NovelToon NovelToon
Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Amore E Caos: Tertukar Di Sarang Singa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
​Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
​Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Jumat Kliwon di Markas Mafia

Sejak klan De Luca memindahkan pusat operasinya dari Roma ke sebuah ruko berlantai tiga di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, mereka merasa telah mengondisikan hampir semua variabel ancaman. Intelijen siber faksi Vatikan berhasil dilumpuhkan lewat kekuatan netizen +62, krisis keuangan darurat diatasi dengan taktik menawar Bianca yang legendaris, dan sistem keamanan fisik ruko kini diperkuat oleh Reno, si pencuri parkour jalanan yang direkrut menjadi divisi logistik.

​Namun, ada satu variabel fundamental di tanah Jawa yang luput dari kalkulasi taktis Dante maupun pengalaman militer Lorenzo: kalender kosmologi lokal.

​Malam itu adalah malam Kamis Pon menuju malam Jumat Kliwon. Bagi warga Palmerah, itu adalah waktu di mana dimensi astral bergeser, waktu ketika ronda malam diperketat bukan karena takut pada maling motor, melainkan karena "penghuni" lain sedang ingin ikut berjalan-jalan. Bagi klan mafia De Luca, malam itu akan menjadi malam di mana sains Barat mereka berbenturan keras dengan kearifan mistis lokal yang tidak bisa ditembak dengan peluru kaliber 9mm.

Pukul sebelas malam. Atmosfer di dalam ruko lantai dua, yang kini berfungsi sebagai ruang latihan tim Aegis Esports, mendadak berubah. Suhu udara di dalam ruangan turun drastis hingga menyentuh angka 16 derajat Celsius, padahal indikator pada remote AC menunjukkan angka 24. Bau amis laut Sunda Kelapa yang biasa terbawa angin malam tiba-tiba digantikan oleh aroma bunga melati yang sangat menyengat—tipe aroma melati segar yang biasa ditemukan di pemakaman umum.

​Dante duduk di depan meja kerjanya, jemarinya membeku di atas papan ketik mekanik. Layar monitor spesifikasi dewa miliknya mendadak menampilkan barisan kode yang rusak, berkedip-kedip menghasilkan gelombang interferensi elektromagnetik yang tidak stabil.

​"Lorenzo," panggil Dante, suaranya terdengar agak bergetar. "Sistem keamananku mendeteksi adanya fluktuasi medan magnet yang sangat masif di area tangga menuju lantai tiga. Ini bukan serangan siber. Tidak ada perangkat keras yang meretas kita."

​Lorenzo yang sedang membaca laporan keuangan tim esports sambil meminum kopi hitamnya langsung mendongak. Sebelah alisnya terangkat. "Apakah ada kabel yang korsleting lagi seperti saat di Sisilia?"

​"Bukan korsleting," Dante memutar layarnya, menunjukkan grafik gelombang frekuensi rendah yang bergerak naik-turun menyerupai pola detak jantung. "Frekuensinya berada di bawah 10 Hertz. Secara ilmiah, frekuensi ini bisa memicu halusinasi visual dan rasa cemas berlebih pada manusia. Tapi yang aneh... kamera inframerah di lorong tangga menangkap adanya distorsi termal berbentuk oval setinggi dua meter yang bergerak statis. Suhu objek itu... minus lima belas derajat."

​Valerio masuk dari arah balkon sambil memegang senapan runduknya yang sudah dibongkar. Wajahnya tampak serius. "Lorenzo, ada yang aneh dengan lingkungan luar. Seluruh anjing penjaga di kompleks ruko sebelah mendadak melolong bersamaan sejak sepuluh menit lalu. Dan Reno... anak buah baru kita itu, mendadak mengunci diri di kamar mandi lantai dasar sambil terus merapalkan doa-doa lokal."

​Bianca yang sedang asyik rebahan di sofa sambil menonton video TikTok langsung bangkit berdiri. Ia mengendus udara di dalam ruangan dalam-dalam, lalu wajahnya mendadak pucat pasi. Ia menatap Lorenzo dengan mata membelalak.

​"Mas Bos... Mas Val... Mas Dante... kita dalam bahaya besar," bisik Bianca, suaranya bergetar hebat.

