Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstra Part 4
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Mira berlari kecil untuk menyusul Arion, saat sudah berdiri disamping bosnya itu Ia berdehem kecil. "Ekhem pak boleh saya minta sesuatu?"
Arion menoleh dan tersenyum kecil. "Permintaan apa Mira?"
Dan Mira merasa senang karena pria itu seolah membolehkannya, lihatkan bagaimana Ia tidak menyukai pria sempurna ini?
"Em bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum kembali ke kantor? Biar saya deh yang traktir."
"Boleh, dimana?"
"Beneran pak?"
"Iya, lagi pula saya memang sudah lapar jadi ayo kita makan siang dulu."
Belum pernah Mira sebahagia ini saat bersama Arion, Ia jadi semakin tergila-gila saja pada pria itu. Sebelumnya Ia kira tak akan dikabulkan ajakan makan siangnya, tapi ternyata Arion malah menerimanya dengan senang hati. Mereka memang baru selesai meeting diperusahaan salah satu klien, dan lumayan jauh juga untuk kembali ke kantor.
Mirapun menyebutkan nama tempat makan itu, salah satu tempat makan favoritnya juga. Biasanya kalau ke sana paling bersama teman ataupun keluarga, tapi sekarang cita-citanya terwujud, yakni bersama pria yang disukainya.
"Apa bapak sebelumnya pernah ke sini?" Tanya Mira mencoba memulai obrolan sambil menunggu makanan tiba.
"Belum, tempat ini lumayan bagus juga. Lain kali saya akan mengajak istri dan anak saya deh."
Senyuman Mira langsung luntur mendengar itu, hatinya jadi sedih. Padahal tadi Ia sudah senang karena akan menghabiskan waktu bersama Arion, tapi pria itu malah membicarakan keluarganya, kan jadi badmood. Makanan merekapun sudah datang, dan segera menikmatinya.
Tak sengaja Mira melihat saus dibibir Arion, Iapun berinisiatif membersihkannya dengan tisu, tapi sebelum menyentuh bibir, dengan sigap Arion menahan tangannya.
"Ada apa?"
"Em itu pak, di bibir bapak ada saus."
"Oh, biar saya saja yang bersihkan." Arion membawa tisu lain lalu membersihkan bibirnya yang mungkin belepotan.
Mira mengerucutkan bibirnya karena sikap pria itu terlalu dingin dan gugup padanya, padahal Ia sudah seterbuka mungkin pada Arion. Dari awal bekerja mati-matian Mira mencoba mendekati Arion, dengan segala cara yang Ia lakukan. Sikap pria itu memang ramah, tapi tidak pernah memandangnya lebih.
"Oh iya kamu sudah menikah?"
Pertanyaan Arion membuat Mira membelakan matanya, mulutnya sampai terbuka kecil tak percaya. Segera wanita itu menggeleng kencang, dengan mata yang berbinar menatap Arion. "Tidak pak, saya single. Belum punya pacar apalagi menikah."
"Haha kamu ini aneh kok kaya bahagia gitusih jadi jomblo."
"Hah?"
"Iya biasanyakan kalau yang jomblotuh suka sedih karena gak punya pacar, ini kamu malah bahagia. Kok gitu?"
"Saya kira bapak-"
"Apa?" Tanya Arion.
Tapi Mira langsung menggeleng sambil tersenyum kecil. "Gak deh pak, saya lagi menikmati masa jomblo aja, ya mudah-mudahan cowok yang saya suka bisa cepet sadar deh."
"Hm ya saya doakan yang terbaik untuk kamu."
Arionpun kembali menyuapkan spagetinya dengan lahap sambil menatap akuarium besar yang tingginya sampai atap tepat di sampingnya. Tempat yang bagus, makanannyapun enak, tapi sayang tidak terlalu ramai. Mungkin lain kali Ia akan ajak Arabelle dan anak-anaknya ke sini, mengingat mereka Arion jadi ingin cepat-cepat pulang.
Pria itu melirik Mira yang sedang makan sambil memainkan ponselnya, Ia menghembuskan nafasnya berat. Bukan maksud percaya diri, tapi Mira ini seperti menyukainya. Sering sekali sekertarisnya itu menunjukan ketertarikan, dan segala cara untuk menarik perhatiannya.
Mira memang cantik dan pintar, tapi Arion tidak tertarik dengan wanita itu. Kenapa? Ia sudah memiliki Arabelle yang sempurna. Mungkin Mira kira Ia tidak pernah peka ataupun sadar, padahal Ia tahu dengan perasaan wanita itu. Arion selalu bersikap cuek saja dan bodo amat. Mungkin pasti ada yang bilang kenapa Ia tidak tegas saja pada Mira? Entahlah, Arion merasa kasihan saja karena wanita itu baru satu bulan bekerja menjadi sekertarisnya.
"Pak apa boleh saya minta satu permohonan lagi?"
"Apa?"
"Bapak bisa antar saya beli buku? Itu untuk kado keponakan saya."
Sempat terdiam, tapi Arion bisa melihat tatapan memohon itu. Akhirnya pria itu mengangguk pelan namun mampu membuat senyuman lebar dibibir Mira.
***
"Finn aku mau eskrim!" Teriak Lilia sambil menunjuk toko eskrim yang tak terlalu jauh.
