Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mobil Kesayangan
Melody menuruni tangga setelah menyiapkan sarapan untuk Smile. Saat masuk ke dapur, aroma kopi langsung tercium kuat, dan ia melihat Messy sedang menuang minuman dari mesin ke cangkir putih.
"Selamat pagi."
Pria itu tersenyum. "Pagi. Tidur nyenyak gak semalam?"
Melody terkekeh pelan. "Tidur pules banget kayak orang mati," candanya.
Senyum Messy sedikit memudar. Ia tahu sebenarnya gadis itu menangis sampai tertidur di dalam lemari. Melody merasa sangat kesepian, dan kalau bukan karena Smile yang menemaninya, mungkin ia tak akan bisa terlelap. Mata Melody pasti merah dan bengkak sekarang. Penampilannya pasti berantakan, dan Messy menyadarinya.
"Itu apa?" tunjuk Melody pada mesin yang baru saja ditutup Messy.
Messy mengangkat sebelah alis, lalu menatap Melody yang terlihat benar-benar tak tahu apa-apa. Melody memang belum pernah melihat alat itu sebelumnya dan merasa penasaran. Pasti ini mesin kopi canggih, soalnya aromanya sangat terasa.
"Ini namanya Keurig." Messy mendekat, membuka tutup mesinnya, lalu menunjuk sebuah wadah berisi kapsul-kapsul putih. "Ini kapsulnya. Masukin satu ke sini, begini caranya." Ia menyelipkan kapsul itu lalu menutupnya kembali. "Nah, di sini tempat airnya. Siapin cangkir, taruh di bawah sini, terus tinggal pilih ukuran sesuai selera atau besar cangkirnya, terus pencet tombol start."
Messy memperagakan langkah demi langkah. Begitu tombol ditekan, mesin itu berdengung dan cairan hitam pekat mengalir keluar. Kopi segar dan panas. Wanginya sangat menggugah selera.
Messy tersenyum bangga, membuat Melody tiba-tiba merasa malu. Pasti pria itu menganggap dia orang kampung atau aneh.
"Maaf ya. Pasti kamu mikir aku norak atau bodoh karena gak tahu."
"Enggak kok. Jujur aja, pas Mamaku beli ini, aku juga bingung cara pakainya." Mesin sudah berhenti bekerja, Messy berjalan ke kulkas dan mengambil beberapa botol sirup krim. Ia membuka dua tutup botol dan mendekatkannya ke hidung Melody. "Mau yang mana? Karamel atau kelapa?"
Melody mendekatkan wajahnya, mencium aroma masing-masing, lalu memilih yang kelapa. "Kelapa."
"Pilihan bagus. Aku juga suka yang itu."
Messy menuangkan sedikit krim, mengaduknya sebentar, lalu menyerahkan cangkir itu. Melody menyesapnya perlahan dan memejamkan mata. Perpaduan rasa kopi dan krim kelapa langsung meletup di lidah, menghangatkan tubuhnya seketika.
"Makasih. Kayaknya aku jatuh cinta sama kopi ini."
"Kamu bisa ambil sendiri kapan pun kamu mau. Nanti aku pastiin stok krim kelapanya selalu ada."
Melody tak tahu apa yang berubah, tapi belakangan ini Messy sangat baik padanya. Setiap pagi pria itu selalu menawari sarapan dan tersenyum saat Melody naik ke mobilnya untuk berangkat sekolah.
Messy tak lagi bersikap dingin seperti saat Melody baru datang. Melody bahkan pernah mendengarnya bilang ke teman-teman tim sepak bolanya bahwa ia adalah saudara tirinya. Dulu Messy sama sekali tak peduli, tapi sekarang ia jauh lebih terbuka.
Melody jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya berubah?
Kenapa juga Adden bilang kalau kehadirannya merusak hidup sahabat baiknya itu?
Sesampainya di sekolah, Messy memarkir mobilnya. Dari sudut mata, Melody melihat mobil Adden berhenti tepat di sebelah mereka. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Melody membuka pintu mobil dan melihat Adden duduk di dalam bersama Luccy. Atap mobil mereka terbuka lebar.
"Makasih ya tumpangannya," ucap Luccy dengan senyum menggodanya sambil menggigit bibir, berusaha terlihat seksi. "Dan buat pagi ini... seru banget."
Pandangan Melody beralih ke mobil convertible mewah itu. Ingatannya melayang ke masa lalu saat mereka masih kecil. Dulu Adden sering bermimpi punya mobil seperti ini saat dewasa nanti.
Ia bahkan berjanji Melody akan jadi orang pertama yang diajak jalan-jalan, layaknya Batman dan Robin. Melody akan jadi Robin, satu-satunya teman yang boleh duduk di sampingnya.
...(Flash Back On)...
Kamu paling suka mobil apa?
Melody tersenyum, mendongak menatap langit biru yang dihiasi awan berbentuk lucu. "Kalau aku sih paling suka mobil convertible."
Ia melihat ekspresi Adden yang ikut tersenyum. "Mobil yang gak ada atapnya itu kan?"
Melody mengangguk antusias. "Aku suka karena bisa lihat langit luas, atau bintang-bintang pas malam hari. Anginnya juga berasa banget nyapu rambut. Terus bagusnya lagi, atapnya bisa ditutup kalau mau. Jadi kita punya pilihan."
"Warnanya apa?" tanya Adden waktu itu.
"Hmm, belum tahu. Belum kepikiran. Belum punya favorit sih. Lagian aku juga belum bisa nyetir."
"Aku harap warnanya hitam. Kayak mobilnya Batman."
"Wajar dong. Kan kamu emang fans berat Batman."
"Batman itu yang paling keren! Nanti kalau aku udah gede, aku mau punya mobil persis kayak dia."
"Boleh gak aku jadi Robin-nya? Biar aku bisa ikut naik mobil itu bareng kamu terus?"
"Aku kira kamu suka Superman."
"Iya, tapi kalau aku mau naik Batmobil sama kamu, kan aku harus jadi Robin."
Cowok itu mengulurkan tangan. Melody menyambutnya. Tangan cowok itu hangat dan bersih, berbeda dengan kondisi kukunya, tapi Adden sepertinya tidak peduli sama sekali.
"Oke, sepakat."
"Janji ya."
"Aku janji, Melody. Cuma kamu, nggak ada yang lain."
...(Flash Back Close)...
"Melody?"
Suara Messy membuyarkan lamunannya. Melody menggeleng cepat, sadar dia baru saja melamun jauh. Matanya menatap Messy, lalu melirik ke luar jendela di mana Luccy dan Adden sedang berdiri. Luccy tertawa kecil.
"Aneh banget sih. Udah kubilang kan dia naksir kamu, Adden."
Sialan.
"Maaf, aku tadi nunggu mereka masuk dulu baru mau ke loker," ucap Melody sambil menatap Messy.
"Adden ganggu kamu lagi? Bilang aja sama aku. Nanti aku tegur dia lagi."
Melody membuka pintu mobil dan turun.
"Nggak usah khawatir. Aku bisa hadapin Adden kok. Aku bakal jauhin diri aja dari dia."
Messy mengangguk lalu ikut turun. Melody melangkah masuk ke area sekolah. Kenangan masa lalu itu kembali muncul, membawa rasa pahit yang sama. Kadang dia berpikir Adden melakukannya sengaja, tapi kadang dia ragu apakah ini semua hanya imajinasinya sendiri.