NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Perlindungan Ben

Dengan tangan gemetar, Lala memutar kunci.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan Ben Arganza yang berdiri dengan tangan bersedekap. Ia tidak masuk, namun kehadirannya memenuhi seluruh ambang pintu.

Pria itu menyodorkan sebuah tas kecil berisi perlengkapan mandi dan pakaian tidur bersih.

​"Nyonya Gita yang memintaku memberikannya padamu," ujar Ben, matanya menyapu isi kamar yang rapi itu sebelum berhenti tepat pada wajah Lala. "Jangan berpikir bahwa keberadaanmu di sini memberimu hak untuk merasa nyaman. Kau di sini karena Nyonya menginginkannya, dan kau tetap di sini karena aku mengizinkannya."

​Lala menerima tas itu tanpa berani menatap mata Ben. "Terima kasih."

​Ben tidak langsung pergi. Ia memperhatikan bagaimana Lala mencengkeram tas itu, buku jari gadis itu memutih. Tiba-tiba, ia melangkah masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya dengan satu gerakan halus, membuat jantung Lala seakan berhenti berdetak.

​Ben mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Bau cologne maskulin yang bercampur dengan aroma parfum mahal mansion menguar dari tubuhnya.

​"Satu pertanyaan, Lala," bisik Ben, suaranya kini lebih rendah, sarat dengan emosi yang sulit diterjemahkan—antara kemarahan yang belum usai dan sesuatu yang lebih dalam.

"Selama tujuh bulan kau menghilang... apakah kau pernah sekali saja, bahkan hanya dalam pikiranmu yang paling kacau, memikirkan kenapa aku tidak pernah benar-benar menyerahkanmu kepada pihak berwajib?"

Lala mendongak, matanya yang besar menatap Ben dengan bingung dan takut. "Aku... aku pikir kau hanya ingin mempermainkanku. Kau ingin aku menderita perlahan."

Ben terdiam sejenak. Ia mengulurkan tangan, ibu jarinya bergerak ragu sebelum akhirnya menyentuh dagu Lala, memaksanya untuk terus menatap matanya. Sentuhan itu tidak kasar, namun memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh Lala.

Mata indah Lala mengerjap. Bulu matanya yang lentik tampak bergetar.

"Karena aku ingin tahu apa hubunganmu dengan Nadya Fransiska," bisik Ben tepat di depan bibir Lala yang terbuka sedikit.

Napas Lala tercekat. Nama itu—Nadya Fransiska—terdengar seperti dentuman keras di tengah ruangan yang sunyi. Ia bisa merasakan hangatnya embusan napas Ben di kulit wajahnya, sebuah jarak yang terlalu intim untuk sebuah interogasi.

"Nadya?" bisik Lala, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku... aku tidak punya hubungan apa pun dengannya, tuan Ben. Sumpah. Aku hanya desainer yang butuh uang, aku tidak tahu siapa dia!"

Ben tidak menjauh. Sebaliknya, ia sedikit menunduk, menatap bibir Lala yang gemetar sebelum kembali menatap tajam ke sepasang mata gadis itu, mencari kebohongan di sana. Ibu jarinya yang masih menyentuh dagu Lala bergerak sedikit, membelai garis rahangnya dengan gerakan yang sangat pelan, sangat berbahaya.

"Jangan berbohong padaku sekarang, Lala," suara Ben rendah, mengancam namun dengan nada yang bergetar aneh. "Laporan tim keamananku menunjukkan bahwa desainer yang kulepaskan tujuh bulan lalu memiliki pola komunikasi yang samar dengan informan Nadya. Nadya tidak akan membiarkan seseorang yang tidak berharga masuk ke lingkaran Frederick. Jadi, katakan padaku... apa yang dia janjikan padamu? Uang? Atau... ancaman untuk menghancurkan hidupmu jika kau tidak mau bekerja sama?"

Lala merasakan air mata menggenang di pelupuk matanya. Keadaan yang mendesak ini, ditambah dengan kehadiran Ben yang begitu dominan, membuatnya merasa terpojok.

"Dia tidak menjanjikan apa-apa!" seru Lala, setitik air mata jatuh membasahi pipinya. "Dia hanya menemukanku saat aku benar-benar terpuruk. Dia tahu aku butuh pekerjaan, dan dia memberiku akses ke proyek ini. Aku tidak tahu dia punya niat jahat pada keluarga ini! Aku bersumpah, tuan Ben... jika aku tahu ini akan melibatkan nyawa dan bahaya, aku tidak akan pernah mau!"

Ben terdiam. Ia memperhatikan tiap tetes air mata yang jatuh dari mata Lala. Ada ketulusan yang murni di sana—ketulusan yang selama ini ia coba sangkal karena logika dinginnya sebagai kepala keamanan.

Ben melepaskan dagu Lala, lalu menarik napas panjang, memalingkan wajahnya sejenak ke arah jendela kamar yang gelap. Ia tampak berjuang dengan dirinya sendiri—antara menjadi seorang pria yang bertugas melindungi keluarga Frederick dengan segala cara, atau menjadi seorang pria yang mulai meragukan penilaiannya sendiri terhadap gadis di depannya.

"Jika kau memang tidak tahu," suara Ben kini lebih dingin, kembali ke mode otoritatif nya, "maka kau sangat tidak beruntung, Lala. Karena bagi dunia, kau tetaplah orang yang membawa racun ke dalam rumah ini."

Ben berbalik dan menatap Lala lagi, kali ini dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Mulai besok, kau tidak boleh berbicara dengan siapa pun di mansion ini kecuali aku dan Nyonya Gita. Setiap gerak-gerikmu, setiap coretan di kertas desainmu, akan melewati pemeriksaan ketat. Kau bukan lagi desainer biasa. Mulai detik ini, kau adalah 'tahanan' yang sedang diawasi."

Ben melangkah mundur, membuka pintu kamar. Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak.

"Dan Lala..." Ben tidak menoleh, tapi suaranya terdengar berat. "Jangan pernah membiarkan orang lain melihatmu menangis seperti ini. Hanya aku yang boleh melihatmu hancur. Karena hanya aku yang punya kendali atas kehancuranmu."

Pintu tertutup rapat. Lala dibiarkan sendirian di dalam kamar yang luas, dengan jantung yang masih berdegup liar dan kesadaran bahwa ia baru saja terjebak dalam permainan yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

Ben bukan hanya menjaganya—Ben sedang melindunginya dengan cara yang paling egois dan berbahaya.

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
gimna lala....
bingung gak bingung kamu?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bagaikan telur di ujung tanduk donk...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
cium cium cium....
kan sudah memejamkan mata...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
bukan cuma otak yang di putar... kepalanya juga ikut di putar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
lala itu temannya tingkiwingki kan bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Runtuh Sudah sistem ke amanannya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
brati separuh harimau donk... 🤫?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
yakin ben lala suruh pergi...?
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!