NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Altar Sunyi dan Murka Winston

​Hari Kamis yang mendebarkan akhirnya tiba.

​Sejak pukul tujuh pagi, aula tengah Islamic Centre Toronto telah disulap menjadi ruang akad yang bersahaja namun memancarkan keanggunan yang murni. Sesuai dengan rincian tulisan tangan Aisya, dekorasi ruangan itu hanya menggunakan bentangan kain putih bersih dengan hiasan bunga-bunga segar yang memancarkan keharuman lembut di udara. Tidak ada karpet merah beludru khas elit, tidak ada lampu kristal mewah yang berkilauan. Namun, kesederhanaan itu justru memancarkan kesakralan yang mendalam.

​Di dalam ruang rias wanita, atmosfer dipenuhi rasa haru yang kental. Aisya duduk terpaku di depan cermin, mengenakan gaun pernikahan berwarna putih bersih yang longgar tanpa payet berlebih, dipadukan dengan khimar panjang dan niqab sutra sewarna yang membingkai sepasang mata bulatnya yang jernih.

​"Masha Allah, keponakan Bibi cantik sekali hari ini," bisik Bibi Salma dengan suara yang bergetar menahan tangis bahagia. Jemari tuanya dengan lembut merapikan lipatan kain jilbab Aisya. Sebagai salah satu kerabat dekat yang diundang dalam jumlah terbatas itu, Bibi Salma tahu betul bagaimana perjuangan Aisya menjaga kehormatannya selama ini. "Bibi tidak pernah menyangka hari ini akan datang begitu cepat, Nak. Tapi melihat bagaimana Tuan Noir merendahkan hatinya untuk belajar agama kemarin... Bibi yakin Allah telah memilihkan pelindung yang tepat untukmu."

​Aisya menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan. "Aisya hanya berharap keputusan ini membawa berkah, Bi. Duniaku dan dunianya sangat berbeda. Aku... aku masih merasa takut jika ini semua hanya mimpi buruk yang dikemas dengan indah."

​"Jangan takut, sayang. Selama kau memegang teguh agamamu, suamimu yang akan menyesuaikan diri dengan cahayamu," hibur Bibi Salma, mengecup kening Aisya dengan penuh kasih sayang sebelum melangkah keluar untuk menyambut sisa tamu komunitas yang mulai berdatangan.

​Tepat pukul delapan lewat empat puluh lima menit, suasana di luar Islamic Centre mendadak riuh. Raungan mesin yang berat dan berwibawa memecah keheningan jalanan sekitar. Bukan Bugatti Chiron hitam yang liar seperti malam itu, kali ini Cassian memilih mengendarai salah satu koleksi paling eksklusif dari Noir Luxury Experience: Rolls-Royce Phantom VIII Coupe berwarna hitam safir yang luar biasa megah.

​Mobil itu berhenti dengan presisi di depan gerbang. Kevin turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu belakang.

​Cassian Noir melangkah keluar. Sosoknya yang menjulang tinggi tampak begitu memukau dalam balutan setelan jas formal hitam berpotongan klasik dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Tidak ada dasi sutra norak, ia sengaja membiarkan kancing teratas kemejanya terbuka tipis, memberikan kesan maskulin namun tetap terhormat. Tatapan elangnya menyapu bangunan Islamic Centre dengan ketenangan mutlak seorang pria yang siap mengklaim kemenangan terbesarnya.

​"Semua dokumen hukum sipil dan sertifikat dari dinas catatan sipil Ontario sudah siap di dalam tas saya, Tuan Noir," lapor Kevin dengan suara rendah berbisik sembari merapikan tas kerjanya. "Begitu akad nikah selesai, Anda secara sah mengunci hak veto warisan Noir di atas kertas."

​"Bagus," sahut Cassian pendek, suaranya bariton dan dingin. "Ayo masuk. Kita punya waktu terbatas sebelum badai di kantor pusat meledak."

​Sementara itu, kontras dengan kedamaian di Islamic Centre, suasana di lantai eksekutif gedung pencakar langit Noir Enterprises justru sedang dilanda gempa tektonik.

​Pintu ruang kerja Cassian dihentak terbuka dengan kasar hingga membentur dinding marmer. Rebecca Winston melangkah masuk dengan napas memburu, wajah cantiknya yang biasanya dipoles kosmetik mahal kini memerah padam karena murka. Di belakangnya, dua orang sekretaris korporat mencoba menahannya dengan wajah ketakutan.

​"Di mana Cassian?!" tuntut Rebecca dengan suara melengking tajam, melempar tas desainer mahalnya ke atas meja kerja kosong milik Cassian. "Dia membatalkan rapat koordinasi aliansi Winston-Noir pagi ini secara sepihak! Ibuku dan ayah Cassian sudah menunggu di ruang VIP, dan dia justru menghilang tanpa kabar?!"