​Lorenzo meraba posisi Glock 19 di pinggangnya, gerakannya refleks dan dingin. "Apakah musuh dari Eropa berhasil melacak kita lagi?"

​"Lebih ngeri dari musuh Eropa, Mas! Bau melati menyengat, AC mendadak dingin kayak kulkas, anjing melolong, terus sekarang malam Jumat Kliwon... Ini namanya markas kita lagi disatroni sama Mbak Kunti!"

Lorenzo, Dante, dan Valerio saling berpandangan. Sebagai orang-orang yang tumbuh di lingkungan rasional Barat yang keras, istilah "Mbak Kunti" sama sekali tidak ada dalam kamus strategis mereka.

​"Siapa Kunti?" tanya Valerio, mengerutkan kening sambil memasang kembali laras senjatanya. "Apakah dia nama samaran untuk pembunuh bayaran wanita dari klan saingan?"

​"Bukan pembunuh bayaran, Mas Val!" Bianca frustrasi, ia mengacak-acak rambutnya sendiri. "Dia itu hantu! Spirit! Ghost! Arwah penasaran perempuan pakai baju putih longgar yang hobi ketawa melengking di atas pohon atau di pojokan ruangan gelap! Di Indonesia, kalau malam Jumat Kliwon, mereka itu lagi dapet sif malam buat keliling kota!"

​Lorenzo mendengus, menganggap penjelasan Bianca sebagai takhayul domestik yang berlebihan. "Bianca, hantu tidak eksis secara taktis. Apa yang dideteksi oleh alat Dante hanyalah distorsi energi sisa dari pecahan Kristal Vatikan yang kita amankan kemarin dari pelabuhan. Radiasinya mungkin berinteraksi dengan kelembapan udara Jakarta yang tinggi."

​"Nggak percaya banget sih si Mas Bos ini!" balas Bianca kesal. "Terserah Mas Lorenzo mau bilang itu radiasi kristal atau apa, tapi kalau sampai denger suara ketawa atau nangis di lorong, jangan coba-colok pakai pistol ya!"

​Seolah-olah ingin membuktikan kata-kata Bianca, sebuah suara mendadak terdengar dari arah lorong tangga lantai tiga yang gelap gulita.

​“Hihihihi... hehehehe... hhh...”

​Suara lengkingan tawa seorang wanita, tipis namun terdengar sangat dekat, menggema di antara dinding-dinding ruko yang sunyi. Suara itu memiliki kualitas akustik yang aneh; terdengar seperti berasal dari jarak jauh namun sekaligus menggema tepat di belakang telinga mereka masing-masing.

​Dante langsung menjatuhkan tabletnya ke atas meja. Valerio refleks mengokang senjatanya dan mengarahkannya ke pintu lorong. Lorenzo sendiri berdiri tegak, matanya menyipit, auranya berubah menjadi sangat berbahaya.

​"Siapa di sana?!" gertak Lorenzo dengan suara baritonnya yang menggelegar, suara yang biasanya membuat para bos mafia di Roma langsung berlutut meminta ampun. "Keluar dan tunjukkan wajahmu, atau aku akan memastikan kau tidak akan bisa berjalan keluar dari ruko ini seumur hidupmu!"

​Bukannya takut oleh gertakan Lorenzo, suara tawa itu justru berubah menjadi suara tangisan yang menyayat hati.

​“Huhuuhu... hiks... huhuuu...”

"Valerio, periksa lorong," perintah Lorenzo, mengabaikan kode ketakutan Bianca yang kini sudah bersembunyi di balik punggung kekarnya sambil memegangi jaket kulitnya erat-erat.

​Valerio bergerak dengan kemahiran seorang agen operasi khusus. Ia menyalakan senter taktis berkekuatan 1000 lumen yang terpasang di bawah laras senjatanya, lalu melangkah perlahan membuka pintu lorong tangga. Cahaya senter yang terang benderang membelah kegelapan lorong yang lembap.

​Melalui kamera monitor Dante, mereka semua bisa melihat apa yang ditangkap oleh pandangan Valerio. Di undakan tangga nomor tujuh, terdapat sebuah siluet putih yang samar-samar. Potongan rambutnya panjang hitam acak-acakan menutupi seluruh wajah, dan kain putih yang membungkus tubuhnya tampak menjuntai hingga menyentuh lantai beton. Objek itu melayang beberapa sentimeter di atas permukaan tangga.