Finn langsung mengusap-usap telinganya yang sakit karena teriakan Lilia, ayolah wanita itu berdiri tepat di sampingnya, dan yang lebih parah menggenggam tangan kanannya terus.
"Gak usah teriak!"
"Hehe maaf, soalnya Finn cuek banget sama aku."
Liliapun menarik tangan Finn menuju kedai eskrim itu, mereka berdiri didepan meja panjang dan lucunya tinggi mereka tak melebihi meja itu. Seorang pelayan wanita tersenyum lebar, badannya Ia condongkan untuk melihat pembeli anak-anak itu.
"Hai ade mau beli eskrim apa?"
"Aku mau eskrim oreo satu, kalau Finn mau apa?"
"Aku gak mau eskrim."
"Ya sudah nanti kita makan berdua aja biar romantis."
Pelayan wanita itu terkekeh mendengar percakapan itu, astaga mereka ini masih sangat kecil. "Baiklah satu eskrim oreo akan segera tiba, mohon menunggu sebentar."
Finn tersenyum lega saat tangannya tak lagi digenggam oleh Lilia, anak itu sedang membawa uang di tas bergambar unicornnya. Tapi wajahnya kembali datar karena ternyata tangannya kembali digenggam erat oleh Lilia, sedang tangan kanan wanita itu memegang selembar uang berwarna merah.
Rasanya Finn ingin berlari dari Lilia, wanita ini gila! Mau di sekolah, ataupun di tempat umum Lilia selalu mengikutinya, tak pernah membiarkan Ia menjauh. Kalaupun Finn memarahi Lilia, wanita itu tak pernah peduli dan tetap mau bersamanya. Yang lebih membuatnya aneh kalau ada murid wanita lain mendekatinya, maka Lilia akan memarahi mereka dan menagatakan kalau Finn hanya miliknya seorang. Dan Finn hanya mendiamkannya saja, lagi pula Ia sudah lelah mengahadapi anak itu.
"Finn sekarang kita mau kemana?"
"Pulang!"
"Tidak mau makan siang dulu?"
"Tidak!"
"Oh atau kita menonton film saja, pasti filmnya seru-seru!"
"Tidak!"
"Hh baiklah-baiklah, kita akan pulang." Lilia menyendok eskrimnya dan mengarahkan pada Finn, tapi anak laki-laki itu menggeleng membuatnya gemas.
"Ayolah Finn, eskrimnya enak."
"Tidak mau!"
"Kalau tidak mau aku akan menangis di sini!"
Finn menatap datar Lilia, tautan tangan mereka terlepas karena Lilia yang menyentak kasar. Mereka berdiri berhadapan menatap tajam satu sama lain. Finn sudah lelah karena harus mengikuti semua kemauan anak itu, sepulang sekolah Lilia memaksanya untuk menemani jalan-jalan ke mall dan sudah tahukan Finn tidak akan bisa menolak.
Sebenarnya Finn ingin cepat pulang, tapi anak itu tidak membiarkannya. Ini sudah siang dan jika Finn tidak pulang tepat waktu, Ia takut membuat Mamanya khawatir.
"Menangis saja, aku akan pulang!" Setelah mengatakan itu Finn membalikan badannya untuk turun melewati lift tangga, tapi kepalanya langsung terjeduk keras dengan badan orang lain membuat anak itu meringis.
"Astaga kamu gak apa-apa?"
Suara itu seperti pernah Ia dengar, sambil mengusap keningnya Finn mengangkat kepala. Matanya langsung terbelak menatap wanita yang pernah ke rumahnya dan yang membuat Finn semakin tak percaya adalah melihat Papanya yang berdiri disamping wanita itu.
"Finn?"
Finn menatap tajam Papanya yang berdiri di depannya, kedua tangan kecilnya terkepal erat sambil menatap bergantian kedua orang itu. Tanpa menghiraukan sapaan Arion, Finn menarik tangan Lilia dan pergi dari sana dengan berjalan cepat.
Sedang Arion sempat tak percaya melihat tatapan tajam Finn, dadanya seketika bergemuruh kencang merasa takut. Saat akan mengejar putranya, tangannya ditahan membuat pria itu menatap Mira bertanya.
"Bapak mau kemana?"
"Tentu saja menyusul Finn, dia pasti salah paham melihat kita!"
Mira menghembuskan nafasnya berat. "Saya minta maaf jika saya membuat hubungan kalian tidak baik."
Arion menurunkan tangan Mira yang menahan tangannya, pria itu menatap sekertarisnya dalam, mungkin sekarang waktu yang tepat.
"Mira dengarkan saya baik-baik. Maaf jika ucapan saya menyinggung ataupun menyakiti hati kamu. Saya tahu kamu meyukai saya, dan saya menghargainya, tapi saya tidak bisa membalas perasaan itu. Saya sudah berumah tangga dan rasanya tidak akan mungkin saya mengecewakan keluarga saya."
"Perasaan kamu itu salah, masih banyak pria diluar sana dan yang pasti bukan saya. Mulai hari ini tolong berikap profesional dan menjaga sikap, saya bukan tidak tahu, tapi saya masih menghargai kamu. Saya pergi."
Arionpun berlari dari sana untuk mengejar Finn, meninggalkan Mira dengan perasaannya yang hancur. Arion memang harus tegas menghadapi masalah ini, sebelum kemungkinan-kemungkinan buruk menimpa rumah tangganya.
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.