Nindy adalah siswi yang slalu bermasalah di sekolah dan Bryan adalah ketua OSIS yang tegas dari dari permasalahan yang selalu melibatkan keduanya di sekolah hingga perjodohan yang memaksa mereka bersama menumbuhkan benih cinta
tapi banyak masalah dan ujian yang harus mereka hadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ai laelasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 30
Di kamar yang gelap tanpa cahaya lampu suasana kamar terasa sunyi
di dalam ada seseorang yang tengah memeluk kedua lututnya
menyembunyikan wajahnya di antara lutut
Seseorang membuka pintu dan memencet saklar
lampu sudah menyala tapi posisinya tidak berubah masih memeluk kedua lututnya
dia perlahan menghampirinya lalu mengelus kepalanya
"Udah jangan sedih terus kita sedang berusaha semoga aja cepet ketemu" ucap Leo
"kenapa semuanya harus terjadi sama gue, gue bisa kehilangan suami tapi berat buat gue harus kehilangan anak bahkan gue aja belum sentuh dia" ucap Nindy dalam Isak tangisnya
"Suuttt kita pasti temukan baby dalam keadaan sehat, oke" ucap Leo menenangkan
"Tapi sampai kapan? apa Gue bisa hidup tanpa memikirkannya?" ucap Nindy
"Bukan harus melupakan tapi Lo harus kontrol diri Lo, kalo Lo gini terus lalu jatuh sakit percuma juga kita cari baby kalo Lo nya sakit sakitan" ucap Leo
"Dengerin gue lo harus tetap hidup, lo harus baik baik aja berpikir positif demi baby, supaya lo juga bisa nunjukin ke Bryan kalo lo bahagia hidup tanpa dia" ucap Leo membuat Nindy mengangkat kepalanya yang tadi terus menunduk
"Apa gue bisa?" tanya Nindy
"Lo bisa pasti bisa, tunjukkin sama dia Lo bisa hidup maju tanpa dia tunjukkin perubahan Lo yang positif biar dia nyesel" ucap Leo
Nindy memeluk Leo yang sedari tadi berdiri dihadapannya mengelus kepala Nindy
perkataan Leo membuatnya semangat kembali
kini Nindy bisa menjalani hidupnya dengan normal
Meskipun terkadang dia menangis jika teringat bayinya dan penghianatan Bryan
tapi kini dia bisa lebih ceria dari sebelumnya
Enam tahun kemudian
Nindy menjadi pintar karena usahanya yang giat belajar
selama tiga tahun dia tidak pernah mengurus prihal pacaran meskipun banyak lelaki yang tertarik padanya
fokusnya hanya belajar belajar dan belajar
Dia menyelesaikan S2 nya hanya dalam waktu 6 tahun di Harvard Business School
Leo selalu mendampinginya mensupport apapun yang di lakukan Nindy
Hari ini Nindy sedang duduk di halaman depan rumahnya
dia memandangi air mancur dengan tatapan kosong
Leo tau betul dia sedang rindu anaknya yang belum ketemu sampai sekarang
Polisi sudah menutup kasusnya sekarang hanya anak buah Leo yang masih mencari
Leo menghampiri Nindy perlahan dia sengaja ingin mengagetkan Nindy
Perlahan dia berjalan mendekati Nindy dari belakang dan akan menyentuh bahunya
tapi tiba tiba Nindy berbalik meraih tangan Leo dan memutarnya
dia melompati kursi dan menyerang Leo yang tidak siap membuatnya terjengkang kebelakang
Leo bangun menepuki bokongnya yang sakit
Nindy hanya tertawa melihat wajah kesal kakaknya
"Lo apaan sih sakit nih" ucap Leo
"Gue kira orang jahat, ya udah itu karma Lo mau ngagetin gue kan?" tanya Nindy
"Hehe kok Lo tau" ucap Leo cengir kuda
"Tau lah siapa dulu Nindy " ucap Nindy berbangga diri
"Dih sombong ya sekarang mentang mentang udah jago bela diri" ucap Leo
"Hehehe kan kakak yang ajarin" ucap Nindy menggandeng tangan Leo
"Eeh apaan nih tiba tiba manja gini" ucap Leo karena Nindy menggandeng tangannya dan menggesek kepalanya ke bahu Leo
