NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PERJAMUAN PARA PEMUNCAT

PERJAMUAN PARA PEMUNCAT

​Pukul lima pagi, saat embun masih betah memeluk dedaunan, Amira sudah berjibaku di pasar tradisional. Bau amis ikan, aroma menyengat bumbu giling, dan suara riuh tawar-menawar menjadi musik latar paginya. Amira menjinjing dua kantong plastik besar di tangan kiri dan satu di tangan kanan. Keringat tipis mulai membasahi pelipisnya, membuat anak rambutnya menempel di dahi yang sawo matang itu.

​"Ini ayamnya sudah dibersihkan ya, Mbak Amira. Segar-segar semua, buat arisan ya?" tanya Bu Siti, penjual ayam langganannya.

​Amira tersenyum tulus, senyum yang selalu membuat wajah manisnya terlihat bersinar meski tanpa riasan. "Iya, Bu Siti. Mertua mau ada acara besar sore ini. Harus masak banyak."

​"Duh, Mbak Amira ini menantu idaman. Sudah cantik, rajin ke pasar sendiri lagi. Padahal suaminya bos besar," puji Bu Siti tulus.

​Amira hanya mengangguk sopan. Ia tidak menceritakan bahwa Ibu Ratna melarangnya memakai sopir untuk ke pasar dengan alasan "pemborosan bensin". Amira harus naik taksi online atau bahkan ojek jika buru-buru.

​Sesampainya di rumah, istirahat adalah kemewahan yang tidak dimiliki Amira. Ia segera berganti pakaian kerja—kaus katun lama dan celana pendek—lalu mulai berperang di dapur. Ia mengulek bumbu rendang secara manual karena mertuanya bilang rasa bumbu yang diblender itu "hambar". Tangannya mulai pegal, otot-otot lengannya berdenyut, namun ia tetap bertahan.

​Pukul dua siang, rumah sudah mengkilap. Aroma rendang, sambal goreng ati, dan puding sutra memenuhi ruangan. Amira baru saja selesai mandi dan mengganti bajunya dengan gamis berwarna cokelat muda yang sederhana. Ia tidak punya waktu untuk berdandan lama karena bel rumah sudah berbunyi.

​Satu per satu, teman-teman sosialita Ibu Ratna datang dengan tas bermerk dan aroma parfum yang menusuk hidung.

​"Aduh, Ratna! Wangi sekali masakanmu! Pakai katering mana?" tanya Ibu Mira, salah satu teman arisan yang paling vokal.

​Ibu Ratna tertawa, tawa yang dibuat-buat anggun. "Katering apa? Itu menantuku yang masak di dapur. Memang tugasnya begitu, kan? Daripada tidak ada kerjaan karena belum ada anak yang diurus."

​Amira yang sedang menata gelas-gelas kristal di meja prasmanan hanya bisa menunduk. Ia meremas pinggiran nampan kayu di tangannya.

​"Eh, ngomong-ngomong soal menantu," Ibu Mira melanjutkan sambil berbisik, namun suaranya cukup keras untuk didengar Amira. "Aku dengar Aris sekarang punya sekretaris baru ya? Si Lista itu? Tadi aku lihat di postingan Instagram Lastri, Lista cantik sekali pakai baju kantor. Putih, mulus, bersih... beda ya sama yang di rumah."

​Amira terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya yang memegang poci teh bergetar sedikit.

​"Jangan keras-keras, Mira," sahut Ibu Ratna, namun matanya melirik sinis ke arah dapur tempat Amira berada. "Memang beda jauh. Lista itu bibit unggul. Pintar, kulitnya terawat karena dia tahu cara bawa diri. Kalau Amira? Kamu lihat sendiri, kan? Kulitnya makin lama makin kusam, sawo matang yang... yah, terlalu matang menurutku. Dulu itu Aris cuma 'khilaf' karena Amira yang ngejar-ngejar dia terus waktu kuliah."

​"Oalah... jadi Amira yang ngejar?" Ibu Mira menutup mulutnya, pura-pura kaget.

​"Iya! Aris itu kan orangnya tidak tegaan. Ditempel terus, ya akhirnya luluh. Tapi lihat sekarang, tiga tahun menikah tidak ada hasil. Rahimnya sepertinya kering, sama keringnya dengan kulitnya itu," timpal Ibu Ratna pedas, disusul tawa renyah dari ibu-ibu lainnya.

​"Hus! Jangan bicara begitu, Ratna. Tidak baik," sebuah suara lembut menyela. Itu Ibu Lastri—bukan mamanya Lista, tapi Ibu Lastri tetangga sebelah yang dikenal paling bijak. "Amira itu anak baik. Masakannya enak, orangnya santun. Kulit sawo matang itu eksotis, manis dilihat. Aris pasti punya alasan kuat kenapa pilih dia."

