NovelToon NovelToon
Brondong Tajir Mengejar Janda

Brondong Tajir Mengejar Janda

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Berondong / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 5
Nama Author: cucu@suliani

IG. Suliani_Cucu

Seasen 1

Aksara Pramudiya adalah seorang pria muda yang kaya raya, dia menyukai seorang perempuan yang terlihat cantik dan sederhana.

Dilihat dari sisi manapun perempuan itu terlihat sangat cantik dan masih terlihat berusia dua puluh tahunan.

Sayangnya dia berbeda keyakinan dengan nya, bahkan ternyata dia sangat kaget jika perempuan yang dia sukai ternyata lebih tua lima tahun dari nya.

Lebih parah nya, perempuan itu ternyata adalah seorang janda beranak satu.

Season 2

Banyak anak membuat hidup Aksa dan juga Najma penuh warna, bahkan kisah anak-anak mereka pun begitu beragam.

Pastinya, diantara salah satu anak Aksa dqn Najma ada yang kecantol sama Janda.

Siapa ya?

Yuk kita kepoin kisah nya.

Mohon dukungan nya buat si aku penulis yang masih amatiran ini..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bingung

POV Aksa

Hari ini hatiku terasa sangat hancur, aku merasa sangat kecewa karena tahu jika Maria sudah tak perawan lagi. Bahkan yang kebih mengecewakan lagi, dia sudah dengan sengaja membunuh calon bayinya.

Sebenarnya, kalau misalkan dia kehilangan keperawanannya, tetapi dia bisa bersikap dengan baik, mungkin aku akan mempertimbangkannya.

Namun, kini sikapnya malah semakin kacau. Aku bahkan melihat dia mabuk seperti itu saja sudah membuat diriku menjadi ilfil, menjadi kecewa dan juga aku merasa salah dalam memilih.

Padahal aku yang nota bene sebagai lelaki saja selalu berusaha menjaga diri, bahkan aku tidak pernah pacaran karena takut melakukan kesalahan.

Sampai akhirnya aku bertemu dengan Maria, wanita itu seakan mampu menghipnotisku dengan auranya. Aku suka dengan kecantikannya, aku suka dengan kebaikannya dan yang pasti aku sangat suka dengan sifat manjanya.

Terus terang saja aku memang mendambakan sosok wanita manja yang merasa begitu membutuhkan kehadiran aku, dan aku menemukannya dalam diri Maria .

Aku pun berusaha mendekati Maria saat itu, butuh waktu satu bulan untuk aku mendapatkan cintanya. Mungkin lebih tepatnya mendapatkan raganya, karena sepertinya hatinya bukan untukku.

Saat aku akan pergi untuk melanjutkan kuliahku, Maria melepaskan kepergianku dengan sebuah pelukan dan juga sebuah ciuman.

"Ini adalah penawar rindu," ujar Maria kala itu.

Di saat itulah aku merasakan yang namanya ciuman, bibir Maria yang tebal terasa sangat kenyal dan manis. Maria begitu mahir dalam berciuman, aku sempat kaget dan ingin bertanya sebenarnya aku lelaki keberapa yang sudah merasakan kehangatan bibirnya.

Namun, aku tak berani bertanya saat itu, selain takut menyinggung perasaannya, aku juga tak mau merusak suasana.

"Lakukan sepuas kamu, yang penting yang kamu lakukan ini hanya kepadaku," ujarku kala itu.

Malam ini aku benar benar bingung, langkah apa yang akan aku ambil setelah ini. Aku sampai tak bisa berpikir dengan jernih, rasanya yang kubutuhkan saat ini hanyalah sebuah pelukan yang menenangkankan.

Beruntung ibu datang ke kamarku, dia memberiku nasehat sambil memeluk dan mengelus lembut punggungku. Aku pun merebahkan tubuh lelahku di kasur, dengan penuh kasih ibu mengelus puncak kepalaku .

Sesekali ibu mencium keningku, dia memperlakukan aku seperti saat aku kecil. Namun, aku merasa nyaman sekali.

"Tidurlah, Sayang. Ibu akan menemani kamu sampai kamu tidur," ucap Ibu penuh perhatian.

Aku segera menutup mataku, sentuhan yang ibu berikan membuat aku merasa lebih tenang. Tak lama aku sudah terlelap, sampai aku membuka mataku kembali dan aku lihat hari sudah siang.

Aku pun sangat kaget, aku segera melihat jam yang bertengger cantik di dinding. Ternyata sekarang sudah pukul sembilan pagi, dengan cepat aku berlari ke kamar mandi.

"Ah! Sial! Kenapa bisa sampai telat bangun?"

Aku menggerutu sambil melaksanakan ritual mandiku, satu hal yang aku anehkan, kenapa tidak ada satu pun orang yang membangunkan aku dari tidurku.

