NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nyawa Dipertaruhkan

​Sepeninggalan Miranti dan Kirana, keheningan malam di kebun jati Desa Kragan mendadak lenyap, berganti dengan deru pusaran angin yang berhawa maut. Sepuluh pengawal yang mengejar kedua wanita itu telah jauh, menyisakan tiga pendekar di halaman gubuk yang remang. Bagi Jalal, ini bukan lagi sekadar pertarungan untuk mengulur waktu. Ini adalah pertarungan hidup mati.

​Bram dan Lisa tidak membiarkan Jalal bernapas sekejap pun. Begitu sosok Kirana hilang di balik kegelapan hutan, si kembar blasteran itu langsung meningkatkan tempo serangan mereka hingga ke batas tertinggi.

​WUSH! WUSH!

​Belati panjang di tangan Bram membelah udara, menebas secara horizontal mengincar tenggorokan Jalal. Di saat yang sama, tubuh Lisa meluncur di atas tanah, mengirimkan dua tendangan beruntun yang mengincar lutut sang pendekar buta. Sinkronisasi mereka begitu sempurna, seolah-olah mereka digerakkan oleh satu otak yang sama.

​Jalal menjejakkan kakinya ke tanah, melompat mundur demi menghindari kombinasi maut tersebut. Namun, belum sempat kakinya mendarat dengan mantap, Bram sudah berada di titik pendaratannya. Bilah belati yang dingin menusuk lurus ke arah dada.

​TRAAK!

​Jalal memiringkan tubuhnya di udara, menggunakan tongkat bambu murninya untuk menangkis tusukan Bram. Percikan api menerangi wajah dingin Bram. Namun, tangkisan itu meninggalkan celah di sisi kiri Jalal. Lisa yang telah bangkit dari tanah memanfaatkan momentum tersebut. Sebuah tendangan samping dengan kecepatan kilat mendarat telak di rusuk Jalal.

​BUM!

​Tubuh Jalal terlempar tiga meter ke samping, menghantam salah satu pohon jati hingga kulit kayunya retak. Jalal meringis, merasakan darah segar mulai merembes di dinding dalam tenggorokannya. Kacamata merah gelapnya masih bertengger di wajah, namun jaket kulit cokelatnya kini telah robek besar di bagian dada dan lengan, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang tegang karena hantaman tenaga dalam Lisa.

​"Hanya sampai di sini kemampuan orang yang dikhawatirkan Tuan Satya." Lisa mengejek, suaranya terdengar melengking di antara desis angin malam. Ia kembali mengambil posisi menyerang, berdiri berdampingan dengan Bram tanpa jarak sedikit pun.

​Bram tidak berbicara. Ia hanya memutar belatinya, memberikan isyarat visual yang dipahami oleh saudaranya. Mereka melesat kembali, kali ini membentuk formasi melingkar yang mengurung Jalal dari dua sisi berlawanan.

​Jalal menegakkan tubuhnya kembali. Telinganya bergerak-gerak, menangkap desau angin yang aneh. Serangan si kembar ini tidak memiliki celah kosong. Setiap kali Jalal mencoba menyerang Bram, Lisa akan datang menutup pertahanan saudaranya dan mengirimkan serangan balasan yang mematikan. Begitupun sebaliknya.

​SRET!

​Satu sabetan belati Bram yang melesat dari sudut tak terduga berhasil merobek celana Jalal, menggores paha kanannya cukup dalam. Darah hangat langsung mengalir membasahi kain celananya yang robek. Jalal mendengus menahan perih. Kakinya mulai terasa berat, tumpuannya sedikit goyah akibat luka tersebut.

​Sial... kalau aku terus bertahan dan bermain aman, aku yang akan mati kehabisan darah di tempat ini, batin Jalal. Mata batinnya meraba sekeliling. Ia tahu, ia harus mempertaruhkan seluruh sisa umurnya dalam satu serangan tunggal. Ia harus memecah sinkronisasi si kembar dengan melenyapkan salah satu dari mereka, apa pun harganya.

​Jalal mengambil keputusan. Ia melepaskan tongkat bambunya, membiarkan senjata setianya itu terjatuh dan menancap di tanah. Kedua telapak tangannya terbuka, diangkat sejajar dengan dada.

​Melihat Jalal melepaskan senjatanya, Bram dan Lisa mengira sang lawan telah menyerah. Mereka melompat bersamaan dari atas, menghujamkan seluruh sisa tenaga dalam mereka ke ujung senjata masing-masing untuk mengakhiri pertarungan.

​Namun, udara di sekitar halaman gubuk mendadak berubah menjadi sangat berat. Tekanan udara aneh yang sangat pekat berpusat di kedua telapak tangan Jalal. Daun-daun jati yang berserakan di tanah tiba-tiba terangkat ke udara, berputar mengelilingi tubuh Jalal seolah-olah ditarik oleh pusaran gaib.

​Inilah ajian pamungkas yang jarang ia keluarkan, sebuah ilmu simpanan dari dasar Semeru: Ajian Si Buta Mencengkram Mega.

​"Bram! Mundur!" Lisa tiba-tiba berteriak, insting wanitanya menangkap bahaya yang teramat sangat dari perubahan aura Jalal.

