NovelToon NovelToon
Monster Pedang Gerbang Timur

Monster Pedang Gerbang Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Ahli Bela Diri Kuno / Fantasi Timur
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muzu

Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.

Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.

Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.

Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sambutan Hangat

Seperti seorang bocah yang baru mendapatkan mainan, pandangan Qin Zhao terus menjelajah seisi keramaian kota hingga meluas sampai ke wilayah Sekte Laut Naga Timur. Salah satu sekte terbesar yang berada di wilayah timur Kekaisaran Qin.

“Aku baru melihat wilayah sekte ternyata sepenuhnya tertutupi array formasi,” gumamnya.

Qin Zhao tidak berniat untuk mengintip aktivitas di sana. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah pelabuhan yang lengang. Tidak ada kapal yang menepi dan tidak ada hiruk pikuk yang dilihatnya di sekitar pelabuhan.

Pandangannya kini tertuju ke arah lautan dan terus meluaskan jangkauan.

Kemampuan jelajahnya seperti sedang mengecilkan skala alam. Qin Zhao tak berhenti untuk terus melihat sejauh mana kedua matanya menelusuri samudera.

“Nyonya, berapa tamu yang bisa kita tampung?” tanya Qin Zhao begitu melihat ratusan kapal yang melintasi samudera.

“Kurang lebih dua ratus lebih tamu yang bisa kita tampung. Kenapa, Tuan?” balas Zhi Ruo. Ia masih sibuk menyeleksi calon pegawai.

“Sebentar, Nyonya. Aku ingin tahu seberapa banyak mereka.” 

Satu kapal yang berlayar paling depan dipindainya. Di dalam kapal berisi banyak prajurit yang sedang duduk di hadapan seorang komandan yang sedang memberikan arahan. Qin Zhao kemudian menghitungnya.

“Satu kapal berisi kurang lebih seratus orang. Jika ada seratus kapal, berarti jumlah mereka mencapai sepuluh ribu orang. Melihat bendera yang berkibar di tiang, mereka semua prajurit dari Kekaisaran Dazin.”

Zhi Ruo yang mendengarnya merasa panik. Ia teringat berita dari pelayannya yang mengabarkan bahwa Kekaisaran Dazin menginvasi beberapa kota di perbatasan.

“Tuan, sepertinya mereka akan menuju ke Kota Feiyun. Aku dengar tiga kota di arah selatan sudah direbut mereka.”

Qin Zhao tidak begitu terkejut. Sebagai orang yang pernah berada di istana, ia tahu kekuatan dari Kekaisaran Qin mampu menghalau musuh dari luar.

“Biarkan saja, itu menjadi urusan istana,” ujar Qin Zhao tidak peduli.

“Tapi, Tuan. Semua logistik paviliun kita berasal dari sana.” Hal inilah yang menjadi kekhawatiran Zhi Ruo.

Namun, Qin Zhao masih menyikapinya dengan tenang. Ia kemudian bertanya, “Apa ada informasi perihal serangan dari Kekaisaran Dazin?”

“Tidak ada, Tuan. Kemarin pelayan yang biasa bertugas membeli bahan tidak menceritakan apa pun. Sepertinya pejabat di Kota Feiyun belum mengetahuinya,” balas Zhi Ruo semakin khawatir.

Berdasarkan jarak dari posisi kapal yang berlayar dengan pelabuhan kota, Qin Zhao merasa para pejabat kota masih memiliki waktu yang cukup singkat untuk menindaklanjutinya.

Qin Zhao melanjutkan ucapannya, “Masih ada waktu sekitar dua hari sebelum mereka sampai di pelabuhan. Tugaskan beberapa orang dari kita untuk pergi ke sana. Pastikan persediaan kita cukup untuk beberapa bulan ke depan.”

“Baik, Tuan.” Secepatnya Zhi Ruo memanggil anak buahnya untuk pergi ke Kota Feiyun.

***

Dua hari kemudian, kapal-kapal perang dari Kekaisaran Dazin yang diperkirakan menepi di pelabuhan Kota Feiyun ternyata terus melaju ke wilayah timur.

“Sepertinya mereka akan menjadikan Gerbang Timur sebagai pangkalan militer sebelum menginvasi Kota Feiyun,” gumam Qin Zhao, ia tersenyum senang melihatnya.

“Nyonya, bersiaplah. Mereka akan bertamu di tempat kita,” kata Qin Zhao yang kembali membuat panik Zhi Ruo.

“Tu … Tuan. Benarkah?” tanya Zhi Ruo sedikit gugup. Ia yang sedang bermeditasi pun terpaksa membuka mata dan melayang terbang di atas paviliun untuk melihatnya.

