Aderson yang sering dipanggil Derson adalah laki-laki yang sangat kejam, suka kekerasan dan juga sangat membenci yang namanya perempuan.
Olivia yang kerap disebut Via datang kekehidupan Derson, Via mampu mengobrak abrik hati Aderson yang dingin dan sangat susah untuk dijangkau.
Jangan lupa dukung karya ini dengan tinggalkam jejak kalian ya, cukup dengan like, komen, vote, kasih hadiah mawarnya.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linasolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
🌛🌛🌛
"Jangan terlalu keras dengan tante kamu belum pernah menyelidiki apa alasan tante dulu sampai meninggalkan mu" ucap James sambil merapikan laporan yang ada didepannya, lalu segera berjalan mengikuti Derson yang sudah duluan melangkah.
"Aku tidak perlu menyelidikinya, aku juga tidak perduli lagi dengannya" jawab Derson tanpa menoleh sedikit pun kearah james dan terus melanjutkan jalannya.
"Kayaknya hari ini aku cepat pulang, kamu yang akan menemui klien kita hari ini dan katakan aku sedang ada urusan yang mendadak" ucap Derson.
"Terserah padamu saja lah, kamu bossnya disini" jawab James pasrah.
Setelah sampai diruangannya Derson mengambil tasnya lalu pergi dari kantor. kali ini Derson menyetir mobil sendiri dan tujuannya ialah rumah makan tempat Via bekerja.
Jalanan macet mengingat sekarang waktunya anak sekolah sudah pulang, membuat Derson lama diperjalanan.
Jam 2 lebih Derson baru sampai didepan rumah makan sederhana itu, Derson langsung memarkirkan mobilnya didepan rumah makan itu tanpa memikirkan orang yang keluar masuk.
Pandangan Derson langsung tertuju pada seorang wanita dan laki-laki yang sedang mengobrol disalah satu meja yang ada disana.
Darah yang tadinya sudah mulai dingin, kembali panas layaknya air yang dipanaskan, akan terluka jika kita sampai menyentuhnya, begitulah darah Derson saat merasakan emosi yang sangat memuncak.
Tanpa pikir panjang Derson langsung menuju mereka, tangan Derson yang mengepal kini mendarat di dagu laki-laki yang bersama Via, siapa lagi kalau bukan Jhosua. kebetulan siang ini Jhosua makan siang dirumah makan sederhana milik Via.
"Derson kamu apa-apaan sih?" bentak Via saat melihat Derson memukuli wajah Jhosua tanpa ampun. Via langsung menarik tubuh Derson supaya berhenti memukuli Jhosua.
"Aku ingatkan padamu, jangan pernah kamu dekati istriku, dan simpan senyum mu itu kalau kamu bertemu dengan istriku" ucap Derson yang kini sudah menjauh dari Jhosua karena Via menarik-nariknya.
"Haha dia istri mu? sorry aku tidak mengetahuinya dan aku pikir Via masih gadis" jawab Jhosua tertawa sambil meng-lap darah yang mengalir dibibirnya.
"Jhosua maaf ya.... kamu boleh pergi sekarang aku nggak mau ada ribut-ribut disini" ucap Via yang saat ini masih setia memegangi lengan Derson.
"Baiklah aku pergi ya, lain kali kita bertemu lagi aku harap kamu hati-hati ya sama suamimu yang nggak ada hati ini" Jhosua melanglahkan kakinya meninggalkan rumah makan sederhana itu dengan luka diwajahnya.
Setelah Jhosua pergi menghilang dari hadapan mereka, Via melepaskan tangannya dari Derson secara kasar.
"Kamu juga boleh pergi dari sini" usir Via hendak meninggalkan Derson yang masih berdiri.
Tapi dengan sigap tangan Derson menangkap tangan Via dan menecekal pergelangan tangan Via dengan kuat.
"Ikut dengan ku, aku sudah ingatkan jangan pergi dari rumah tapi kamu titak mau mendengarkanku" Derson menarik tangan Via dan menariknya menuju mobilnya yang terparkir didepan rumah makan sederhana itu.
"Kamu apa-apa sih main hakim sendiri, sekarang main tarik-tarik aja" omel Via yang saat ini sudah duduk dikursi samping kemudi.
"Terserah ku, apapun yang menjadi aturanku terhadap mu kamu harus menurutinya, kalau tidak..."
