Kalila gadis yang terlahir cantik dan lugu. Ia memutuskan untuk mengubah dan tidak memikirkan penampilan lagi sejak ia mengalami patah hati pada saat SMP. Kisah cinta pertama yang membawa dampak keterpurukan dalam hidupnya.
Suatu hari Kalila bertemu dengan seorang pria yang merupakan guru baru di sekolahnya. Ia tidak menyangka luka lama yang dipendamnya kembali bangkit hingga menyisakan rasa sakit.
Mungkinkah Kalila mampu kembali melewati hari-harinya seperti dulu? Ataukah rasa sakit itu akan terus membelenggu hidupnya?
Follow IG Author yuk
@Septriani_wulan15
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septriani wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Interogasi
Bab 30 Interogasi
Sambil menunggu Ana dibantu Kalila yang sedang menyiapkan makan malam, Alaric mengajak Akbar untuk duduk di taman belakang. Kama yang sejak tadi masih belum bisa menerima hubungan adiknya dengan Akbar terus menatap sinis Akbar dari ruang TV dekat dari pintu taman belakang. Kama pun menghampiri Kalila yang sedang berada di dapur.
“De, sejak kapan kamu sama Akbar?” tanya Kama yang membuat Ana dan Kalila melirik ke arahnya.
“Kenapa Bang, kamu kaya enggak seneng gitu kelihatannya,” sahut sang ibu dan Kalila hanya mengangguk membenarkan ucapan ibunya.
“Ya ... aku kurang suka aja, Mi. Apalagi dia udah tua, enggak cocok sama Kalila,” ucap Kama nampak terlihat kesal.
“Ih ... Abang kok ngomongnya gitu sih? Kak Akbar itu baik dan orangnya bertanggung jawab. Lagi pula dia enggak terlihat tua kok!” ucap Kalila yang sedikit kesal dengan kembarannya.
“Mami sama Papi juga jaraknya sama kok kaya Kalila dan Akbar. Ya sudah, kamu jangan keliatan bete gitu, yang ngejalanin 'kan Kalila dan kita tidak tahu bagaimana ke depannya. Sekarang lebih baik jalani saja, apapun yang terjadi nanti itu sudah jadi kehendak Tuhan.” Kalila mengangguk kembali membenarkan perkataan sang bunda dan menjulurkan lidahnya saat Kama melirik sinis padanya.
“Pokoknya Abang kurang suka!” Kama pun pergi dan kembali menuju kamarnya.
“Sudah kamu biarkan saja. Kama seperti itu, karena dia terlalu mengkhawatirkan kamu, Sayang. Sekarang kamu bantuin Mami lagi ya!” Kalila mengangguk tersenyum, sambil melihat teus punggung kembarannya yang semakin menjauh.
Di sisi lain Akbar sedang duduk santai di halaman belakang bersama dengan Alaric. Untuk Akbar sendiri ini bukanlah duduk santai melainkan seperti duduk di kursi panas. Dia hanya tertunduk sambil memainkan jari jemarinya.
“Tadi, nama kamu siapa?” tanya Alaric yang mulai membuka suaranya. Akbar langsung mengangkat kepalanya dan menatap, menghadap Alaric, “Akbar, Pak!” jawabnya. Alaric mengangguk dan mengambil gelas yang berisikan teh manis, lalu meminumnya. Alaric sendiri juga merasa sangat grogi, tapi sebisa mungkin dia memasang wajah tegas pada Akbar.
“Kamu mengajar mata pelajaran apa?” tanya Alaric lagi layaknya sedang mengintrogasi tersangka.
“Ekonomi, Pak!” jawab Akbar lagi dengan singkat. Kembali Alaric mengangguk sambil melempar makanan ikan ke kolam yang ada di depan mereka.
“Oh ... pekerjaan kamu sebagai guru saja? Terus keluarga kamu di mana?”
“Iya, Pak. Sejauh ini saya hanya mengajar dan untuk sementara menjadi wali kelas Kalila selagi wali kelasnya cuti melahirkan. Saya tinggal bersama ibu dan adik perempuan saya yang masih berumur tujuh tahun dan kebetulan ayah saya sudah meninggal, jadi bisa dibilang saya adalah tulang punggung keluarga." Alaric lagi-lagi mengangguk. Entah mengapa mendengar itu dia merasa sangat tenang. Alaric bisa menjamin kalau Kalila benar-benar akan aman dengannya.
“Oh, maaf! Saya turut berduka! Kalila anak perempuan Papi satu-satunya. Dia orangnya sangat tertutup dan selalu menyimpan masalahnya sendiri. Kalau bukan ketahuan seperti hari ini, mungkin Papi tidak akan pernah tahu hubungan kalian. Papi tahu kalau hubungan kalian masih baru, tapi Papi mohon jaga dia dan jangan biarkan dia menyimpan semua masalahnya sendiri.” mendengar itu membuat hati Akbar berdebar dengan kencang. Itu artinya keluarga Kalila benar-benar menyetujui dirinya.
