Masih ingat dengan saya kan? Ya Jihan aulia dan suami saya Zain Musthofa
Hm.... di season ke 2 ini, cukup ngeri ya judulnya , tapi gak papa, mudah mudahan banyak juga pembacanya Amin...
Okey... Sepulang dari ibadah haji, keromantisan kami makin bertambah, apa lagi bang Zain, semakin hari semakin bucin dan lengkat dengan gue, begitu juga dengan gue yang makin bucin dan gak mau jauh dari beliau
Dan gue pikir itu akan berlangsung dan terus romantis dan makin bucin sampai tua nanti, apa lagi kejutan demi kejutan yang sering kami berikan secara bergantian , kebahagiaan yang terus kami dapatkan setiap saat setiap hari, ditambah putra kami Muhammad Haidar Al-Musthofa yang makin aktif dan lucu tentu menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga kami
Tapi... Rencana,Ujian dan Rahasia Allah tidak pernah ada yang tau,
Ya.... di tengah kebahagiaan keluarga kami, Ujian dan cobaan yang luar biasa datang, yang membuat DERAI AIR MATA yang luar biasa
Gimana kisahnya...??
Hayuk pantengin terus novel nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zain sakit
Hari terus berganti, Kini Jihan sudah menyelesaikan sekripsinya, dan semua sudah di ACC dan tinggal menunggu jadwal sidang saja
Hampir 4 bulan Jihan dan Zain sama sama melakukan penyelidikan tentang kejahatan Rani, dan hasilnya masih sama yaitu sama sama Zonk dan tidak dapat penerangan sama sekali
Bahkan Jihan juga sudah pernah menyamar sebagai sosok seorang preman, hanya demi mencari info tentang Rani kepada preman yang biasanya nongkrong di dekat lokasi kejadian penjebakan Zain,
Tidak hanya di sana saja, Jihan juga mencari tau tentang preman yang di dekat rumah orang tua Rani, dan mereka memberi jawaban kalau mereka tidak kenal dengan Fani
Dan penyamaran Jihan waktu itu cukup unik, Dia berpenampilan bagaikan anak Pank, dan berdandan seburuk mungkin, dan seseram mungkin agar membuat mereka ilfil sekaligus takut dengannya
Hingga Akhirnya Jihan juga mendatangi pabrik tempat suami Rani bekerja, dan sayang lagi, saat ini memang benar suami Rani sudah tidak bekerja di sana lagi, dan sudah hampir setengah tahun di pindahkan ke pabrik luar negri
Tapi sampai saat ini Jihan tidak akan menyerah dan terus mencari tau bukti bukti tersebut, dan terus mengintai keluarga Rani
Setelah serasa cukup mencari tau tentang Rani untuk hari ini, Jihan kembali pulang karena ada anak yang menunggunya di rumah,
Zain?? Zain sama sama sibuk mencari bukti kejahatan Rani, dan Zain sengaja sering kali memcoba cari info dengan teman temannya, dek tak tik serapi mungkin, seperti yang Jihan ajarkan padanya, agar teman teman mereka tidak mencurigai kasus yang menimpanya
1 jam lebih Jihan sampai di rumahnya, dan ternyata mobil Zain sudah berada di halamannya,
Dan setelah memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Zain, Jihan langsung keluar dari mobilnya dan berjalan cukup lesu menuju rumahnya
" Assalamualaikum...." ucap Jihan setelah melepas sepatunya
" Waalaikumsalam...." jawab Zain dan baby Al yang ada di dalam
Zain sudah pulang sejak sore tadi, karena dia merasa badannya sudah tidak sanggup untuk melanjutkan pencarian hari ini, dan harus segera istirahat , dan Halimah juga sudah pulang, di mana setelah Zain selesai mandi
Jihan pun tersenyum menghampiri keduanya, tapi tidak langsung mendekat hanya sekedar menyapa, karena Jihan selalu menjaga kesterilan tubuhnya
" Umi mandi dulu ya sayang" ucap Jihan pada ke dua pangeran kesayangannya
" Okey Umi" jawab Zain dan baby Al kompak
Hampir 30 menit Jihan berada di lantai atas, karena Jihan sholat terlebih dahulu, dan baru lanjut mandi untuk merendam di bat up, karena saat sampai rumah tadi udah masuk waktu magrib
Jihan akhirnya turun kembali ke lantai bawah, dengan memakai mukena, karena bentar lagi juga masuk waktu isya' dengan alasan biar tidak di pegang oleh Zain
Sehingga membuatnya batal dan harus ambil wudhu lagi, bukan itu juga sih, karena Jihan juga akan mengaji walau sebenatar, karena dirinya sebagai penghafal Al Qur'an senggaknya meluangkan waktu sibuknya sejenak untuk memegang dan membaca Al Qur'an
" Baby Al udah ngaji belum tadi sama Abah?" tanya Jihan saat duduk di sofa ruang tengah
" Udah Umi, baby dah tampe Sho" jawab baby Al degan tersenyum
Semanjak sebulan terakhir ini Zain dan Jihan memang mengajarkan baby Al untuk mengaji, dan menghafal huruf hijaiyyah terlebih dahulu, selama baby Al sudah mulai jelas cara berucap
