NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12 sang pemburu di hutan ilusi

Alun-alun utama Pelataran Luar Sekte Pedang Awan bergetar oleh langkah ribuan kaki. Tiga hari pasca tewasnya Li Kuang di atas panggung arena, atmosfer sekte terasa jauh lebih tegang dari biasanya. Pagi ini, ribuan murid tingkat tiga hingga tingkat enam berkumpul dalam barisan rapat. Di hadapan mereka, sebuah gerbang batu raksasa berlapis ukiran rune kuno berdiri menjulang, memancarkan pusaran energi berwarna ungu keperakan.

Itulah pintu masuk menuju Hutan Ilusi. Sebuah dimensi lipatan kecil yang ditinggalkan oleh pendiri sekte era kuno di Alam Fana, dirancang khusus sebagai tempat pemeliharaan Urat Nadi Roh dan area ujian kelangsungan hidup.

Di atas panggung batu di samping gerbang, beberapa Tetua berjubah putih duduk mengawasi. Su Mei berdiri di garis depan, memegang gulungan perkamen berisi daftar nama peserta. Suaranya yang jernih dan dingin membelah keributan alun-alun.

"Perburuan Urat Nadi Roh dibuka selama tujuh hari. Misi kalian adalah mengumpulkan Batu Urat Roh sebanyak mungkin. Benda itu adalah inti energi bumi yang hanya terbentuk di dalam dimensi Hutan Ilusi, krusial untuk memperkuat fondasi tingkat menengah. Hukum di dalam dimensi tersebut diserahkan sepenuhnya pada kemampuan kalian bertahan hidup. Jika kalian merasa tidak sanggup, jangan melangkah melewati gerbang."

Su Mei memberikan jeda, matanya menyapu lautan murid di bawahnya.

Di sudut barisan paling timur, Lin Chen berdiri sendirian. Jarak tiga meter di sekelilingnya benar-benar kosong. Tidak ada satu pun murid yang berani berdiri di dekatnya. Reputasi 'Iblis Pelataran Luar' telah melekat erat pada sosok pemuda berjubah abu-abu kotor itu. Wajah Lin Chen tetap datar, tidak terpengaruh oleh isolasi tersebut. Ia sibuk mengatur ritme *Napas Karang Esensi*, memastikan setiap inci otot tubuhnya berada dalam kondisi puncak. Balok Baja Hitam Rawa seberat seratus kilogram masih terpasang kokoh di kakinya, tersembunyi rapi di balik ujung jubahnya.

Berlawanan dengan posisinya, di pusat barisan, sekelompok besar murid berseragam rapi dengan pita merah berlambang pedang berdiri dalam formasi ketat. Ada tiga puluh orang di sana. Mayoritas memancarkan aura Tahap Kondensasi Qi tingkat lima dan enam. Di barisan paling depan kelompok itu, Mo Jue berdiri menyilangkan tangan. Tatapan algojo kurus itu mengunci sosok Lin Chen layaknya seekor ular berbisa yang sedang mengukur jarak gigitan.

Lin Chen membalas tatapan itu sesaat, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sama sekali tidak mencapai matanya.

"Gerbang dibuka! Masuk sesuai urutan barisan!" seru Su Mei.

Pusaran energi ungu di gerbang batu membesar. Barisan murid mulai melangkah masuk, menghilang ditelan cahaya dimensi. Begitu giliran Lin Chen tiba, ia mengambil satu langkah ke depan. Tepat pada detik itu, layar cahaya biru transparan berpendar membelah pandangannya.

**[Memasuki Zona Bahaya Ekstrem: Hutan Ilusi.]**

**[Peringatan: 30 Praktisi Elit Fraksi Pedang Darah telah mengunci jejak Anda menggunakan artefak 'Kumbang Pelacak Darah'.]**

**[Silakan tentukan strategi perburuan Anda:]**

**[Pilihan 1: Bergerak menyusuri pinggiran dimensi Hutan Ilusi. Bersembunyi di dalam Gua Kelelawar Buta selama tujuh hari dan menghindari konfrontasi.

Hadiah: Anda selamat tanpa goresan. Pulang dengan tangan kosong. Pertumbuhan kultivasi terhenti selama tiga bulan akibat hilangnya momentum mental.]**

**[Pilihan 2: Menerobos lurus ke pusat Hutan Ilusi, area Urat Nadi Roh kualitas tertinggi. Menantang seluruh kelompok Mo Jue secara frontal di medan terbuka.

