuat aku seperti orang bodoh. Kamu ... arghhhh!" Bisma mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ma-maaf, Bisma! a-aku menyesal melakukannya. Aku__"
"Kita bercerai saja! aku tidak mau memiliki istri seperti kamu," Ucap Bisma, memotong ucapan Dania.
"A-aku tidak mau, Bisma! Aku janji aku akan mau hamil dan melahirkan anak untuk kamu, asal Kamu tidak menceraikanku," mohon Dania sambil berlutut di bawah kaki Bisma.
"Aku tidak bisa lagi. Sekarang kamu lebih baik keluar dari ruangan ini sebelum aku memanggil satpam untuk mengusirmu keluar." ucap Bisma tanpa mau melihat ke arah Dania.
"Bis, tolong pertimbangkan lagi, setidaknya kamu mengingat kebersamaan kita selama ini." Dania masih berusaha untuk memohon.
"Kamu telah membuatku hancur Dania. Kamu telah membuatku tega menyakiti hati Riana, meninggalkannya di saat dia hamil anakku dan membutuhkanku. Gara-gara kelicikanmu, aku menjadi orang jahat yang membuat Riana kehilangan papanya, apa menurutmu, kesalahanmu itu masih bisa ditolerir? tidak, tidak sama sekali, sekarang kamu keluar dari ruangan ini, jangan sampai aku mengusirmu dengan kasar. Aku tidak mau lagi melihat kamu ada di rumahku nanti, Kita ketemu lagi di pengadilan!"
Tbc