fatimah azzahra yang kerap di panggil fafa atau patimah oleh teman dekat maupun orang lain. fatimah sudah 3 tahun nikah bersama Hengki Affandi.dari pernikahan itu belum juga mendapatkan seorang pun anak sampai ia di usir oleh suaminya.
beberapa tahun hengki dan fatimah berpisah dan gak pernah ketemu,di suatu hari hengki bertemu dengan fatimah dan kedua anak kembar fatimah dari pernikahan mereka.
apa kelanjutannya baca ajah yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Muhammad Ali
Pagi ini merupakan hari minggu. Ke-dua putra Fatimah sedang membersihkan rumah itu seperti kebiasaan mereka setiap minggunya. Lantai telah selesai di sapu bahkan di pell oleh Raikal dan Rayyan.
Sedangkan Fatimah dan Aunty mereka sedang berada di dapur untuk membuat kue atas permintaan Raikal dan Rayyan. Mereka membuat kue dengan bercerita banyak hal. Bahkan tak luput dari candaan yang membuat mereka tertawa secara bersamaan.
Uti mereka saat ini memang tidak berada di rumah. Beberapa hari yang lalu Ibu Hilda pergi ke Bandung untuk mengecek rumah serta kontrakannya setelah beberapa tahun tidak pernah ia kunjungi. Ia sangat merindukan kota asalnya. Banyak kenangan yang tercipta di sana hingga rasa rindu itu membuncah di diri Ibu Hilda.
Tong tong!!
Raikan dan Rayyan yang sedang istirahat disofa ruang tamu dikejutkan dengan bunyi bell rumah mereka. Raikal menatap ke arah Rayyan yang tengah selonjoran di sampingnya. "Yan buka gih pintunya, abang lelah," pintanya.
"Huhhh, aku juga lelah kali Bang. Aku adek yang rajin dan tidak sombong maka akan menuruti permintaan Abang yang pemalas dan tidak rajin!!" ujarnya berlalu dari dekat Raikal.
Raikal tidak menggubris ucapan sang kembaran. Ia menganggap angin lalu ucapan Rayyan, karena ia sudah sering mendengar ucapan itu dari mulut Adik kembarnya itu.
Ceklek!
Pintu rumah terbuka dan tampaklah seorang laki-laki bertubuh atletis dan wajah yang sangat tampan dengan rahang yang kokoh, hidung mancung serta alis mata yang tersusun sangat rapi.
"Uncle Ali!" teriak Rayyan saat sudah berada di depan laki-laki berparas tampan itu. Ia langsung memeluk tubuh kekar laki-laki yang sejak kecil ia kenal itu.
"Uncle, iyyan rindu," ujarnya disela-sela pelukan itu.
"Uncle juga rindu,"
"Mari masuk Uncle,"
Rayyan dan Ali berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu yang mana Raikal sedang menutup ke-dua matanya dengan salah satu tangannya. Ia terkejut saat seseorang mengelitik pinggangnya.
"Iss apaan sih Yan, geli tau!" ujarnya tanpa membuka matanya.
Satu kali lagi gelitikan itu menghampiri pinggang Raikal. Dengan terpaksa remaja laki-laki itu membuka matanya dan alangkah terkejutnya ia melihat sosok yang selama beberapa tahun terakhir ini tidak ia temui lagi, kecuali saat vidio call. "Uncle?!" teriaknya langsung berdiri dan memeluk Ali dengan erat. Menyalurkan rasa rindu pada laki-laki yang ia anggap sebagai Ayahnya sendiri.
"Rai rindu, uncle," ujarnya girang.
"Uncle juga rindu kalian semua makanya Uncle datang kemari,"
"Kenapa nggak bilang-bilang dulu sih Uncle? Kan bisa Rai sama Iyyan jemput Uncle di bandara,"
"Itu namanya bukan kejutan, Sayang," Belainya pada rambut ke-dua remaja laki-laki itu.
Fatimah, Sinta dan Santi yang sedang berada di dapur menghentikan pekerjaan mereka sejenak saat mendengar suara heboh dari ruang tamu. "Sin, San, kakak denger suara heboh di ruang tamu, kakak liat sebentar ya? Kalian berdua lanjutin buat kuenya," pinta Fatimah.
"Baik Kak,"
Fatimah melangkah ke ruang tamu dengan tergesa. Ia sangat penasaran dengan suara gaduh yang tercipta di ruang tamu itu. Apalagi suara ke-dua putranya terdengar sangat bahagia. Saat sampai di sana mata Fatimah membesar saat melihat laki-laki gagah sedang duduk bercerita ria bersama ke-dua putranya.
"Ehhh, Mas Ali. Kapan sampai disini Mas? Kenapa nggak bilang-bilang mau kesini dulu? 'Kan bisa dijemput Rai sama Iyyan," ujarnya menyalami tangan Ali.
"Mas mau beri kejutan buat ke-dua ponakan mas, Fa," ujarnya lembut.
"Yaudah Mas, tunggu sebentar aku ambil minum dulu ke belakang,"
"Kakak siapa yang datang?" tanya Santi saat Fatimah sudah berada di dapur.
"Itu Mas Ali yang datang," Santi dan Sinta hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kakak ke depan dulu ya mau nganter minum buat Mas Ali,"
"Iya Kak,"
Fatimah meletakkan kue serta air di depan Ali, Rai dan Rayyan. "Ayo cicipi Mas,"
"Iya Fa,"
Ali menyesap kopi buatan Fatimah dengan nikmat. Ia merindukan kopi buatan Fatimah yang tak lagi pernah ia cicipi beberapa tahun ini. "Emmm, rasanya masih sama. Terasa nikmat seperti dulu," ujar Ali tanpa sadar.
"Iya dong Uncle, yang buat 'kan masih orang yang sama. Nggak mungkin akan berbeda rasanya," jawab Rai sambil tersenyum.
Ali yang baru menyadari ucapannya hanya mengangguk kikuk. Ali malu sendiri dengan ucapannya, meski itu hanya sedikit pujian. Selama ini Ali bahkan tidak pernah menyatakan terang-terangan tentang pujiannya pada Fatimah maupun anak-anaknya. Ini baru pertama kalinya. Dulu saja ia hanya mampu memuji di dalam hatinya.
Wajah Fatimah tiba-tiba saja terasa panas, karena pujian yang diberi Ali. Entahlah iapun tidak tahu kenapa wajahnya terasa panas. Fatimah memalingkan wajahnya pada ke-dua putranya dan tersenyum manis.
Sedangkan Ali tetap santai meski dadanya terasa berdetak sangat kencang. Senyuman yang selama ini ia rindukan akhrinya ia dapati lagi.
Bersambung....
walaupun singkat tapi mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih banyak kak thor 😘❤️