" Pinternya putra Umi" ucap Jihan tersenyum senang dan mencium lembut pipi gembul baby Al
" Udah boleh di pegang gak sih?" ucap Zain yang ingin sekali mencium dan memeluk istrinya
" Eh jangan dong, Adek mau ngaji bentar sambi nunggi isya' " tolak Jihan lembut dan membuat Zain cemberut
Di sekitar jam 10 malam, baby Al sudah tertidur sedari 1 jam yang lalu, Jihan masih menyelesaikan pekerjaan dari butik miliknya, yang mana semakin hari semakin buanyak permintaan pesenan custemer dan juga para agen cabang dan juga reseller yang bekerja sama dengan butiknya,
Apa lagi ini udah mulai mendekati bulan bulan Romadhon, dan tinggal 3 bulan lagi, jadi banyak orang yang sudah mulai PO terlebih dahulu, sehingga membuat kantor makin kualahan dan dia bagai owner ikut turun tangan juga
Untungnya sudah selesai dengan sekripsinya dan tinggal nunggu jadwal sidang 2 minggu lagi
" Hem..... Huh... Udah lah, lanjut besok lagi, " ucap Jihan menutup ponselnya dan merenggangkan otot ototnya
Jihan kemudian bangkit dari kursi nya dan berjalan menuju kekamarnya, yang mana Jihan melihat cara tidur Zain yang tidak seperti biasanya, dan cenderung merungkuk dengan di tutupi selimut yang lumayan tebal
Jihan mendekat dan mengecek suhu badan Zain, dengan menaruh telapak tangannya di kening Zain
" Astagfirullahaladzim..... Ya Allah Abang, kok panas gini" ucap Jihan kaget dan sangat panik
Karena selama menikah dengan Jihan, Jihan belum pernah melihat Zain yang sedang sakit, kecuali pas mogok makan selama Jihan koma waktu itu, karena selama ini Zain selalu menjaga staminanya, sama seperti Jihan, yang mana Jihan juga selalu memberi vitamin pada suaminya
Jihan langsung naik ke atas tempat tidur dan mengecek kembali kondisi tubuh Zain
" Bang... Ya Allah... Kok bisa begini sih" ucap Jihan terus mengelus pipi dan juga badan Zain yang cukup tinggi panasnya
" Em... Sayang..." ucap Zain lirih dan memeluk Jihan di bawa kepelukannya
" Iya sayang ... Abang kenapa? kok gak bilang dari sore kalau kurang enak badannya" jawab Jihan masih panik dan khawatir dengan Zain
Zain hanya tersenyum dan hanya ingin di peluk oleh Jihan, Jihan terus panik, dan baru sadar kalau dia adalah mahasiswi kedokteran
Maklum lah ya, Jihan pikirannya di bagi bagi, dan kadang terlupa dengan peran peran dia
" Abang, bentar ya, Adek ambil alat ala Adek dulu" ucap Jihan setelah bangkit dari pelukan Zain
Jihan kemudian beranjak menuju ruang kerjanya sekaligus ruang kerja Zain, Jihan mencari alat alat medis yang dia punya selama ini , setelah menemukan tas khusus alat medisnya Jihan membawanya dengan berlari ringan untuk kembali ke kamarnya,
Karena kebetulan, ruang kerja dan ruang ganti baju itu jadi 1, dan terhubung langsung dengan kamar mereka
Jihan meluruskan cara tidur Zain, dan Jihan mulai mengeluarkan tetoskop miliknya, dan perlahan membuka kancing piyama yang Zain gunakan, dan Jihan mulai menempelkan tetoscopnya di dada suaminya
Setelah memeriksa, Jihan mengecek suhu tubuh Zain dengan termometer miliknya, dan di atas batas normal suhu tubuh Zain,
Kemudian Jihan tak lupa mengecek tekanan darah Zain, dan hasilnya cukup rendah tekanan darahnya
" Apa yang Abang rasakan saat ini sayang?" tanya Jihan setelah selesai memeriksa
" Lemes sayang, kayak gak ada daya" jawab Zain lirih
Jihan kemudian kembali keruang kerjanya untuk mengambil tiang infus yang berada di sana, yang biasa Jihan gunakan untuk suntik vitamin untuk Zain dan juga dirinya setiap minggunya,
Dan Jihan juga mengambil kantong infus untuk suaminya, yang kebetulan kemaren Jihan beli di apotik, yang mana belum pernah sebelumnya Jihan beli, dan kemaren hanya berfikir untuk jaga jaga kalau dirinya drop karena banyak kerjaan
Dan ternyata malah Zain duluan yang drop saat ini, dan dengan hati hati Jihan mulai memasukkan jarum infus ke tangan Zain,
" Pelan pelan sayang" ucap Zain pada Jihan dengan suara lirih
" Iya sayang, Abang slow aja, jangan tegang gitu, " jawab Jihan dan akhirnya selang infus sudah terpasang di tangan Zain
Setelah memasang infus, Jihan kembali berbaring di samping Zain, atas permintaan Zain yang ingin memeluk istrinya
" Abang jangan capek capek ya, dan istirahat yang cukup" ucap Jihan karena tau kalau Zain sakit karena kecapean
persis kaya bojo ku klu pkai dapur