Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 ( Kesempatan )
Pria itu adalah Maher. Kebetulan juga ia lewat di tempat itu dan melihat Benazir sedang menikmati makan malam di luar bersama seorang pria.
" Jadi cowok itu udah berhasil bikin Kamu tertawa Naz. Tapi Aku yakin, Aku juga bisa bikin Kamu tertawa bahagia selamanya...," gumam Maher sambil mengepalkan tangannya.
Maher mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Benazir. Benazir terlihat melirik kearah ponselnya sejenak lalu melanjutkan makan tanpa menggubris panggilan itu. Hingga ponselnya berdering beberapa kali dan membuat tatapan Ardhan tertuju pada Benazir.
" Angkat dulu sih, berisik tau...," gerutu Ardhan.
" Ck, males Gue. Ini Kakak kelas Kita yang lagi mau pedekate sama Gue...," kata Benazir.
" Kakak kelas, Gue kenal ga ya...?" tanya Ardhan.
" Kenal lah. Si Maher, masa ga kenal. Bintang di sekolah Kita dulu, Anak basket juga sama kaya Lo...," sahut Benazir santai.
" Oh, Maher. Iya Gue inget. Bagus dong kalo dia mau pedekate sama Lo. Artinya CLBK, Cinta Lama Belom Kelar...," kata Ardhan tertawa.
" Kalo memurut Lo gimana, apa Gue harus terima dia...?" tanya Benazir ragu.
" Terserah Lo aja. Ikuti apa kata hati Lo dong. Tapi kalo Lo tanya sama Gue, saran Gue mending Lo coba buka hati buat nerima perhatian dari cowok lain. Kali aja Lo berjodoh sama si Maher. Iya ga...," kata Ardhan sambil menghabiskan teh dalam botol di hadapannya.
" Maksud Gue, dia orang baik apa bukan. Terus terang Gue takut gagal lagi Dhan...," kata Benazir dengan wajah bingung.
" Setau Gue dia baik, sejak dulu kan ngejar Lo terus. Siapa tau keberuntungan kali ini memihak Kalian dan bisa bikin Lo lupa sama trauma Lo itu. Tapi soal kehidupannya yang sekarang, terus terang Gue ga tau apa-apa...," kata Ardhan jujur.
Benazir nampak merenungi ucapan Ardhan. Tiba-tiba ponsel Benazir kembali berdering. Masih panggilan dari Maher dan kali ini Benazir memutuskan merespon panggilan itu.
" Assalamualaikum, iya Kak...," sapa Benazir.
" Wa alaikumsalam Naz. Aku lagi dekat rumah Kamu dan pengen mampir, Kamu ada di rumah ga...?" tanya Maher berbohong.
" Aku ga di rumah Kak, lagi di luar. Lagi makan sama teman Aku...," sahut Benazir sambil melirik Ardhan yang asyik membalas pesan chat di ponselnya.
" Oh gitu ya. Kalo boleh tau, teman Kamu cewek atau...," Maher sengaja menggantung ucapannya.
" Cowok Kak. Kenapa ya...?" tanya Benazir tak suka.
" Oh gapapa, Aku cuma mau tau aja. Ya udah kalo gitu silakan dilanjut, Aku langsung balik aja deh. Assalamualaikum...," kata Maher lalu memutuskan percakapan via telephon itu.
" Wa alaikumsalam...," sahut Benazir lalu meletakkan ponselnya di saku baju.
Tak ada pembahasan apa pun tentang Maher setelah Benazir menyelesaikan pembicaraannya dengan Maher. Setelah membayar makanan dan minuman yang dimakan olehnya dan Ardhan, mereka pun bergegas kembali ke rumah.
\=\=\=\=\=
Kegigihan Maher membuat Benazir sedikit tak nyaman. Dan itu diceritakannya kepada kedua teman dekatnya Atik dan Silvi yang justru mendukung hubungannya dengan Maher.
" Gapapa Naz. Maher juga Ok kok. Cobalah buka hati Lo sedikit dan liat kelebihan yang dia punya...," saran Atik.
" Iya Atik bener Naz. Kalo emang ada sesuatu yang ga beres nanti, ya Lo bisa tolak dia. Gampang kan...," kata Silvi.
" Buktiin sama mantan Lo yang rese itu kalo Lo udah move on dari dia...," kata Atik gemas.
" Kenapa ucapan Lo berdua sama persis sih kaya Ardhan...?" tanya Benazir.
" Eh, kalo sama Ardhan gimana Naz. Dia baik dan ngerti situasi Lo. Apa Lo ga punya feeling apa pun sama dia...?" tanya Silvi balik.