​"Alasan apa, Las? Alasan kasihan?" Ibu Ratna mendengus. "Kasihan itu ada masa berlakunya. Kamu lihat saja nanti, kalau Lista sudah makin lama di kantor, Aris pasti bakal sadar mana permata mana batu kerikil."

​Amira merasa dunianya seolah berputar. Batu kerikil? Aku yang mengejar Mas Aris? Padahal kenyataannya, Aris lah yang dulu berjuang mendapatkan restu orang tua Amira yang sederhana. Aris yang dulu menangis karena takut kehilangan Amira saat Amira hendak dijodohkan dengan orang lain.

​Kenapa sejarah diputarbalikkan begitu kejam?

​"Mbak Amira..."

​Sebuah suara lembut tiba-tiba ada di dekatnya. Amira tersentak hampir menjatuhkan poci teh. Ternyata Lista sudah berdiri di sana. Ia datang lebih awal dari kantor, masih memakai seragam kerjanya yang sangat pas di tubuh—kemeja sutra putih yang memperlihatkan kulit lehernya yang seputih porselen.

​"Mbak, sini biar Lista bantu bawa tehnya ke depan. Mbak istirahat saja, wajah Mbak pucat sekali," ucap Lista dengan nada sangat khawatir, matanya yang besar nampak berkaca-kaca seolah ia ikut merasakan sakit hati Amira.

​"Eh, Lista... tidak apa-apa, Mbak bisa sendiri," jawab Amira berusaha tegar.

​"Jangan, Mbak. Tadi Lista tidak sengaja dengar ucapan Bude Ratna di depan. Lista sedih sekali dengarnya," bisik Lista, ia memegang tangan Amira yang kasar karena terlalu banyak mencuci. "Mbak Amira itu cantik, jangan dengarkan mereka. Bude cuma lagi ingin pamer saja di depan teman-temannya. Mbak jangan marah ya sama Bude..."

​Amira menatap Lista. Di saat semua orang menghinanya, Lista justru hadir sebagai penyejuk. "Terima kasih, Lis. Kamu memang saudara yang baik."

​Lista tersenyum manis, senyum yang sangat menenangkan. Ia mengambil alih nampan dari tangan Amira. "Biar Lista yang antar ke depan. Mbak masuk kamar saja dulu, cuci muka, supaya Mas Aris pulang nanti Mbak kelihatan segar."

​Amira mengangguk lemah dan berjalan menuju kamarnya. Namun, tepat sebelum ia menutup pintu kamar, ia sempat melihat pemandangan di ruang tamu melalui celah pintu.

​Lista melangkah masuk ke kerumunan ibu-ibu itu dengan gaya yang sangat anggun.

​"Aduh, Lista! Ini dia calon bintang kita!" seru Ibu Mira heboh.

​Lista meletakkan nampan, lalu duduk bersimpuh di dekat kaki Ibu Ratna dengan sangat sopan. "Bude, ini tehnya. Tadi Mbak Amira sedikit pusing, jadi Lista yang antarkan. Mohon dimaafkan ya kalau Mbak Amira kurang maksimal melayani hari ini."

​"Tuh, dengar kan?" Ibu Ratna membelai rambut Lista dengan penuh kasih sayang. "Anak ini luar biasa. Sudah capek kerja, masih mau bantu-bantu di sini. Harusnya Amira malu punya adik sepupu seperti kamu, Lis."

​Lista hanya menunduk dengan senyum malu-malu yang sangat cantik. "Mbak Amira juga sudah berusaha kok, Bude. Walaupun mungkin tidak secepat Lista."

​Di balik pintu kamar, Amira menyandarkan tubuhnya. Ia tidak mendengar sisa percakapan itu, tapi hatinya merasa ada yang janggal. Lista membelaku, tapi kenapa setelah dia bicara, mertuaku justru makin menghinaku?

​Amira menatap pantulan dirinya di cermin. Kulit sawo matangnya yang biasanya ia banggakan kini terlihat kusam di matanya sendiri karena kata-kata mertuanya. Ia mengusap perutnya yang rata, air matanya jatuh tanpa suara.

​Ia tidak tahu bahwa di ruang tamu, Lista sedang menjadi primadona. Dan ia tidak tahu bahwa "pembelaan" Lista sebenarnya adalah bumbu paling pedas yang membuat Ibu Ratna semakin yakin untuk menyingkirkan Amira dari hidup Aris.

​Malam itu, rendang buatan Amira dipuji semua tamu, namun yang mendapat pujian atas "pengelolaan acara" adalah Lista. Amira hanyalah bayangan di rumahnya sendiri, sebuah bayangan yang mulai memudar tertutup cahaya palsu sang sepupu.

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!