Summer Rindu Mahawira adalah bungsu dari empat bersaudara. Meninggalkan Indonesia menjadi pemberontak di keluarga Mahawira. Melepaskan impian Adyuta Mahawira, papanya dan menjalani hidup sebagai seniman.
Sementara ada Jason Cyrus Udayana sahabat kakak ketiganya Sean Alexi Mahawira yang tidak lelah mengejar Summer.
Kemudian di New York Summer bertetangga dengan pria berwajah mirip dengan Nicholas Saputra.
Selalu ada drama !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon laplusbelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Please Come Back
Tangan Summer bergetar membuka amplop berwarna putih yang sesaat lalu diberikan oleh Louie. Summer berjalan menuju tepi taman, ia mengenakan dress maxy berwarna violet yang melambai-lambai ditiup angin laut.
Hembusan angin berasa asin membuat hatinya lebih lapang, di dalam rumah ia merasakan sesak mengisi relungnya, rindu kepada sosok kecil dan cantik itu penyebab segala kegundahan.
Summer menarik napas panjang ketika membuka lipatan kertas putih berisi tulisan yang sangat indah .
Hai Rindu..
Ini aku Jason. Aku tidak menanyakan kabarmu, karena aku telah tahu semuanya.
Rindu, butuh lama aku menuliskan surat kepadamu. Tentu aku tidak ingin membuatmu kaget, namun maaf aku tidak bisa menahan diri lagi.
Kau berbohong, Rindu.
Mengatakan akan kembali kepada raja itu, kau tidak melakukannya sayang. Kenapa ? Membesarkan Hiver sendirian, sangat menghancurkan hatiku.
Pasti kau bertanya kenapa aku bisa mengetahui segalanya. Ya, orangku mengawasimu Rindu. Walau kita tidak berada di negara yang sama tapi aku tahu hal kecil yang kau lakukan.
Hiver sangat cantik, dia sedikit mirip denganmu. Jangan marah, tapi papanya dominan. Inginnya dia mirip denganku, hahaha.. Lucu yah Rindu. Aku
tidak berperan dalam membuahi tapi mengharapkan Hiver adalah anakku. Aku bisa
membayangkan wajahmu membaca tulisanku ini. Merenggut kesal lalu tertunduk menatap dressmu.
Aku rindu denganmu Summer Rindu. Sangat.
Ingatanku terus mengulang ke masa 3 tahun lalu, kehidupan bersama kita yang singkat. Perancis di musim panas. Jus favoritmu dan kolam renang. Menghabiskan hari berbincang denganmu, sangat menyenangkan.
Kenapa kita tidak mengawali perkenalan kita dengan baik-baik yah, Rindu ?
Mengulurkan tangan setelah dikenalkan oleh Sean, aku terus berandai.
Mungkin kita tidak menjalani takdir seperti ini.
Rindu, berhentilah mengasingkan diri. Kembalilah ke tempatmu seharusnya. Pria itu masih sendiri. Dia tidak memiliki pengganti dirimu, sayang. Hiver adalah anaknya, kau tidak boleh menyembunyikan darah daging seorang raja. Hiver harus mendapatkan pengakuan bahwa dia bagian dari kerajaan itu.
Kau pun begitu, honey. Jalani hidupmu sebagai permaisuri. Bukankah itu janjimu kepadaku, janji kita berpuluh tahun ke depan. Tidak melupakannya, bukan ? Karena aku tidak. Aku terus menatap kalender yang berada di atas meja
kerja.
Waktu berjalan lama di sini. Pula dingin. Coba tebak aku dimana ?
Ah, kau pasti tidak bisa menebak atau acuh tidak peduli.
Rinduku, sekali aku ingatkan untuk kembali ke Skotlandia. Jika kau tidak mau anak buahku untuk menculikmu dengan Hiver. Dan ketika kau membuka mata, ada aku di depanmu. Jika aku melakukan itu berarti mengingkari perjanjian
kita. Dan jika itu terjadi, sisa usiamu akan kau akan habiskan denganku. Apa kau mau begitu ?
Menggelengkan kepalalah jika kau tidak ingin.
Ah rindu, wanita satu-satunya yang pernah kunikahi. Tidak, aku tidak bisa melakukan itu lagi. Menikah maksudku. Terlebih aku adalah
buronan, aku harus pintar-pintar menutupi jati diriku. Mafia yang merobohkanku masih sering mengirimkan surat kaleng. Ancaman untuk tidak muncul di muka umum.