Hadiah: Keberanian tak tertandingi. Anda akan dikepung, kehabisan Qi pada menit kesepuluh, dan tubuh Anda dicincang menjadi puluhan bagian.]**

**[Pilihan 3: Beralih ke area 'Rawa Bisikan' di sektor barat daya Hutan Ilusi. Gunakan medan beracun dan labirin akar raksasa untuk memecah belah formasi musuh. Berubah dari mangsa menjadi pemburu.

Hadiah: Fragmen Pasif 'Selubung Bayangan' (Menekan hawa keberadaan 50%), 1 Batu Urat Roh Kualitas Tinggi.]**

Sistem kembali menyajikan peta takdir yang kejam. Pilihan pertama adalah rute para pengecut. Pilihan kedua adalah arogansi bodoh yang berujung pada kematian konyol. Menghadapi tiga puluh elit secara bersamaan adalah kemustahilan bagi seseorang di tingkat tiga, sekuat apa pun fondasi fisiknya. Kekuatan jumlah memiliki batas kuantitatif yang bisa meremukkan kualitas jika ruang gerak tidak dibatasi.

Pilihan ketiga menawarkan satu-satunya jawaban logis: perang gerilya. Menggunakan lingkungan sebagai senjata adalah esensi dari kelangsungan hidup di alam liar.

"Pilihan ketiga," batin Lin Chen tajam.

Layar biru meredup. Tubuhnya melangkah menembus gerbang cahaya ungu.

Sensasi tarikan ruang yang memuakkan berlangsung selama beberapa tarikan napas. Saat Lin Chen kembali menjejakkan kakinya ke tanah, pemandangan di sekitarnya telah berubah drastis.

Langit di atasnya bukan lagi biru cerah, melainkan pusaran awan ungu kelabu yang memancarkan cahaya redup abadi. Hutan ini sama sekali tidak terlihat normal. Pepohonan raksasa tumbuh dengan batang transparan menyerupai kristal kusam. Dedaunannya memancarkan cahaya fosfor kebiruan, menciptakan ilusi optik yang membuat jarak pandang menjadi sangat menipu. Kabut tipis menyelimuti permukaan tanah berbatu, menyembunyikan binatang buas dan akar berduri yang siap menerkam.

Lin Chen tidak membuang waktu mengagumi pemandangan. Menyadari dirinya dilacak menggunakan artefak, ia sengaja menggores lengan kirinya pada duri pohon kristal di dekatnya, membiarkan setetes darahnya tertinggal. Ia kemudian melesat ke arah barat daya, menuju Rawa Bisikan yang disebutkan oleh Sistem. Langkahnya berat karena beban baja, ia mengimbanginya dengan efisiensi gerakan, menghemat Qi sebisa mungkin.

Setengah jam kemudian, kelompok Mo Jue melangkah keluar dari portal pendaratan yang sama.

Mo Jue memegang sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya, seekor kumbang merah darah meronta-ronta, sungutnya menunjuk lurus ke arah goresan darah Lin Chen di pohon kristal.

"Dia bergerak ke arah barat daya," desis Mo Jue. Ia membalikkan badan, menatap dua puluh sembilan petarung elit yang menunggu perintahnya. "Target menyadari bahwa dia kalah jumlah. Dia mencari tempat bersembunyi. Area barat daya adalah zona Rawa Bisikan. Jarak pandang di sana sangat buruk, udaranya mengandung gas halusinogen ringan."

Mo Jue menyeringai licik. "Dia pikir medan rawa bisa menyembunyikannya. Bagilah diri kalian menjadi enam kelompok, masing-masing terdiri dari lima orang. Jaga jarak sepuluh meter antar kelompok. Sisir area itu seperti jaring laba-laba. Begitu kalian menemukan tikus itu, jangan langsung membunuhnya. Patahkan keempat anggota tubuhnya, tembakkan suar sinyal, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya untuk Tuan Muda Zhao."

"Dimengerti!" raung ketiga puluh elit itu serempak. Mereka meminum pil penangkal racun ringan, mencabut senjata masing-masing, dan melesat menyusuri jejak darah bagai sekawanan serigala yang mengendus daging segar.

