Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.
" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.
Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.
_
Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 : Menuju akhir
Intan melihat seseorang berdiri di depan mobil tepat di depan gerbang mesnya namun dia mencoba tidak peduli. Intan yang penasaran melirik, tangannya menyentuh gerbang untuk mendorong gerbang mess berderit pelan saat tangan Intan hendak membukanya.
Salsa melepaskan kudung jaketnya lalu menahan pergelangan tangan Intan dengan keras.
"Aku mau nanya."
Intan menoleh, sedikit kaget.
"Naya di mana?" Tanya Salsa langsung, tanpa basa-basi.
Hening sesaat.
Intan tersenyum, ingin memenangkan permainan debat kali ini.
"Naya?" Tanya Intan.
Salsa mengeratkan genggamannya, "Iya. Jangan pura-pura gak tau."
Intan menatap Salsa lurus, "Dia sudah mati."
Mata Salsa langsung berubah, "Kamu ngomong apa barusan?"
Intan tertawa seolah menikmati reaksi itu.
Tanpa pikir panjang Salsa langsung menjambak rambut Intan.
"A-arghh lepasin!!" Intan reflek menahan tangan Salsa ingin melepasnya.
"Jangan main-main sama aku!" Bentak Salsa dengan marahnya.
Intan meringis, tubuhnya ikut tertarik ke depan, "Aku akan bunuh kamu kalau terjadi sesuatu sama Naya!" Suara Salsa bergetar, tapi penuh ancaman nyata.
Salsa mendorongnya kasar.
Intan jatuh ke tanah.
Napasnya tersengal perlahan dia mendongak menatap Salsa yang berdiri diam di bawah sinar bulan. Wajahnya setengah tertutup bayangan. Matanya tajam.
Dan..
di belakang Salsa…
Intan membeku.
Napasnya tertahan.
Ada sesuatu.
Sosok.
Berdiri tepat di belakang Salsa.
"N-naya??" Intan Kaget bukan main melihat sosok pucat itu.
Mata Intan membelalak.
"I-itu?? Tidak mungkin Naya sudah mati." Suaranya gemetar hebat.
Sosok itu tidak bergerak, hanya menatap.
Intan mundur.
"Itu bukan Naya.." Intan masih menatap pada sosok arwah itu.
Salsa menoleh ke belakang tapi dia tidak melihat apa-apa. Tapi tubuhnya merasakan sesuatu, sesuatu yang dingin.
Intan berdiri tergesa, berlari.
Salsa hanya diam, alisnya mengernyit.
"Apa yang dia lihat?" Gumam Salsa pelan.
Langkah kaki terdengar mendekat, Salsa menoleh.
Rosa berhenti beberapa langkah dari Salsa.
"Aku tahu Naya ada di mana." Ujar Rosa.
Salsa langsung menatap tajam, "Di mana?"
"Aku tidak bisa menceritakannya disini." Ujar Rosa dengan pelan.
Salsa dengan marah membuka pintu mobilnya, masuk ke dalam. Membiarkan Rosa juga masuk ke dalam mobilnya, duduk di kursi penumpang di sebelahnya.
Mereka pun pergi di sana. Setelah cukup jauh.
"Aku melihat Naya berdiri dibelakangmu." Ujar Rosa kepada Salsa yang langsung menghentikan mobilnya.
"Maksud kamu?" Tanya Salsa.
"Aku tidak tau itu Naya atau bukan yang jelas itu sangat mirip dengan Naya." Jelas Rosa.
"Kamu bilang kamu tau dimana Naya?" Salsa menanyakan ulang hal itu.
"Dia di rumah sakit." Jawab Rosa.
"Antarkan aku ke rumah sakit itu sekarang." Ujar Salsa keluar dari mobilnya lalu membuka pintu mobil Rosa membuat Rosa pada akhirnya bertukar posisi dengan Salsa.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi kepada Naya selama di rumah makan itu?" Tanya Salsa dengan wajah lelahnya.
"Yang jelas sejak awal Naya sudah di incar oleh Pak Dermawan, bukan untuk di rekrut, tapi untuk menjadi tumbal." Jelas Rosa.
"Tumbal?"
"Agar rumah makan itu laris." Balas Rosa.
"Apa harus ngelakuin cara murahan kayak gitu biar bisa kaya." Tawa Salsa mengejek.
"Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Masalahnya sekarang ada 4 rumah makan yang melakukan hal yang sama dengan menumbalkan orang lain untuk sesuatu yang semakin lama akan menjadi semakin besar." Ujar Rosa dengan begitu serius.
"Apa maksudmu?"
"Perlahan rumah makan Dermawan akan menjadi semakin besar seiring waktu berjalan, perekrutan anggota akan terus di lakukan dan cabang baru akan dibuka."
"Maksud kamu?" Tanya Salsa semakin tidak mengerti.
"Ada cabang di Depok, Bintaro, Bekasi, BSD, belum cabang-cabang baru lain yang sedang di persiapkan Pak Dermawan. Pak Dermawan juga bisa membangkitkan arwah yang sudah mati untuk hidup lagi sebagai karyawan di rumah makan. Kekuatan Pak Dermawan bukan hanya soal sistem ghaib tapi juga soal kekuatan supernatural yang kita sendiri tidak tahu sampai mana batasnya." Ujar Rosa yang sepertinya tahu sesuatu yang akan terjadi sebentar lagi. Sesuatu yang benar-benar besar, dan mungkin sulit di tandingi.