Jika aku menikah, aku akan masuk ke dalam sebuah keluarga baru. Mereka pasti akan mencari tahu siapa tahu aku sebenarnya, atau mungkin
aku akan membocorkan jati diriku. Inilah resiko yang harus aku tanggung karena telah menculik seorang putri kerajaan.
Sekarang pun aku tidak terlalu memikirkan hal itu, cukup pernikahan kita menjadi ingatan terbaik. Karena aku tidak bisa mencintai sebesar rasa cintaku kepadamu.
Jadi permintaan terakhirku kepadamu, Rindu. Kembalilah sayang. Hiduplah dengan bahagia, besarkan Hiver. Lahirkan lagi anak-anak yang sehat, besarkan mereka dengan kasih sayang. Kamu adalah wanita yang penuh cinta dan kasih. Aku pun kau rawat dengan baik. Pria yang tidak kau sukai, betul tidak ?
Aku pastikan ini bukan surat terakhirku, aku akan terus memberimu kabar secara sepihak. Banyak-banyaklah tersenyum, jangan murung. Kecantikanmu berkurang dengan wajah seperti itu. Seperti saat hari pernikahan kita, Rindu.
16 tahun, 7 bulan.
Jason.
~~
Tubuh Summer bersimpuh di atas rumput, tangannya mendekap surat Jason. Ia menangis, luka itu kembali memerih.
“Maafkan aku kak.” Lirihnya terisak.
…
Finlay berdeham keras. Ia tidak ingin meluapkan air mata di depan anaknya yang terus menatap dengan sorot mata polos.
“Kau memiliki nama yang sama dengan ibuku.” Finlay meraih kedua tangan Hiver.
Gadis cantik memiliki manik seperti dirinya menatap berbinar “Hiver ?”
Finlay menggelengkan kepala “Bukan sayang. Tapi Marjorie.” Ucapnya memberanikan diri untuk mengangkat tubuh Hiver naik ke pangkuannya dengan hati-hati.
Dada Finlay bergemuruh, mengalahkan ketika merasakan cinta kepada Summer.
“Kenapa nama kami sama paman ?” tanya Hiver menaikkan tangan kecilnya meraba pipi Finlay. Pria yang tak lain ayah kadungnya menutup mata
menikmati sensasi tangan mungil menyentuhnya. Air mata Finlay tidak bisa lagi di bendung.
Tangannya menarik Hiver merapat pada dadanya.
“Karena mamamu sangat mencintai mamaku.”
Tangan Hiver pun ikut memeluk tubuh besar Finlay. Tubuh yang bergetar karena tangis bahagia.
“Aku adalah papamu, Hiver. Anakku.” Finlay melonggarkan pelukan dan menangkup wajah kecil Hiver.
Sejenak gadis kecil itu menoleh mencari orang yang dikenalnya. Isla dan Adrien berdiri tak jauh
dari tempatnya lalu menganggukkan kepala.
Mami Isla mengucap dengan lantang “Ya Hiver, itu papamu, nak.”
Dengan bibir ditarik masuk ke dalam Hiver kembali menatap wajah Finlay, bola matanya sudah dipenuhi air.
“Papa ?” ucapnya dengan tangis meledak
Finlay menganggukkan kepala dengan kuat “Ya sayang, papa. Aku adalah papamu.”
Hiver berdiri lalu melingkarkan tangannya pada leher Finlay. Gadis kecil itu menangis keras-keras, sementara Finlay meluapkan haru dengan tetes air mata yang jatuh bak rinai di awal musim semi.
…
“Berapa lama kalian menyembunyikan rahasia ini ?” tanya Finlay kepada pasangan yang sedang tersenyum simpul. Hiver tidak lepas dari
gendongannya, menyandarkan kepala di bahunya.
“Aku menjemput Summer ketika kandungannya berusia 5 bulan. Princess Hiver sudah berusia 3 tahun bulan lalu. Selama itu kami menyimpan rahasia. Bukan mengkhianatimu Yang Mulia, tapi ini permintaan Summer. Dia tidak ingin kembali
kepadamu.” lugas Isla menjawab
“Kenapa istriku tidak ingin kembali ? Apa karena dia berhubungan dengan mantan suaminya ? Apa mereka bersama ?”