​"Target teridentifikasi," lapor Valerio melalui mikrofon telinganya, suaranya tetap tenang meski ia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri seluruhnya. "Seorang wanita menyusup menggunakan kostum putih. Tidak terlihat adanya senjata api di tangannya. Aku akan melakukan eliminasi non-lethal."

​Valerio melepaskan satu tembakan dengan peluru karet taktis tepat ke arah dada siluet tersebut.

​Phut!

​Peluru melesat cepat, namun alih-alih mengenai target dan membuatnya terjatuh, peluru itu justru menembus tubuh siluet putih tersebut seperti menembus asap, lalu menghantam dinding semen di belakangnya dengan suara keras.

​Siluet putih itu tidak bergerak, namun suara tawanya kembali meledak, kali ini jauh lebih keras dan melengking hingga membuat kaca-kaca jendela ruko bergetar.

​"Apa?!" Valerio terperangah. Ia melangkah mundur satu langkah, wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini memancarkan keterkejutan yang mutlak. "Lorenzo... peluruku menembusnya. Objek ini tidak memiliki massa fisik!"

​Lorenzo tidak tinggal diam. Ia merebut senapan taktis dari tangan Valerio, melangkah maju ke depan pintu lorong, dan melepaskan tiga tembakan beruntun menggunakan peluru timah murni kaliber 9mm.

​Bang! Bang! Bang!

​Hasilnya tetap sama. Peluru-peluru itu bersarang di dinding tangga, sementara si "Mbak Kunti" justru perlahan bergerak melayang turun mendekati posisi Lorenzo, memamerkan wajahnya yang samar di balik untaian rambut hitam panjangnya yang menebarkan bau busuk bangkai yang menyengat.

​"Maledizione!" kutuk Lorenzo, melangkah mundur saat menyadari bahwa seluruh keahlian militer dan senjatanya sama sekali tidak berguna menghadapi entitas ini. "Dante! Apa yang terjadi dengan analisis fisikamu?!"

​"Secara teori... objek itu adalah proyeksi energi murni yang terikat dengan emosi negatif tempat ini!" teriak Dante panik dari balik mejanya, layarnya kini sepenuhnya dipenuhi oleh garis-garis statis warna merah. "Kita tidak bisa menghancurkannya dengan gaya kinetik peluru!"

​Di tengah kepanikan tiga pria tangguh klan De Luca yang kini berdiri mengepung pintu lorong dengan senjata yang tidak berguna, Bianca akhirnya memutuskan untuk mengambil alih komando operasi.

​"Minggir, minggir! Sini biar ahlinya yang maju!" teriah Bianca. Ia keluar dari balik punggung Lorenzo, memegang sapu lidi di tangan kanan dan sebotol air mineral yang sudah dicampur garam dapur di tangan kiri—sebuah ramuan pengusir hantu darurat yang pernah diajarkan oleh neneknya di kampung.

​Bianca melangkah ke depan pintu lorong, berdiri tegak menghadap siluet Mbak Kunti yang kini jaraknya hanya tinggal tiga meter dari mereka.

​"Heh, Mbak! Denger ya!" teriak Bianca dengan berani, berkacak pinggang menggunakan gaya Ibu Kos Sukeni. "Ini ruko udah disewa resmi sama klan De Luca! Pajaknya dibayar, uang kosan Ibu Sukeni juga udah lunas buat sepuluh tahun ke depan! Lu kalau mau nyari pohon kosong jangan di sini! Di seberang gang ada pohon beringin tua dekat kuburan kosong, sono gih! Jangan ganggu anak-anak tim Aegis lagi pada mau latihan buat turnamen nasional!"

​Mbak Kunti itu berhenti melayang turun. Kepala hantu itu sedikit miring ke kanan, seolah-olah bingung mendengar gertakan seorang gadis yang sama sekali tidak takut padanya, melainkan justru memarahinya karena masalah administrasi properti.

​"Nih, rasain air garam Palmerah!" Bianca mencipratkan air mineral bercampur garam dari botolnya menggunakan ujung sapu lidi tepat ke arah siluet putih tersebut.

