Eland Fernandez, tiba-tiba berubah menjadi seorang pria kejam setelah menyaksikan kakaknya, Lolia Fernandez, mati dengan cara melompat dari atas gedung perusahaan milik keluarga mereka. Aksi bunuh diri tersebut di picu karena kekasih dari sang kakak menolak untuk bertanggung jawab atas bayi yang sedang di kandungnya.
Eland yang syok dan juga sangat trauma tanpa sadar telah menghidupkan jiwa iblis yang ada di dalam dirinya. Dia menculik dan menyekap gadis muda bernama Clara yang tak lain adalah adik dari pria yang membuat kakaknya nekad melakukan bunuh diri. Dalam penyekapan itu, Eland dengan sangat kejam menyiksa fisik dan juga batin gadis tersebut. Dia bahkan tak ragu untuk merenggut mahkota Clara yang saat itu masih belum terjamah oleh pria manapun.
Sementara Clara, dia hanya bisa pasrah menerima nasib pahit yang tiba-tiba datang menghampiri. Clara sangat berharap kalau kakaknya akan segera muncul kemudian menyerahkan diri pada Eland agar dirinya bisa terbebas dari jurang kesengsaraan.
Hingga pada suatu hari Clara merasakan sesuatu yang berbeda. Dadanya tiba-tiba berdebar kuat saat tak sengaja melihat Eland yang tengah bermain dengan anjing peliharaannya. Entahlah, mungkin Clara sudah gila karena jatuh cinta pada pria yang telah menghancurkan hidupnya. Namun apa daya, hatinya begitu berkuasa. Clara tak lagi terfikir untuk pergi dari tempat ini, tapi dia malah berharap kalau kakaknya tidak akan pernah datang, dia ingin terus berada di sisi pria psikopat tersebut.
Sedangkan Eland, entah kapan rasa itu muncul, mulai sedikit memperhatikan gadis muda yang menjadi tawanannya. Dia merasa terheran-heran karena gadis tersebut seringkali kedapatan sedang memandanginya sambil tersenyum. Hingga pada akhirnya Eland jatuh cinta pada tawanannya sendiri dan mencoba berdamai dengan sisi iblisnya. Dia juga berjanji akan mengganti semua kepedihan yang telah di alami oleh Clara akibat perbuatannya.
Cerita ini hanya imajinasi belaka. Jika ada kesamaan tokoh dan latar belakang tempat, harap maklum dan tidak asal melapor. Terima kasih dan selamat membaca... 😊
Ig: rifani _nini
Fb: Rifani
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candu Pesakitanmu
📢JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL
- Love Story ( Gabrielle & Eleanor)
- Pesona Si Gadis Desa
- Ma Queen Rose
- Marriage Contract With My Secretary
BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAK BESTIE 💜
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
Eland menatap lurus ke depan sembari menikmati sepuntung rokok di tangannya. Saat ini Eland tengah berdiri tepat di depan jendela kamar yang terbuka, dan pikirannya sedang melayang tidak jelas tak tentu arah. Sejak kejadian di mana Clara yang begitu panik melihat luka di tangannya membuat dada Eland terasa begitu sesak. Belum lagi dengan pakaian kumal dan juga lusuh yang dikenakan oleh gadis itu, membuat hati Eland di serang rasa perih yang begitu menyiksa. Sekejam itukah dia sampai-sampai tak mempedulikan kebutuhan gadis itu selama menyekapnya di mansion ini? Pikiran-pikiran seperti ini terus berkecamuk di dalam hati Eland, dan anehnya bisikan iblis yang selama ini sudah menemani hari-harinya seakan lenyap tak berbekas.
Apa mungkin para iblis yang tinggal di dalam pikiranku memilih pergi karena mereka tak kuat menghadapi kesabaran Clara? Sepengecut itukah mereka?
"Clara," gumam Eland.
Mata Eland terpejam perlahan saat hembusan angin malam menerpa wajahnya. Sejuk, tapi masih belum sanggup menjawab cecaran pertanyaan yang muncul di dalam hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Walaupun aku tak pernah henti menorehkan luka di hati dan di tubuhnya, Clara tetap tidak mau membenciku. Dia bahkan dengan suka rela mengobati aku yang sedang terluka. Bukankah ini sangat tidak adil?"
