Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Best Rookie
Fajar menyingsing di atas cakrawala Shanghai, namun sinar matahari pagi gagal menembus kabut polusi dan distorsi energi yang menyelimuti langit kota.
Tepat pada pukul enam pagi, ketika miliaran umat manusia bersiap memulai hari mereka di era yang kejam ini, sebuah dentingan tajam berbunyi serempak di dalam retina setiap manusia yang telah terhubung dengan Sistem Tower.
Itu bukanlah notifikasi invasi, melainkan sebuah pembaruan dari papan peringkat global.
[Notifikasi Global Tower Server Bumi: Pembaruan Leaderboard!]
[Kategori: Best Rookie (Pendatang Baru Terbaik)]
[Peringkat 1: Wu Xuan - Level 11 (Rekor Waktu Tercepat: 12 Jam sejak Kebangkitan)]
Dunia yang tadinya bersiap untuk menertawakan pangeran cacat dari keluarga Wu, mendadak membeku. Kopi tumpah dari cangkirnya. Senjata-senjata yang sedang diasah terjatuh ke lantai.
Miliaran pasang mata menatap antarmuka biru di pandangan mereka dengan rasa syok yang merobek akal sehat.
Level 11. Dalam waktu kurang dari dua belas jam sejak ia divonis sebagai Kelas E tanpa mana.
Media massa dan jejaring sosial seketika meledak layaknya gunung berapi. Badai opini membelah umat manusia menjadi dua kubu yang saling berteriak.
Sebagian masyarakat—terutama faksi-faksi pro-Wu Imperial—mulai memuja.
"Sudah kubilang! Darah dari dua pilar Country Tier tidak mungkin mengalirkan sampah! Mesin Asosiasi pasti bermasalah!" seru para pendukungnya. "Dia adalah sang penyelamat yang akan berevolusi dengan cara yang tidak kita pahami!"
Namun, di sudut-sudut gelap internet, kebencian dan kedengkian justu semakin mengakar. Para pembenci dan simpatisan musuh politik keluarga Wu melontarkan hujatan yang jauh lebih berbisa.
"Omong kosong! Kelas E adalah Kelas E! Wu Jiang pasti telah menyewa puluhan ranker tinggi untuk memotong kaki monster dan membiarkan bocah itu memberikan pukulan terakhir!" cibir mereka. "Berapa jutaan Koin Menara yang dibakar oleh Wu Imperial untuk menyuapkan Elixir tingkat tinggi ke dalam tenggorokan sampah itu?! Ini adalah nepotisme paling menjijikkan dalam sejarah umat manusia!"
Di kedalaman distrik hiburan bawah tanah Beijing, bau alkohol basi dan asap cerutu menggantung tebal di udara.
Di dalam ruangan VVIP sebuah bar eksklusif, Bing Song duduk dalam kegelapan. Mata pria berotot kawat dengan level 35 (Town Tier) itu menatap proyeksi berita pagi dengan urat leher yang menonjol. Gelas whiskey di tangannya telah hancur menjadi serpihan kaca tajam yang menancap di telapak tangannya, namun ia tidak mempedulikan rasa sakit itu.
Kemarin malam, ia tertawa puas. Ia bahkan telah menghubungi agen pembunuh bayaran bawah tanah, merencanakan sebuah "kecelakaan kecil" di dalam Dungeon tingkat rendah untuk melenyapkan Wu Xuan dan menghancurkan mental Wu Jiang.
Tapi pagi ini, angka 'Level 11' di papan peringkat itu menampar wajahnya dengan realitas yang membekukan darah.
"Membeli ramuan? Pukulan terakhir dari pengawal?" gumam Bing Song dengan suara serak, mengusap darah dari tangannya. Tawanya terdengar kering dan penuh kepahitan. "Para netizen tolol itu tidak tahu apa-apa tentang hukum Menara. Sistem tidak akan pernah menghitung EXP secara penuh dari monster yang dilumpuhkan oleh orang lain. Dan tidak ada ramuan di bumi ini yang bisa menaikkan sebelas level dalam semalam tanpa meledakkan tubuh penggunanya."
Mata Bing Song memancarkan kengerian yang tersembunyi. Insting predatornya yang telah membuatnya bertahan hidup selama lima belas tahun memperingatkannya akan bahaya.
"Bocah itu juga anomali... seperti orang tuanta," desis Bing Song. Ia merogoh komunikator di sakunya, membatalkan kontrak pembunuhan murahan yang ia buat semalam.
Rencana itu sudah usang. Mengirim pembunuh bayaran tingkat rendah pada entitas yang bisa melompati sepuluh level dalam satu malam adalah tindakan bunuh diri.
Bing Song tahu, ia harus menyusun rencana pembunuhan baru. Sebuah strategi yang jauh lebih gelap, lebih mematikan, dan tidak meninggalkan jejak. Karena jika ia salah langkah, Wu Xuan bukan hanya akan membunuhnya, tapi akan menghapus seluruh keluarganya.
Sementara itu, di tempat yang jauh lebih tinggi dan lebih dingin.
Di atas awan ibu kota Beijing, sebuah benteng melayang berbentuk heksagonal yang menjadi Markas Besar Asosiasi Hunter beroperasi dalam ketegangan maksimal.
Di dalam ruang rapat utama yang terbuat dari dinding obsidian kedap suara, para petinggi umat manusia duduk mengelilingi meja bundar. Lampu ruangan diredupkan, hanya menyisakan pendaran biru dari layar holografik raksasa yang menampilkan profil Wu Xuan.
Tetua Asosiasi Lin Buyuan duduk dengan rahang mengeras. Otot-otot besarnya menegang. Ia adalah orang yang kemarin berdiri di samping Wu Xuan saat altar menilai pemuda itu sebagai sampah. Kini, ia merasa seperti orang bodoh yang baru saja ditipu oleh menara.