“Ya ampun, mereka sangat banyak,” ucap Zhi Ruo begitu melihat ratusan kapal layar mulai mendekat ke zona bebas.

“Ya. Ini kesempatan kita menguras habis harta mereka.” Qin Zhao melihatnya sebagai harta yang berjalan.

“Mereka sangat banyak, Tuan. Bagaimana bisa Tuan berpikir begitu?” Agak kesal juga Zhi Ruo dengan pemikiran tuannya.

“Tenang, Nyonya. Kalau mereka tidak mau menghabiskan uang di tempat kita, kita habisi saja nyawa mereka!” balas Qin Zhao bersemangat.

“Ta … tapi, Tuan.”

“Tenang, Nyonya. Aku punya rencana.”

Tidak ada lagi yang bisa dikatakan Zhi Ruo selain mengiyakan tuannya.

Tepat ketika matahari terbit, ratusan kapal menepi di bibir pantai wilayah zona bebas. 

Satu per satu dari ribuan pasukan Kekaisaran Dazin mulai berbondong-bondong meninggalkan kapal dan berjalan menembus kabut hutan sebelum tiba di ambang Gerbang Timur.

“Nyonya, jangan lupa memberikan sambutan hangat kepada tamu-tamu kita,” ujar Qin Zhao mengingatkan.

“Tuan, aku gugup,” balas Zhi Ruo.

“Nyonya takut apa?” tanya Qin Zhao heran.

Kali ini Zhi Ruo tidak mau menjawabnya. 

Derap langkah kaki dari ribuan prajurit yang semakin kentara hingga membuat tanah bergetar keras membuat jantung Zhi Ruo berdetak tak karuan. 

Meskipun dirinya berada di ranah foundation establishment tengah, menghadapi ribuan prajurit ibarat seekor kodok yang memasuki sarang lebah.

“Lihat di sana!” tunjuk seorang komandan yang berjalan paling depan. “Ada bangunan besar yang bisa kita tempati!” serunya.

Ratusan prajurit yang berjalan di belakangnya serentak menoleh ke arah paviliun.

“Ha-ha-ha! Ini ibarat sedang ngantuk dikasih bantal,” timpal seorang komandan lainnya.

Dua orang komandan berbadan tegap melangkah cepat ke arah pintu paviliun, dan disambut dengan ramah oleh seorang gadis pelayan. 

“Selamat datang di Paviliun hitam,” sapa si gadis.

“Ha-ha-ha! Kau lumayan cantik. Panggil teman-temanmu yang cantik untuk melayani kami semua!” pinta si komandan sambil meremas bagian berharga si gadis dan mendorongnya dengan kasar hingga tubuh si gadis tersungkur jatuh.

Sontak saja kejadian itu membuat para prajurit yang berada di luar pintu tertawa girang.

“Di mana bos kalian? Suruh turun dan temui kami di sini!” titah kasar seorang komandan sambil mencekik leher seorang pelayan pria lalu melemparkannya ke dinding.

Zhi Ruo yang mendengar kejadian itu bergegas turun dengan wajah yang menyembunyikan kemarahan.

“Tuan, ada yang bisa kami bantu?” ucapnya ramah.

Kedatangan Zhi Ruo membuat puluhan pasang mata yang berkerumun di aula utama paviliun mencelat.

“Jangan berani menyentuhnya! Wanita itu milikku,” ujar seorang jenderal berjanggut merah yang dikepang. Ia melangkah menghampiri Zhi Ruo.

“Nyonya pemilik tempat ini?” tanya sang jenderal seraya memindai kekuatan di tubuh sang puan.

“Aku hanya pengelola tempat ini,” jawab Zhi Ruo tenang.

“Aku Lubuo, jenderal Kekaisaran Dazin. Aku butuh lima kamar terbaik untuk para jenderal dan 40 kamar untuk para komandan. Semua kamar harus disertakan gadis-gadis cantik dan anggur terbaik. Dan kau harus melayaniku dengan baik,” pintanya.

“Baik, Tuan, akan kami persiapkan. Biayanya sehari sepuluh tael emas,” balas Zhi Ruo.

“Apa?” kaget Lubuo mendengarnya. “Apa kau ingin merampok kami semua?” imbuhnya seraya mencondongkan wajah dengan mata melotot.

Zhi Ruo masih tenang.

“Ha-ha-ha! Kau tidak melihat situasimu, Nyonya! Membiarkanmu hidup sudah menjadi bayaran mahal dari kami. Kau beraninya meminta bayaran pada kami. Cih!” murka sang jenderal sambil mengapit dagu Zhi Ruo.

“Kalau begitu, silakan kalian pergi!” usir Zhi Ruo dengan tegas.

