Khalisa, harus rela bekerja pada keluarga kaya. Bukan sebagai pembantu rumah tangga melainkan merawat seorang pria yang bernama Adrian. Adrian adalah seorang pria muda yang di nyatakan stroke.
Meski pun Adrian sangat keras kepala dan memperlakukan Khalisa dengan sangat kasar. Khalisa tetap sabar menjalankan pekerjaan nya demi sang adik yang sedang sakit keras.
Dari rasa benci berubah ke rasa suka lalu berubah lagi pada rasa benci hingga pada akhirnya mereka saling mencintai. Banyak hal yang terjadi dalam hidup Khalisa, namun diri nya dengan sabar melewati kesedihan yang selalu datang dalam hidup nya.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Silahkan baca dan Jangan lupa Like, Rate, Vote and Coment 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Di Mana Dia?
"Motor mu ada di rumah ku." ujar Adrian berucap.
"Astaga! aku melupakan motor dan tas ku." ujar Khalisa lalu panik.
Adrian kemudian mengeluarkan tas Khalisa dari dalam nakas. "Ini...dan ini ponsel mu. Masalah kedai mu kemarin anak buah ku sudah mengurus nya."
"Terimakasih." ucap Khalisa lirih.
"Sore ini kau sudah boleh keluar." ujar Adrian tak lama Areta datang bersama suami nya.
"Ehheeemmmm....." ujar Areta berdehem. "Aku membelikan mu pakaian ganti sebelum pulang mandi dulu ya." ujar Areta sambil memberikan paper bag yang ia bawa.
"Di mana Orland?" tanya David.
"Orland baru saja pulang, dia ada meeting." jawab Adrian.
"Kau tidak pulang juga? bukankan kau orang yang sangat sibuk?"
Adrian bangkit dari duduk nya dan menaruh bekas makan Khalisa. "Lisa, aku pulang dulu." pamit nya lalu melangkahkan kaki ke arah pintu keluar.
"Adrian...." panggil Khalisa lalu pria itu menoleh.
"Ya, ada apa?"
"Terimakasih telah menolong ku." ucap nya.
"Sama-sama." balas nya lalu tersenyum kemudian pergi.
Areta mengambil alih kursi bekas Adrian. "Kau kenapa Lisa? apa kau punya masalah?" tanya Areta.
"Tidak ada, aku tidak ada masalah apa-apa." jawab nya berbohong.
David mencubit pundak istri nya agar berhenti bertanya, mereka paham jika Khalisa sedang menyembunyikan masalah nya.
Pulang, dengan di jemput Orland wanita itu di antar pulang. Sedangkan Adrian yang hanya bisa memandang dari kejauhan hanya bisa diam. Orland menuntun Khalisa menuju mobil nya kemudian mereka langsung pulang.
"Terimakasih mas, udah bantu Lisa." ucap Khalisa.
"Iya, sama-sama."
"Tapi aku belum membayar biaya rumah sakit nya."
"Adrian sudah melunasi nya."
"Adrian?"
"Iya, dia sudah membayar sejak awal kau masuk rumah sakit."
Khalisa langsung diam, ada perasaan tidak enak pada Adrian. Sesampai nya di rumah, Orland mampir sebentar.
"Untuk beberapa hari kedepan kau jangan bekerja dulu, istirahat yang banyak dan jangan lupa minum obat." nasehat Orland.
"Iya mas, terimakasih." jawab nya kemudian Orland pamit.
Khalisa membuka tas nya dan mengambil lembar kertas adopsi nya. Pertanyaan nya kembali muncul tentang siapa diri nya dan siapa orang tua nya..
Merasa pusing, Khalisa masuk ke dalam kamar nya dan beristirahat. Cukup menyakitkan jika kita banyak pertanyaan namun tak satu pun ada jawaban.
Keesokkan hari nya, bukan mya beristirahat Khalisa malah pergi ke kantor Adrian.
"Ada yang mencari!" ujar Fattan.
"Siapa?" tanya Adrian tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Khalisa, wanita yang kau tolong kemarin."
"Di mana dia? suruh dia masuk." perintah Adrian.
"Di loby, dia tidak mau masuk."
Bergegas Adrian meninggalkan ruangan nya dan menemui Khalisa.
"Khalisa...!" sapa Adrian "Kenapa ke sini? harus nya kau istirahat." ujar Adrian khawatir.
"Aku ingin bicara." ujar nya "Tapi jangan di sini, aku tidak enak di lihat karyawan mu."
Adrian kemudian mengajak Khalisa pergi kw cafe yang tak jauh dari kantor nya. Mereka hanya memesan minuman.
"Ada apa Khal?" tanya Adrian penasaran.
"Aku ingin mengembalikan biaya rumah sakit." ucap nya hati-hati agar Adrian tidak tersinggung.
Adrian menghela nafas panjang. "Khalisa, aku ikhlas. Kau tidak usah mengganti nya."
"Tapi aku tidak enak." tolak Khalisa lagi.
"Apa kau tahu betapa khawatir nya aku?" ucap Adrian spontan.
Khalisa menatap diam, "Aku mau mengambil motor ku." ujar nya mengalihkan pembicaraan .
Lagi-lagi Adrian menghela nafas dalam, "Motor nya ada di rumah, kau mau mengambil nya sekarang?" tanya Adrian.
"Iya...tanpa motor aku tidak bisa kemana-mana."
"Anak buah ku akan mengantar kan nya, sebaiknya kau pulang dan istirahat."
"Terimakasih. Kalau begitu aku pulang dulu." ujar khalisa hendak berdiri.
Adrian menarik tangan Khalisa. "Aku antar." ucap nya.
"Tidak, aku bisa pulang sendiri." tolak Khalisa.
"Aku tidak terima penolakan." ujar Adrian lalu menarik tangan Khalisa begitu saja.
Di dalam mobil, hanya ada keheningan dan hanya ada deru mesin mobil. Khalisa membuang pandangan nya keluar. Mata nya kosong dan pikiran nya kembali menerawang masalahnya.
Adrian melirik ke arah Khalisa, ia dapat menangkap jika wanita itu sedang menyembunyikan masalah nya.
Tak berapa lama mereka tiba, dan ada Orland yang sejak tadi menunggu di depan rumah Khalisa.
"Khalisa, kau dari mana saja?" tanya Orland khawatir.
"Niat ku untuk mengambil motor tapi akan di antar anak buah Adrian."
"Istirahat lah, kau masih pucat."
"Aku pulang dulu." ujar Adrian.
"Adrian, terimakasih." ucap Khalisa dan di balas senyuman oleh pria itu.
"Apa dia menyakiti mu?" tanya Orland.
"Tidak..." jawab Khalisa lalu duduk di kursi yang ada di teras rumah nya. "Entah kenapa aku merasa jika Adrian menjadi pendiam dan terkesan sangat dingin dan datar."
"Mungkin efek dari perceraian nya."
"Kenapa dia bisa bercerai? padahal pernikahan mereka baru beberapa bulan?"
"Entahlah, dan jangan pikirkan masalah Adrian."
Setelah melihat keadaan Khalisa baik-baik saja, Orland pamit pulang dan Khalisa masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.