Sejak tadi Akbar sudah pasrah, kalau-kalau Alaric akan menolak dirinya, karena kehidupan mereka yang bertolak belakang. Tapi ternyata yang dipikirkan Akbar selama ini salah, orangtua Kalila sama sekali tidak melihat seseorang dari status, melainkan mereka melihat seseorang dari rasa tanggung jawab mereka.
“Iya, Pak! Saya berjanji akan membuat Kalila bahagia dan terutama buat dia bisa terbuka dan tidak menyimpan masalahnya sendiri lagi.” Alaric tersenyum sambil menepuk bahu Alaric.
Hari sudah semakin gelap dan makanan di meja juga sudah tersusun rapih. Kalila menghampiri kedua lelaki yang ada di taman belakang untuk segera berkumpul di meja makan dan setelah itu langsung ke kamar Kama untuk mengajaknya makan juga. Tatapan Akbar dan Kalila saling bertemu dan mereka tersenyum malu-malu sampai akhirnya Kalila berjalan lurus untuk pergi ke kamar kama.
“Bang, ayo makan!” teriak Kalila dari balik pintu kamar kakak yang hanya beda 10 menit dengannya. Berulang kali Kalila memangil Kama tidak ada jawaban juga, sampai akhirnya dia membuka pintu kamar Kama tanpa persetujuan darinya.
Kalila menggelengkan kepalanya saat melihat Kama yang sedang asik mendengarkan musik sambil membaca buku di meja belajarnya. Kalila pun menghampiri Kama dan membuka earphone-nya.
“Bang, kata Mami makan!” ucapnya dan langsung berbalik badan.
“La!” panggil Kama membuat Kalila menghentikan langkahnya. Dia pun membalikkan kembali badannya, “Iya, kenapa bang?”
“Kamu benar-benar serius sama Akbar? Kamu tahu guru dan murid itu dilarang untuk berhubungan! Aku harap kamu memikirkan kembali hubungan kamu sama dia.” Kalila melihat wajah Kama yang benar-benar serius menatapnya. Dia pun menghampiri Kama dan memeluk tubuhnya.
“Gue tahu lo khawatir sama gue. Lo tenang aja, gue sudah mengenal Akbar jauh sebelum dia mengajar di sekolah,” ucap Kalila sambil menepuk punggung Kama dan melepaskannya.
“Maksud lo?” Kama tidak mengerti dengan ucapan Kalila yang sudah mengenal lama Akbar.
“Gue udah kenal sama Akbar dari tiga tahun yang lalu dan kita cukup dekat. Dia anak baik dan bertanggung jawab kok, Bang. Lo tenang aja ya!”
“Pantes lo enggak mau sama Danes. Padahal dia kurang apa coba dibandingkan Akbar,” ucap Kama langsung melangkah keluar kamar. Kalila tersenyum dan menyusul Kama sambil merangkul kembarannya.
Saat di meja makan, Akbar tampak kaku, karena ini pertama kalinya dia makan malam di tempat Kalila. Semua mata tertuju padanya membuat Kalila mengkhawatirkan kekasihnya itu.
“Kak, mau apa? Ini suka enggak?” tanya Kalila sambil menunjukkan ayam goreng serundeng. Akbar hanya mengangguk tersenyum dan Kalila pun mengambilkan ayam itu untuknya.
Keluarga Kalila menatap Kalila dengan tampak heran, pasalnya ini baru pertama kalinya mereka melihat Kalila yang bersikap sangat manis.
“Kalian ngapain pada ngelihatin Lila? Ada yang aneh?” tanya Kalila seketika membuat mereka sibuk mengambil makanan. Kalila yang melibat mereka hanya menggelengkan kepalanya.
Suasana hening saat mereka semua menyantap makan malam. Akbar mengamati keluarga Kalila satu persatu dan membuat dia bersyukur dengan apa yang terjadi hari ini. Kalau bukan karena ketidaksengajaan yang terjadi hari ini, dia pasti tidak akan bertemu lebih cepat dengan keluarga kekasihnya. Bertemu dengan keluarga Kalila artinya dia bisa berhububgan lebih serius lagi dengan Kalila, bukan hanya sekedar pacaran biasa.
“Nak Akbar, ayo tambah lagi lauknya!” ucap Ana dan Akbar hanya tersenyum mengangguk.
~Bersambung~
Hai-hai tidak terasa sudah hari senin ya....
jangan lupa tiketnya buat Vote novel Kisah Cinta Kalila ya hehehe..
Jangan lupa juga
• Like
• Komen
Aku padamu 😘😘