NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:795
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindahan Rumah yang Lebih Mirip Migrasi Negara

Keheningan malam di paviliun barat mansion Alberto tidak pernah benar-benar sunyi tanpa arti. Sifat kaku dan kalkulatif dari manajemen Giovanni Alberto terwujud secara nyata pada jam empat pagi berikutnya. Ketika kabut tipis ibu kota masih menyelimuti deretan pohon pinus di luar jendela kamar rawat VIP, Alessa dipaksa bangun bukan oleh rasa linu di punggungnya, melainkan oleh deru halus mesin hidrolik dari belasan armada kendaraan yang parkir berbaris di halaman utama.

​Status medis Alessa dinyatakan selesai secara sepihak oleh Dr. Bram atas perintah mutlak sang miliarder. Dan hari ini, agenda resmi yang tertera di tablet digital milik Titi bukan lagi masa pemulihan pasca-trauma, melainkan sebuah proses relokasi domisili. Namun, bagi Alessa, istilah "pindahan rumah" yang diucapkan Bu Lastri tadi subuh bener-bener sebuah penyesatan bahasa. Ini bukan pindahan rumah biasa menggunakan mobil bak terbuka yang talinya diikat pakai karet ban bekas; ini adalah prosesi akbar yang lebih mirip migrasi kedaulatan sebuah negara berkembang.

​Di bawah pendaran lampu fajar yang keemasan, Alessa duduk di atas kursi roda ergonomis berlapis kulit sapi Italia yang didorong dengan sangat hati-hati oleh Titi. Punggungnya masih dilapisi perban steril, dan sepasang telapak kakinya yang cedera kini telah dibungkus kaos kaki katun organik setebal dua sentimeter yang super lembut. Ketika kursi roda itu melewati pintu ganda paviliun barat menuju lobi utama, mata cokelat Alessa melotot hingga batas maksimal.

​Di sepanjang koridor utama hingga ke area driveway depan, puluhan pelayan berpakaian hitam-putih berdiri berbaris laksana pagar betis penyambutan delegasi internasional. Di luar, tidak tanggung-tanggung, terdapat lima unit mobil SUV lapis baja berwarna hitam pekat, dua truk boks logistik berpendingin khusus, dan satu armada ambulans VIP Mercedes-Benz yang lampunya berkedip redup tanpa sirine. Puluhan pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam taktis tampak sibuk berkomunikasi menggunakan earpiece nirkabel, melakukan sterilisasi area radius satu kilometer dari gerbang utama.

​Kesedihan yang teramat mendalam kembali mengetuk celah hati Alessa yang paling sunyi di tengah hingar-bingar kemewahan yang mengintimidasi ini. Sebagai anak yatim piatu yang silsilah hidupnya biasa dihabiskan di dalam rumah petak bocor berukuran empat kali empat meter di Surabaya, Alessa merasa sangat kerdil. Skala kekuasaan finansial Giovanni Alberto bener-bener menghancurkan sisa-sisa realitas kelas menengah ke bawah miliknya.

​“Ibu... Ayah... Alessa cuma mau pindah tempat tidur, tapi kenapa orang-orang ini repotnya kayak mau evakuasi presiden dari zona perang?” ratap batin Alessa, ada rasa sesak yang berpadu dengan keterasingan yang masif di dalam dadanya. “Kemewahan ini bener-bener menakutkan. Di tempat sesempurna ini, kesalahan sekecil apa pun rasanya bisa dihukum dengan pasal penghapusan silsilah keluarga.”

​Namun, sebelum pusaran melankolis itu melumpuhkan saraf motoriknya, sekring pelindung anomali di dalam otak Alessa langsung meletupkan percikan sarkasme radikalnya. Komedi gelap adalah satu-satunya benteng pertahanan yang dia miliki agar jiwanya tidak tergilas oleh roda kemewahan Il Miliardario.

​Alessa memajukan kepalanya, menatap Titi yang sedang memegangi kemudi kursi roda dengan ekspresi wajah yang sangat tegang profesional.

​"Mbak Titi..." desis Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi yang menyengat. "Ini kita beneran mau pindah ke paviliun utama atau kita lagi mau melakukan kudeta militer di negara tetangga, Mbak? Itu truk boks di depan kenapa gede banget? Apa semua sisa roti gagal produksi dari toko Ko Alung di Surabaya ikut lu beli dan lu angkut pakai kontainer itu?"

​Titi terbatuk kecil, mencoba menjaga langkah kakinya agar tetap stabil di atas lantai marmer. "Aduh, Alessa... jangan bercanda dulu. Ini adalah standar operasional Tuan muda Giovanni jika memindahkan aset berharga. Truk boks pertama itu isinya hanya pakaian baru, fasilitas medis kustom, dan perlengkapan pribadi Anda yang dipesan langsung dari butik pusat kemarin sore."

​"Pakaian baru sampai satu truk?" Alessa mendengus parau, seulas senyuman kaku dan getir terukir di sudut bibirnya yang pecah. "Gila. Itu kalau baju-baju di dalam truk gue loakkan di pasar gembong Surabaya, duitnya bisa buat beli seluruh sirkuit judi bawah tanah tempat Kak Rian biasa ngutang. Manajemen finansial bos kita ini bener-bener gak ramah lingkungan buat kesehatan mental jiwa miskin gue, Mbak."