" Sampe saat ini sih ga ada. Ga tau kalo suatu hari Gue atau dia punya feeling. Kayanya susah Sil, Ardhan kelewat cuek dan ga bisa serius. Gue ga bisa bayangin kalo punya hubungan sama dia. Bisa-bisa kena darah tinggi Gue ngadepin dia...," kata Benazir sambil tertawa.
Atik dan Silvi pun ikut tertawa. Saat mereka baru melangkah keluar dari lift, tampak Maher tersenyum menyambut mereka.
" Hai...," sapa Maher sambil melambaikan tangannya.
" Kak Maher, ngapain di sini...?" tanya Atik heran.
" Ck, jangan tanya kaya gitu dong Tik. Lo masa ga tau kalo Kak Maher datang buat jemput Benazir...," sahut Silvi sambil mencubit lengan Atik.
" Iya, Silvi bener. Gimana Naz, Aku mau antar Kamu pulang sekalian mau ngobrol penting...," kata Maher sambil menatap Benazir penuh harap.
Benazir terdiam sejenak lalu ia menganggukkan kepalanya dan itu membuat Maher, Atik dan Silvi tersenyum senang.
" Gue duluan ya...," pamit Benazir pada kedua temannya.
" Ok, good luck ya Naz...," bisik Atik dan Silvi bersamaan.
Benazir tersenyum lalu mengikuti langkah Maher menuju tempat parkir. Tak lama kemudian mobil Maher meninggalkan gedung kantor itu.
Maher nampak mengulum senyum bahagia karena berhasil mengajak Benazir ikut dengannya. Sedang Benazir hanya menatap keluar jendela dengan perasaan hampa. Entahlah, usaha pendekatan yang dilakukan oleh Maher selama ini tetap tak mampu juga menyentuh hati Benazir.
" Kalo ga mandang Atik sama Silvi rasanya Gue malas banget ikut sama ni orang...," batin Benazir.
" Kalo Kita makan dulu gimana Naz...?" tanya Maher.
" Terserah Kak Maher, Aku sih ikut aja...," sahut Benazir.
" Ok, kebetulan ada yang mau Aku omongin juga...," kata Maher sambil menepikan mobilnya, lalu masuk ke parkiran di depan sebuah restoran.
Maher dan Benazir turun dari mobil lalu masuk ke dalam restoran. Mereka duduk di sebuah tempat yang diarahkan oleh pelayan restoran. Sambil menunggu pesanan mereka, Maher mencoba membuka percakapan.
" Senangnya Aku hari ini karena setelah sekian tahun akhirnya bisa juga ngajak Kamu makan bareng...," kata Maher sambil tersenyum.
" Bisa aja Kak Maher...," sahut Benazir santai.
" Sebenarnya Aku yakin kalo Kamu pasti udah bisa nebak tujuan Aku deketin Kamu kan Naz...," kata Maher.
" Iya...," sahut Benazir singkat.
" Terus gimana Naz. Aku serius mau kenal Kamu lebih dekat. Apa Aku masih punya kesempatan Naz...?" tanya Maher sambil menatap Benazir dengan lekat.
Perbincangan mereka terhenti sejenak dengan kehadiran pelayan yang membawakan pesanan mereka. Jeda sejenak itu memberi kesempatan kepada Benazir untuk mempersiapkan jawaban dari pertanyaan Maher tadi.
" Gimana Naz...?" tanya Maher tak sabar.
" Apa Kakak ga punya pasangan saat ini, yah pacar atau Istri mungkin. Aku ga mau dicap jadi pelakor gara-gara dekat sama Kamu...," sahut Benazir sambil menatap tajam kearah Maher.
" Aku ga punya pacar apalagi Istri Naz. Aku single. Yah, jujur Aku emang pernah menjalin hubungan sama beberapa wanita. Tapi ga ada yang sreg dan bertahan lama, apalagi sampe ke pelaminan. Ga tau kenapa...," sahut Maher cepat.
" Masa sih...?" tanya Benazir ragu.
" Suer Naz...!" sahut Maher tegas.
Benazir tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Maher tersenyum bahagia saat mengetahui Benazir menerima permintaannya.
" Jadi Kita jadian nih ceritanya...?" tanya Maher sambil menyentuh jemari Benazir.
" Apa pantas Kita bilang gitu. Kita kan bukan Anak remaja lagi Kak...," sahut Benazir tersipu malu.
" Pokoknya Kamu sama Aku lagi ada hubungan ya. Itu artinya Kamu atau Aku ga boleh menjalin hubungan dekat dengan lawan jenis yang lain. Gimana, deal ga...?" tanya Maher.
" Ok...," sahut Benazir.
Maher menghela nafas lega. Lalu keduanya saling menatap sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=