Angan Kaina hancur ketika sosok Zidan muncul dan masuk ke kehidupannya. Imajinasi indah yang selama ini ia dambakan, hancur seketika.
Takdir mempermainkan perasaannya dengan kejam. Ia harus hidup dalam pernikahan yang tak diinginkan. Tidur satu ranjang dan berbaring bersama dengan laki-laki asing.
Setelah ia mulai bisa menerima situasinya, sekali lagi—takdir mempermainkannya. Hati nya dipatahkan, rasa percayanya dikhianati oleh orang yang selama ini ia sukai.
Sosok suami yang tak dicintai selalu ada, memberi dukungan, menyalurkan rasa aman dan nyaman. Perlahan Kaina sadar, Zidan adalah takdir dari Tuhan yang seharusnya ia cintai sepenuh hati.
Jalan hidup tak selalu mulus, seringkali lubang yang sangat dalam menyapamu di depan.
Lubang apa yang akan menyapa Kaina di masa depan?
Siapa yang akan bersama Kaina pada akhirnya?
Joshua?
Zidan?
Ataukah Hanif?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Możhe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fakta
"Ini gimana? Dipulangin? Nanti kalo bokapnya marah gimana?" tanya Faris pada Icha.
"Biar gue yang urus." kata Joshua yang menyambar pembicara mereka.
Icha menatap ragu Joshua. "Kamu bisa dipercaya?"
Joshua mengangguk.
"Oke, saya titip Kaina. Tolong antar dia pulang dengan selamat."
"Tidak perlu repot-repot. Saya yang akan mengantar Nana pulang!" Zidan datang bersama Hanif, menepis tangan Joshua dan membuat cowok itu sedikit menjauh dari Kaina.
"Pak Zidan?" baik Icha maupun Faris sama-sama terkejut, Hanif pun juga.
Ini adalah ke dua kalinya mereka melihat Zidan menyentuh Kaina.
"Lo siapa?" tanya Joshua dengan nada suara meninggi.
"Saya bos nya!"
"Oh~ Bos nya?"
"Sejak kapan Bos mau repot-repot mengurus masalah kecil karyawan?"
"Gue yang antar Kaina pulang," lanjut Joshua terus berusaha agar bisa membawa Kaina bersamanya.
"Siapa kamu?" pertanyaan yang sama Zidan lontarkan untuk Joshua.
"Calon pacar dia!"
"Calon pacar? Kamu yakin?"
"Sangat yakin! Jadi tolong menjauh dari dia! Karena gue yang akan mengantar dia pulang!!!"
"Sepertinya kamu tidak tahu ya jika dia sudah punya pacar—"
"Yang se-iman dan se-Tuhan?"
"Hanif tolong urus dia, saya akan mengantar Nana pulang!" perintah Zidan pada Hanif, yang langsung di laksanakan oleh cowok itu.
Hanif menarik Joshua menjauh agar tidak menghambat dan menghalangi Zidan membawa gadis itu pergi dari tempat pesta.
Sedangkan Kaina tidak berhenti mengatakan hal-hal yang cukup mengejutkan untuk Zidan.
Tak lama, Hanif menyusul mereka ke tempat parkir. Berusaha membantu Zidan memasukkan Kaina ke dalam mobil.
"Zidan, ini seriusan?"
"Lo udah dua kali nyentuh dia."
"Hanif, jangan banyak bicara!"
"Jadilah sopir dan bawa kami pulang!" perintah Zidan dengan wajah super serius.
Dia memangku Kaina di kursi belakang. Menutupi tubuh bagian bawah gadis itu dengan jasnya agar tidak terlihat oleh orang lain.
"Pulang? Kemana?" tanya Hanif bingung.
"Kerumah!"
"Yakin? Nanti kalau Bunda tau gimana? Bisa ribet."
Zidan tidak merespon kekhawatiran rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
Dia hanya diam menatap Kaina dengan tatapan kesal. Wajar jika Zidan kesal bahkan marah pada istri nakalnya itu karena telah berani meminum amer. Minuman haram yang seharusnya tidak boleh sampai ke mulut gadis itu.
Mobil masuk ke pekarangan rumah Zidan, Hanif mematikan mesin mobilnya setelah memastikan posisinya sesuai yang diinginkan, yaitu berada tepat di pintu utama rumah Zidan.
"Biar gue yang bawa dia masuk." kata Hanif berusaha menawarkan bantuan.
"Nga usah." tolak Zidan.
Hanif membukakan pintu untuk mempermudah Zidan keluar dari mobil, kemudian berlari untuk membukakan pintu rumah.
"Pulanglah! Kamu bisa pakai mobil saya." perintah Zidan.
"Tapi?" Hanif terlihat ragu untuk meninggalkan Zidan dan Kaina.
"Hanif, saya sebenarnya tidak ingin mengingkari janji."
"Tapi sepertinya saya harus memberitahu kamu agar tidak khawatir lagi."
"What?" Hanif semakin merasa bingung. Laki-laki itu berdiri di ruang tamu rumah Zidan, melihat pemilik rumah membopong Kaina menaiki anak tangga menuju kamar.
"Saya sudah menikah."
Hanif menganga. "HAH?"
"Dan Kaina adalah istri saya." lanjut Zidan.
"Tolong rahasiakan hal ini dari siapapun."
"Lo serius?" Hanif tak percaya mendengar fakta yang baru saja Zidan beritahukan.
"Sejak kapan?"
"Kenapa gue nga tahu?"
"Jadi waktu itu? Kalian udah?"
"Iya."
"Zidan, lo nga bohong kan?"
"Silahkan tanya Bunda. Tapi masalah Nana mabuk, tolong kamu rahasiakan juga."
"Oke, gue tanya Bunda sekarang!" Hanif berjalan cepat, meninggalkan rumah Zidan. Pergi ke rumah Bunda Zidan dengan mobil cowok itu.
Hanif ingin mendengar fakta yang Bunda Zidan ucapkan, karena sejauh ini ia masih belum percaya dengan apa yang Zidan katakan.
mampir juga yuk ke karyaku Human's Adventure & Preman Cantik 🤗
mampir juga yuk di Kisah Cinta Syakila
aku tunggu