Setelah bergumam seperti itu Eland menjatuhkan rokok ke lantai kemudian menginjaknya sampai hancur. Dia kemudian menarik nafas, dan secara bersamaan ada yang mengetuk pintu kamar yang di barengi dengan suara lembut milik seseorang yang sedang Eland pikirkan.
"Tuan, apa aku boleh masuk ke dalam?" tanya Clara dari luar kamar. Dia menggigit bibirnya sendiri setelah bertanya seperti itu.
Tadi setelah selesai mengobati luka di tangan Eland, Clara memutuskan untuk membuat masakan untuknya makan malam. Sebenarnya Bibi Yumna sudah menyiapkan makanan untuk Eland tapi karena makanan tersebut di campur dengan beberapa bumbu yang bisa memperburuk luka, Clara memilih untuk membuatkan makanan yang baru saja. Dan tidak butuh waktu lama, sekarang dia sudah berdiri di sini sambil membawa nampan makanan untuk Eland. Clara takut psikopat itu kelaparan.
Ceklek
"Apa yang kau inginkan?" tanya Eland dingin.
"In-ini, Tuan. A-aku membawakan makan malam untukmu," jawab Clara gugup. Kepalanya terus tertunduk, takut kalau-kalau Eland murka karena tak suka di ganggu.
"Apa kau pikun?"
"Ya?"
"Berapa kali harus aku katakan kalau sedang bicara tataplah wajah orang yang ada di hadapanmu. Atau apa perlu aku mematahkan tulang lehermu supaya kau tidak bisa menunduk lagi, hah?"
Segera Clara mendongak menatap wajah Eland begitu mendengar ancaman yang sangat mengerikan itu. Dan sedetik kemudian Clara di buat terpaku oleh tatapan mata Eland yang terkesan lembut dan juga dalam. Tidak seperti waktu-waktu belakangan yang selalunya di penuhi dengan amarah dan kebencian.
"Apa yang kau bawa?" tanya Eland memutuskan kontak mata terlebih dahulu.
"Em, ini. Tadi aku memasakkan sup baru untukmu, Tuan. Apakah mau mencicipi?" jawab Clara dengan lembut.
"Masuk!"
Eland membuka pintu kamar dengan lebar kemudian mundur ke belakang. Dia lalu memperhatikan bentuk tubuh Clara yang terlihat sangat kurus di balik bajunya yang tipis. Perih, lagi-lagi rasa perih itu datang. Eland lalu menggeleng-gelengkan kepala, berharap kalau hatinya tak akan terasa perih lagi. Sementara Clara, dia dengan sangat hati-hati meletakkan nampan berisi makanan ke atas meja. Saking hati-hatinya, tidak terdengar suara apapun ketika bagian bawah nampan bergesekan dengan meja.
"Tuan, makanannya sudah siap. Silahkan dimakan, aku akan perg .... aaaaaaaaa!"
Clara menjerit kaget saat berbalik badan menghadap ke belakang. Jantungnya hampir terlepas karena ternyata Eland telah berdiri tepat di belakangnya.
"Suapi aku," bisik Eland. Dia menelan ludah karena posisi wajahnya sekarang sangat dekat dengan wajah Clara. Ini terjadi karena Eland tengah merengkuh pinggang Clara yang hampir terjatuh karena terkejut.
"S-suapi? M-maksud Tuan aku menyuapi Tuan makan?" tanya Clara terbata-bata.
"Kenapa? Kau keberatan?"
"T-tidak, Tuan. B-bukan begitu maksudku,"
"Lalu?"
Clara segera melepaskan diri dari remgkuhan Eland kemudian berbalik menuju meja. Dan di bibirnya, sebuah senyum manis tampak bertengger di sana. Walaupun sebenarnya takut, tapi Clara tak bisa menutupi rasa bahagianya saat diminta untuk menyuapi Eland karena memang inilah yang Clara harapkan. Tangan Eland sedang terluka, dan kemungkinan agak sedikit sulit untuknya makan menggunakan tangan kiri. Jadilah sekarang Clara begitu antusias menerima tugas ini. Dia sangat bahagia melakukannya.