​Sekretaris pengganti yang berjaga di depan meja depan gemetar. "M-Maaf, Nona Winston... Tuan Cassian mengosongkan seluruh jadwalnya hingga sore hari. Beliau... Beliau mengatakan ada urusan pribadi yang bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun."

​"Urusan pribadi apa?!" bentak Rebecca, kedua tangannya mengepal kuat. Instingnya sebagai wanita sosialita yang licik mencium ada sesuatu yang sangat busuk sedang terjadi di belakang punggungnya. Cassian tidak pernah membatalkan urusan bisnis demi hal sepele. "Cari tahu di mana posisi mobilnya sekarang! Jika Cassian berpikir dia bisa melarikan diri dari komitmen pertunangan kami hari ini, dia salah besar!"

​Rebecca merogoh ponselnya dengan kasar, langsung mendial nomor Alexander Noir untuk melaporkan pembangkangan putra mahkota mereka. Ia tidak tahu bahwa pada detik yang sama, Cassian sedang melangkah mantap mendekati meja akad, bersiap melempar skakmat hukum yang akan menghancurkan seluruh ambisi keluarga Winston selamanya.

​Pukul sembilan tepat. Aula tengah Islamic Centre terasa begitu khidmat hingga suara desau angin musim semi di luar pun seolah enggan mengganggu. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu jati pendek telah dikelilingi oleh Orang-masing terpenting dalam hidup Aisya.

​Imam Abdulaziz duduk di posisi utama selaku penghulu. Di sebelah kanannya, Paman Hamdan duduk dengan raut wajah tegang namun teguh, jemarinya yang mulai berkerut sesekali meremas lututnya sendiri. Sementara di sisi kiri, Cassian Noir duduk bersila dengan ketenangan yang luar biasa kokoh. Sosoknya yang jangkung dan berwibawa mendominasi sudut karpet tersebut, ditemani Kevin yang duduk di belakangnya sebagai saksi dari pihak pengantin pria.

​Di balik tirai pembatas satin putih yang tipis namun cukup menyamarkan pandangan, Aisya duduk berdampingan dengan Bibi Salma. Dari balik kain sutra niqabnya, napas Aisya memburu pelan. Melalui celah tirai yang samar, ia bisa melihat punggung tegap Cassian yang lurus tanpa beban, seolah pria itu tidak sedang bersiap menghadapi badai besar di luar sana.

​"Tuan Cassian Noir," Imam Abdulaziz membuka khotbah nikah singkat dengan suara baritonnya yang meneduhkan, menyampaikan hak dan kewajiban sepasang suami istri di dalam Islam.

​Setelah khotbah selesai, Imam Abdulaziz menatap Paman Hamdan, memberikan isyarat bahwa waktu utama telah tiba. Paman Hamdan menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangan kanannya di atas meja.

​Cassian tidak membuang waktu. Ia memajukan tubuhnya, menjabat telapak tangan Paman Hamdan dengan genggaman yang mantap, solid, dan sarat akan kekuatan yang tidak bisa digoyahkan. Kulit mereka yang berbeda warna kontras saling mengunci.

​"Tuan Hamdan, saya siap," ucap Cassian datar namun tegas. Suaranya bergema rendah di langit-langit aula.

​Paman Hamdan menatap langsung ke dalam sepasang mata elang calon menantunya. Keikhlasan dan kepasrahan telah memenuhi rongga dadanya. "Bismillahirrahmanirrahim..." Paman Hamdan memulai dengan nada bergetar, namun perlahan menguat di setiap kalimatnya.

​"Ankah-tuka wa zawwaj-tuka makhthubataka... Aisya Manik Sulayman al-bintu mendiang Sulayman—" Paman Hamdan menjeda sesaat, menyebutkan statusnya sebagai wali yang sah menggantikan posisi mendiang ayah kandung Aisya, "—bi mahrin berupa dana perwalian senilai lima juta dolar serta pembangunan kompleks fasilitas sosial, tunai!"

​Di balik tirai, jantung Aisya seolah berhenti berdetak. Nama lengkapnya dan nama mendiang ayahnya bergaung dalam sebuah ikatan paling sakral di dunia.

​Cassian menarik napas dalam-dalam. Ia tidak membutuhkan teks. Otak geniusnya telah merekam setiap suku kata Arab yang diajarkan Imam Abdulaziz kemarin dengan presisi tanpa celah. Dengan satu tarikan napas yang lugas dan lancar, Cassian mengucapkan ikrarnya:

​"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha lil-nafsi bi-mahril-madzkur, tunai!"

​(Aku terima nikah dan kawinnya untuk diriku sendiri dengan mahar tersebut, tunai!)

​Hening satu detik.

​"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Imam Abdulaziz beralih pada Kevin dan salah satu pengurus yayasan di sisi lain.

​"Sah," ucap Kevin mantap.

"Sah," sambung saksi kedua.

​"Alhamdulillah..."

​Doa pemersatu pun mengalir dari lisan Imam Abdulaziz, diamini oleh seluruh ruangan termasuk Bibi Salma yang langsung terisak pelan sembari memeluk pundak Aisya.

