Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Keruwetan Hidup
Rapat evaluasi pasca grand opening Selaya Resto sedang berlangsung serius di ruang pertemuan Kembang Desa. Di sana berkumpul para pimpinan dan kepala divisi, membahas langkah strategis menghadapi kehadiran pesaing besar yang baru saja menggebrak pasar. Suasana cukup tegang, mengingat kemeriahan acara pembukaan kemarin malam sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial dan lingkaran bisnis kuliner setempat.
Sebagai staf pelaksana, Dinara lebih memilih duduk di ruang kerja, menyelesaikan laporan stok bulanan sambil sesekali menyelipkan waktu untuk menelusuri akun media sosial Selaya Resto di ponselnya. Foto-foto kemegahan gedung, deretan makanan mewah, hingga dokumentasi tamu-tamu penting yang hadir terpampang jelas di layar gawainya.
" Ini tamu undangan kok mirip Mas Langit ya? " gumamnya sambil memperhatikan foto.
Ia lalu menggeleng pelan seolah orang itu hanya kebetulan mirip saja. Bukan ia menyepelekan Mas Langit, tidak sama sekali, karena ia juga berasal dari rakyat jelata. Akan tetapi rasanya tidak mungkin ada Mas Langit di sana.
" Grand Openingnya meriah banget ya, Mbak Nina," gumam Dinara pelan sambil menggelengkan kepala, matanya tak lepas dari foto gedung yang dihias indah itu. Ia menyesap kopi yang sudah mulai dingin di meja kerjanya. "Mudah-mudahan omset kita masih tetap oke ya meski Selaya sudah buka. Aku selalu berdoa agar supaya pelanggan setia kita tidak lari semua ke sana."
Mbak Nina, staf bagian marketing digital yang duduk di meja seberang, menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya yang terasa pusing. Wajahnya tampak lelah dan khawatir.
"Berat, Mbak Ra. Aku rasa kita nggak akan capai target bulanan kalau situasinya begini terus," jawab Nina jujur, nada bicaranya penuh kekhawatiran. "Sekarang saja tim marketing dan aku sudah ketar-ketir mempersiapkan segala cara untuk mempertahankan pelanggan. Persaingan makin ketat, apalagi Selaya itu punya modal besar dan jaringan luas." Nina menatap Dinara lekat-lekat, penasaran. "Kamu sendiri gimana di bagian purchasing? Aman nggak pasokannya? Mereka nggak ambil ikan dan bahan baku dari supplier kita kan?"
Dinara menggeleng pelan, kembali meletakkan ponselnya di meja.
"Nggak tahu, Mbak. Aku nggak dapat info juga mereka ambil bahan baku dari mana," jawabnya tenang.
"Terus Selaya ambil ikan dari mana kalau bukan dari jalur yang biasa kita pakai?" tanya Nina lagi, rasa penasarannya makin menjadi.
"Ya nggak tahu juga, Mbak. Supplier ikan dan petani itu banyak sekali di sini. Mungkin mereka sudah punya langganan sendiri , atau punya akses lain yang kita nggak ketahui. Yang penting pasokan kita lancar dan kualitas terjaga," jawab Dinara berusaha tenang, meski di dalam hati ia sedikit bertanya-tanya juga.
Belum sempat Nina menyahut, Mas Ferdi masuk ke ruangan dengan wajah sedikit cemberut, membawa hasil keputusan rapat yang baru saja usai. Ia duduk di kursi kerjanya sambil menumpas kertas notulensi di meja.
"Mbak Ra, kita disuruh cari supplier lagi buat ikan, daging dan sayur. Kata owner kita harus punya cadangan pemasok. Jadi harus cari second supplier biar ada pembandingan harga dan kualitas, serta antisipasi kalau tiba-tiba pasokan utama bermasalah," ujar Mas Ferdi dengan nada pasrah.
Dinara mengerutkan kening, menatap rekannya itu tak percaya.
