Ustadz Fadli Alfatah membuat keputusan menikahi Bella yang di tinggalkan sang adik 1 jam sebelum resepsi pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Sismala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Bella kira dia gendut karena rakus, ternyata dia sudah hamil 3 bulan. Perutnya sudah mulai membentuk seperti gundukan jeruk bali, dia buncit. Malu rasanya jika dia mengetahui fakta anak ini lahir, dan dia akan bercerai.
"Bella?" panggil Fadli, Fadli menatap Bella yang sedikit terlihat gemuk. Pipinya agak cubby. Sudah lama tidak bertemu Bella.
"Kalau kamu mau cerai, baiklah mas." jawab Bella menunduk lesu.
"Apa maksudmu, bukannya kamu tidak ingin kita pisah Bella? ... Kenapa kamu berhenti dengan cintamu itu." Fadli tidak habis pikir Bella butuh waktu sebentar untuk melupakannya.
"Aku sudah tidak layak!" teriak Bella berlari meninggalkan Fadli, Fadli tersisa membisu. Apa yang harus dia lakukan.
......................
Rey menatap Bella yang enggan menatapnya, Entah kenapa Riska mengundang Rey datang. Pasti Riska ingin Rey bertanggung jawab. "Kamu hamil anakku Bel?" tanya Rey menyentuh jemari Bella. Bella segera menepisnya, belum tentu juga ini anak Rey.
"Aku tidak hamil!" ketus Bella menatap ke arah lain.
"Kau hamil, berhenti bohong!" teriak Rey.
"Iya aku hamil, puas kamu!" ketus Bella menangis, dia terluka kenapa Rey mempermainkannya. Dulu menolak Bella, S
saat Bella mencoba untuk membangun cinta dengan ustadz Fadli kakak Rey, Rey justru menghancurkan semuanya.
"Itu pasti anak kita Bella, terima kasih Bella." Rey mencium tangan Bella. Bella sudah lelah, dengan sikap Rey yang sudah di luar batas.
"Ini bukan anak kamu Rey!" teriak Bell marah.
"Kenapa bukan, kamu gak tau mas Fadli mandul!" teriak Rey tidak kalah sengit apa maksud omong kosong Rey, kenapa Rey sembarangan.
"Kamu bohong Rey nggak mungkin," jawab Bella tidak ingin percaya, bahkan jika pun memang benar Bella tidak ingin percaya fakta itu.
"Kalau tidak bisa percaya aku dan bang Fadli akan ke rumah sakit. Kamu harus tahu fakta bahwa Fadli itu mandul." jawab Rey dengan nada percaya diri.
Setelah bicara panjang lebar Rey, Bella, Riska dan Fadli sudah berada di rumah sakit. Semua sangat panik, apa benar ustadz Fadli mandul. Jika benar itu akan sangat tidak adil.
"Mohon tunggu keluar ya Bu." pesan sang dokter, Bella dan Riska pun menunggu di luar. Hasil pemeriksaan akan keluar seminggu lagi, sungguh hal yang menakutkan.
"Kalau memang benar, udah fix bayi lo bapaknya si Rey gila itu." Riska buka suara.
"Jangan berdoa yang jelek- jelek dong Ris." rengek Bella sedih. Kalau benar itu Rey Bella sudah bertekad untuk menerima kenyataan pahit itu. Mau bagaimanapun bayi ini butuh figur seorang Ayah.
"Kan Rey gak jelek Bella, sifatnya aja yang jelek. Wajah ganteng, idola kampus meskipun skripsi dia gak kelar- kelar."
"Ya maksudnya Bell itu Ris, sifatnya. Gimana kalau anak Bell ketularan."
"Berdoalah Bell, semoga bapaknya tobat."
"Hiss ... sih Rey itu cuman tobat sambel doang, besok di buat lagi kayak waktu gitu."
"Iya- iya tau gue,"
Andre berlari mendatangi Bella dan Riska, Riska menutup mulutnya. Bukannya itu Andre mantan pacarnnya yang meninggalkan Riska dulu. "Lo!" mereka saling tunjuk Riska berlari sementara Andre mengejar Riska.
"Bentar ya Bell," bukannya Bella tersenyum ramah malah Bella acuh, Andre ini memang cowok playboy cap badak. Semua cewek di mau di pacarinya.
"Dasar buaya!" ketus Bella melihat kepergian Andre.
......................
"Bajingan Lo Dre!" teriak Riska menangis. Andre bingung apa yang salah.
"Lo udah merenggut kesucian gue saat itu, dan bayi kita lo gugurin saat gue gak sadarkan diri. Lo bius gue-kan!" teriak Riska menampar wajah Andre.
"Maaf Riska, nyokap gue juga lagi kritis waktu itu gue gak ada biaya buat bayi haram itu." jawab Andre merasa bersalah.
"Lo itu! bangsat, tau nggak lo!" teriak Riska memukul dada Andre. Ternyata mereka juga punya hubungan yang rumit bukan hanya Bella saja. Seperti itulah kehidupan, ada saja masalahnya. Tapi jalan mereka salah, benar- benar di luar batas. Prilakunya sangat tercela.
"Anak cuman jadi beban buat kita Riska."
"Dan kalau nyokap lu itu gugurin lo dulu, lo bakalan cuman jadi fosil Dre. Lo memang sama kayak Rey makannya kalian berdua cocok. Sama- sama bajingan!" Sebelum pergi Riska meludahi wajah Andre, sementara Andre selalu diliputi rasa bersalah juga sesal dulu mengugurkan bayi di kandungan Riska. Semua adalah salahnya. Dia memang laki- laki tidak bertanggung jawab.
"Gue juga nyesel Riska. Gue memang bajingan gue pantas mendapatkan ini, bahkan lebih parah lagi. Gue udah ngerusak lo, bahkan dengan pecundangnya gue gugurin kandungan lo secara sepihak. Gue tau lo gak bisa pun ya anak lagi karna perbuatan gue. Entah gimana caranya gue buat nebus dosa- dosa itu."
Air mata Andre jatuh, itu adalah air mata penyesalan. Dia adalah pemuda brengsek yang cuman mencari kesenangan tanpa memikirkan akibatnya benar- benar pecundang. Mulai hari Andre bertekad untuk bertanggung jawab atas Riska, Riska telah kehilangan segalanya, baik bayi dan rahimnya.
"Kemana Riska?" tanya Bella melihat wajah kusut Andre, Bella memang benci dengan Andre yang berani menggodanya. Benar- benar hidung belang licik.
"Dia pergi, gue yang salah." Bella menatap sinis, pasti ada apa- apa di antara mereka terlihat tatapan Riska tadi yang penuh kebencian.
"Kamu yang buat Riska pergi, tapi wajar sih cowok kayak kamu cuman bisa mesum!" ketus Bella menatap ke arah lain.
"Jadi bayi itu anak siapa?" tanya Andre penasaran.
"Bukan urusan lo, dan di mata gue lo udah bukan manusia lagi." Andre tersenyum kecut, jika sudah marah Bella sangat menakutkan.