Di ujung meja, duduk Kepala Asosiasi. Seorang pria tua dengan mata yang tersembunyi di balik bayang-bayang jubahnya. Auranya sangat menekan, setara, atau mungkin sedikit lebih gelap dari Wu Jiang.
"Jelaskan padaku, Lin Buyuan," suara Kepala Asosiasi itu mengalun pelan, namun membuat suhu ruangan merosot. "Bagaimana bisa mesin pemindai yang diberikan oleh Menara gagal mendeteksi potensi pemuda ini? Kelas E? Non-Kombatan? Lalu dua belas jam kemudian, ia merobek batas Level 11?"
"S-Saya tidak tahu, Yang Mulia," jawab Lin Buyuan, menelan ludah. "Altar itu tidak mungkin rusak. Kapasitas mana bocah itu benar-benar nol kemarin. Kami menduga... Wu Imperial memiliki metode rahasia. Sebuah metode terlarang untuk mengubah hunter rendahan menjadi hunter tingkat menengah hanya dalam semalam."
Kata-kata itu menjatuhkan bom keputusasaan di atas meja rapat tersebut.
Para ketua aliansi dari berbagai guild yang hadir saling menatap dengan wajah pucat pasi. Jika Wu Imperial Guild memiliki metode seperti itu, itu akan menjadi akhir dari keseimbangan kekuasaan Tiongkok. Wu Jiang bisa saja menciptakan pasukan pembunuh Level 50 dalam hitungan bulan!
"Kalian terlalu fokus pada kebencian kalian terhadap Wu Jiang, hingga kalian melupakan ancaman yang sesungguhnya," potong Kepala Asosiasi, suaranya dipenuhi peringatan yang kelam.
Pria tua itu menyandarkan tubuhnya, memutar cincin di jarinya. "Wu Jiang hanyalah seekor anjing buas yang mengandalkan kekuatannya. Tapi alasan mengapa Wu Imperial begitu ditakuti, alasan mengapa mereka tidak pernah bisa kita hancurkan selama lima belas tahun... adalah istrinya. Wu Yuena."
Mendengar nama sang dewi penyembuh disebut, beberapa ketua guild tanpa sadar merinding.
Di mata publik, Wu Yuena adalah seorang malaikat. Namun bagi para musuh politiknya, wanita itu adalah mimpi buruk yang sebenarnya.
"Kalian ingat perang perbatasan lima tahun lalu?" bisik Kepala Asosiasi, menatap mereka satu per satu. "Kehadiran Wu Yuena membuat seluruh pasukan Wu Imperial menolak untuk mati. Jangkauan buff wanita itu mengerikan... ia bisa meningkatkan batas fisik puluhan ribu hunter secara bersamaan selama dua puluh empat jam penuh."
Kepala Asosiasi mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat di dalam kegelapan. "Lebih parah lagi... selama pasukan itu masih berada dalam jangkauan spiritualnya, Wu Yuena mampu menyambung kembali kepala hunter yang baru saja dipenggal. Ia menentang hukum kematian dasar. Karena wanita itulah, pasukan Wu Imperial bertarung layaknya iblis kelaparan yang tidak memiliki rasa takut."
Ruangan itu hening. Ketakutan lama kembali mencekik mereka.
"Dan sekarang," lanjut Kepala Asosiasi, menunjuk ke arah proyeksi holografik wajah Wu Xuan yang sedang tersenyum tipis. "Putra mereka yang mungkin mewarisi genetik monster itu telah terbangun. Altar menilai bakatnya sebagai 'Perpustakaan'. Semua orang menertawakannya sebagai pengarsip bodoh."
Kepala Asosiasi terdiam sejenak, membiarkan asumsi gila terbentuk di kepala para bawahannya.
"Tapi pikirkanlah secara rasional," bisik sang Kepala Asosiasi, suaranya bergetar oleh paranoia yang mendalam. "Apa esensi dari sebuah 'Perpustakaan'? Itu adalah pusat data. Itu adalah akses terhadap informasi."
Mata Lin Buyuan melebar sempurna. Napasnya tertahan. "Maksud Anda... bakat bocah itu..."
"Bagaimana jika bakatnya bukanlah mengingat teks buku biasa?" Kepala Asosiasi menyela, nada suaranya berubah menjadi teror murni. "Bagaimana jika bakat Kelas E miliknya itu adalah sebuah kamuflase? Bagaimana jika 'Perpustakaan' berarti dia bisa mengakses informasi rahasia Menara Semesta itu sendiri?"
Gelas air di tangan salah satu ketua guild terjatuh dan pecah berantakan di atas meja.
Ketakutan akhirnya meledak di dalam ruang rapat itu.
Sebuah monster yang memiliki perlindungan tak terkalahkan dari ibunya, kekuatan dan kekayaan dari ayahnya, serta kemampuan untuk memanipulasi informasi dan pertumbuhan level yang tidak masuk akal. Ini bukan lagi soal politik. Ini adalah ancaman besar.
"Keseimbangan telah hancur," gumam Kepala Asosiasi, matanya memancarkan niat membunuh yang belum pernah setajam ini. "Jika kita membiarkan bocah itu berkembang... dia tidak akan menjadi pilar umat manusia berikutnya. Dia akan menjadi tiran yang mungkin akan menginjak kepala kita."
Di dalam kegelapan ruang rapat itu, tanpa sepengetahuan Wu Xuan, sebuah aliansi bayangan baru saja terbentuk. Semua mata yang membenci Wu Jiang, kini beralih menatap putra tunggalnya.
Badai konspirasi, pembunuhan, dan intrik gelap mulai bergerak menyelimuti keluarga Wu.
Bersambung...