Kesetiaan itu memang ada. Hanya saja, situasi dan kondisi yang membuat itu tiada. Saat kita menerima dia sepenuh jiwa, tapi kondisi memintanya sesuatu yang tak terduga. Maka, kita harus bersiap dengan kemungkinannya yang akan membuat kita kecewa dan menderita.
Pengorbanan hati dan harga diri demi dia yang kita sayang. Apakah dia akan menerima meski hati terluka, atau dia akan menjauh dengan hati yang runtuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
"Raya pamit, Om, Tante, Kak."
"Kenapa cepat sekali? Tante masih pengen kamu ada di sini, Nak. Besok-besok mainlah lagi, ya?"
"Iya, Tante. Kalau semepat. Soalnya Raya sudah harus ke kampus. Mau ada interview di beberapa kampus."
"Semoga berhasil, Sayang. Doa Tante selalu menyertai."
"Kalau ada apa-apa, hubungi Om. Nanti Om bantu kamu buat masuk ke kampus mana pun yang kamu mau."
"Terima kasih, Om."
"Ya sudah, hati-hati di jalan, Nak." Raya begitu menikmati pelukan dari wanita yang seharusnya menjadi mertuanya.
"Raya pamit. Assalamualaikum."
Mereka menjawab dengan serempak. Andre membukakan pintu untuk Raya.
Sepanjang jalan, tidak ada satu pun ucapan yang keluar dari mulut keduanya. Raya hanya diam menikmati air mata yang tak kunjung berhenti.
"Raya, kenapa? dari tadi kamu nangis terus."
"Aku rindu pada tukang ojek online kesayanganku."
Andre menengok seketika.
"Aku ingin kembali bertemu dengannya. Dia yang tidak memiliki apa-apa tapi aku memiliki hatinya. Ah, iya. Mungkin juga aku salah sangka. Mungkin aku yang terlalu pede."
Andre diam.
"Aku suka saat dia memberiku nasi padang hasil keringatnya sendiri. Aku suka cara dia memperlakukanku. Aku suka saat dia khawatir padaku. Cara dia melindungiku dan mengorbankan dirinya yang kedinginan melawan angin. Aku ...." Raya tak kuasa menahan tangisnya.
"Aku rindu segala tentang tukang ojek itu. Bagaimana dia rela kena hajar bodyguard papi karena tidak terima aku diperlihatkan kasar. Aku benar-benar merindukan dia."
Ponsel Andre berdering. Mia menelpon.
"Ya, halo."
"Jawab dulu salamnya, Ndre."
"Iya, Maaf. Waalikumsalam. Ada apa?"
"Kami lagi di mana? bisa jemput gak? ini sudah malam, Eidah temanku tidak bersama saat ini. Agak takut, sih, sebenarnya mau pulang sendiri."
"Iya, tunggu sebentar. Aku akan segera ke sana."
"Aku bisa turun di sini kalau Kakak ada urusan lain."
"Gak apa-apa, kok."
"Ndre, lagi ngomong sama siapa? ada yang bersama kamu sekarang?"
"Iya, aku sedang bersama Raya."
"Oh, ya sudah. Aku naik taksi aja pulangnya. Barang kali kamu sibuk. Assalamualaikum."
"Eh, Mi. Tunggu dulu, Mia."
Andre kesal karena Mia menutup telpon begitu saja. Andre takut Mia benar-benar pergi dan tidak menunggunya datang.
"Aku bisa naik taksi. Turunkan saja di sini, Kak."
"Mustahil!"
"Dari pada dia marah."
"Dia tidak pernah marah. Dia dewasa dan ...."
"Cukup, Kak. Sudah hentikan. Jangan membicarakan kenaikannya di depanku."
"Maaf."
Begitu sampai di halaman rumah Bunda. Raya segera keluar dari mobil lalu masuk begitu saja ke rumah. Meninggalkan Andre begitu saja.
"Halo, masih di situ? aku segera ke sana. Tunggu sebentar lagi."
"Tidak perlu. Aku sudah di jalan mau pulang. Aku jiga harus mandiri bukan? kamu tidak selalu ada setiap waktu untukku."
"Maaf, Mia."
"Tidak apa-apa. Sampai bertemu besok, ya."
"Iya. Hati-hati. Kalau ada apa-apa, segera kasih kabar."
"Iya. Assalamualaikum."
"Waalikumsalam."
Andre memijat pangkal hidungnya. Rahangnya mengeras karena menahan amarah. Marah pada diri sendiri.
"Raya. Apa yang telah aku lakukan padamu? tidak seharusnya aku seperti ini." Andre bergumam sendiri.
