Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Sekedar untuk hiburan.
***
Ari seorang pemuda tampan penakluk wanita, suatu hari bertemu dengan gadis yang tak mudah ia taklukkan. Ia pun jatuh hati pada gadis polos bernama Vidya. Kesederhaan Vidya telah memikat hatinya dan iapun menikahi sang gadis.
Namun ternyata pernikahan tak mampu menghentikan petualangan cintanya. Ia merasa hambar dengan perasaannya terhadap Vidya. Diana, mantan kekasih terindah yang tak mampu ia hapus dari ingatannya, telah hadir menjadi orang ketiga dalam biduk rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zian Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Vidya Tak ikut pulang
"Ma..apa Mama punya tabungan sebanyak itu?" Tanya Ibram dengan mimik muka khawatir.
Sang Mama tampak menghela nafas berat. Tampak raut muka kecewa terpancar dari wajahnya yang kini mulai keriput.
"Mama cuma ada tabungan 50 juta, sisa penjualan rumah kita yang dulu, itu juga harusnya jadi bagiannya Vidya" Mama terduduk lesu bersandar pada sofa.
"Maaf, Ma. Ibram cuma bisa bantu 20 juta, usaha ibram masih belum stabil seperti dulu, Mana Kak Arya baru masuk SMA barengan adik Aqila masuk SMP" ucap Ibram dengan mimik wajah sedih karena tak bisa banyak membantu orang tuanya.
"Pi..jual aja perhiasan Mimi, mungkin ada 10 juta ini" ucap Sofi perlihatkan gelang dan kalung yang menempel ditubuhnya.
"Jadi total 50 Juta uang Mama, ditambah 20 juta uang Mas Ibram, dan 10 juta perhiasan Teh Sofi?Total 80 juta?Kurang 70 juta lagi?" Urai Ari yang kemudian ia ikut duduk di sebelah Mama mertuanya.
Sang Mama hanya mengangguk lesu.
"Sisanya Insya Allah Kami ada, Ma. Alhamdulillah beberapa hari sebelum berangkat kesini, ada beberapa unit mobil yang laku di showroom" ucap Ari melirik istrinya yang selalu setia duduk si samping sang Papa.
"Sayang, di rekeningmu ada berapa duitnya? kemarin sebelum kita berangkat hasil penjualan mobilnya sudah aku transfer semua ke rekeningmu" ucap Ari lagi.
Vidya kaget dengan pertanyaan suaminya. Karena sebelumnya sang suami tak pernah bilang bahwa ia telah mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya.
"Belum aku cek" ucap Vidya kemudian. Ia benar-benar tidak tau jika suaminya itu sudah mentransfer uang hasil penjualan mobil ke rekeningnya. Karena selama ini biasanya uang hasil usaha dari penjualan mobil, motor maupun hasil usaha counter HP dan pulsa selalu ia pegang sendiri, sedangkan gaji dan insentif dari kantor memang menjadi hak Vidya.
Sedikit tak percaya, Vidya segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja, ia tak yakin sang suami telah mentransfer uang itu kepadanya. Segera ia membuka Internet banking dari aplikasi di ponselnya. Benar saja, uang 120 juta sudah masuk di rekeningnya bahkan beberapa hari sebelum kejadian dia bertemu dengan Andy. Ah, ini bisa saja hanya akal bulus suaminya agar dimaafkan kesalahannya, batin Vidya. Tapi uang itu dikirim sebelum konflik dengan Dista itu terbongkar?Tetap saja, Ini pasti karena ia sudah mengantisipasi bahwa segala kebohongannya akan terbongkar, makanya ia bersikap sok baik dengan memberi sejumlah uang itu. Vidya terus saja bermain dengan pikirannya sendiri. Ia merasa tak akan terpengaruh atas kebaikan suaminya kali ini. Ia sudah bertekad jika papanya sembuh ia akan segera melayangkan gugatan cerai pada Ari, tak peduli suaminya sudah mentransfer ratusan juta bahkan jika kini ia bersedia menanggung biaya operasi Ayahnya, dia tak akan mundur dengan keputusannya.
"Berapa saldonya sayang?" tanya Ari membuyarkan lamunan Vidya. Muak sekali rasanya mendengar dia memanggil dengan kata sayang, kata sok mesra yang dia lontarkan hanya untuk kepentingan sandiwaranya. Terus saja Vidya bermain dengan perasaan buruknya. Jika bukan karena demi menjaga perasaan Papa dan Mamanya sudah ia tampar muka sok baik suaminya itu.
"Ada 120 juta transfer pertama sama 30 juta transfer dua hari kemudian, jadi total 150 juta" ucap Vidya kemudian.
"Tapi itu kan uang modalmu, Nak?" Mama mertua menatap menantu lekakinya, Ari yang dia anggap sebagai menantu berbakti.
"Gakpapa Ma, pake aja dulu. Doakan aja rejeki kami selalu lancar dan rumah tangga kami langgeng sampai maut memisahkan" pinta Ari
Sang mertua nampak terharu melihat kebaikan dua menantunya itu "Terima kasih anak dan mantu Mama" tampak wanita tua itu meneteskan air mata haru, ia kemudian merangkul anak dan mantunya secara bergantian.
"Mama bersyukur sekali kepada Allah, karena telah mengirim menantu-menantu yang baik seperti kalian, mantu Mama yang cantik dan mantu Mama ganteng" Bergantian ia memeluk Ari dan Sofi.
"Sama-sama Mah, Sofi juga bersyukur punya mertua seperti kalian, saat Aa' Ibram jatuh, kalian bahkan rela berkorban menjual rumah demi membantu bisnis Aa' Ibram" Sofi membalas pelukan Mama mertuanya itu.
