NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan

Jari-jari Vandini melingkar di sekitar cangkir teh yang masih hangat. Ia mendengarkan suara Satura yang terdengar pelan dan ragu-ragu.

Mereka sudah sering bertemu di kafe kecil ini, tapi suasana hari ini terasa berbeda. Ada banyak hal yang selama ini tak terucapkan dan menjadi jarak di antara mereka.

"Vandini," suara Satura bergetar pelan. "Aku mau kamu tahu... ini bukan sekadar minta maaf. Aku sadar itu nggak cukup. Aku sedang berusaha memperbaiki diri. Aku sudah mulai terapi."

Mata Vandini membesar sedikit. Ia semakin menggenggam cangkir itu erat-erat karena kaget. Ia sama sekali tidak tahu kalau Satura melakukan hal itu.

Selama ini pria itu menjaga jarak dan menghormati permintaannya untuk diberi waktu. Kini Satura hadir menawarkan sesuatu yang tak pernah ia duga sama sekali.

"Awalnya aku ikut terapi karena... ya, awalnya sih cuma mau memperbaiki hubungan kita," lanjut Satura. Matanya menunduk menatap tangan yang gugup memilin ujung serbet di meja.

"Tapi ternyata lebih dari itu. Aku mulai ngerti banyak hal tentang diriku sendiri, hal-hal yang selama ini aku hindari. Bahkan, banyak banget yang aku bahas soal orang tuaku."

Vandini menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak campur aduk antara marah, sedih, dan secercah harapan yang tak berani ia akui. Satura sangat jarang bercerita soal keluarganya, apalagi sedalam ini.

"Orang tuamu?" tanya Vandini lembut. Nada suaranya terdengar penasaran.

Satura mengangguk. Wajahnya tertutup kesedihan yang mendalam. "Iya. Aku baru sadar ternyata banyak sifat Bapak yang terbawa ke dalam diriku, padahal dulu aku bersumpah nggak akan jadi kayak dia... Aku takut banget jadi sosok seperti dia, tapi nyatanya aku malah terjebak dalam pola yang sama."

Vandini menatapnya lekat-lekat. Tenggorokannya terasa tercekat saat mencerna setiap kata yang keluar dari mulut pria itu.

Ini bukan Satura yang biasa ia kenal. Bukan sosok yang selalu punya jawaban atau suka mengalihkan topik saat mereka bertengkar. Ini adalah pria yang berani mengakui kesalahan dan menghadapi masa lalunya.

"Aku tahu semua ini nggak bisa menghapus apa yang sudah aku perbuat," suara Satura terdengar parau. "Masa lalu nggak bisa diubah. Tapi aku benar-benar berusaha, Van. Aku mau ngerti apa yang salah sama diriku, kenapa aku gagal jadi sosok yang aku janjikan buat kamu. Terapi ini bikin aku sadar soal hal-hal yang udah lama aku tutupin."

Hati Vandini terasa diremas. Ia memang tahu kalau hubungan Satura dengan keluarganya tidak baik-baik saja dan ada beban masa lalu yang jarang diceritakan.

Namun melihatnya sekarang yang begitu terbuka dan mengakui luka lama, membuat Vandini ikut merasa sakit. Ia turut bersedih membayangkan Satura kecil yang dipaksa melihat kepahitan dalam keluarganya.

Tapi sebesar apa pun rasa iba itu, Vandini tak bisa menepis api amarah yang masih membara di dadanya. Pengakuan dan rasa sakit masa lalu Satura tidak serta-merta menghapus luka yang ia torehkan.

Meskipun ia terbentuk dari pola keluarga yang buruk, Satura tetaplah orang dewasa yang bertanggung jawab atas setiap pilihannya sendiri.

Pengkhianatan itu masih terasa sangat segar dan perih. Vandini tak bisa begitu saja melupakan malam-malam yang ia lewati tanpa tidur dan pagi-pagi saat ia harus memaksakan senyum di hadapan anak-anak.

"Aku turut prihatin, Satura," bisik Vandini, suaranya bergetar. "Aku sedih denger apa yang kamu alami. Cara Bapakmu... membentukmu jadi kayak gini, mau atau nggak."

Satura menatapnya. Matanya berkaca-kaca penuh rasa terima kasih dan sedih. Namun kata-kata itu bukanlah jembatan, hanya sekadar pengakuan akan rasa sakit yang pernah ia rasakan.

"Tapi," lanjut Vandini dengan nada yang lebih tegas dan tatapan yang tak bergeming. "Itu nggak mengurangi rasa sakitku. Kamu nyakitin aku dengan cara yang bahkan aku nggak bisa jelasin."

Ia berhenti sejenak, menelan ludah untuk menahan tangis yang ingin meledak. "Aku nggak bisa maafin kamu cuma karena aku kasihan sama masa lalumu. Kamu khianatin aku, dan itu bukan sesuatu yang bisa aku... abaikan gitu aja."

Satura mengangguk pelan. Bahunya terlihat semakin merosot lemas menerima kenyataan. "Aku tahu. Aku nggak nuntut kamu langsung maafin aku. Aku sadar aku nggak pantas dapetin itu, Van. Aku harus tanggung akibat dari perbuatanku sendiri."

Keheningan menyelimuti mereka berdua. Untuk beberapa saat tak ada yang bersuara. Di antara mereka terbentang jarak yang dipenuhi sisa cinta, namun juga dinding kecewa yang kokoh memisahkan.

"Aku ngerti apa yang udah aku hancurin," ucap Satura akhirnya. Suaranya berat penuh penyesalan. "Aku bakal terus berbenah, dan aku siap nunggu selama apa pun, Vandini. Walaupun mungkin hari itu nggak bakal pernah datang, aku bakal terus usaha buktiin kalau aku beneran mau berubah."

Vandini menunduk. Ia mengedipkan mata agar air matanya tak jatuh, berusaha menyeimbangkan rasa iba dengan amarah yang masih membara.

Ia bisa melihat jelas bagaimana luka masa kecil itu terbawa hingga dewasa dan membuatnya mengulangi kesalahan yang sama. Tapi pengetahuan itu tak lantas membuat lukanya sembuh.

Vandini merasa terbelah di antara dua perasaan. Satu sisi ingin meraih tangannya dan membantu ia sembuh, sisi lain berteriak mengingatkan pada setiap kebohongan dan rasa kecewa yang pernah ada.

"Mungkin suatu hari nanti," bisik Vandini pelan. "Mungkin suatu hari aku bisa lihat kamu tanpa rasa sakit ini. Tapi mungkin juga aku nggak bakal pernah bisa maafin kamu sepenuhnya, Satura. Aku harap kamu ngerti itu."

Satura mengangguk perlahan. Sinar harapan di matanya perlahan memudar.

"Aku ngerti," jawabnya lirih. Suara itu terdengar pasrah sekaligus menanggung beban kesalahan yang ia buat sendiri.

1
Eva Rosita
bagus
Fifi: makasi,kak 🥰
total 1 replies
Uthie
bertahan wanita hebat 👍👍😡
Uthie
bangkit lah wanita-wanita hebat yg tersakiti oleh pasangan gak tau diri kalian 👍😡😡
Uthie
mungkin kondisi di jaman sekarang yaa... yg sewajarkan apa yg terlihat saja, namun main di belakang ☹️
Uthie
sakit banget itu pasti... sesak 😢
Uthie
Mampir 👍👍👍👍
Fifi: makasih kak, udah berkenan mampir🙏😍
total 1 replies
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!