NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 27 Gertakan apa yang kau bisikkan?

Reigan langsung masuk ke dalam ruangan dan menghampiri pria itu. Tubuh penyusup yang masih bergetar terkejut dengan kemunculan Reigan.

Hana melirik. Sedikit tidak menduga pria itu muncul mendadak.

Reigan tidak memedulikan lirikan Hana. Sepasang manik mata gelapnya mengunci mutlak pada sang tawanan.

Marco dan Nico ikut masuk.

Pria Douglas itu mencengkeram rahang tawanan dengan satu tangan kekarnya, memaksa pria yang sudah pucat itu mendongak kasar.

"Katakan," geram Reigan, suaranya rendah dan penuh tekanan intimidasi yang pekat. "Di mana bajingan itu menyembunyikan gudang senjatanya?"

Tawanan itu menelan ludah dengan susah payah. Kilat teror dari bisikan Hana sebelumnya masih membayang jelas di matanya. Sesuai perintah Hana untuk bicara pada mereka, pria itu akhirnya memuntahkan informasi dengan suara bergetar.

"P-pelabuhan lama... gudang tua di belakang labirin kontainer," ujar tawanan mengaku dengan terbata-bata. "Leon menyembunyikan semuanya di sana!"

Mendengar bocoran informasi pasti itu, Reigan melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar hingga kepala tawanan terkulai lemas.

Jika Reigan fokus pada tawanan, Nico justru menatap Hana yang tadi membuat gejolak detak jantung melonjak drastis. Sebuah ketakutan yang ekstrim.

Apa yang sebenarnya dia katakan pada tawanan itu?

Merasa diamati, Hana menoleh. Matanya menatap Nico. Buru-buru Nico menoleh ke arah lain. Dia merasa tertangkap basah. Nico merasa punya obsesi yang sama dengan Reigan. Hanya saja berbeda. Jika Reigan mengikutkan hati dan hasratnya  dalam obsesinya pada Hana, kalau Nico murni obsesi keinginan Tahuan yang amat besar.

sementara Marco fokus pada Reigan yang bertanya pada Tawanan.

Reigan berbalik menatap Marco dan Nico.

"Marco, bawa pasukan komando. Kepung pelabuhan lama sekarang juga. Jangan biarkan satu tikus pun lolos," perintah Reigan mutlak.

"Siap, Bos!" Marco langsung bergerak cepat keluar dari sel untuk menyiapkan operasi penyergapan.

"Nico, siapkan penjagaan ketat pada Tawanan ini. Dia harus bisa memastikan dengan benar infomasi yang dia katakan, kalau tidak, lebih baik bereskan saja," perintah lain untuk Nico.

"Baik, Tuan." Nico mengangguk.

Kini, tersisa Reigan dan Hana di dalam sel yang pengap itu. Keheningan mendadak terasa begitu mencekik di bawah pendar lampu neon putih.

Reigan memutar tubuhnya, melangkah perlahan mendekati Hana yang berdiri dari kursi hendak keluar ruang sel ini. Sepasang matanya menyipit tajam, menatap intens pada wajah dingin wanita ini. Rahang tegap Reigan mengeras, egonya yang dominan menuntut jawaban atas misteri yang baru saja terjadi.

"Jadi kau tahu cara menginterogasi, Hana?" tanya Reigan dengan nada rendah yang kental akan tuntutan, mengikis jarak di antara mereka. "Lalu gertakan apa yang baru saja kau bisikkan sampai anjing Phantom itu ketakutan setengah mati padamu?" lanjut Reigan ingin tahu.

Hana membalas tatapan intens Reigan dengan sepasang mata bulatnya yang kaku dan datar.

"Aku hanya memanfaatkan kondisinya yang sudah tertekan setelah kau pukul."

"Oh ya?" Reigan tidak percaya. Karena mustahil penyusup itu takut begitu saja pada Hana. Pasti ada hal lain.

"Aku hanya mencoba." Hana menegaskan.

"Berhasil dalam percobaan pertama?" Reigan curiga.

Hana diam.

"Apa tidak ada yang kau sembunyikan?"

"Cari saja," ujar Hana dengan wajah datar. meskipun dia memang punya rahasia, menyangkal pun tetap akan mencurigakan. Jadi dia mencoba tenang dan mengikuti apa yang diinginkan Reigan.

Reigan semakin merangsek maju, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga dada bidangnya menempel lekat pada tubuh kurus Hana.

"Kau menantangku, Hana?" bisik Reigan rendah, napas hangatnya yang memburu menyapu permukaan wajah es Hana. Manik mata gelapnya menyipit berbahaya. "Jangan mengira karena Kakek sangat menyayangimu, aku tidak akan berani menyentuh rahasiamu. Aku punya seribu cara untuk membuat mulutmu terbuka."

Hana tidak gentar. Itu yang membuatnya makin terlihat menarik.

