follow Ig @rii.ena
Bastian melotot membaca surat yang ada di tangannya, surat cinta yang di terimanya dari anak perempuan berusia dua belas tahun, surat cinta.
" Cih."
Ucapnya jijik.
Bastian melemparkan begitu saja kertas merah jambu itu dilantai, lalu dengan menggunakan sapu dan sekop sampah, Bastian membuangnya ke dalam tong sampah.
Sepuluh tahun setelahnya, Malam setelah mereka menikah, Bastian baru tahu jika perempuan yang baru dinikahinya adalah bocah yang pernah menulis surat cinta padanya.
Apakah Bastian akan menceraikan Istrinya malam itu juga atau Bastian tetap melanjutkan pernikahan itu, secara Bastian sudah tiga kali gagal menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Seperti seorang matador
Amel segera terhanyut dalam tidur sorenya, walaupun tidur di waktu itu sangat tidak dianjurkan.
Mungkin karena misi-misi ingin menaklukkan Bastian yang tidak berhasil sampai terbawa ke alam bawa sadarnya dan masuk ke alam mimpi.
Bastian tadi yang ditinggalkan di halaman samping hendak bermain skipping, dalam mimpi Amel justru Bastian menyusulnya ke kamar.
Dress rumahan yang Amel kenakan di buka secara paksa oleh Bastian
Tentu saja Amel tertawa senang karena Bastian akhirnya menyerah.
Bibir Amel terus saja menyunggingkan senyumnya, menikmati gerakan Bastian yang seperti seorang pemain Matador yang sudah berhasil menjinakkan se-ekor banteng.
Amel merasakan mimpinya benar-benar erotis sampai ketika Amel sudah mencapai rasa yang pernah dirasakannya tiga hari yang lalu Amel membuka kedua matanya.
" M-Mas "
Suara Amel masih terdengar tersengal karena sisa-sisa napasnya yang belum teratur.
" Diam-lah ! Mas belum selesai "
Amel Kembali memejamkan matanya, dia malu melihat Bastian yang tengah melepaskan hasratnya dengan kondisi suasana terang karena masih sore.
Jadi tadi bukan mimpi ya ?
Bibir Amel membentuk senyuman, untungnya Bastian masih sibuk dengan dirinya sendiri, kalau enggak pasti kepala Amel kena jitak.
Akhirnya Bastian menjatuhkan badannya disebelah Amel sembari mengatur ritme napasnya yang masih terdengar memburu.
" Mas "
" Kamu tadi bermimpi mesum ya ? Dasar "
Bastian menunjuk dahi Amel dengan ujung jari telunjuknya.
Amel terkekeh.
" Bukan mimpi, cuma aku merasa mimpi "
Amel membela diri.
" Jangan ngeles, dibukain bajunya kok diam saja, malah senyum-senyum "
Bastian mencibir.
" Nah Mas, tadi olah raga, keringetan. Bisa-bisanya nggituin aku dalam keadaan keringetan "
" Biar sekalian keringetan, kamu sendiri menikmatinya, ayo mandi ! "
Bastian seenaknya saja ngeloyor ke kamar mandi seperti bayi besar.
Amel tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia pelototi tubuh polos Bastian, walaupun dari belakang.
Amel ikut berjalan ke kamar mandi menyusul Bastian.
Kesempatan ingin melihat adiknya Bastian tidak boleh disia-siakan, habisnya lucu sih.
" Ngambek itu jangan lama-lama Mas, kita kan pengantin baru. kasihan kan adiknya Mas Bas puasa ? Gak tahan sampai aku tidur juga di...."
Belum sempat keluar ejekan dari mulut Amel, Bastian sudah membungkamnya dengan mulutnya sendiri.
Bastian melampiaskan apa yang ditahannya tiga hari ini, Amel yang sudah lemas dan kewalahan tidak dihiraukan oleh Bastian.
Menjelang magrib baru keduanya keluar dari dalam kamar mandi.
Bastian dalam kondisi segar dan wajah yang sumringah, Amel justru sebaliknya.
Untuk berdiri saja kakinya gemetaran.
Amel kapok, dia tidak akan mau lagi menyediakan menu yang membuat Bastian seperti orang yang kesetanan.
" Biar Mas ambil makan sendiri, kamu tunggu saja disini "
Amel hanya tiduran di atas ranjang selepas magrib tadi.
Badannya benar-benar lemas karena Bastian terlalu lama melakukannya di kamar mandi tadi.
Bastian masuk ke dalam kamar dengan piring yang penuh dengan masakan yang Amel buat tadi.
" Makanya jangan aneh-aneh, kalau Mama atau Papa yang melihat kamu berdua'an dengan temanmu, mereka berpikir apa ? "
Bastian menyuapkan nasi ke mulut Amel dengan sedikit geram.
" Maaf Mas ! "
" Apalagi jika rekan Mas dikampus ? Mereka akan menuduh kamu berselingkuh, kita menikah juga masih baru Mel. "
Bastian menyuap untuk dirinya sendiri, lalu menyuapi Amel.
" Mas cemburu gak ? "
Dih, Amel ge-er.