" Aku rasa itu hal yang umum sih, tapi aku nggak bisa bayangin kalau harus sortir ikan ke dua tempat berbeda. Capeknya nambah dua kali lipat, Mas. Ini Pak Aji nggak mau negosiasi apa ya sama atasan? Biar kita nggak usah berangkat subuh-subuh terus, biar kerja normal aja kayak orang-orang kantoran lain," keluh Dinara, mengingat dinginnya udara subuh dan beban berat yang ia pikul hampir setiap hari.
"Iya, Mbak Ra. Aku juga sudah bilang sama Pak Aji, harusnya kan bisa disewa karyawan khusus yang tugasnya cuma sortir barang di pasar, nggak harus kita berdua terus. Lama-lama badan ini rasanya meriang tiap hari ke pasar nggak ada liburnya, Sabtu Minggu pun tetap harus turun tangan," sambung Mas Ferdi, mengeluh lelah dengan gerakan mengurut bahunya yang kaku.
Mbak Nina yang mendengar percakapan itu langsung menimpali dengan suara sedikit keras, seolah tahu persis akar masalahnya.
"Mending kamu ngomong langsung sama Pak Edi saja kalau begitu. Ini kan udah hampir tiga bulan kalian bolak-balik ke pasar subuh-subuh. Harusnya kalian berdua sudah percaya dong sama kualitas barang dari Mas Langit? Kan sudah terbukti bagus dan konsisten," ujar Nina beralasan masuk akal.
"Justru Pak Edi sendiri yang minta kita memastikan ulang kualitasnya secara langsung di pasar setiap hari. Curhat sama Pak Aji atau Pak Edi sama aja bohong, jawabannya pasti tetap sama: 'tetap kontrol ketat bahan baku'. Susah deh pokoknya," jawab Ferdi putus asa, lalu menatap Dinara meminta pembenaran. "Ya kan, Mbak Ra?"
"He' eh betul betul betul," jawab Dinara singkat sambil mengangguk pasrah.
Keputusan rapat itu mutlak. Bagian purchasing wajib mencari opsi kedua untuk semua jenis bahan baku strategis. Dan karena itu, hari itu juga Ferdi dan Dinara terpaksa bekerja lembur. Mereka harus menyusuri daftar nama calon pemasok, menelepon satu per satu, mencatat harga, syarat pengiriman, hingga jadwal kunjungan pengecekan kualitas. Pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan bertahap, kini harus diselesaikan hari itu juga karena dianggap urusan mendesak.
Jam dinding di ruangan itu berdentang pelan, menunjuk angka 8 malam. Suasana kantor sudah sepi, hanya ada mereka berdua dan Mbak Eni di bagian administrasi yang masih membereskan berkas.
"Mbak Ra, nggak pulang? Ini sudah jam 8 malam lho," tegur Mbak Eni saat lewat di dekat meja Dinara, tampak khawatir melihat wajah wanita itu yang tampak lelah luar biasa.
"Hah? Masa sih?" Dinara terkejut, buru-buru melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Ia benar-benar tidak sadar waktu berjalan begitu cepat karena asyik dan tegang mengerjakan tugas tambahan itu.
Sejak kedua orang tuanya datang dan tinggal bersamanya, kebiasaan Dinara berubah. Pak Djarot tidak pernah membiarkan anak bungsunya itu berangkat pulang sendiri naik motor di malam hari atau berangkat subuh sendirian. Entah kenapa, bapaknya itu terlihat sangat tidak tega melihat perjuangan keras yang dilakukan Dinara sendirian selama ini. Rasa bersalah karena dulu sempat keras kepala dan kurang mendukung kini berubah menjadi perhatian berlipat ganda.
Bahkan Pak Djarot rela menjual sebagian ternak sapi dan kambing miliknya di kampung halaman, supaya ia tidak memikirkan pakan hewan-hewan itu dan bisa tinggal lebih lama menemani serta menjemput anaknya.