Isla dan Adrien menelengkan kepala “Tidak. Summer memilih untuk hidup sendiri. Kehamilannya tidak kau ketahui, Yang Mulia. Sebenarnya dia ingin memberitahu ketika kalian berbulan madu di Italy dan insiden itu terjadi. Saat kalian
menikah, Summer sudah hamil 2 bulan. Kami ada di setiap momen hingga Hiver sebesar ini. Maafkan aku, Yang Mulia. Menyembunyikan hal besar ini kepadamu.” ucap sahabat Finlay penuh penyesalan
“Ya, dan membiarkan aku menderita selama itu. Aku memikirkan Summer setiap saat, terkadang pikiran jahat muncul jika dia telah hidup bahagia
dengan laki-laki itu. Melupakanku.”
“Summer bukan wanita seperti itu, Yang Mulia. Dia sangat mencintaimu.” Ungkap Isla dengan jujur.
Finlay mengecup kening Hiver lalu menatap Isla dan Adrien.
“Dimana istriku berada?”
…
Alunan musik klasik mengalun di telinga Summer yang sedang menggoreskan kuas di kanvasnya. Ia sangat suka menghabiskan hari dengan melukis di tepi taman. Louie yang menyiapkan segala keperluannya, pria muda itu sangat hapal akan kebiasaan Summer.
Angin berhembus sepoi-sepoi sore itu, masih dua hari lagi Hiver kembali ke pelukannya. Summer sudah tidak bisa menahan rindu, ia mencoba
menelepon ke kediaman Isla tadi pagi tapi anaknya sedang asyik berenang dengan triplet.
Tarikan lembut pada dress maxynya membuat Summer menunduk, orang dirindukannya berdiri tepat di sampingnya.
“Hei, dengan siapa kau datang, nak ?” tanya Summer sembari membuka handsfree dan meletakkan alat lukisnya diatas rumput hijau.
“Mama.” Hiver terus menarik tangan Summer.
“Ya sayang.” Summer berjongkok, lalu mendekap tubuh gadis kecilnya. Matanya menoleh mencari Isla.
Di sana, sesosok pria mengenakan suit beledu coklat dengan celana hitam menatapnya. Tubuh Summer bergetar hebat, air matanya menyeruak. Langkah panjang pria itu mendekat ke arahnya, semakin kuat pula tangisan Summer.
“My Lady.” Finlay berjongkok di samping Summer. Ia meraih tangan kekasih hatinya. Sekilas Finlay menatap kulit Summer yang coklat karena
menghabiskan hidup di tepi pantai.
Summer tidak memberanikan diri menatap wajah suaminya. Hiver memilih mundur menatap kedua orang tuanya dengan wajah memerah. Melihat Summer menangis membuatnya melakukan hal yang sama.
“Darling.” Lirih Finlay mendekap erat tubuh ringkih Summer. Wanita yang tidak pernah lepas di pikiran, yang membuat dirinya terombang-ambing
selama 3 tahun lebih. Wanita yang menghilang kini ditemukan dengan satu permata hati yang sangat cantik.
Summer tidak berkata, ia fokus menangis pada dada hangat Finlay. Kehangatan yang selalu menemaninya saat di Mersia.
“Tuhan, terima kasih masih mempertemukan kami.” Finlay menatap ke langit, penuh syukur. Sedikit ia menjatuhkan air mata. Sebelumnya Finlay telah banyak menangis saat menemukan cintanya yang begitu cantik dan mungil.
Marjorie Hiver namanya. Gadis kecilnya yang berdiri dengan sesenggukan dengan bibir menukik ke bawah.
“Kemari sayang.” ucap Finlay kepada Hiver.
Setengah berlari langsung menghambur di punggung Summer, memeluk dari belakang.
“Mama berhenti menangis.” Pinta Hiver di telinga Summer.
Finlay dihujani haru bahagia, ia bukan hanya menemukan istrinya tapi Hiver yang sangat menggemaskan.
“Maafkan mama, Hiver.” Summer menarik tubuhnya ke belakang lepas dari dada Finlay. Ia menarik tangan anaknya agar duduk di pangkuan tapi Finlay terlebih dulu mendudukkan Hiver di atas pahanya.
“Yang Mulia.” Summer menatap wajah Finlay yang tersenyum tipis. Ia termangu menatap Finlay, raut bijaksana dan menenangkan terpancar kuat. Dengan bibir tergigit Summer menahan diri untuk tidak menangis di depan Hiver yang bergantian menatap mereka berdua.
“Suami. Aku masih suamimu, Summer. Kau masih istriku yang sah.”