"Aku tidak mengerti. Apa semua berkaitan dengan iblis?" Tanya Salsa dengan serius.
"Sejak awal. Pak Dermawan punya lebih banyak pengikut dari yang belum ku ketahui sama sekali. Kita tidak akan tahu kapan, dan bagaimana semua ini berakhir."
"Aku hanya ingin membawa Naya pulang!" Tegas Salsa yang tidak mau mendengarkan kata-kata Rosa yang menurutnya aneh.
"Kita sebentar lagi sampai." Balas Rosa yang sudah memasuki area rumah sakit lalu memarkirkannya.
Salsa keluar dari mobil begitu pun dengan Rosa, mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah sakit itu.
"Aku di loby rumah sakit." Rosa menjawab telepon itu tak lama ada seorang pria berlari ke arah mereka berdua.
"Kevin." Gumam Rosa melihat wajah lelah kekasihnya yang nampak polos itu.
"Aku udah nyari tau tapi Naya beneran udah kabur dari rumah sakit ini, gak ada yang tau Naya ada dimana sekarang." Jelas Kevin.
"Naya pergi?" Tanya Salsa.
"Aku simpan rekaman cctv-nya di hpku." Ujar Kevin memberikan hpnya kepada Rosa namun Rosa memberikan hp nya kepada Salsa yang menonton rekaman itu.
Salsa dengan serius memperhatikan tingkah aneh Naya yang keluar dari ruangan dan berjalan sendiri di koridor rumah sakit sebelum pada akhirnya mati.
"Apa gak ada video lain?" Tanya Salsa merasa sangat geram namun yang di temukan Salsa saat menggeser ke samping hanyalah ada foto romantis antara Rosa, dan Kevin.
Rosa yang melihat kedua pipinya langsung memerah malu membuat Kevin dengan segera mengambil hpnya dari Salsa.
"Gak ada soalnya katanya mati lampu di seluruh rumah sakit waktu itu, malah sampe pemadaman 3 jam yang bikin banyak nyawa di rumah ini terancam sampe harus di cariin ke rumah sakit lain, ada juga yang meninggal karna penanganan yang lama." Jelas Kevin kepada Salsa dan juga Rosa.
Salsa mulai merasa frustasi.
Rosa memperhatikan wajah Kevin lalu memperhatikan wajah Salsa yang terlihat begitu khawatir kepada Naya.
Namun tiba-tiba muncul berita viral di televisi yang membuat pandangan mereka tertuju ke televisi.
"PEMBUNUHAN TERHADAP SEORANG WANITA YANG DI TEMUKAN DI TAMAN BERMAIN ANAK-ANAK, DI KETAHUI JIKA KORBAN BERNAMA NESYA RAHMADANI --"
Rosa kaget bukan main, sementara Salsa dan Kevin yang tidak tau apa-apa hanya diam.
"Pak Dermawan gak ragu membunuh Nesya." Gumam Rosa masih tidak percaya.
_
"Lu gak harusnya selancang itu!" Dengan marah Gian menonjok Zuan.
Zuan jelas kalah telak dengan Gian namun pandangannya malah tertuju kepada Nesya yang sedang memasak di dapur.
"Pak Dermawan akan marah kalau tau lu buang nyawa Nesya ke taman bermain!!" Bentak Gian dengan penuh emosi.
Hasil rekomendasiku secara pribadi: Cocok untuk yang pengen baca horor tapi singkat. Suka alur cepat. Atau gak terlalu mentingin narasi yang penting ceritanya bagus.
Banyak banget yang mau aku ungkapin. [Kemungkinan bakal kepanjangan komennya. Jadi kelanjutannya aku lanjutkan di komen]
Cerita: Menarik. Tadinya kukira suasananya bakal penuh kecurigaan, ternyata tetep friendly dan asik. Langsung bikin penasaran di bab 1.
Pacing: Enak dibaca. Kupikir 10 bab awal bakal penuh ketegangan yang kayak mainin tensi aja. Eh ternyata langsung masuk konflik berat. Padahal biasanya horor/thriller pelan-pelan baru menuju konflik. Tapi karena ceritanya emang mau dibuat pendek, pacing segini udah pas.
Karakter: Ditulis bagus banget, berasa manusia dan punya hati. Beda sama cerita sejenis MC kerja di tempat gak bener dan seringkali semua karyawannya juga jahat selain MC, di sini mereka korban keadaan (kecuali Rosa, Zuan, Gian, dll yang memang pilih salah).
Tapi emang ada caranya? Emang gak ada caranya... atau ada caranya tapi Rosa udah nyerah dan takut ambil resiko??
Tapi... ini Abel dengan kesadaran penuhnya sendiri? Kalau Teh Intan taju Naya mati... harusnya dia berhenti ’kan?? Atau dia gak tahu tapi bohongin Kak Salsa doang? Hmmm...
baguslah, setidaknya ada yg tahu Nesya mati. 😃😭
iblis? Atau karena apa?