Ponselnya kembali berbunyi. Sebuah pesan dari Raya.
[Akhiri semuanya sampai di sini. Selamat tinggal tukang ojek kesayanganku.]
Andre membuka pintu mobilnya berniat ingin masuk ke rumah Raya. Namun, niat itu dia urungkan. Ini sudah malam. Tidak mungkin dia membuat keributan di rumah orang.
Ponselah yang menjadi sasaran Andre. Dia membanting ponselnya hingga hancur. keributan yang Andre buat, membuat Bunda keluar dari rumah.
"Ndre."
Andre yang tampak kesal dan frustasi, berusaha menenangkan diri begitu melihat bundanya Raya.
"Masuk dulu, yuk."
Andre mengikuti langkah Bunda.
"Duduk, Ndre."
"Terima kasih, Tante."
"Sebenarnya Tante bingung harus mulai dari mana. Tante tidak tahu apa permasalahan kalian berdua. Raya tidak pernah cerita apa-apa. Setiap dia datang dengan air mata, dia selalu bilang bahwa dia malu karena tidak bisa menjadi dewasa dan hanya memuat kamu repot."
Andre tertegun. Raya masih saja menjaga nama baik dirinya di depan Bunda.
"Maaf kalau Raya memang kekanakan, ya. Dia anak broken home, jadi suka cari perhatian lebih."
"Tidak, Tante. Andre yang salah. Andre yang tidak bisa lebih peka lagi pada perasaan Raya."
"Tapi malam ini dia bilang sama Tante, kalau ... dia ingin kami pergi dari sini."
"Apa, Tante?"
"Dulu saat cerai bersama papinya, Tante mengajak Raya pindah ke luar negeri. Keluarga Tante ada di sana. Raya selalu menolak keras tapi hari ini tiba-tiba dia memohon sama Tante untuk pindah."
Andre menatap Bunda tidak percaya.
"Meski Raya tidak mengatakan apa-apa, Tante tau apa yang dia rasakan. Sama seperti Tante dulu. Rasa sakit karena pengkhianatan membuat Tante ingin pergi jauh. Sama seperti Raya saat ini."
"Bukan seperti itu masalahnya, Tante."
"Ndre. Hentikan. Jika kamu lebih mencintai wanita lain dari pada Raya, maka lepaskan Raya sekarang juga. Itu akan lebih baik untuknya."
"Tante, Andre mohon. Jangan bawa Raya pergi dari sini."
"Ndre. Jangan buat anak Tante berada di posisi Tante waktu dulu. Tante mohon sama kamu."
"Andre minta maaf, Tante. Jika boleh, Andre ingin bertemu dengan Raya sekali lagi."
Bunda menggelengkan kepala. "Pulanglah, ini sudah malam." Bunda beranjak dari tempat duduknya. Pergi meninggalkan Andre begitu saja.
Tidak mungkin Andre diam di sana sampai pagi hari. Lagi pula Bunda sudah jelas memintanya untuk pergi dari rumah ini.
Andre melangkah pergi dengan gontai. Kali ini sudah tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Raya akan pergi bukan untuk kuliah, kali ini dia akan pergi untuk pindah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Raya ... Raya ... Aku harus bagaimana jika tidak bisa lagi bertemu denganmu?"
Andre ambruk. Dia berlutut dengan tangisan yang menyayat hati.
"Kamu yakin ingin pergi? lihat sendiri bagaimana Andre merasa sedih mendengar kamu akan pindah, Nak."
"Bunda, hati Andre untuk wanita lain."
"Mungkin Andre hanya sedang bingung. Dia bingung karena wanita dari masa lalunya datang. Sementara dia sudah menautkan hatinya untukmu."
"Enggak, Bun. Raya sudah bulat akan pergi dari sini."
"Sayang, lihatlah Andre. Dia tidak mungkin tidak memiliki rasa yang dalam untukmu. Bagaimana dia menangis, Bunda tau dia mencintai kamu. Hanya saja, Andre belum sadar."
"Bunda ... Raya harus bagaimana sekarang? Kadang, Kak Andre terasa begitu hangat, dia terlihat seperti mencintai Raya, tapi di saat yang berbeda, Raya merasa dia sangat jauh dari jangkauan Raya. Raya sendiri sangat frustasi karenanya, Bunda."
Bunda memeluk putri semata wayangnya. Raya menangis dalam dekapan bundanya. Begitu juga dengan Andre. Dia masih terisak di luar sana.
Malam terlihat sangat dingin kali ini. Hanya sesekali angin bertiup menggoyangkan dedaunan. Tangisan ke dua hati yang tersakiti, membuat suasana malam semakin terasa suram.