"Bapakmu sudah aku minta tunggu di dalam ruang istirahat, Mbak. Sudah aku kasih roti dan teh hangat juga. Kasihan dia sudah satu jam lebih nunggu di luar gerbang, makanya aku suruh masuk saja ke dalam biar nggak kedinginan," ujar Mbak Eni sambil tersenyum ramah.
Dinara tersentuh hatinya, rasa lelah bercampur haru. Ia berdiri cepat membereskan tas kerjanya.
"Makasih banyak ya, Mbak Eni. Nanti deh kalau libur aku traktir pentol sepuasnya deh, janji!" seru Dinara berterima kasih.
"Siap diterima!" sahut Mbak Eni riang.
Dinara bergegas menuju ruang istirahat. Di sana, duduk santai di kursi kayu panjang, Pak Djarot terlihat tenang saja, tangan kanannya memegang cangkir teh yang sudah kosong. Wajahnya tidak terlihat marah atau kesal sedikit pun meski menunggu cukup lama.
"Maaf ya, Pak, sudah lama menunggu. Pekerjaanku jadi numpuk mendadak tadi, ada keputusan baru dari rapat jadi harus dikejar selesai malam ini juga," ucap Dinara pelan, merasa bersalah sambil menundukkan wajah.
Pak Djarot tersenyum tipis, berdiri lalu menepuk pelan bahu anaknya.
"Wis, ndak apa-apa, Nduk. Bapak di sini enak kok, dijamu sama kue dan teh hangat terus sama Mbak-mbak yang ramah itu. Mereka temanmu ya? Baik-baik dan perhatian sekali," jawab Pak Djarot lembut.
"Nggih, Pak. Mereka teman kerjaku," jawab Dinara sambil mengangguk.
"Ya sudah, ayo kita balik. Kasihan ibumu di kontrakan sendirian. Untung tadi si Mela sudah pulang kerja, jadi bisa temani Ibu biar nggak sepi," ajak Pak Djarot.
Mereka berdua pun keluar kantor, naik ke atas motor mati milik Dinara, kendaraan satu-satunya yang ia miliki, paling murah dan sederhana namun sangat berharga baginya karena hasil keringat sendiri. Pak Djarot duduk di depan menyetir, sementara Dinara duduk di belakang memeluk pinggang bapaknya erat, menikmati hembusan angin malam yang sejuk namun menyejukkan hati.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol hal-hal ringan, membahas masakan Bu Tita, rencana besok pagi, hingga keluhan pekerjaan Dinara yang sedikit ia ringankan ceritanya agar bapaknya tidak ikut pusing. Namun, saat motor mereka melambat melewati perempatan lampu merah, pandangan Dinara terkunci pada pemandangan di sebelah kiri sana.
Di sana terparkir sebuah mobil sedan hitam yang terlihat baru, mengkilap, dan mewah. Dari kaca jendela yang terbuka sedikit, Dinara melihat sosok Mas Tri sedang duduk di kemudi, sementara di kursi penumpang sebelah ada Haura yang sedang merapikan kerudungnya dengan canggung. Mata mereka bertemu, meski jarak keduanya terpisah beberapa meter dan dibatasi kendaraan lain.
Jantung Dinara serasa berhenti berdetak sejenak. Ia melihat Mas Tri menatapnya lekat-lekat, matanya menyorot rasa bersalah yang mendalam, tatapan yang penuh penyesalan yang tak bisa diucapkan. Mas Tri melihat mantan istrinya itu, sederhana, polos, duduk di belakang motor murah yang biasa saja, dibonceng oleh ayahnya. Sementara dirinya? Ia duduk nyaman di dalam mobil bagus yang baru saja ia ganti bulan lalu, mobil yang dibeli dari uang gaji dan tunjangan jabatan barunya di perusahaan.
Namun di balik kemewahan itu, Mas Tri merasa hatinya jauh lebih sempit dan berat dibandingkan Dinara yang tampak tenang dan damai meski sederhana.
