GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Nama yang Terkubur
Sejak pagi itu, seluruh kediaman Tanudjaya terasa berbeda. Udara yang biasanya terasa tenang dan damai, kini berubah menjadi tegang, penuh kewaspadaan. Penjaga keamanan ditambah jumlahnya dua kali lipat, pos penjagaan diperketat, kamera dipasang di setiap sudut yang belum terjaga, bahkan lorong-lorong yang jarang dilewati pun kini tak lagi ada yang tersembunyi. Aditya benar-benar tidak mau mengambil risiko sedikit pun—baginya, keselamatan Luna adalah segalanya, lebih penting daripada bisnis, lebih penting daripada kekuasaan, lebih penting daripada nyawanya sendiri.
Di ruang kerja besarnya, Aditya duduk di balik meja kerja yang penuh tumpukan berkas, keningnya berkerut dalam saat matanya bergerak cepat membaca setiap baris tulisan, setiap catatan, setiap data yang dikumpulkan anak buahnya sejak pagi tadi. Di sebelahnya, Luna duduk diam, sesekali melirik ke arah pria itu, hatinya bimbang antara takut dan penasaran—siapa sebenarnya orang yang begitu membencinya sampai rela bersembunyi bertahun-tahun hanya untuk menghancurkannya?
"Semua orang yang dulu terlibat dalam urusan warisan, semua kerabat jauh, semua orang yang pernah bekerja untuk kakekmu... kami sudah telusuri satu per satu, Tuan Aditya," lapor salah satu anak buahnya yang berdiri di hadapan meja itu, wajahnya terlihat lelah tapi serius. "Sebagian besar sudah meninggal, sebagian lagi sudah tua dan hidup tenang di kampung halaman, ada yang sudah miskin dan tidak punya kekuatan apa pun. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang terlihat mencurigakan... kecuali satu orang."
Aditya langsung mengangkat wajah, tatapannya tajam. "Siapa?"
"Paman Ardiansyah," jawab lelaki itu pelan, seolah nama itu sendiri membawa beban berat. "Adik kandung mendiang Ibu ibunda Nyonya Luna, jadi paman dari pihak ibu. Dulu ia sangat dekat sekali dengan Kakek Arthur, bahkan hampir dianggap seperti anak sendiri. Seluruh urusan perusahaan dan harta keluarga dulu sering dibantu olehnya, semua orang kira dialah yang akan menjadi penerus utama sebelum akhirnya Nyonya Luna ditemukan dan datang ke sini."
Mendengar nama itu, jantung Luna seketika berdegup kencang. Ia masih kecil sekali saat orang ini pergi, hanya ingat samar-samar sosok lelaki yang ramah, sering memberinya permen, tapi kemudian tiba-tiba saja ia menghilang, dan tak ada lagi yang pernah membicarakannya. Dulu ia kira pamannya itu pergi karena punya urusan penting, atau karena tidak mau tinggal di kota ini lagi... tapi ternyata, ada cerita lain di balik kepergiannya.
"Apa yang terjadi padanya? Semua orang bilang ia pergi ke luar negeri, hidup tenang di sana," potong Aditya, tangannya menggenggam pena kuat-kuat.
"Itu yang kami dengar juga, Tuan. Tapi setelah kami telusuri lebih dalam... ternyata itu hanya cerita yang dibuat-buat. Paman Ardiansyah tidak pernah pergi ke luar negeri sama sekali. Ia tinggal di sini, di kota ini, bersembunyi dengan identitas lain, mengubah penampilan, tidak bertemu siapa pun, seolah-olah ia sudah mati bagi dunia luar."
Darah Aditya terasa mendidih di dalam tubuhnya. Satu per satu potongan teka-teki itu mulai menyatu, mulai membentuk gambaran yang jelas. Orang yang tahu seluk-beluk rumah ini, orang yang tahu kebiasaan kakek Arthur, orang yang merasa dirinya berhak atas segalanya... siapa lagi kalau bukan dia?
"Kenapa ia melakukan semua ini?" bisik Luna, suaranya bergetar. "Kakek selalu baik padanya, memberinya tempat, memberinya pekerjaan, memberinya penghidupan yang lebih dari cukup... kenapa ia bisa membenci kami sampai sejauh ini?"