"Hentikan konfrontasi ini, Reigan. Marco sudah brangkat, apa kau hanya diam disini dan menyudutkan aku seperti ini?" tanya Hana.

Drt, drt. Ponselnya berbunyi. Reigan menggeram dengan jengkel. Napasnya memburu kasar di atas permukaan kulit Hana. Tanpa memutuskan kontak mata gelapnya yang menghujam, Reigan merogoh ponsel khususnya dengan satu sentakan kasar lalu menempelkannya ke telinga.

"Katakan."

"Bos. Aku sudah siap dengan pasukan menuju pelabuhan lama." Marco ada disana.

Hana mendorong tubuh Reigan dan berjalan hendak menjauh, tapi tangannya berhasil di tangkap oleh Reigan membuat kaki Hana berhenti. Wanita itu menoleh heran.

Pria itu menatapnya lurus. Sorot matanya berisi bermacam perasaan. Namun Hana tidak bertanya, dia hanya diam. Kenapa dia menangkap tanganku? Dia menemukan identitas ku?

"Aku akan kesana segera," ujar Reigan. Klik.

Reigan menurunkan ponselnya dari telinga, namun cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Hana tidak mengendur sedikit pun. Pria itu menyambar jas hitamnya di meja besi dengan tangan yang bebas, menyampirkannya ke bahu tanpa melepaskan kuncian pada lengan Hana.

"Kau ikut bersamaku," perintah Reigan dingin. Nada suaranya tidak lagi meledak-ledak, melainkan kembali ke mode rendah penuh otoritas mutlak seorang Douglas.

Hana melirik pergelangan tangannya yang ditahan, lalu kembali menatap wajah Reigan. "Lepaskan dulu. Aku bukan tawananmu."

Reigan mendengus. Seringkali dia melakukan tindakan impulsif yang sulit dimengerti. Seperti menangkap tangan Hana barusan. Entah dia tidak ingin wanita itu pergi lebih dulu sebelum kecurigaannya tuntas, atau dia tidak ingin wanita itu berbalik dan memunggunginya.

Tangan Reigan melepas pegangannya pada tangan Hana. Lalu mereka berjalan keluar bersamaan.

***

Di luar sel yang pengap, Nico sudah menunggu. Pria berkacamata itu tampak merapikan letak kacamatanya dengan canggung, masih terbayang grafik detak jantung sang tawanan yang melonjak ekstrem akibat bisikan Hana tadi.

Reigan menghentikan langkahnya, melirik Nico dengan tatapan tajam yang menuntut laporan.

"Bagaimana situasi di luar?" tanya Reigan dingin.

"Semua jalur evakuasi menuju Pelabuhan Lama sudah diamankan oleh pasukan Marco, Tuan. Tapi wilayah itu sangat terbuka di siang hari. Risiko baku tembak terpantau tinggi," lapor Nico.

Reigan tidak langsung menjawab. Dia menoleh, menatap Hana yang berdiri tegak di sampingnya dengan wajah yang tidak terusik sedikit pun oleh ancaman bahaya yang baru saja dilaporkan Nico.

Seringai miring yang tipis muncul di rahang tegap Reigan. Pria Douglas itu mengambil keputusan instan. Dia tidak akan membiarkan keraguannya pada Hana pupus.

"Nico, siapkan satu rompi antipeluru tambahan di dalam van," perintah Reigan mutlak.

Nico sempat tertegun, matanya melirik Hana sebelum kembali menatap bosnya. "Untuk Nyonya Reigan, Tuan?"

Hana melirik pada Reigan. Dia baru dengar soal ini.

"Ya. Mulai siang ini, dia tidak akan jauh-jauh dari pandanganku," desis Reigan, tatapan gelapnya mengunci Hana dengan aura dominan yang pekat. "Gunakan keberuntunganmu saat di ruang sel pada penyerbuan gudang senjata Leon."

Dia ingin melihatku langsung terhubung dengan Leon atau tidak. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, batin Hana.

Hana tahu Reigan tidak akan hanya menggertak. Itu bukan cara pria ini.

1
Normawati
😘
Inah Ilham
terhura....eh terharu nya aku 😭😭😭
E F
tq thor🙏😍
lanjutttt💪😄
Inah Ilham
kita yg baca berasa ikut diterperangkap dikegelapan
E F
lanjutt thor💪😍😄
Inah Ilham
sepertinya kok ada bau" gosong ya 🤣🤣🤣
Latifa Latifa
selalu suka karya othor...bahasa simple..alur jelas ..sukaa pokoknya
Inah Ilham
sabar Mas Bro
Inah Ilham
aku tau apa yang ada dikepalamu Reigan 🤣🤣🤣
Inah Ilham
mereka pikir Hana adalah mangsa padahal dialah predatornya
Inah Ilham
kaget ngga tuh si Abang Reigan
Dik Yude
karya2mu sll luar viasa thor..😍
Latifah Latifah
lanjut up thor💪💪😍
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!