"Wis Nduk ndak usah dilihatin terus," suara berat Pak Djarot memecah lamunan Dinara, seolah bapaknya itu bisa membaca isi hati anaknya lewat pantulan kaca spion motor. "Dia kelihatan bahagia, dia kelihatan punya segalanya, tapi percayalah, hatinya pasti diliputi perasaan bersalah yang berat. Biar Gusti Allah yang membalas semuanya. Kamu sudah benar, kamu sudah jalan yang lurus. Biarkan mereka menikmati apa yang mereka ambil dengan cara salah."
Dinara mengangguk pelan, menyeka sudut matanya yang tiba-tiba terasa panas.
"Iya, Pak aku paham," jawabnya lirih, memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menghapus bayangan wajah Mas Tri dari ingatannya saat itu juga.
Lampu lalu lintas berubah hijau. Motor Pak Djarot melaju pelan melewati sisi mobil sedan itu. Mas Tri masih menatap kepergian mereka, menatap punggung wanita yang pernah ia janjikan surga, wanita yang ia tinggalkan demi wanita lain yang menawarkan kemewahan dan kenyamanan palsu.
"Mas, kenapa lihatin mereka sampai segitunya sih?" suara tajam Haura menggelegar di sampingnya, memecah lamunan Mas Tri. Nada bicaranya sinis, dingin, dan penuh kecurigaan. Haura menatap tajam ke arah motor yang menjauh itu, lalu kembali menatap suaminya dengan pandangan tidak suka. "Mas merasa menyesal ya pilih aku? Mas masih sayang sama wanita m4ndul itu sampai hati-hati begini melihatnya?"
Mas Tri menghela napas kasar, tangannya mengepal di atas setir. Rasa bersalah yang tadi ada kini berubah menjadi amarah yang tertahan.
"Cukup, Haura! Jangan keterlaluan!" bentak Mas Tri, suaranya tinggi dan penuh emosi yang meluap. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah sebut kata-kata itu lagi! Dinara bukan wanita buruk, dia wanita baik yang kita injak-injak harga dirinya! Kalau saja kamu tidak masuk ke dalam hidupku, mungkin Dinara tidak harus bekerja sekeras ini. "
Haura tersentak kaget, tidak biasa dibentak sekeras itu. Ia langsung menegakkan badannya, wajahnya berubah merah padam menahan marah.
"Lho, kok aku yang disalahkan? Aku kan cuma nanya wajar saja! Mas Tri sendiri yang ngeliatin dia kayak orang yang kehilangan harta berharga! Memang benar kan? Dia mandul, dia nggak bisa kasih kamu anak padahal sudah 5 tahun menikah.
Justru aku yang berikan segalanya buat Mas! Jabatan, uang, kemewahan, dan sekarang aku lagi mengandung anak Mas! Harusnya Mas bersyukur, bukan malah melamunkan masa lalu yang sepakat kita kubur!" seru Haura tak mau kalah, suaranya meninggi di dalam mobil tertutup itu.
Mas Tri menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merasa pusing luar biasa. Ia menyalakan mesin mobil kembali dan menginjak gas dengan agak kasar, melesat membelah jalanan malam.
"Aku memang punya segalanya sekarang, tapi kamu nggak pernah kasih aku ketenangan, Haura! Kamu nggak pernah kasih aku kedamaian hati yang dulu aku rasakan saat sama Dinara!" balas Mas Tri dengan suara parau, matanya menatap lurus ke depan, menghindari tatapan istrinya. "Dinara itu sederhana, tapi dia jujur, dia tulus, dia tidak pernah menuntut apa-apa selain kesetiaan. Sedangkan kamu? Kamu kasih aku dunia, tapi kamu ambil kebahagiaanku. Aku lelah di curigai, aku lelah terus bertengkar denganmu setiap hari! "
Haura tertawa sinis, suara tawanya terdengar tajam dan menyakitkan.
