NovelToon NovelToon
Sweet Love

Sweet Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:562
Nilai: 5
Nama Author: Chocoday

Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.

“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”

Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.

Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karena Uang

Wanita dengan gamis motif bunga dan balutan kerudung segiempat itu baru saja keluar dari rumahnya.

"Tunggu!!" pinta seseorang yang kini berada di seberang rumahnya, "mau kemana kamu udah rapih?" tanyanya sembari menghampiri.

Riyani menatap lekat abangnya, "abang gak perlu tau. Itu bukan urusan abang."

"Ada apa ke sini? Belum kapok dimarahin tetangga neng?"

"Jadi kamu tau kalau abang dimarahin tetangga kamu kemarin?"

"Dan kamu diem aja?"

"Kurang ajar kamu ya!" maki Bang Ardi.

"Udah lah, Bang. Neng lagi buru-buru mau ketemu orang, Abang ada perlu apa?"

Bang Ardi baru saja akan berbicara, Riyani langsung menyelanya, "kalau tentang uang pinjaman, neng gak punya."

Riyani melengos pergi begitu saja, mencoba menghindari abangnya. Tapi dengan cepat, tangan bang ardi menahan tangan kecilnya itu.

"Gak usah bohong. Suami kamu dokter, pasti dia punya gaji lumayan kan. Jangan pelit deh! Dulu abang juga baik sama kamu, suka ngasih kamu uang jajan. Sekarang Abang pinjem loh ini bukan minta," ucap Bang Ardi.

"Lepasin, Bang." Riyani mencoba melepaskan genggaman tangan abangnya. Tapi tenaganya terlalu kuat. "Lepasin atau neng teriak biar orang lain tau kalau abang lagi melakukan kekerasan," ancamnya.

"Teriak aja! Abang gak takut," tantang Bang Ardi.

"TOLONG!!!!! TOLONG!!!!!"

Bang Ardi awalnya tidak mengira Riyani akan nekat berteriak. Nyatanya, wanita itu berteriak hingga tetangga yang mendengarnya keluar dari rumah—terutama Bu RT, yang rumahnya tepat diseberang rumah Riyani.

"Ada apa ini?" tanya Bu RT.

"Bu tolong, Bu. Orang ini bertindak kasar sama saya," pinta Riyani memelas.

Bu RT dengan jelas melihatnya, Bang Ardi sedang menggenggam kencang pergelangan tangan riyani. "Saya laporin kamu ke polisi ya kalau gak lepasin dia!"

"Bu, gak usah ikut campur. Dia adik saya, saya abangnya," ucap Bang Ardi.

"Bu, mana ada Abang yang bertindak kasar begini sama adik perempuannya, kalau dia waras," timpal Riyani.

Bang Ardi menoleh pada adiknya. "Kamu bilang Abang gila?"

"Iya, Abang gila!!" maki Riyani, "Abang udah gila karena istri abang itu. Lepasin, Bang!"

Bu RT kembali membantunya, bahkan ibu-ibu yang lain ikut membantu untuk mengusir Bang Ardi.

Pergelangan Riyani terlihat memerah bahkan hampir membiru. Untungnya, Bang Ardi berhasil diusir.

"Ibu-ibu makasih ya udah bantu saya. Maaf kalau saya jadi mengganggu!" ucap Riyani merasa tidak enak.

Bu RT tersenyum, "gak apa-apa, Neng. Di sini saling bantu orang-orangnya. Mau dia keluarga kamu atau bukan, yang namanya kekerasan itu gak baik."

Ibu-ibu yang lain mengangguk setuju.

Setelahnya, Riyani pamit—ia akan segera menemui Yanuar yang sudah menunggunya di butik.

...----------------...

Obrolan ke obrolan mulai terancang untuk bisnis dan kerjasama keduanya. Bahkan Yanuar meminta Riyani untuk menjadi catering di pernikahannya nanti.

"Kamu mau kan? Hitung-hitung sebagai promosi catering kamu juga,"

Riyani mengangguk. "Boleh, nanti kalau udah fiks sama menunya, aku bakal ajak Kakak buat ketemu sama nenek aku."

Yanuar mengangguk setuju.

Di tengah obrolan itu, pintu butiknya dibuka seseorang. Laki-laki yang terlihat panik mencari seseorang.

"Aa!?" panggil Riyani kebingungan. Mengapa suaminya ada di sini? Padahal dia sudah menghubunginya dan akan pulang sendiri.

Hanif mendekat padanya. Ia tarik tangan istrinya dengan lembut, dilihatnya bekas cengkraman bang Ardi tadi. "Udah selesai urusannya? Kita pulang yuk! Obati tangan kamu."

"Aa tau darimana tangan aku luka?" tanya Riyani.