​Aisya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sebutir air mata hangat jatuh membasahi bagian dalam niqabnya. Detik itu juga, dunianya telah berubah sepenuhnya. Ia bukan lagi gadis yatim piatu biasa yang bersembunyi di balik tumpukan buku perpustakaan suburban Toronto. Kini, ia telah resmi menjadi istri yang sah dari pria paling berkuasa di Noir Enterprises.

​Tirai pembatas perlahan digeser terbuka oleh Bibi Salma. Aisya dituntun melangkah keluar untuk menemui suaminya. Cassian berdiri dari duduknya, berbalik, dan untuk pertama kalinya ia menatap Aisya bukan lagi sebagai target operasional—melainkan sebagai wanita yang kini berada penuh di bawah perlindungan dan kuasanya.

​Sementara itu, di kantor pusat Noir Enterprises, amukan Rebecca Winston masih tertahan di dinding pembatas lantai eksekutif.

​"Sialan! Posisi GPS mobilnya tidak bisa dilacak?!" bentak Rebecca pada tim IT korporat melalui telepon genggamnya.

​"Maaf, Nona Winston, seluruh armada khusus Tuan Cassian menggunakan sistem enkripsi militer yang hanya bisa diakses oleh enkripsi pribadinya atau Kevin," lapor suara di seberang telepon dengan panik.

​Rebecca menghentakkan sepatunya ke lantai marmer dengan geram. Ia menoleh ke arah Alexander Noir yang baru saja keluar dari lift dengan wajah dingin yang tak terbaca.

​"Alexander, anakmu benar-benar keterlaluan! Dia sengaja mematikan pelacak dan menghilang di hari penting kita!" adu Rebecca, mencoba memprovokasi ayah Cassian.

​Alexander Noir hanya membetulkan posisi jam tangan mahalnya, lalu menatap Rebecca datar. "Tenang, Rebecca. Cassian adalah seorang Noir. Dia mungkin sedang bermain-main dengan egonya sebentar. Biarkan dia menikmati 'waktu bebasnya' hari ini. Besok malam adalah gala dinner ulang tahun korporasi, di mana seluruh dewan direksi dan media Kanada akan berkumpul. Dia tidak akan berani mempermalukan nama Noir di depan publik. Kita lihat kejutan apa yang sedang dia siapkan."

​Alexander tidak pernah tahu, dan Rebecca pun sama sekali tidak menyadari, bahwa hilangnya Cassian hari ini bukanlah sebuah pelarian kekanak-kanakan. Itu adalah persiapan untuk sebuah bom atom hukum yang akan diledakkan tepat di tengah-tengah acara mewah besok malam, langsung di hadapan publik dan seluruh keluarga besar Winston.

1
nur project
🫣🤫🤭 mereka butuh waktu berdua saja kk 🙂‍↔️😌🙂‍↕️
nur project
sabar kk sabar Cassian harus tobat dulu 😭🤣
nur project
tapi Aisya normal kk 150 botol yakult 😭 orang-orang diKanada-european tingginya 180 cm keatas wkkk ga jarang yang 190cm wkk😭
Ulvy Ahmad
honeymoon ya Thor Aisya dan cassian 🤣
Ulvy Ahmad
yang sabar aisya
Ulvy Ahmad
Aisya, teruslah berdoa untuk suamimu

semangat jg buat author nya 😍
Ulvy Ahmad
Aisya , please jgn dengerin omongan Julian dan Martha
Ulvy Ahmad
ngeselin si Martha 😏
Ulvy Ahmad
makin seru nih ceritanya
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
Ulvy Ahmad
suka SM sosok tuan noir
tegas dan bertanggung jawab
Ulvy Ahmad
lanjut thor yg banyak 😍
Ulvy Ahmad
keren cassian noir😍
Hatijah Cantik
Thor, hilangkan kecerobohan Aisya karna gak pernah ada orang celaka karna gamisnya , terlalu berlebihan.
nur project: Aisya ini anaknya clumsy yg sabar ya kaka insyaAllah baek2 aja Aisya 🤭😭
total 1 replies
Hatijah Cantik
kelamaan , jadi TDK sabar liat cassian jadi bucin
Hatijah Cantik
biarkan cassian melakukan keinginannya sampai dia merasa sakit hati dan kecewa karna ulahnya sendiri mempermainkan agama
Hatijah Cantik
bikin dia bucin ,Thor !
Hatijah Cantik
Thor tinggi Aisya jangan 150 dong , yg normallah 160 atau 165 , biar lebih natural biar ceritanya sesuai logika👍
Ulvy Ahmad
keren sii cara cassian melindungi Aisya
lanjut thor😍
Hatijah Cantik
semoga tdK ada mata mata tuan Alexander yg akan mengacaukan acara pas hari H .
Hatijah Cantik
membaca scene terakhir ......Ck.....Ck.....Ck kagum dgn argumen dan susunan kalimat tuan Noir ( tepatnya author ) 😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!