Tubuh Summer tersengal “Aku tidak pantas bersanding denganmu.” Tatapannya diturunkan pada dress berwarna hijau seperti manik dua
orang di depannya.
“Siapa yang mengatakan itu, Darling ? Selamanya kau adalah istriku. Aku minta maaf tidak bisa menemukanmu.” Ucap Finlay mengenggam jemari
Summer.
“Aku yang tidak mau ditemukan. Aku sungguh kotor, Yang Mulia. Aku diculik oleh dia dan menemukan diriku menyukainya. Aku tidak pantas
untuk hidup bersama denganmu.”
“My Lady. Tolong berhentilah memanggilku dengan sebutan itu. Kau adalah pendampingku, kita tidak di depan rakyat. Panggil Finnie, seperti
sebelumnya.”
“Tapi.” Summer bergumam dengan hati meragu di sisi lain meledak bahagia
Finlay menarik napas dan menangkup wajah Summer dengan tangan kanannya yang kokoh. Sementara tangan kirinya memeluk tubuh Hiver.
“Lihat aku.” Ucap Finlay dengan lembut.
Mata mereka kemudian beradu. Ada sorot kerinduan di manik hitam Summer, begitupun Finlay.
“Apa yang terjadi di masa lalu, lepaskan My Lady. Kau sudah berjuang sendiri sejauh ini membesarkan putri kita. Aku pun tidak peduli akan keraguan atau pemikiranmu yang mengatakan jika tidak pantas bersanding
denganku. Sejak awal aku telah menerimamu, darling. Mencintai tanpa memikirkan masa lalumu. Itu dulu, sekarang kita punya Hiver. Jangan biarkan anak kita tumbuh dengan orang tua yang terpisah. Gadis kecil kita punya rakyat yang harus tahu keberadaannya.”
“Finnie.” Gemetar suara Summer menyebut nama pria yang menatapnya penuh cinta.
“Ya, istriku.”
Summer sudah memiliki keberanian menatap lama wajah pria yang mengisi mimpi-mimpinya. Bersaing kuat dengan pria yang mengirimkannya surat.
“Apa kau masih mencintaiku ? Aku pikir kau telah menikahi temanmu itu.” Ucap Summer lemah
“Tentu saja aku mencintaimu. Kau adalah istriku. Aku menikah hanya sekali, itu denganmu. Tidak ada pernikahan atau jalinan asmara dengan
wanita itu. Hanya media yang menulis secara berlebihan. Tuhan, sungguh benar perkiraanku jika kau tidak kembali karena berita itu. Aku tidak mungkin bisa menjatuhkan hati dengan mudah, sementara diriku masih terus berharap akan
menemukanmu, darling. Dan lihatlah buah dari kesabaranku. Bukan hanya kamu yang aku dapatkan, namun gadis cantik ini. Anakku.” Seru bahagia Finlay mengecup pipi Hiver.
Summer tersenyum dengan mata berlinang. Sangat indah melihat ayah dan anak itu saling memberikan perhatian yang intim.
“Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan anak kita. Kau membesarkan anak yang kuat dan pemberani.”
“Seperti dirimu, Finnie.”
Finlay mengangguk menatap Summer dengan cinta dan bahagia.
“Ya, Hiver seperti aku, tapi anak kita memiliki senyumanmu.”
Mata mereka terus beradu, kebahagian membuncah meledak menaikkan detak jantung. Ada rindu yang belum puas tersampaikan. Masih ada haru yang ingin keluar, masih ada cerita yang hendak terucap. Kilatan gairah pun memercik akan sentuhan ringan Finlay di tangan Summer.
“Kembalilah ke Mersia. Hiduplah denganku. Temani aku memimpin kerajaan itu. Karena hanya kau satu-satunya yang berhak duduk di
sampingku, My Lady.” Tatapan membujuk penuh cinta yang membuat Summer
menganggukkan kepala dengan pelan.
“Aku akan kembali, Yang Mulia.”
###
alo kesayangan 💕,
apa yah..
nothing spesial,
langit masih biru
musim panas di kotaku,
dan aku masih sendiri 😂😂
love,
D😘
Tamat baca utk yg kedua kalinya ...
Dan tetap rinci baca dari tiap episode ....
Abis ini baca lagi Jace, Axel, Kai ...
Semangat author .... 🌹
who are you..?
D...
D...
D...
mm...
mm...
.....
mr. HB is back..!!
...
hiks..hiks..hiks...
huuuwaaa.....aaa...