Rawa Bisikan adalah neraka geografis. Genangan lumpur berwarna hitam pekat menutupi sebagian besar wilayah, sesekali meletup mengeluarkan gelembung gas beracun. Akar-akar pohon kuno berukuran sebesar pilar rumah mencuat dari dalam lumpur, membentuk jembatan alami sekaligus labirin yang rumit. Suara angin yang berhembus melewati lubang-lubang batang pohon busuk terdengar seperti bisikan arwah penasaran, mengacaukan konsentrasi siapa pun yang berada di sana.

Lin Chen berdiri di atas sebuah akar gantung raksasa, tubuhnya dilumuri lumpur hitam untuk menyamarkan suhu tubuhnya. *Napas Karang Esensi* bekerja sempurna, menyaring gas halusinogen rawa sebelum sempat merusak sistem sarafnya. Matanya yang dingin menatap ke bawah, mengamati lima sosok berpakaian abu-abu dengan pita merah di lengan yang sedang melangkah hati-hati melintasi akar pohon di bawah posisinya.

Itu adalah regu pertama. Lima orang praktisi di Tahap Kondensasi Qi tingkat lima. Kekuatan mereka solid, formasi pertahanan mereka saling menutupi titik buta.

"Udaranya semakin pekat," keluh salah satu murid pemburu yang memegang tombak pendek. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri dengan waspada. "Pil penangkal dari Mo Jue tidak sepenuhnya efektif. Kepalaku mulai berdenyut."

"Diam dan fokuslah," tegur pemimpin regu itu, seorang pria tegap yang memegang sepasang kapak. "Tikus itu tidak mungkin berlari lebih jauh dari ini. Jejak Qi-nya terputus di sekitar area ini. Periksa celah-celah akar di bawah sana."

Mereka tidak menyadari bayangan kematian menggantung tepat empat meter di atas kepala mereka.

**[Pilihan 3 dieksekusi. Hadiah Fragmen Pasif 'Selubung Bayangan' diaktifkan.]**

Sebuah energi dingin menyelimuti tubuh Lin Chen. Hawa keberadaannya, detak jantungnya, dan fluktuasi Qi-nya seketika meredup hingga menyerupai batu mati. Ini adalah kekuatan yang sesungguhnya di alam liar.

Lin Chen mencabut pedang besi pendek yang baru ia beli dari pasar sekte, senjatanya diolesi getah lumpur rawa agar tidak memantulkan cahaya. Ia memfokuskan pandangannya pada murid bertombak yang berdiri di barisan paling belakang.

Tanpa mengeluarkan sedikit pun suara, Lin Chen menjatuhkan dirinya dari atas akar gantung.

Ia tidak menggunakan energi untuk meringankan pendaratannya, melainkan membiarkan beban seratus kilogram Baja Hitam di kakinya menarik tubuhnya jatuh layaknya meteor kecil. Kecepatan jatuhnya sangat mengerikan.

Tepat sebelum tubuhnya menghantam tanah, lengan kanannya bergerak.

*Jleb!*

Pedang pendek Lin Chen menembus dari celah leher bagian belakang murid bertombak itu, mengoyak pita suaranya, dan menembus lurus hingga ke tenggorokan depan. Pendaratannya diredam sepenuhnya oleh tubuh korban yang ia jadikan bantalan hidup.

Tidak ada jeritan yang keluar. Hanya suara tulang patah yang sangat pelan.

Pemimpin regu yang memegang kapak mendengar suara aneh di belakangnya. Ia menoleh dengan cepat. "Han? Ada apa—"

Kalimatnya terputus oleh pemandangan mengerikan. Rekannya telah tewas tergeletak di atas akar pohon, sosok berlumpur yang menyerupai iblis rawa berdiri di atas mayat tersebut.

Sebelum pemimpin regu sempat berteriak memberikan peringatan kepada tiga rekannya yang lain, Lin Chen telah mengambil tindakan. Ia memutar Qi di telapak kakinya. Menahan beban Baja Hitam, ia mengaktifkan *Langkah Bayangan Berat* tingkat rendah.

*Wusss!*

Lumpur di bawah kakinya meledak. Tubuh Lin Chen melesat ke depan, menyapu jarak tiga meter dalam sepersekian detik. Pedang pendek di tangannya berkelebat dalam satu garis lurus yang mematikan.