"Dari saya. Tadi saya liat tangan kamu sedikit memar, makanya saya bilang ke Hanif," timpal Yanuar.

"Udah selesai kan obrolan kalian? Gw mau ajak pulang,"

Yanuar mengangguk, "kita bisa lanjut obrolannya nanti lagi kok. Sekarang udah selesa."

Hanif langsung mengajak istrinya untuk pulang. Ia juga memakaikan helm dan mengambil tas yang digenggam istrinya.

Riyani menahan senyumnya, "Aa.... neng masih bisa pegang tas kok."

Hanif melingkarkan tangan istrinya pada perutnya.

"Tangan kamu peluk aku aja."

Motor melaju cukup kencang. Hanya dengan beberapa menit saja, pasutri itu sudah sampai di rumahnya.

Hanif mengambil es batu, ia tutup dengan kain agar tidak terlalu dingin.

"Sini tangannya! Aa kompres."

Dengan pelan nan lembut, pergelangan tangan itu mulai dingin, mulai terasa membaik dan tidak bengkak.

"Ini kenapa?"

Riyani terdiam.

"Jujur sama Aa," tekan Hanif dengan tatapan dinginnya.

"Tadi Bang Ardi—"

"Jadi ini karena abang kamu? Masih karena uang yang gak kamu kasih itu?" tanya Hanif.

Riyani mengangguk.

"Kalau tau kamu bakal celaka begini, Aa kasih aja uangnya," ucap Hanif.

Riyani menoleh pada suaminya.

"Jangan!! Sayang uangnya, gak bakal balik kalau dipinjam sama dia."

"Daripada kamu begini, Neng. Tau gak gimana paniknya Aa pas liat foto yang dikirim sama Yanuar? Aa dari rumah sakit aja pontang-panting karena takut kamu kenapa-napa," ucap Hanif.

"Iya Neng tau Aa bakal khawatir. Tapi Bang Ardi gak bakal berani ke sini lagi, tadi Neng juga dibantuin sama Bu RT juga tetangga lainnya," ucap Riyani.

"Iya sekarang, lain kali gimana?"

"Gak ada lain kali, Aa," timpal Riyani meyakinkan suaminya.

Hanif menghela napasnya.

"Lain kali kalau ada apa-apa kasih Aa coba. Masa Aa denger kabar dari Yanuar."

"Tadi gak kerasa apa-apa. Dikira cuman merah aja, Neng juga tadinya mau minta diobati sama dokter ganteng ini,"

"Kamu gak usah gombal ya. Aa tetep marah sama kamu,"

"Ih Aa!!" ucap Riyani, "Jangan marah dong suamikuuuuu!! emmm... ya!!" bujuk Riyani dengan gelendotan pada lengan suaminya.

Hanif mendecak.

"Emang paling pinter kalau ngebujuk orang."

Riyani tersenyum, ia kecup pipi suaminya lalu pergi masuk ke kamar.

...----------------...

Jam menunjukkan pukul 8 malam, Riyani baru saja berganti pakaian setelah memasak dan makan malam bersama suaminya. Ponsel wanita itu berdering—tanda panggilan masuk dari seseorang.

Nama kontak tertera cukup besar di layarnya.

"BAPAK"

Riyani menghirup napas panjang lebih dulu sebelum menyambungkan panggilannya.

"Assalamualaikum, Pak."

(Waalaikumsalam, Neng. Bang Ardi ada di situ gak?)

"Gak ada, Pak."

(Dia tadi pagi pamit mau ke kamu, masa gak ada di sana. Dia pergi kemana kalau gak ke rumah kamu?)

"Ya gak tau, Pak. Bang Ardi juga bukan anak kecil lagi, dia juga punya hp. Ngapain hubungi Neng kalau bapak gak percaya. Perlu video call sama Neng biar bapak percaya?"

(Neng, kok kamu nyolot sih?)

"Bukan nyolot, Pak. Tapi bapak hubungi aku setidaknya basa-basi dulu keadaan aku gimana. Malah langsung tanyain abang. Bapak gak kangen sama aku?"

Bapak sempat terdiam.

(Itu karena khawatir sama Abang, Neng. Kamu baik?)

"Udah lah, Pak. Intinya abang gak ada di sini. Dan tolong bilangin sama abang, kalau Neng gak akan pinjemin dia uang."

(Kamu tega sama Abang kamu?)

"Dia aja tega aku pindah dari rumah itu. Ngapain juga harus gak tega sama orang yang tega sama aku? Perlakukan orang lain sebagaimana orang lain itu memperlakukan kita."

Riyani langsung memutus panggilannya. Tidak peduli dengan tanggapan bapaknya bagaimana nanti.

"Dia mau putus hubungan ya?"

"Gak tau diri banget."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!