Puluhan orang yang berada di aula paviliun tertegun mendengarnya lalu mereka semua terbahak-bahak mentertawakannya.

“Habisi semua pria dan gilir semua gadis sampai mereka memohon kematian!” seru jenderal lainnya yang disoraki semua prajurit.

Dari kejauhan, Qin Zhao kesal melihat anak buahnya dilecehkan. Namun, ia belum bertindak. Sampai saat ini ia masih mengamati para prajurit yang terus meninggalkan kapal.

“Kalian lambat sekali!” ketusnya. “Aku sudah tidak sabar untuk mengambil perbekalan kalian.”

Setelah semua prajurit pergi dan hanya meninggalkan awak kapal, Qin Zhao mulai sibuk memindahkan semua logistik yang berada di lambung kapal hingga ludes tak tersisa.

“Akhirnya semua logistik berhasil aku ambil, hehe,” kekeh Qin Zhao setelah memindahkan semuanya ke alam dimensi.

“Tuan, apa tidak ada daging buat kami?” tanya Goziro.

“Belum ada,” balas Qin Zhao cepat.

Ia kemudian menarik semua anak buahnya yang berada di paviliun ke tempatnya di area dalam wilayah Gerbang Timur.

“Maaf membuat kalian semua khawatir,” kata Qin Zhao lalu melirik Zhi Ruo yang matanya sembab.

“Nyonya, lapisi array formasi di sekitar sini,” pinta Qin Zhao.

Zhi Ruo mengangguk lalu melapisi array formasi untuk melindungi semua anak buahnya. 

“Tuan, mereka sangat kurang ajar. Aku tidak tahan ingin membunuh mereka semua,” keluh Zhi Ruo.

Qin Zhao menyeringai dingin mendengarnya.

“Membunuh mereka terlalu mudah, aku ingin membuat mereka menyesal datang ke wilayah kita,” ucapnya dengan sorot mata yang tajam.

“Apa yang Tuan rencanakan?” Zhi Ruo penasaran. 

“Rahasia,” jawab Qin Zhao datar. “Sebentar lagi mereka akan ribut,” imbuhnya kemudian.

“Karena terkejut tidak ada orang di paviliun?” tebak Zhi Ruo.

“He-he!” Qin Zhao malah nyengir.

Di dalam paviliun, para jenderal mengamuk begitu Zhi Ruo dan semua pelayan tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

“Sial, apakah mereka semua hantu?” geram Lubuo yang kehilangan wanita incarannya.

“Kita yang berada di ranah golden core tidak bisa merasakan jejak mereka. Sangat memalukan!” timpal jenderal lainnya.

Tak lama berselang, teriakan dari arah hutan menggema. Para nahkoda kapal berlarian sambil berteriak lantang, “Semua logistik kita hilang!”

Damn!

Semua orang gempar mendengarnya. Para jenderal yang masih tersulut emosi semakin mendidih darahnya. 

“Bajingan! Siapa yang berani mencuri logistik kita?” geram Lubuo. Ia berlari keluar paviliun lalu menarik seorang nahkoda kapal yang baru saja tiba.

“Bagaimana mungkin logistik kita hilang?” geramnya lalu mencekik leher si nahkoda hingga mengembuskan napas terakhir.

Lubuo yang dilanda emosi melayang terbang ke arah laut untuk memastikannya. 

Wajahnya yang sudah merah karena emosi, kini menjadi semakin pekat begitu melihat kepulan asap membumbung tinggi.

Ratusan kapal yang berlabuh di tepi laut sedang dilahap si jago merah.

“Haaaaa!” pekiknya lantang. “Siapa yang membakar kapal?”

1
Didi h Suawa
kacau fiksinya,🤭🤭🤭
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: 😄😄😄😄 maafkan 🙏 di sini MC lg masa transisi sebelum dapat kekuatan yang sesungguhnya
total 1 replies
soegiman aja
kok jadi gini?😄😄
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: itu bab penggiringan, Ka. Terima kasih sudah berkenan mampir 🙏
total 1 replies
RN
di tunggu fantasi lokal nya bg biar kaga belibet nyebut nn nya🤣
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: 😄😄😄 nanti ya
total 1 replies
RH
lanjut thor, udah ngasi gift nih👍
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: terima kasih, Ka. Maaf kemarin ga sempat up, agak sibuk di rl 😄
total 1 replies
RH
jdi inget wedang😄
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: wedang jahe diminum pas lg ujan, enak tuh 😄
total 1 replies
Quinnela Estesa
kak Muzu😊 sesekali dong buat Fantasi Barat.
〈⎳ 小祖🍒⃞⃟🦅: Aku kurang suka sama fantasi barat 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!