"Kalau tidak apa, mau membunuhku? bunuh saja lagian aku sudah bosan hidup, apalagi melihat mu setiap hari" ucap Via memotong pembicaraan Derson.
"Aku tidak membunuhmu tapi membunuh banyak orang termasuk orang-orang yang ada didekatmu baik laki-laki atau perempuan".
"Kamu sudah gila ya?" ucap Via geram.
"Dari dulu aku sudah gila, dan sekarang tambah gila Karena ada orang yang berani membantahku" jawab Derson santai sambil mnegemudi mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Udah achh capek ngomong sama kamu" jawab Via lalu menutup matanya seperti orang mau tidur. Derson yang mendengar ucapan Via hanya diam saja, ia juga bingung harus bicara apa lagi, darah yang tadinya panas melihat Via bersama Jhosua kini hilang entah kemana.
Derson menepikan mobilnya saat sudah sampai dirumah, dan melihat Via disampingnya yang sudah bersiap untuk keluar.
"Tadi tidur tiba sudah sampai langsung lebar itu mata" sindir Derson.
"Siapa juga yang tidur, aku hanya malas bicara sama mu bukan mau tidur, udah achh aku mau keluar bosan lihat wajah mu" ucap Via lalu langsung membuka pintu mobil.
"Tadi Lily menelfon, katanya kamu nggak pernah lagi angkat telfonnya" ucap Derson sebelum Via keluar.
"Katakan padanya, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini" tanpa banyak merespon Via langsung keluar dari mobil Derson dan langsung menuju kamarnya.
Sama halnya dengan Derson dia juga turun dari mobil menuju kamarnya, dia merasa sangat lelah menghadapi Via, sangat sulit dikendalikan, sangat berbeda dengan adiknya Lily yang mudah untuk Ia atur.
"Ternyata perempuan sama saja" guman Derson sambil meremas rambutnya. yang tadinya rencana mau istirahat kini Derson malah berhenti diruang keluarga, Derson mendudukan bokongnya dan memejamkan mata.
🌛🌛🌛
Hari ini keberangkatan James dan Derson ke kota B perjalan kali ini membutuhkan waktu yang lama supaya bisa kembali kerumah, bukan masalah jauhnya perjalan yang menyebabkan lamanya pulang kerumah tapi faktor pekerjaan yang menuntut lama pulang kerumah.
Dengan berat hati Derson menyeret kopernya menuju lantai satu dan diletakkannya didekat sofa ruang tamu, Derson kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Via.
Tok... Tok... Tok....
Tidak menunggu lama yang empunya kamar membuka pintu itu, tanpa dipersilahkan masuk Derson berjalan kedalam kamar dan direbahkannya badannya dikasur Via.
"Kenapa tidur disini? kamu sudah pakai baju rapi nanti kusut lagi bajumu" ucap Via mengikuti Derson kekasur tapi Via hanya mendudukan bokongnya dipinggir kasur.
Pertanyaan itu sangat lama baru dijawab oleh Derson dia hanya diam menatap langit-lagit, setelah puas menatap langit-langit kamar itu derson segera duduk dan mendekat kearah Via.
"Hari ini aku pergi dan mungkin memakan waktu yang lama baru pulang kerumah ini, selama aku pergi kamu tidak boleh keluar dari rumah ini, kamu bebas mau ngapain saja tapi tidak keluar rumah. mengerti?" ucap Derson lirih seperti tidak iklas meninggalkan Via dalam jangka waktu yang lama.
"Aku bekerja lho tidak mungkin tidak keluar dari rumah ini".
"Kamu tidak usah lagi bekerja, berapa uang yang kamu butuhkan aku bisa memberinya" jawab Derson.
"Bukan masalah itu juga, terlalu lama dirumah ini hanya diam-diam saja aku bosan".
"Baiklah aku akan urus untuk pekerjaan mu dikantorku, bagaimana?.
"Aku tidak biasa kerja kantoran".
"Kalau begitu aku akan buat satu khusus restoran untukmu".
"Aku juga tidak bisa dalam hal itu" jawab Via lagi dengan singkat padat dan jelas.
"Jadi kamu pandai ngapain? kalau begitu jadilah istri yang baik, aku pergi dulu nanti malam aku telfon hari ini jangan keluar rumah" lagi-lagi Derson melarang Via keluar rumah.
🌛🌛🌛
Jangan lupa tinggalkan jejak ya