"Eemmhh biasanya kalo udah gini pasti ada maunya nih" ucap Leo
"Kita kembali ke Indonesia ya kak" ucap Nindy
"Kakak emang mau kesana tapi gak sama kamu" ucap Leo
"Kok kakak gitu sih" ketus Nindy melepaskan tangan Leo dan mendorong bahunya
Jelas saja tubuh Leo yang kekar tidak akan goyah hanya karena dorongan Nindy
Leo tidak menjawab pertanyaan Nindy dia masuk kedalam rumah
Nindy masih membujuk Leo dia mengekor di belakang Leo merengek agar Leo mau membawanya
"Please kak gue ikut" ucap Nindy seraya menarik kaos belakang Leo
"Sekali enggak tetep enggak" ucap Leo
"Tapi kenapa?" tanya Leo
"Ada apa kalian pagi pagi sudah ribut" ucap seseorang yang baru saja keluar dari kamar
"Ini Daddy bilangin sama kak Leo Nindy mau ikut ke Indonesia" ucap Nindy mendekati Dady Dion dan memegangi lengannya seperti anak kecil
"Apa susahnya turuti saja, dia sudah besar tidak akan merepotkanmu" ucap Daddy Dion
"Dady memang tidak pernah bisa menolak permintaan Nindy, aku kesana untuk urusan bisnis Daddy" ucap Leo membuat Nindy senang memeletkan lidah pada Leo
"Tapi aku bisa bantuin kakak iya kan Daddy?" ucap Nindy dihadapan dadynya mereka berbicara aku kamu
"Iya lagi pula dia sudah lulus dia bisa bantu kamu, gak mungkin kamu pegang 2 perusahaan sekaligus, suatu saat Nindy akan pegang salah satunya" ucap Daddy Dion
"Oke oke kalau Baginda sudah memaksa apalah daya diriku ini, saya pamit undur diri yang mulia" ucap Leo membungkuk di hadapan Daddynya
Seiring dengan Leo yang pergi ke kamarnya
Nindy juga mencium tangan Daddynya dengan sumringah lalu pergi juga ke kamarnya
Daddynya hanya menggeleng melihat tingkah kedua anaknya
Nindy sudah packing baju ke koper Leo yang baru saja datang memperhatikan di ambang pintu
Nindy masih belum menyadari ada Leo disana karena membelakangi nya
"Mau kemana Lo bawa baju banyak banget?" ucap Leo
"Mau ikut lah" ucap Nindy
Berbeda dengan Nindy masa masa yang di hadapi Bryan juga tidak kalah berat
Bunda yang tak kunjung sadar ayahnya di penjara karena difitnah menggelapkan uang
kini dia di bantu orang tua Maria dengan catatan Bryan harus mau menikah dengannya
Bryan hanya mengulur ngulur waktu untuk menikahi Maria
karena sebenarnya memang dia tidak ingin menikahinya
bagaimana Bryan masih suami Nindy meskipun sudah bertahun tahun mereka berpisah
"Maaf tuan nona Maria ingin bertemu" ucap sekretarisnya
"Bilang saja sebentar lagi saya ada meeting tidak ingin di ganggu" ucap Bryan
"Oohh jadi kamu menghindar dari aku?" tanya Maria yang langsung masuk saat Bryan sedang bicara dengan sekretarisnya
"Aku cuma cape bentar lagi mau meeting aku pusing kamu boleh keluar" usir Bryan
"Kalo meeting ya meeting aja aku mau tunggu disini" ucap Maria kekeh
"Oke terserah Lo aja" ucap Bryan membereskan dokumen lalu pergi
"Sayang kok manggil Lo sih?" tanya Maria tapi tidak di gubris oleh Bryan
Saat meeting berlangsung Bryan sedang berdiskusi dengan rekan bisnisnya yang lain
sepertinya Bryan akan mengalami kendala dalam bisnisnya karena hadirnya perusahaan yang menawarkan keuntungan lebih besar
"Maaf tuan sepertinya kita kalah saing dengan perusahaan Alexander tuan, mereka menawarkan keuntungan yang lebih besar dari perusahaan mana pun kita harus memiliki inovasi dan gagasan baru untuk perusahaan kita" ucap asistennya
"Kenapa kita tidak mengajukan kerja sama saja dengan mereka?" tanya Bryan