Anak buah Aditya itu menghela napas pelan, lalu melanjutkan laporannya dengan suara lebih pelan:
"Dulu, saat Kakek Arthur tahu kalau Nyonya Luna ada dan masih hidup, saat ia memutuskan akan mewariskan segalanya kepada cucu kandungnya sendiri... Paman Ardiansyah sangat marah, Tuan. Ia merasa dikhianati. Ia merasa selama puluhan tahun ia bekerja keras, mengabdi, membantu segala urusan keluarga, itu semua sia-sia belaka. Ia pikir karena ia adalah satu-satunya kerabat terdekat, dialah yang akan mendapatkan segalanya. Tapi saat tahu semua akan jatuh ke tangan cucu kecil yang selama ini tak pernah mereka dengar kabarnya... hatinya penuh rasa sakit, iri, dan kebencian yang dalam. Ia sempat bertengkar hebat dengan Kakek Arthur, bahkan sampai mengancam akan melakukan sesuatu, lalu keesokan harinya ia hilang begitu saja. Semua orang mengira ia pergi ke luar negeri karena malu atau kecewa... padahal ia hanya bersembunyi, menunggu waktu yang tepat."
Kata-kata itu tergantung di udara, berat, dan membuat suasana di ruangan itu menjadi sunyi senyap. Luna terdiam, matanya terasa panas. Ia tak pernah menyangka, di balik cerita bahagia tentang ia kembali ke rumah kakeknya, ada cerita pahit dan dendam yang disimpan selama puluhan tahun oleh orang yang seharusnya melindunginya—paman sendiri.
"Jadi... orang yang masuk ke kamarku malam itu... dia Paman Ardiansyah?" tanyanya, suaranya hampir tak terdengar.
"Kemungkinan besar begitu, Nyonya," jawab lelaki itu hormat. "Ia tahu rumah ini luar dalam, ia tahu di mana saja titik lemah penjagaan, ia tahu semua rahasia keluarga, dan ia punya alasan paling kuat untuk membenci kalian berdua. Selama ini ia hanya mengamati, melihat Nyonya Luna tumbuh besar, melihat Nyonya berhasil mendapatkan kembali haknya, melihat Nyonya bahagia bersama Tuan Aditya... dan semakin bahagia Nyonya, semakin besar pula rasa dendamnya. Ia ingin Nyonya merasakan apa yang ia rasakan: dikhianati, direbut apa yang dianggap miliknya, dan akhirnya tersisih, sendirian, dan hancur."
Tiba-tiba Luna teringat semua ucapan orang itu malam itu, semuanya sekarang masuk akal: "kau kira semua sudah selesai? Kau kira tidak ada lagi yang tersisa? Aku yang menunggu selama ini... semua ini seharusnya milikku, bukan milikmu..."
Air mata menetes turun tanpa bisa ia cegah. Ia tidak takut lagi, tapi hatinya terasa perih—sakit mengetahui bahwa darah daging sendiri, keluarga sendiri, ternyata menyimpan kebencian sedalam ini padanya, hanya karena masalah harta dan kekuasaan.
Aditya melihat air mata itu, dan rasanya hatinya ikut teriris. Ia langsung berjalan mendekat, duduk di sebelah Luna, lalu merangkul bahu wanita itu, menariknya bersandar di bahunya, memberi kekuatan dan ketenangan.
"Jangan menangis, sayangku..." bisiknya lembut di telinga Luna, tapi suaranya dingin dan tajam saat ia berbicara lagi pada anak buahnya itu. "Jadi selama ini kita salah mengira kita sudah menghabiskan semua musuh kita. Kita lupa satu orang... orang yang paling berbahaya, karena ia datang dari dalam, dari keluarga sendiri, orang yang kita kira aman, orang yang kita kira sudah pergi jauh."
Aditya berdiri kembali, tangannya dikaitkan di belakang punggung, tatapannya menatap jauh ke luar jendela, penuh tekad yang tak tergoyahkan.
"Kalau ia pikir ia bisa bersembunyi selamanya, kalau ia pikir ia bisa bermain-main dengan ketakutan Luna, kalau ia pikir ia bisa datang dan pergi sesuka hati tanpa ada yang bisa menghentikannya... ia salah besar. Aku akan temukan dia, di mana pun ia berada, bagaimana pun ia menyamar. Aku akan buka semua kedoknya, aku akan tunjukkan siapa dia sebenarnya di hadapan semua orang, dan aku akan pastikan ia menerima balasan yang setimpal atas semua yang ia lakukan."
"Tuan..." panggil Luna pelan, ia menatap wajah samping Aditya yang tampak begitu tegas dan menakutkan. "Dia... dia keluarga aku. Darah daging kakek juga. Meskipun dia salah, meskipun dia membenciku... aku tidak mau hal buruk terjadi padanya. Aku hanya ingin dia berhenti, aku ingin dia menyerah, dan berhenti mengganggu kita..."
Aditya berbalik, menatap wajah Luna yang penuh kebaikan hati itu—walaupun orang itu ingin menghancurkannya, walaupun orang itu berniat buruk padanya, hati Luna tetap lembut, tetap tidak mau melihat siapa pun celaka. Justru sifat inilah yang membuat Aditya makin menyayanginya, makin ingin melindunginya dengan seluruh nyawanya.