​Sesuatu yang luar biasa terjadi. Saat percikan air garam itu menyentuh medan energi ungu tipis di sekeliling Mbak Kunti—yang tampaknya merupakan interaksi antara sisa radiasi Kristal Vatikan dengan entitas spiritual lokal—terdengar suara desisan seperti besi panas yang dicelupkan ke dalam air es.

​Pssssshhhh!

​Siluet putih itu memekik dengan suara melengking yang sangat memekakkan telinga, lalu perlahan-lahan memudar menjadi kepulan asap putih tipis berbau belerang, sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya dari lorong tangga.

​Atmosfer ruangan mendadak berangsur-angsur kembali normal. Suhu udara di remote AC kembali ke angka 24 derajat, aroma melati lenyap digantikan kembali oleh bau amis laut yang familiar, dan layar monitor Dante kembali menampilkan barisan kode pemrograman yang bersih.

Hening melanda ruko lantai dua selama beberapa menit. Lorenzo menurunkan senjatanya perlahan, napasnya yang berat perlahan kembali teratur. Ia menatap sapu lidi di tangan Bianca, lalu menatap dinding tangga yang kini hancur karena bekas peluru-pelurunya.

​Valerio mengusap keringat dingin di dahinya. "Aku pernah menghadapi kartel narkoba di Meksiko yang menggunakan ritual voodoo, tapi ini... ini berada di tingkat yang sama sekali berbeda."

​Dante kembali ke kursinya, mengetik dengan cepat untuk mencatat kejadian tadi. "Analisis baru: Air dengan kandungan natrium klorida tinggi yang diaplikasikan menggunakan serat selulosa alami dari pohon kelapa (sapu lidi) rupanya bertindak sebagai konduktor netralisasi untuk memutus resonansi energi frekuensi rendah yang dihasilkan oleh distorsi kristal. Luar biasa, Bianca. Kau baru saja membuktikan metode pembersihan sirkuit spiritual alternatif yang sangat ekonomis."

​Bianca mendengus bangga, menaruh sapu lidinya di pojok ruangan dengan gaya seorang pahlawan yang baru saja menyelamatkan dunia. "Makanya, Mas Bos... dibilangin juga apa. Di Jakarta ini, hukum fisika Eropa kadang kudu ngalah sama adat istiadat malam Jumat Kliwon. Lain kali kalau denger bau melati lagi, langsung ambil garam di dapur, jangan malah ngambil magasin peluru!"

​Lorenzo berjalan mendekati Bianca. Ia menatap gadis itu dengan tatapan mata elang yang kali ini dipenuhi oleh rasa takjub yang mendalam, dicampur dengan sedikit rasa humor yang jarang ia tunjukkan. Ia meletakkan tangan besarnya di bahu Bianca, meremasnya lembut.

​"Kau benar-benar penuh kejutan, Bianca," ucap Lorenzo, suara baritonnya kembali terdengar tenang dan berwibawa. "Dulu aku berpikir keahlianmu hanyalah menawar harga di pasar gelap, tapi malam ini kau membuktikan bahwa kau juga bisa menegosiasikan batas wilayah dengan... penghuni tak terlihat di kota ini."

​Bianca nyengir manis, wajahnya sedikit memerah karena kedekatan posisi mereka. "Ah, Mas Lorenzo bisa aja. Ini namanya manajemen konflik berbasis kearifan lokal, Mas Bos. Biar tim Aegis kita berkah jalannya, besok pagi kita kudu bikin acara selamatan potong tumpeng di ruko ini, biar Mbak Kunti sama teman-temannya nggak mampir lagi buat sif malam."

​Lorenzo tersenyum tipis—sebuah senyuman yang menandakan persetujuan mutlak dari sang Capo klan De Luca. Malam Jumat Kliwon di markas mafia Palmerah malam itu ditutup bukan dengan laporan kematian atau penggerebekan polisi, melainkan dengan pemahaman baru yang berharga bagi para penguasa Eropa tersebut: bahwa untuk menguasai Jakarta seutuhnya, mereka tidak hanya harus memenangkan perang siber dan fisik, melainkan juga harus belajar menghormati misteri mistis yang berjalan di antara bayang-bayang gang senggol setelah tengah malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!