Kilatan baja merobek kegelapan rawa.

Pemimpin regu itu tidak sempat mengangkat kapaknya. Kepalanya terlepas dari lehernya dengan rapi, darah menyembur tinggi mewarnai kabut beracun menjadi merah pekat. Dua elit tingkat lima tewas dalam waktu kurang dari dua tarikan napas.

Tiga anggota regu yang tersisa membeku. Mata mereka membelalak ngeri melihat komandan mereka kehilangan kepala di depan mata. Kepanikan menghancurkan formasi mereka.

"Serangan musuh! Tembakkan suar!" teriak salah satu murid yang membawa pedang panjang dengan suara bergetar. Tangannya merogoh kantong penyimpanan dengan panik.

Lin Chen tidak memberikan mereka ruang untuk bernapas. Meninggalkan pedang pendeknya yang tertancap di tanah, ia menerjang maju menggunakan pertarungan jarak dekat. Fragmen *Tinju Pemecah Batu* diaktifkan. Kepalan kanannya menyala kemerahan, menghantam ulu hati murid yang sedang mencari suar.

*KRAK!*

Tulang dada murid itu hancur berkeping-keping. Gelombang kejut mematikan merusak jantungnya seketika. Tubuhnya terpental dan jatuh tercebur ke dalam genangan lumpur hitam yang mendidih.

Dua orang terakhir berbalik dan berlari kocar-kacir, membuang seluruh gengsi Fraksi Pedang Darah. Miasma beracun yang mengacaukan pikiran mereka membuat teror ini terasa sepuluh kali lipat lebih mengerikan. Mereka tidak merasa sedang bertarung melawan manusia tingkat tiga, melainkan monster penghuni rawa yang mustahil dikalahkan.

Lin Chen menunduk, mengambil sebilah tombak pendek dari mayat pertama. Menggunakan seluruh kekuatan fisik perunggunya yang baru ditempa, ia melemparkan tombak itu layaknya tombak lempar pemburu.

Tombak besi itu melesat membelah kabut, menembus punggung murid keempat yang sedang berlari, memaku tubuhnya ke batang pohon raksasa.

Murid terakhir, yang posisinya paling jauh, berhasil menemukan alat suar. Tangan bergetarnya menarik pelatuk. Sebuah cahaya merah melesat tinggi menembus kanopi hutan, meledak di udara memancarkan sinyal bahaya.

Lin Chen berdiri di tengah mayat-mayat itu. Ia tidak mengejar murid kelima yang berhasil lari sambil berteriak histeris. Tujuannya telah tercapai. Suar tersebut akan memancing sisa kelompok Mo Jue menuju lokasi ini, mengalihkan mereka dari formasi jaring laba-laba menjadi kerumunan yang terpusat. Ia telah menyiapkan panggung penyembelihan yang sempurna.

Pemuda itu membersihkan darah di wajahnya, mengambil kantong penyimpanan dari mayat-mayat di dekatnya tanpa membuang waktu, lalu kembali menyatu ke dalam pekatnya kabut rawa. Sesuai janjinya pada diri sendiri, perburuan ini murni tentang efisiensi pembunuhan.

Sepuluh menit kemudian, lima belas anggota elit Fraksi Pedang Darah yang dipimpin langsung oleh Mo Jue tiba di lokasi suar.

Pemandangan di depan mereka membuat darah para algojo itu mengalir dingin. Empat mayat rekan mereka tergeletak dalam kondisi mengerikan. Satu tewas tertikam dari belakang, satu kehilangan kepala, satu dengan dada hancur lebur, dan satu lagi terpaku di pohon. Luka-luka itu menunjukkan eksekusi yang brutal, presisi, dan sangat cepat.

Mo Jue berjalan perlahan mendekati mayat komandan regu yang kehilangan kepalanya. Rahang algojo kurus itu mengeras.

"Ini bukan serangan kawanan binatang buas," geram Mo Jue, matanya yang menyipit memindai jejak langkah di sekitar lumpur. "Luka ini dibuat oleh senjata manusia. Tinju pemecah dada itu... gaya bertarung yang sama saat dia membunuh Li Kuang. Anak itu yang melakukannya. Dia menjebak regu ini."