"Oh jadi sekarang kamu membandingkan aku sama Dinara? Apa kurangnya aku, Mas? Aku cantik, aku berpendidikan, aku punya karir bagus dan aku sedang mengandung anakmu. "
"Justru itu!" potong Mas Tri cepat. "Justru itu yang bikin aku malu, Haura! Aku malu sama diri sendiri karena aku ada di sini, di mobil mewah ini, di posisi ini, hasil dari apa yang kamu ambil paksa dari dia! Aku merasa semua yang aku pakai, semua yang aku nikmati ini adalah hasil rampasan, hasil curian yang kita ambil dengan cara kotor! Tiap malam aku tidur, aku selalu teringat wajah Dinara yang diam saja waktu aku usir dia dari rumah itu. Wajah dia yang nggak pernah marah, nggak pernah minta balas, cuma diam dan pergi!"
"Itu karena dia nggak berdaya, Mas! Dia sadar dia kalah saing sama aku! Dia sadar dia nggak punya apa-apa!" seru Haura mulai naik pitam, matanya melotot menatap suaminya.
Pertengkaran itu berlanjut tak berkesudahan sepanjang perjalanan pulang. Dari masalah Dinara, melebar ke masalah kecemburuan, ke kebijakan di tempat kerja, hingga masalah keuangan yang ternyata lebih rumit dari yang Mas Tri bayangkan. Haura yang terbiasa hidup boros dan bergaya mewah sering kali memaksakan pengeluaran di luar kemampuan gaji Mas Tri, memaksanya berutang atau mengambil uang tak wajar demi menutupi gaya hidup istrinya yang ingin selalu terlihat mewah.
Belum lagi masalah mertua dan ipar yang tak luput dari amukan Haura malam ini. Mas Tri merasa kepalanya serasa mau pecah. Ia melihat kemewahan yang mengelilinginya, melihat perut istrinya yang makin membesar, melihat seberapa besar ia dihargai di kantor, namun hatinya terasa kosong, gelap, dan penuh duri.
Ia menyadari satu hal pahit yang terlambat: kemenangan yang ia banggakan bersama Haura ternyata hanyalah semu. Di luar sana, Dinara mungkin lelah bekerja keras, mungkin hidup sederhana, mungkin harus bangun subuh-subuh dan berjuang mati-matian, tapi wanita itu tidur dengan hati bersih, tidur tanpa rasa bersalah, dan tidur dengan tenang.
Sementara dirinya? Ia menang segalanya di mata dunia, tapi ia kalah telak di hadapan dirinya sendiri, di hadapan Tuhan, dan di hadapan ketenangan hati yang kini sudah lenyap tak berbekas.
Di dalam mobil yang makin melaju cepat itu, di antara teriakan dan caci maki Haura yang terus menyerang telinganya, Mas Tri merasakan puncak keruwetan hidupnya. Ia terjebak di antara masa lalu yang indah namun ia buang, dan masa depan yang mewah namun penuh penderitaan batin. Dan ia sadar, mungkin memang benar apa kata orang: siapa yang menanam angin, dia akan menuai badai. Dan badai itu kini mengamuk hebat di dalam rumah tangganya sendiri.
kok udh tamat aj kk othor?😔☹️
Terimakasih ya sudah membersamai Dinara dan Langit dari awal sampai akhir.
Sampai bertemu lagi di buku selanjutnya.
Sekarang saia sedang mempersiapkan buku baru di Tatangga Oren. love you all 🥰
"Semoga Allah memberkahimu atas anugerah yang diberikan kepadamu, kamu mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga anak ini mencapai usia dewasa, dan kamu diberi rezeki berupa baktinya anak tersebut."
Aamiin 🤲 Selamat utk Dinara, mas Langit & kedua ortu atas kelahiran anak pertamanya 🙏💐🎊
Selamat u Dinara n mas Langit dah resmi jadi Ortu... 🥰🥰