​Namun, peringatan itu sudah terlambat. Bram yang berada di posisi tombak penyerang sudah terlanjur meluncur deras ke arah Jalal, tidak bisa membatalkan momentum gerakannya di udara.

​Wajah Jalal yang tersembunyi di balik kacamata merah gelap tampak begitu dingin. Dengan mengerahkan seluruh sirkulasi tenaga batin yang tersisa di dalam tubuhnya, Jalal memusatkan seluruh daya hancur ajian tersebut ke telapak tangan kanannya. Target utamanya adalah Bram. Jika Bram tumbang, formasi kembar mereka akan hancur selamanya.

​BOOM!

​Jalal melangkah maju memotong jarak, mengabaikan belati Bram yang mengarah ke lehernya. Dengan satu gerakan lurus yang amat cepat, telapak tangan kanan Jalal menghantam telak di tengah-dapur dada Bram.

​CRASH!

​Pukulan itu tidak mengeluarkan suara ledakan yang keras, melainkan suara hantaman tumpul yang mengerikan. Ajian Si Buta Mencengkram Mega bekerja memindahkan seluruh gelombang kejut tenaga dalam langsung ke organ dalam korbannya. Seketika itu juga, dada Bram hancur bagian dalamnya. Tulang rusuknya patah berantakan, dan jantung serta paru-parunya hancur seketika akibat tekanan energi murni Jalal.

​Bram membelalak, matanya langsung dipenuhi darah. Tubuhnya mendadak lemas bagai kain basah, kehilangan seluruh kekuatannya dalam satu detik.

​Namun, kemenangan itu harus dibayar Jalal dengan harga yang sangat mahal. Karena seluruh fokus dan pertahanannya dialihkan sepenuhnya untuk menghancurkan Bram, sisi tubuh bagian kirinya terbuka tanpa perlindungan sama sekali.

​Lisa yang melihat saudaranya dihantam dengan keji langsung menjerit histeris penuh amarah. Menggunakan sisa momentum gerakannya, Lisa memutar tubuhnya di udara dan melayangkan satu tusukan belati serta hantaman cakar bertenaga dalam murni yang diarahkan tepat ke arah perut Jalal.

​JLEB! SRET!

​Hantaman kuku dan bilah senjata Lisa merobek lambung Jalal dengan sangat parah. Kulit dan daging di bagian perut kiri Jalal terkoyak lebar, menyemburkan darah segar dalam jumlah banyak ke atas tanah. Rasa sakit yang luar biasa, panas seperti dibakar api neraka, seketika menjalar ke seluruh sistem saraf Jalal.

​"BRAM!!!" Lisa menjerit histeris, mengabaikan Jalal yang terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang robek.

​Lisa menangkap tubuh kembarannya sebelum menyentuh tanah. Tangannya yang gemetar meraba dada Bram yang kini telah melesek ke dalam, terasa lunak tanpa detak jantung lagi. Darah kental terus keluar dari mulut dan hidung Bram yang sudah tidak bernyawa.

​"Tidak... tidak... Bram! Bangun!" Lisa menangis meraung-raung di tengah kegelapan hutan jati. Amarahnya memuncak, namun akal sehatnya berteriak bahwa saudaranya harus segera mendapatkan pertolongan ghaib dari Tuan Satya jika ingin jiwanya diselamatkan, meskipun tubuh fisiknya telah hancur.

​Dengan mata abu-abu yang menatap Jalal penuh dendam kesumat, Lisa segera menggendong tubuh berat Bram di atas pundaknya. Ia berbalik, melompat beringas menembus kegelapan menuju arah mobil operasional mereka yang terparkir di batas desa, meninggalkan sisa anak buahnya yang ketakutan.

​Jalal berdiri sendirian di halaman gubuk yang kini telah basah oleh darah. Tangan kirinya menekan kuat-kuat luka di lambungnya, mencoba menahan usus dan darahnya agar tidak tercecer keluar, sementara tangan kanannya bertumpu lemah pada tongkat bambunya yang kembali ia ambil dari tanah.

​Napas Jalal terdengar putus-putus, sangat berat dan dingin. Kesadarannya perlahan-lahan mulai mengabur. Dunia yang memang sudah samar bagi indera penglihatannya kini benar-benar berubah menjadi hitam pekat yang sunyi. Telinganya tidak lagi mampu mendengar desau angin ataupun detak jantungnya sendiri.

​Kirana... lari... bisik Jalal dalam hatinya yang paling dalam.

​Grip tangannya pada tongkat bambu murni itu melonggar. Tubuh tegap Jalal ambruk, terjatuh pingsan di atas hamparan daun jati kering Desa Kragan, berselimutkan dinginnya malam dan genangan darahnya sendiri. Pertarungan di Kragan telah usai, meninggalkan luka mendalam bagi kedua belah pihak yang berseteru.

1
Alia Chans
hadir thor, karya nya keren👍👈
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍 tapi ada Typo : "Tuhan bersabda" tapi yang betul "firman Tuhan".
Muqimuddin Al Hasani: Oke Kakak noted👍
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!