Para elit yang tersisa saling pandang dengan cemas. Mereka ditugaskan untuk memburu seorang murid tingkat tiga yang konon hanya menang beruntung di atas arena. Fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Target mereka adalah hantu yang mampu membantai lima praktisi tingkat lima dalam diam.

"Jangan panik!" bentak Mo Jue, menyadari moral pasukannya mulai goyah. "Dia menggunakan kabut beracun ini untuk menyamarkan pergerakannya. Dia hanya seorang pengecut yang mengandalkan serangan mendadak. Rapatkan formasi! Jangan ada yang terpisah lebih dari dua langkah. Aktifkan perisai Qi kalian secara konstan!"

Mo Jue mencabut sepasang pedang pendek melengkungnya. Fluktuasi energi tingkat enam puncak meledak dari tubuhnya, menghempaskan kabut beracun di sekitarnya hingga radius lima meter menjadi bersih. Tekanan kekuatannya berhasil menstabilkan kembali keberanian anak buahnya.

"Kita sisir area ini bersama-sama. Dia tidak mungkin lari jauh. Temukan dia, dan hancurkan setiap incinya," perintah Mo Jue dingin.

Kelompok besar itu mulai bergerak maju. Mereka berjalan merapat, punggung saling bertemu, mata menyapu setiap sudut bayangan akar pohon.

Dua ratus meter dari posisi mereka, Lin Chen berdiri di atas dahan pohon tinggi yang tertutup lumut lebat. Ia memperhatikan formasi rapat tersebut. Menyerang kelompok yang waspada penuh dari jarak dekat adalah tindakan bunuh diri. Jika ia terjebak di tengah-tengah kelima belas orang itu, ia akan dicincang sebelum sempat menggerakkan kakinya.

Ia harus menghancurkan formasi itu dari luar.

Lin Chen membuka kantong penyimpanan hasil rampasannya tadi. Ia tidak mengambil batu roh atau gulungan bela diri. Tangannya justru mengeluarkan sebuah botol kaca berisi bubuk merah pekat. Bubuk itu adalah serbuk bunga *Darah Pembakar*, sebuah tanaman halusinogen yang sangat mudah menguap jika terkena api.

Pemuda itu mengambil sepotong kain robek, mengikat botol kaca tersebut ke ujung tombak patah yang ia temukan. Menggunakan pemantik batu, ia membakar ujung kain tersebut hingga menyala kecil.

Membidik ke arah tengah formasi kelompok Mo Jue yang sedang berjalan di bawah sana, Lin Chen melemparkan tombak itu dengan sekuat tenaga.

*Wusss!*

Tombak itu melayang membentuk busur parabola. Mo Jue, dengan refleks tingkat enam puncaknya, menyadari serangan dari atas.

"Serangan proyektil! Pencar sedikit!" teriak Mo Jue seraya mengayunkan pedang melengkungnya ke atas.

Bilah pedang Mo Jue menghantam tombak besi itu tepat di udara. Tombak tersebut terbelah dua. Botol kaca di ujungnya pecah berkeping-keping.

Tepat pada momen itu, percikan api dari kain yang terbakar menyentuh serbuk merah *Darah Pembakar*.

*BOOM!*

Sebuah ledakan gas merah beracun meletus tepat di tengah-tengah formasi Fraksi Pedang Darah. Asap pekat berbau amis darah seketika menutupi pandangan kelima belas elit tersebut.

Serbuk ini tidak membunuh, melainkan mengacaukan aliran Qi secara paksa dan memicu halusinasi paranoid. Di dalam Rawa Bisikan yang sudah dipenuhi kabut beracun, ledakan serbuk ini bekerja layaknya minyak yang disiram ke dalam api.

"Mataku! Terasa terbakar!"

"Ada sesuatu di dalam kabut! Musuh di sebelah kiri!"

"Menjauh dariku, kau bukan rekanku!"

Kepanikan absolut pecah. Formasi rapat yang dibanggakan Mo Jue hancur berantakan dalam hitungan detik. Beberapa murid yang pikirannya terpengaruh mulai mengayunkan senjata mereka secara membabi buta ke arah bayangan teman mereka sendiri.