"Tuan ingin makan di luar atau ....
"Di sini saja," sahut Eland. Dia lalu berjalan menuju ranjang kemudian duduk di tepiannya.
"Baiklah,"
Bagai sedang merawat bayi, dengan sangat telaten Clara mulai menyuapkan sup ke mulut Eland. Karena masih panas, dia memberanikan diri untuk meniupnya terlebih dahulu. Clara lalu menghela nafas lega saat Eland tak memprotes tindakannya, dan hal ini membuat Clara kian semangat mencurahkan perhatian kepadanya.
Sejak kapan manik mata gadis ini terlihat begitu bersinar? Berbulan-bulan tinggal bersama baru sekarang ini aku melihatnya. Dia tidak mungkin pergi ke luar untuk membeli soflens 'kan?
Di dorong oleh rasa penasaran, Eland tanpa sadar menggerakkan tangan mengelus kelopak mata Clara. Dan tindakannya itu berhasil membuat Clara terdiam dengan tubuh menegang hebat. Clara berpikir kalau Eland tidak puas dengan pelayanannya, jadi berpikir untuk mencungkil bola matanya. Membayangkan hal ini membuat kedua kaki Clara terasa sangat lemas, dia sampai tidak bisa berkata-kata saking takutnya akan apa yang sedang Eland lakukan.
"Kenapa berhenti? Sudah lelah, hem?" tanya Eland ketika Clara tak kunjung menyuapkan makanan padanya. Gadis ini malah diam mematung seperti orang yang sedang melihat hantu.
"B-bukan, Tuan. A-aku ... aku hanya ... hanya ....
"Buang makanan itu. Aku sudah tidak berselera makan lagi,"
Eland menghela nafas dalam-dalam kemudian memutuskan untuk berbaring saja di ranjang. Ada yang aneh dengan tubuhnya. Tiba-tiba ada yang berdesir setelah Eland menyentuh Clara dengan cara yang berbeda. Kulit gadis ini sangat lembut, dan manik matanya begitu indah. Clara-nya cantik dengan apa adanya dia, tanpa pakaian yang bagus dan juga riasan tebal di wajahnya.
Tunggu, Clara-nya? Sejak kapan aku menyebut Clara seperti ini? Apa aku sudah gila ya?
"Tuan, apa Tuan ingin minum obat pereda nyeri? Biasanya luka seperti itu akan tetap membengkak meskipun sudah di obati," tanya Clara sebelum keluar kamar. Dia masih khawatir.
"Darimana kau tahu kalau lukanya akan membengkak?" sahut Eland malah balik bertanya.
"Aku sering mengalaminya sendiri, Tuan," jawab Clara jujur.
Deg
Kalian tahu apa Eland rasakan setelah mendengar jawaban Clara? Tertohok, sangat amat tertohok karena dengan bodohnya Eland malah bertanya darimana Clara mengetahui hal itu. Padahal dia sendiri-lah yang telah memberikan luka tersebut. Lawak sekali bukan?
"Apa ... sangat sakit?" tanya Eland dengan suara gemetar. Sungguh, Eland merasa sangat terintimidasi oleh kesalahannya sendiri.
"Tergantung di bagian mana luka itu berada, Tuan. Tapi karena sudah terbiasa, sekarang aku sudah tidak terlalu merasakan sakit lagi setiap tubuhku kedatangan luka baru," jawab Clara sambil menatap dalam ke arah Eland. Tanpa sadar Clara tersenyum.
Sakit, tapi rasa sakit itu kini telah menjadi candu bagiku, Tuan. Hadirmu yang selalu membawa derita dan luka, membuatku jadi terbiasa dan tak ingin lagi mengeluh. Karena pesakitanmu ... aku menyukainya,
Sadar kalau omongannya sedikit melantur, dengan terburu-buru Clara pamit keluar. Dia meninggalkan Eland yang sedang terdiam di atas ranjang dengan ekpresi wajah yang sedikit aneh.
*****
smangat