Setelah selesai mandi aku segera memakai pakaian formalku, setelah terlihat rapi aku segera turun. Hampir pukul sepuluh saat aku tiba di bawah, saat aku mau pergi seorang asisten rumah tangga menghampiriku.

"Maaf, Den. Kata nyonya besar anda tidak usah bekerja hari ini," ucapnya.

Aku mengerutkan keningku, nenek biasanya selalu meminta aku untuk bekerja dengan keras dan juga baik. Namun, kenapa hari ini nenek malah berpesan untuk aku agar tidak bekerja, pikirku.

"Kenapa?" tanyaku.

"Kata nyonya besar Aden butuh istirahat, Aden sarapan saja dulu. Setelah itu Aden tolong temuin non Maria, dari pagi non Maria sudah nungguin di teras depan Den."

Maria, wanita itu yang tadi malam membuat aku begitu kecewa dengan sikap dan juga kelakuannya. Dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, dengan pengakuan yang tanpa sadar dia lakukan.

"Baik, Bi. Terima kasih atas informasinya," ucapku dengan sopan.

Setelah mengatakan hal itu, tentunya aku tidak langsung pergi ke dapur untuk sarapan. Karena rasanya perut ini tidak lapar, justru rasanya aku ingin segera berbicara dengan Maria.

Aku langsung melangkahkan kakiku keluar rumah, benar saja di sana sudah ada Maria yang duduk di kursi teras. Dia terlihat sedang melamun, pandangan matanya terlihat kosong.

Hem! Keadaan wanita itu nampak menyedihkan, jika saja tadi malam dia tidak mengecewakan, pasti aku sudah langsung memeluk dan mencium bibir wanita itu.

"Maria," sapaku.

Maria langsung menoleh kepadaku, dia langsung bangun dari duduknya dan langsung memelukku. Aku hanya bisa diam mematung tanpa membalas pelukannya, karena terus terang saja aku masih sangat kecewa padanya.

Aku melihat tubuh Maria berguncang, kemeja yang aku pakai terasa basah. Sudah bisa dipastikan jika dia sedang menangis saat ini, aku hanya membiarkannya tanpa bicara apa pun.

Tak lama dia pun melonggarkan pelukannya, dia mendongakan wajahnya dan menatapku dengan sendu. Tatapan yang dipenuhi dengan raut kecewa, penyesalan dan juga ketakutan.

"Maaf," ucapnya.

"Untuk apa?" tanyaku pura-pura tak paham.

Padahal, aku yakin kalau Maria meminta maaf untuk apa yang terjadi tadi malam. Sungguh tadi malam dia terlihat begitu kacau dan aku jika mengingat akan hal itu merasa mual sekali.

"Aku semalam mabuk berat, kamu pasti merasa ilfil padaku," ucapnya dengan malu dan penuh rasa bersalah.

Aku hanya tersenyum sinis mendengar ucapannya, jika dia hanya mabuk saja mungkin aku akan merasa ilfil. Namun, setelah mengetahui dia sering berhubungan intim dengan mantannya, bahkan pernah dengan sengaja menggugurkan kandungannya, aku malah merasa jijik padanya.

"Maaf, Maria. Untuk saat ini aku butuh waktu untuk sendiri. Kamu pulanglah," ujarku dengan tegas.

Maria terlihat kecewa pada sekali, dia menatapku dengan tatapan sendunya. Aku memang kasihan, tapi rasa kecewa karena apa yang sudah terjadi di masa lalu Maria, membuat rasa kasihan itu sirna begitu saja.

"Jangan tinggalkan aku, Sayang. Tadi malam aku hanya terbawa emosi saja. Aku akan berusaha merubah diriku agar bisa lebih baik lagi, aku janji."

Dia terlihat berbicara dengan begitu bersungguh-sungguh, dia terlihat berusaha untuk meyakinkanku. Sayangnya, entah kenapa aku sudah terlanjur kecewa dan tidak ingin berdekatan dengan dirinya untuk saat ini.

"Maaf, Maria. Tapi saat ini hatiku sedang kecewa. Berikan aku waktu untuk menenangkan diri, untuk beberapa hari ke depan tolong jangan temui aku," pintaku.

Wajah wanita itu terlihat begitu sedih sekali kala mendengar aku mengatakan hal seperti itu, tetapi aku tidak peduli karena rasa kecewa ini benar-benar sudah menguasai hatiku.

"Tapi aku tidak bisa jauh dari kamu, aku mohon, Sayang. Biarkan aku di sini, biarkan aku deket sama kamu."

Aku menghela napas berat, karena menghadapi Maria sangatlah sulit. Padahal, seharusnya wanita itu harus bersyukur karena aku masih berbaik hati tidak berkata kasar atau melakukan hal yang kasar.

"Maaf, Maria. Tapi aku harus pergi sekarang," ucapku. Karena rasanya berkata seperti itu akan lebih baik.