"Pernah tuan tapi mereka menolak waktu itu sepertinya anda harus turun tangan sendiri, kebetulan mereka baru sampai dari Amerika" ucap Reno asistennya
"Buatkan janji bertemu dengan pihak mereka saya sendiri yang akan mengajukan kerja sama" ucap Bryan
Begitu meeting selesai Bryan tidak kembali ke ruangannya dia memilih pergi keluar
dia mengendarai mobilnya lalu berhenti di toko bunga
membeli bunga untuk bundanya di rumah sakit
Nindy yang kebetulan ada disana mengintip dari jauh
setetes air mata lolos dari mata indahnya dia mengira Bryan sudah melupakannya
Nindy mengikutinya Bryan sampai rumah sakit
setelah Bryan masuk Nindy mengintip dari pintu yang sedikit terbuka
"Bunda" gumam Nindy pelan dengan mata berlinang air mata
Nindy menghapus lelehan bening itu dan pergi dari sana
Nindy tak kuasa melihat bunda yang kurus terbaring lemah
Nindy belum pergi dari rumah sakit dia menunggu Bryan pergi dulu
lalu masuk menemui bunda di ruangannya
Nindy mengusap kepala bunda membelai pipinya yang sangat tirus bahkan dia dapat merasakan tulangnya
Nindy menggenggam tangannya perlahan tetesan demi tetesan air mata tak dapat dia bendung
dia menciumi tangan bunda
"Bunda kenapa jadi seperti ini? maafin Nindy Bun Nindy gak nemenin bunda di saat seperti ini " ucap Nindy menangis
Perlahan jari bunda mulai bergerak satu persatu
menyadari itu Nindy segera memakai maskernya
saat hendak pergi tiba tiba sebuah tangan lemah menahan tangannya
"Jangan pergi nak, maafkan Bryan" ucapnya lemah nyaris tak terdengar
Nindy pergi dengan tangisan pilunya hatinya begitu sakit melihat keadaan bunda yang sekarang
tapi dia tidak mau ketahuan lalu pergi memanggil dokter untuk ke ruangan bunda
"Nindy.... Nindy tadi dia disini dok" ucap bunda mencari Nindy
"Nyonya anda baru bangun setelah 6tahun terbaring koma, ini mukjizat nyonya
saya akan menelpon anak anda agar segera kesini" ucap dokter setelah memeriksa bunda
tuutttt tuutttt
"*Halo tuan ada kabar baik, nyonya sadar" ucap dokter
"Apa dok? Alhamdulillah saya segera kesana" ucap Bryan*
Bryan yang masih di jalan memutar kembali mobilnya kerumah sakit
dia dengan semangat mengendarai mobil agar bisa sampai dengan cepat
sesampainya di rumah sakit bunda sedang di suapi oleh suster
"Bun Bryan senang bunda sadar" ucap Bryan menahan air matanya memeluk bunda
Lama Bryan memeluk bunda tapi tidak ada balasan
bunda hanya mematung juga tidak mengatakan sepatah kata pun
Bryan melepas pelukannya dan mencium kening bundanya
"Biar saya aja sus yang suapin"' ucap Bryan
"Gak sus suruh dia pergi" ucap bunda membuat Bryan bengong dengan jawaban bunda
"Tapi kenapa Bun? Bryan kangen sama bunda... maaf untuk enam tahun sebelumnya" ucap Bryan yang kini menangis
"Suruh dia pergi sus saya tidak mau bertemu dia" ucap bunda juga menangis
"Tuan maaf sebaiknya anda pergi dulu biarkan nyonya tenang dia baru saja sadar" ucap suster
"Tapi sus" ucap Bryan
"Demi ibu anda, jika dia sudah membaik saya hubungi anda kembali" ucap suster
Bryan pergi dengan berat hati dia terus merutuki dirinya sendiri
saat di lampu merah ada mobil bersebelahan dengan mobilnya
ketika Bryan melirik kearah mobil tersebut dia melihat seperti Nindy sedang mengemudi
Ketika hendak menyapa pengendara mobil tersebut tapi dia menutup kaca mobil lalu melesat dengan kencang
Bryan hendak mengejarnya tapi kecepatan mobil itu membuatnya kehilangan jejak
"Nindy apa benar itu Nindy? aku kangen sama kamu" gumam bryan
Sepanjang hari dia terus mengingat orang yang mirip Nindy