" Mas gak suka kamu di pegang pegang oleh temen kamu itu, dia itu laki-laki. Haram, tau gak ? Mulai sekarang kamu dirumah saja, jangan kelayapan ! "
Bastian kalau sudah ngomel, emak-emak saja kalah.
Lihat aja waktu dia ngambek ? Sudah kaya' anak perawan, awet.
" Kalau ke rumah Om Joko ? Masa' gak boleh, aku kan kangen sama Alif "
" Dirumah saja, tunggu Mas pulang, bisa kita buat yang lebih bagus dari pada Alif.
Mas kan lebih cakep dari pada Om yang kamu bangga- banggakan itu "
Sambil ngomel, nasi di dalam piring sudah ludes di makan berdua.
" Mau nambah ?"
Tawar Bastian
" Enggak, udah kenyang dengerin omelan dari Mas "
Amel mencebikkan bibirnya.
Besok-besok kalau mertua Amel datang, Amel mau tanya. Ketika mengidam Mas Bas, ibu mertuanya mengidam apa kok Bastian bawel kali.
" Mas ambil lagi ya ! Ntar Mas suapi, kamu memerlukan tenaga ekstra banyak untuk malam ini Mel "
Bastian keluar lagi menuju ke dapur.
Tapi Bastian sedikit lama, padahal cuma mengambil nasi dan lauk pauknya diatas meja makan.
" Mel "
Bastian hanya melongokkan kepalanya ke dalam dan membuka pintu lebar-lebar.
" Kamu kenapa Mel ? Sakit ? " Tante Dina, mertua Amel yang masuk ke dalam kamar.
Bastian segera menyingkir untuk menemani Papanya di ruang tamu.
" Eng-enggak Ma, aku baik-baik saja "
Amel berusaha turun dari tempat tidur.
Tetapi baru berdiri, kakinya terasa sangat lemas.
Tante Dina menautkan kedua alisnya, lalu tersenyum.
" Sudah, kamu di tempat tidur saja. Mama faham kok, namanya juga masih pengantin baru "
Wajah Amel merah, malu sekali rasanya. Disaat mertuanya datang, Amel justru tidak keluar kamar.
" Mama sama siapa ke sini ? "
" Dengan Papa, hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Tapi Bastian tadi sudah menjelaskan "
Tante Dina menatap wajah Amel lekat-lekat.
" Mel, maafin Mama ! Jangan katakan kalau Mama ini ibu mertua yang cerewet dan ikut campur dengan urusan rumah tangga kamu dan Bastian "
Dada Amel mendadak berdebar-debar, apakah Tante Anne juga memberikan foto itu pada Mama mertuanya.
" Mama tahu kamu besar di bawah pengasuhan nenekmu, mungkin karena nenekmu yang sudah tua dan terfokus untuk memenuhi kebutuhan kalian berdua. Maaf sayang, Mama ngomongnya jadi ngolor ngidul. intinya, bolehkan kalau Mama meminta agar kamu sedikit menjauh dari teman laki-laki kamu ? "
Tante Dina menyodorkan foto yang sama yang kemarin di lempar oleh Bastian ke arahnya ketika marah.
" Anne, yang menemui Mama, Mel. Dia dari sejak kematian sepupunya yang merupakan calon istri Bastian dulu yang meninggal, keukeh ingin menggantikan posisi almarhum Dahlia agar bisa menikah dengan Bastian.
Tapi kami semua menolak.
Dia sepertinya terobsesi dengan Bastian, Mel, bukan cinta. Jadi dia akan memanfaatkan sedikit kelemahan dirimu agar bisa menghancurkan rumah tangga mu, lalu dia masuk "
" Maaf, Ma ! Aku...."
" Mama percaya padamu, Mel. Apalagi kamu jatuh cinta pada Bastian dari kamu abege. hanya saja, jangan lagi bertemu dengan temanmu tanpa Bastian, oke ! "
Tante Dina mengusap lengan Amel. Kedua mata Amel sudah berembun menahan tangis.
" Jaga nama baik keluarga ya sayang ! Ada banyak teman Papa dan Mama di luar sana.
Apalagi Papa kan mencalonkan menjadi anggota dewan "
Tante Dina mengedipkan sebelah matanya.
" Di-rumah saja, tunggu Bastian pulang dan minta Bastian menemani keluar kalau kamu bosan.
Percaya pada Mama ! Bastian itu walaupun ganteng tapi setia, sama seperti Papa "
Tante Dina terkekeh.
Amel ikut tertawa sembari menangis merasa bersalah.
" Maafkan aku, Ma ! "
" Iya, Bastian sudah menjelaskan semua tadi di luar "
Kedua orang tua Bastian datang hanya ingin konfirmasi tentang foto yang di bawa Anne tadi ke rumah mereka.
Mendapat penjelasan dari Bastian, mereka juga percaya bahwa Amel tidak mungkin berselingkuh.
" Mama dan Papa sudah pulang Mas "
Amel merasa bersalah melihat Bastian yang menutup pintu sembari berjalan mendekati ranjang.
" Sudah, barusan "
" Mas "
" Mau minta maaf ? Mau berapa kali ? Sudah Mas maafkan, makanya patuh dan jangan bohong sama suami "
Mulai lagi....Amel nyesel minta maaf tadi.
...****************...