"Tenang, Luna. Aku tidak akan menyakitinya tanpa alasan, dan aku tidak akan berbuat melebihi batas. Tapi aku juga tidak akan membiarkannya terus mengancammu, terus membuatmu takut, terus hidup dalam kegelapan sambil merencanakan kejahatan. Aku akan berikan dia dua pilihan: menyerah, datang mengaku, dan berjanji tidak akan mengganggu kita lagi... atau aku akan serahkan dia pada hukum, dan biarkan hukum yang memutuskan nasibnya. Aku tidak akan menyakitinya, tapi aku juga tidak akan membiarkannya menyakitimu."
Tepat saat itu, telepon di meja berdering keras. Anak buah Aditya segera mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu wajahnya berubah cerah, tapi juga tegang.
"Tuan Aditya! Kami menemukan jejaknya! Ada saksi yang melihat laki-laki yang cocok dengan gambaran kami, sering lewat di jalan dekat sini, kadang duduk di warung pinggir jalan sambil memperhatikan rumah ini. Dan baru saja anak buah kami melihat dia pergi ke sebuah gudang tua di pinggir kota, gudang yang dulu pernah menjadi milik keluarga kita sebelum dijual bertahun-tahun yang lalu!"
Mata Aditya langsung menyala. Ini dia! Akhirnya jejak yang nyata!
"Siapkan mobil dan orang-orang terbaik. Kita pergi sekarang!" perintahnya tegas.
Ia menoleh ke arah Luna, wajahnya yang tadinya keras seketika melunak saat menatap wanita itu. Ia berjalan mendekat, memegang kedua bahu Luna, lalu mencium keningnya lembut, lama, penuh rasa sayang dan janji.
"Kamu tinggal di sini, ya? Kunci semua pintu, jangan buka untuk siapa pun selain aku dan orang yang aku perintahkan. Aku akan pergi sebentar saja, aku akan datang kembali, dan aku akan pastikan semuanya selesai hari ini juga. Tidak ada lagi ancaman, tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi bayang gelap yang mengganggu tidurmu. Aku janji."
Luna mengangguk, tangannya memegang erat lengan baju Aditya, seolah takut melepaskannya. "Hati-hati ya, Tuan. Jangan bertindak sembarangan... aku ingin Tuan juga kembali dengan selamat."
"Aku akan baik-baik saja. Demi kamu, aku akan selalu kembali pulang," jawab Aditya dengan senyum tipis yang penuh keyakinan.
Tidak lama kemudian, mobil hitam besar melaju kencang keluar dari gerbang kediaman itu, diikuti dua mobil lain berisi orang-orang kepercayaan Aditya yang siap siaga. Di dalam mobil, Aditya duduk di kursi pengemudi, matanya menatap lurus ke jalan di depan, pikirannya melayang pada satu tujuan: bertemu dengan lelaki yang selama ini bersembunyi, mengakhiri semua permainan ini, dan memastikan Luna bisa kembali tidur nyenyak, tenang, dan aman selamanya.
Namun Aditya belum tahu... bahwa lelaki yang akan ia temui itu, bukan hanya membawa dendam lama, tapi juga menyimpan rahasia lain yang jauh lebih besar, jauh lebih mengejutkan, dan mampu mengubah seluruh jalan hidup mereka berdua selamanya. Rahasia yang jika terungkap... akan membuat segalanya tidak akan pernah sama lagi.
Di gudang tua yang sepi dan pengap di pinggir kota itu, sosok lelaki tua bertopi lebar sedang berdiri di depan tumpukan kotak tua, memegang sebuah foto lama yang sudah usang di tangannya. Di foto itu terlihat wajah Luna saat masih kecil, tersenyum cerah, di sampingnya ada kakek Arthur yang terlihat sangat bangga. Lelaki tua itu menatap foto itu dengan tatapan campuran benci, iri, tapi juga ada rasa sedih yang tak bisa ia sembunyikan.
"Kau pikir sudah selesai, ya, Arthur?" gumamnya sendiri dengan suara parau. "Kau kira dengan menyerahkan segalanya pada gadis kecil ini, kau sudah bisa mengubur semuanya? Salah besar... rahasia yang kau kubur begitu dalam, akan aku bawa keluar. Aku akan tunjukkan pada dunia, siapa sebenarnya gadis kecil yang kau anggap permata itu... dan siapa aku sebenarnya."
Angin berhembus masuk lewat celah dinding gudang, membawa serta suara deru mobil yang mendekat dengan cepat dari arah jalan utama.
Lelaki tua itu mengangkat kepalanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, dingin, dan penuh perhitungan.
"Mereka datang... baiklah. Mari kita mainkan babak terakhir ini. Aku akan pastikan, kalian berdua... akan menyesal pernah mengenalku."
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