dia memilih tinggal di cafenya dari pada kembali ke kantor
di kantor Maria menunggunya sepanjang hari dia sudah merasa bosan dan kesal akhirnya dia keluar dari ruangan Bryan
"Kemana bosmu kenapa dia lama sekali" ucap Maria
"Tuan sudah selesai meeting dari 4 jam yang lalu" ucap sekretarisnya cuek
"Kurang ajar kenapa gak bilang? Lo mau gue pecat?" teriak Nindy pada Dara yang menjadi sekretaris Bryan
"Tidak usah teriak teriak nona Maria yang terhormat, saya tidak peduli jika saya harus di pecat" ucap Dara sinis
Maria pergi dengan kesal dia menu menunggu begitu lama
tapi Bryan malah tidak kembali ke kantor
Bryan sedang menyandarkan tubuhnya di kursi di ruangannya
tiba tiba pintu di buka dengan kerasnya sampai orang yang ada di cafe terkejut
Bryan menarik tangan Maria dan menghempaskannya kasar ke sofa
Maria merintih kesakitan memegangi sikunya yang terbentur pinggiran sofa yang terbuat dari kayu
"Kamu kasar banget sama aku" ucap Maria
"Gue udah bilang jangan pernah mimpi buat masuk ke hidup gue" bentak Bryan
"Gue udah gak peduli sekarang mau Lo bilang bokap Lo cabut sahamnya juga gue gak peduli, gue muak sama Lo" lanjut Bryan lalu pergi membanting pintu
"Sia sia usaha gue selama ini aaarrrggghhhhh kurang ajaaaarrr, kalo gue gak bisa dapetin Lo maka siapapun gak boleh" teriak Maria
Maria yang sedang di kuasai amarah langsung pergi ke rumah sakit
dia pergi keruangan dimana bunda di rawat
dia memakai pakaian serba hitam dan tertutup
disana bunda sedang tertidur
Maria menutup wajah bunda dengan bantal membuat bunda berontak
tubuhnya yang masih lemah tidak dapat melawan
sebisa mungkin bunda meraih bel yang ada di atas kepalanya
Untung saja perawat segera datang memergokinya
ketika kepergok oleh perawat Maria mendorongnya hingga terjatuh lalu pergi dengan cepat dari sana
"Nyonya tidak apa apa?" tanya suster
" Tidak terimakasih" ucap bunda lalu suster memberi segelas air
"Apa saya harus menghubungi anak anda?" tanya suster
"Tidak usah biar saja, saya hanya ingin istirahat " ucap bunda
Ke esokan harinya Bryan pergi ke perusahaan Alexander
dia mengajukan proposal untuk kerja sama dengan perusahaan tersebut
"Anda bisa langsung ke ruangan tuan Alexander" ucap sekretarisnya
Bryan menuju ruangan CEO Alexander dia membuka pintu
betapa terkejutnya Bryan melihat siapa yang ada di dalam
kini dia begitu berbeda dari penampilannya bahkan prilakunya
"Nindy " gumam Bryan
"Maaf tuan anda mencari siapa?" tanya nindy
Bryan berlari menubruk tubuh Nindy yang mematung
Bryan memeluknya bahkan sekarang bahu Nindy terasa basah karena air mata Bryan
Nindy sekuat tenaga menahan air matanya
saat itu suara Leo yang mengejutkan mereka
"Eehheemm" ucap Leo
Nindy segera menjauhkan tubuh Bryan dan berlari menghampiri Leo
Nindy bergelayut manja di lengan Leo membuat Leo mengerutkan keningnya
"Sayang kenapa lama?" tanya Nindy manja
Leo hanya diam Nindy yang kesal pun mencubit perut Leo dari belakang
Leo memejamkan sebelah matanya seraya meringis
"Maaf tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya Leo
Bryan mematung melihat interaksi kedua orang di hadapannya
masih tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya
dia ingin marah tapi apa dengan amarahnya Nindy akan kembali
Bryan menyerahkan proposalnya dan apa yang terjadi selanjutnya?........
Jangan lupa like, komen and vote ya 😍😍😍
Kunjungi juga cerita othor yang lain 😍😍
seru ceritanya.
dan tak favorit juga.