Sepertinya Maria belum sadar, jika tadi malam dia sudah menceritakan tentang masa lalunya kepadaku. Dia hanya berkata jika aku takut ilfil karena dia mabuk, padahal yang membuat aku sangat muak saat melihat wajahnya bukan karena dia mabuk, tapi karena dua dosa besar yang sudah dia lakukan.

"Yang, kasih aku kesempatan untuk berduaan dengan kamu."

Aku hanya menggelengkan kepalaku, lalu aku segera melangkahkan kakiku, aku segera menuju pos security. Aku meminta kunci mobilku padanya, setelah itu aku pergi meninggalkan Maria sendirian.

Maria berteriak teriak memanggil namaku , bahkan Maria terlihat menangis dan menjatuhkan tubuhnya di lantai. Wanita itu nampak menyedihkan sekali.

Jujur aku merasa tak tega melihat wanita yang aku cintai terlihat kacau seperti itu, tapi rasa kecewa di hatiku begitu mendominasi. Sakit rasanya mendengar kejujuran dari mulut Maria tadi malam.

"Lebih baik aku menenangkan diri terlebih dahulu," ujarku.

Aku segera pergi ke taman, aku ingin menenangkan pikiranku yang terasa sangat kacau. Bahkan perut yang belum terisi pun terasa tak lapar jika dalam keadaan kecewa, aku hanya bisa tersenyum getir.

Baru saja aku jatuh cinta, tapi ternyata sudah merasa patah hati. Aku jadi bingung sekarang, harus bersikap seperti apa kepada Maria.

"Haruskah aku memutuskan wanita itu dengan cepat atau bagaimana? Oh, Tuhan! Aku harus bagaimana?"

Saat tiba di taman, aku langsung masuk dan memarkirkan mobilku. Aku duduk di salah satu bangku taman, aku mengambil napas dalam dan menikmati harumnya bunga.

Rasanya pikiranku sangat buntu, kerjaanku hanya menatap hamparan bunga yang begitu indah. Sayang sekali perasaanku saat ini sedang tidak indah, hanya ada luka yang terasa menganga dengan lebarnya.

Aku hanya bengong sambil memandangi hamparan bunga sampai sore tiba, karena jujur saja aku benar benar tak tahu harus berbuat apa. Hingga perutku terasa sakit dan melilit, barulah aku beranjak pergi dari sana.

Aku segera melajukan kembali mobilku, aku menyusuri jalanan dengan sesekali melempar pandangan ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu ada hal yang menarik yang bisa menghibur hatiku, tapi tanpa kuduga, tepat di depanku ada sebuah mobil yang sepertinya hilang kendali.

Mobil itu melaju dengan cepat hingga menabrak dan berguling ke pinggir jalan, tak lama terdengarlah teriakan banyak orang yang melihat kejadian tersebut. Dalam sekejap mata, di sana sudah terjadi kemacetan karena banyak orang yang berkerumun melihat mobil tersebut.

"Kenapa itu bisa terjadi? Apa remnya blong?"

Satu hal yang paling menarik perhatianku, aku melihat wanita yang sedang menggendong anaknya. Anaknya terlihat mengeluarkan darah yang banyak, bahkan baju wanita itu sudah penuh dengan darah.

"Bukankah itu--"

Aku langsung turun dari mobilku dan berlari dengan cepat saat aku sudah menyadari siapa wanita itu, aku tidak boleh terlambat.

1
untung untung
hebat Imajinasinya
FIRA_SHAFIRAH27
kok ngk ada si kak
Cucu Suliani: Oh, diganti judul jadi Hati Yang Kau Sakiti😊
total 3 replies
KIRANA
kok ngk ada ya
nuraeinieni
Luar biasa
falea sezi
lagian lu gatel amat itu kakak ipar lu mau jd pelakor yee dasar g sesuai ma nama lu yg bagus tp hati busuk
falea sezi
karma mu bas g inget anak istri meski amnesia biasa nya feeling nya kuat nah ini tergoda ama jalang kek Deby mampus deh hidup lu
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
🌹🪴eiv🪴🌹
sedang khusyuk baca ada yg garing "makaroni" 🤧
🌹🪴eiv🪴🌹
siapa Elsa 🙄
🌹🪴eiv🪴🌹
selalu
🌹🪴eiv🪴🌹
menoleh
🌹🪴eiv🪴🌹
menegur
🌹🪴eiv🪴🌹
merajut 🙈
🌹🪴eiv🪴🌹
bukannya semester 4
obrolan bunda sama ayah bilang kuliah 2 tahun udah belagak udah jadi dokter kalo ada yg sakit
🌹🪴eiv🪴🌹
mengurus
🌹🪴eiv🪴🌹
astoge,menggedor

menggoda 🤧
🌹🪴eiv🪴🌹
di biasain
🌹🪴eiv🪴🌹
humornya....?
🌹🪴eiv🪴🌹
wow
emezing kali 💃💃💃
🌹🪴eiv🪴🌹
tenang ayah Aksa ,bunda najma udah author jodohkan untukmu
he he he he
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!