Mo Jue memutar Qi tingkat enamnya dengan ganas untuk mengeluarkan racun dari paru-parunya. "Tahan serangan kalian, bodoh! Itu hanya halusinasi! Jangan menyerang teman sendi—"

Sebelum instruksinya selesai, sosok hantu melesat membelah kabut merah dari arah atas.

Lin Chen tidak menargetkan Mo Jue. Ia memfokuskan serangannya pada tepi kelompok yang paling kacau. Kecepatannya diperkuat oleh gravitasi. *Tinju Pemecah Batu* menghantam leher salah satu murid yang sedang batuk-batuk. Suara patahan kembali terdengar.

Begitu kakinya menyentuh tanah, Lin Chen mengaktifkan *Langkah Bayangan Berat*. Ia melesat zig-zag di antara murid-murid yang dibutakan oleh asap merah. Ia tidak berhenti untuk memastikan mangsanya tewas. Setiap tebasan pedang curian di tangannya mengoyak arteri femoralis, memotong urat lutut, atau menembus lambung.

Ia bergerak layaknya angin puyuh berdarah. Efisiensi, kecepatan, dan tanpa ampun. Dalam tiga detik kekacauan, empat murid luar jatuh tumbang bersimbah darah.

"BAJINGAN!" raung Mo Jue kehilang ketenangan dinginnya. Algojo kurus itu menerjang ke arah bayangan Lin Chen, melepaskan teknik 'Sayatan Bulan Sabit Kembar'. Dua bilah pedangnya menyilang, menembakkan dua gelombang energi tajam yang menyapu lumpur rawa.

Lin Chen merasakan ancaman mematikan dari belakang. Ia tidak bisa menghindar dengan sempurna akibat beban di kakinya. Ia memutar pinggangnya, menjadikan mayat seorang murid sebagai perisai daging.

*Srak!*

Gelombang energi Mo Jue membelah mayat itu menjadi dua bagian, sisa serangannya terus melaju dan menghantam dada Lin Chen.

Pertahanan fisik perunggu yang baru saja terbentuk meredam sebagian besar luka, sayatan panjang tetap merobek jubah dan menggores kulit dada pemuda itu, menyisakan pendarahan dangkal. Gelombang dorongan membuat Lin Chen terpelanting ke belakang.

Ia mendarat dengan bersalto ke belakang, kaki berbelenggu bajanya menancap kuat di atas lumpur tebal. Jaraknya dengan Mo Jue kini terpaut delapan meter.

Asap merah perlahan menipis. Mo Jue berdiri di tengah mayat sembilan anak buahnya. Separuh mati di tangan Lin Chen, separuhnya lagi terluka parah akibat saling serang dalam halusinasi. Tiga puluh elit yang dikirim Fraksi Pedang Darah kini telah dipotong lebih dari sepertiganya hanya dalam satu jam pertama perburuan.

Mata Mo Jue dipenuhi urat merah. Kebencian memancar kuat dari tatapannya. "Kau benar-benar seekor monster. Tuan Muda terlalu meremehkan kegilaanmu. Aku akan memotong kakimu dan membakar sisanya."

Lin Chen meludah darah bercampur lumpur ke tanah. Nafasnya mulai sedikit memburu, Dantiannya telah menguras separuh cadangan energinya. Berdiri melawan seorang praktisi tingkat enam puncak secara frontal adalah ujian sesungguhnya dari ketahanan fondasinya.

"Mata majikanmu memang buta," balas Lin Chen dengan suara serak yang mematikan. "Dia mengirim segerombolan domba untuk menguasai hutan ini. Hari ini, seluruh pita merah Fraksi Pedang Darah akan terkubur di bawah lumpur Rawa Bisikan."

Pertarungan jarak dekat di dimensi yang terisolasi dari aturan sekte siap dimulai. Dua predator mengunci target mereka. Tidak ada hukum yang mengawasi, tidak ada wasit yang menghentikan. Hanya akan ada satu orang yang keluar dari kabut ini dengan membawa nyawanya.

Lin Chen memutar pisau curian di tangannya, aliran *Napas Karang Esensi* mendidih di dalam nadinya. Beban seratus kilogram di kakinya terasa semakin berat, penderitaan inilah yang menjadi bahan bakar bagi kekuatan destruktifnya. Ia mengambil kuda-kuda, bersiap menyambut badai sabetan mematikan dari sang algojo kurus. Pertunjukan utama Hutan Ilusi baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!