​Tepat ketika kursi roda Alessa tiba di samping pintu mobil SUV lapis baja yang terbuka, sosok Giovanni Alberto muncul dari balik bayangan pilar lobi.

​Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dipotong dengan presisi arsitektural yang sangat tinggi, memancarkan wewenang mutlak yang sanggup membungkam seluruh kebisingan di halaman mansion dalam sekejap. Sepasang matanya yang berwarna hitam kelam, sedingin es kutub, menatap lurus ke arah Alessa yang masih sibuk mengomentari truk logistik.

​Aroma parfum mahal pria itu—perpaduan pekat antara kehangatan ambergris dan kemewahan oud—seketika menyerbak di udara pagi, menyingkirkan bau embun dan bensin dari area driveway.

​"Apakah barang-barangmu sudah siap, Gadis Sarkas?" tanya Giovanni, suaranya yang berat, rendah, dan dingin memotong percakapan Alessa dengan Titi.

​Alessa mendongak, menantang tatapan sedingin es sang miliarder dengan silsilah keberanian radikal yang menolak mati. "Barang-barang yang mana, Mas Bos Kanebo Kering? Baju lama gue yang biru pudar kan sudah lu gantungin di tempat sampah medis kemarin. Sandal jepit swallow gue juga sudah hanyut di terminal Surabaya. Jadi yang pindah hari ini cuma badan penuh jahitan gue dan utang tiga ratus dua puluh juta yang tertera di atas kertas berlapis emas lu itu."

​Giovanni tidak membalas ironi tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, sudut bibirnya berkedut sangat tipis—sebuah riak kepuasan yang pekat karena mendapati mentalitas Alessa tetap kokoh di bawah tekanan visual migrasi massal ini.

​"Utangmu adalah investasiku, Alessa," sahut Giovanni datar, matanya memberi isyarat kepada dua pengawal berjas hitam untuk membantu Alessa bergeser dari kursi roda ke dalam kabin SUV mewah yang kursinya dilapisi kulit Alcantara super lembut. "Dan hari ini, kamu akan menempati paviliun timur. Tempat itu memiliki jarak fungsional yang lebih dekat dengan ruang kerjaku, agar aku bisa memantau setiap baris lelucon tragis yang keluar dari mulutmu dengan lebih efisien."

​Proses pemindahan tubuh Alessa dilakukan dengan sangat hati-hati, seolah-olah mereka sedang memindahkan vas kristal dinasti Ming yang harganya miliaran rupiah. Ketika pintu mobil SUV ditutup dengan bunyi kedap yang solid, Alessa bisa melihat dari balik kaca antipeluru bagaimana iring-iringan lima mobil mewah itu mulai bergerak perlahan, membelah jalanan internal mansion yang luasnya menyerupai kompleks distrik militer swasta.

​Di sepanjang jalan menuju paviliun timur, Alessa hanya bisa bersandar kaku pada jok mobil yang posisinya bisa disesuaikan secara otomatis menggunakan sensor pijat pneumatik. Amarah yang dingin terhadap nasibnya yang selalu dipermainkan berpadu dengan rasa takjub yang kaku.

​"Luar biasa," gumam Alessa lirih, menatap layar monitor monitor LCD sembilan belas inci di dalam kabin yang menampilkan peta rute internal mansion. "Pindah kamar saja pakai pengawalan antipeluru begini. Ini kalau preman pelabuhan Surabaya lihat, mereka pasti langsung pensiun jadi penagih utang dan beralih fungsi jadi tukang parkir miskin di depan gerbang istana lu, Mas Bos Giovanni."

​Giovanni yang duduk di jok belakang tepat di samping Alessa tetap mempertahankan postur tubuhnya yang tegap laksana patung marmer. "Orang-orang pelabuhan itu tidak akan pernah bisa melihat tempat ini, Alessa. Eksistensi mereka sudah dihapuskan sejak kontrak berlapis emas itu ditandatangani. Fokusmu sekarang bukan lagi masa lalu yang kumuh, melainkan bagaimana cara bertahan hidup di dalam sistem kekuasaanku yang tidak mengenal kata toleransi."

​Alessa memalingkan wajahnya ke arah jendela, menyaksikan paviliun timur yang megah dengan gaya arsitektur gotik modern mulai terlihat di balik perbukitan buatan mansion. Di dalam hatinya, Alessa tahu bahwa prosesi migrasi negara ini telah resmi menutup babak kemiskinan domestiknya bersama Rian, namun di saat yang sama, ia kini telah masuk lebih dalam ke dalam pusat pusaran permainan kekuasaan Il Miliardario yang dingin, penuh kalkulasi, dan berpotensi jauh lebih mematikan. Perjanjian di atas kertas berlapis emas itu bukan lagi sekadar dokumen utang, melainkan sebuah paspor resmi menuju kehidupan baru yang terlalu mewah untuk menjadi kenyataan.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!