"Iya, Ma. Sama-sama. Ari juga mengucapkan terima kasih yang banyak untuk Mama" ucap Ari sambil menggengam tangan tangan Mama mertuanya.
"Terima kasih untuk apa, Nak Ari?" tanya mertuanya menatap menantu lelakinya itu.
"Terima kasih karena telah melahirkan dan mendidik istri yang begitu sempurna untuk Ari dan Ibu yang hebat untuk anak-anak Ari" ucapnya
"Itu sudah menjasi kewajiban Mama sebagai sebagia orang tua, tak perlu berterima kasih, justru Mama yang harusnya mengucap terima kasih untuk semua yang telah kalian korban untuk kami, Nak Sofi dan Nak Ari, Mama selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anak Mama, semoga rumah tangga kalian selalu diberkahi oleh Allah dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat" Mama mertua tampak memeluk Ari
Vidya hanya menatap sinis ke arah suaminya yang tengah memeluk Mamanya itu. Ia tahu semua yang dilakukan Ari hanyalah sandiwara untuk menebus kesalahannya agar ia dimaafkan.
"Jangan harap aku akan memaafkanmu ferguso" batin Vidya dalam hati
"Keluarga Bapak Subagyo, keluarga Bapak Subagyo, ditunggu segera diruang perawat" terdengar suara yang berasal dari Tombol Nurse Call Bel yang tergantung si tembok diatas brankar tepat di atas kepala pasien.
"Kak Ibram sama Mama kesana ya!" ucap Vidya yang selama di rumah sakit ini selalu setia duduk di samping Papanya.
Ibram segera menggandeng Mamanya menuju ruang perawat. Disana mereka diminta membaca poin-poin tentang oprasi Bypass yang akan dilakukan terhadap Papa mereka. Bahwa oprasi yang dilakukan dapat memberikan harapan baru pada pasien, tapi juga memiliki risiko yang mungkin saja terjadi, sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada pasien, maka keluarga tidak akan menggugat pihak dokter maupun rumah sakit. Begitu bunyi beberapa poin yang dibaca oleh Ibram, lalu kemudian ia membubuhkan tanda tangan dibagian bawah sebelah kiri, pada kertas tersebut.
Pasien diminta untuk puasa selama 12 jam sebelum oprasi dilakukan, dan esoknya Oprasi itu segera dilakukan. Semua berkumpul di depan sebuah ruang oprasi. Harap-harap cemas menunggu sampai operasi itu selesai. Sang Mama terlihat begitu tertekan. Ia mondar mandir tak tentu arah di depan ruang tunggu, sekedar menepis rada gelisah.
Tak lama terdengar suara Adzan dzuhur berkumandang, Ari segera beranjak mencari mushola, Vidya mengamati suaminya itu. Sejak beberapa hari terakhir ia memang melihat suaminya selalu solat tepat waktu. Bahkan sebelum kejadian ia mendapat pesan dari suami Dista, suaminya pernah berkata ingin mengajak istri dan anak-anaknya untuk mengikuti kajian rutin tiap hari ahad di sebuah Masjid yang katanya tak jauh dari kantornya, namun belum sempat hal itu terwujud, rumah tangga mereka sudah di goncang oleh prahara kehadiran orang ketiga, bahkan kehadiran orang ke empat.
Terasa penat hati Vidya memikirkan masalah pelik rumah tangganya. Suaminya yang sebenarnya terlihat baik di depan matanya itu, ternyata menyimpan dusta yang ia tutupi selama ini.
Iapun segera menyusul untuk melaksanakan sholat dzuhur, usai melaksanaksan sholat mereka kembali berkumpul di depan ruang operasi dan setelah menunggu selama satu jam lebih, operasi itupun selesai. Seorang dokter dengan berpakaian Hijau botol lengkap dengan tutup kepala, sarung tangan serta masker steril tampak keluar dari ruangan itu.
"Keluarga Bapak Subagyo?"
Spontan seluruh anggota keluarga segera berdiri dan mendekat ke arah dokter tersebut.
"Bagaimana, Dok..," Tanya sang Mama dengan mimik wajah khawatir.
"Alhamdulillah operasi berjalan lancar, dalam 12 jam pasien akan kami observasi di ruang ICU, jika kondisi stabil dalam 12 jam itu, maka pasien akan kita pindahkan ke ruang perawatan biasa.
"Alhamdulillah..." serentak istri, anak-anak serta cucu Pak Subagyo mengucap syukur.
Esoknya Dokter menyampaikan bahwa kondisi pak Subagyo sudah stabil, iapun dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Tiga hari pasca operasi, kondisi Pak Subagyo sudah terlihat lebih bugar. Ia sudah bisa bicara dan sudah di ijinkan pulang ke rumah.
Melihat kondisi papa mertuanya yang sudah stabil, Ari memutuskan untuk segera kembali ke kotanya, karena ia hanya mengajukan cuti selama 5 hari, ia pun pamit untuk pulang namun Vidya enggan untuk ikut sertq, ia beralasan masih ingin menemani Orang tuanya hingga sang benar-benar telah pulih.
Begitu pula Ibram berserta istri dan dua orang anaknya, mereka pun segera kembali ke Bandung, kota tempat tinggal mereka selama ini.
Tinggallah Vidya bersama anaknya menemani orang tua mereka.
"Kau kenapa tak pulang dengan suamimu, Nak?" tanya papanya.
Bersambung
Yuk baca karya pertamaku " Aku Seorang Mafia" silahkan cek di profilku. semangat berkarya author ♥️