Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.
Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.
"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."
"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.
Happy reading 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Mobil Rolls-Royce hitam itu meluncur membelah jalanan Los Angeles dengan keheningan yang berbeda.
Jika sebelumnya keheningan itu dipenuhi oleh ketegangan seksual, kali ini ada beban berat yang menggelayuti pundak Briella.
Di kursi belakang, Lexington menggenggam jemari Briella erat, ibu jarinya mengusap punggung tangan istrinya dengan ritme yang menenangkan.
"Kau tampak gelisah, Bri," bisik Lexington. "Apakah karena tanda di dadamu itu? Aku bisa meminta Hadiyan membeli syal jika kau mau."
Briella menggeleng pelan. "Bukan itu, Lex. Ponselku... sejak tadi bergetar. Tapi aku takut untuk membukanya."
"Siapa? Pasienmu?"
"Ayahku," jawab Briella singkat, suaranya nyaris hilang.
Tiba-tiba, ponsel di pangkuan Briella menyala. Sebuah pesan singkat masuk, namun isinya cukup untuk membuat jantungnya berhenti berdetak: "Pulang ke kediaman Xander sekarang. Atau jangan pernah panggil aku Ayah lagi."
Wajah Briella mendadak pucat pasi. Lexington yang melihat perubahan drastis pada istrinya segera mengambil ponsel tersebut dan membaca pesannya.
Rahangnya mengeras. Ia menoleh pada asistennya di depan. "Hadiyan, putar balik. Kita ke kediaman Xander."
Kediaman keluarga Xander tidak semegah Mansion Valerio yang modern dan dingin. Rumah itu adalah sebuah bangunan kolonial tua yang kokoh, penuh dengan sejarah dan kehormatan. Namun, sore itu, udara di sana terasa lebih mencekam daripada ruang pengadilan mana pun.
Saat Briella dan Lexington melangkah masuk, mereka disambut oleh keheningan yang mematikan. Di ruang tamu utama, seorang pria paruh baya dengan aura otoritas yang kaku duduk di kursi besarnya. Johan Xander. Di sampingnya, sang ibu, Aluna, tampak cemas dengan mata yang sembab.
Johan tidak berdiri. Ia hanya menatap tajam ke arah tangan Lexington yang masih menggenggam erat tangan Briella.
"Lepaskan tanganmu dari putriku, Tuan Valerio," suara Johan terdengar rendah namun menggelegar seperti guntur di kejauhan.
Lexington tidak bergerak. Ia justru mempererat genggamannya. "Briella adalah istri sah saya, Tuan Xander. Saya rasa saya memiliki hak untuk menggenggam tangannya di mana pun."
BRAK!
Johan menggebrak meja jati di depannya hingga cangkir teh di sana berdenting keras. Ia berdiri, matanya memerah karena amarah yang sudah mencapai puncak.
"Istri sah?! Kau menyebut pernikahan lelucon yang kau lakukan tanpa izin, tanpa restu, dan hanya untuk menutupi skandal murahanmu itu sebagai pernikahan sah?!"
"Ayah, kumohon..." Briella mencoba bicara, namun suaranya tercekat.
"Diam, Briella!" potong Johan tajam. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi? Keluarga Valerio memang keluarga yang luar biasa. Mereka kaya, mereka berkuasa, dan ya... mereka orang-orang yang baik secara sosial. Tapi mereka adalah predator, Briella! Terutama pria di sampingmu ini."
Johan melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Lexington yang tingginya hampir menyamai dirinya. "Lima tahun lalu, pria ini membuangmu seperti sampah hanya karena sebuah mainan plastik yang pecah. Dia menghina intelektualitasmu, dia meremehkan keberadaanmu. Dan sekarang, setelah kau berhasil membangun kariermu sendiri, dia datang kembali dan menarikmu ke dalam pusaran kegilaannya hanya untuk menyelamatkan mukanya?"
"Saya mencintainya, Tuan Xander," ucap Lexington tenang, meski tatapannya tak kalah tajam. "Kesalahan lima tahun lalu adalah penyesalan terbesar hidup saya. Dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi lagi."
"Cinta?!" Johan tertawa sinis. "Seorang Valerio tidak mengenal cinta, mereka hanya mengenal kepemilikan. Kau menikahi putriku karena kau tidak bisa mengendalikannya saat dia mengacaukan namamu."
Johan berbalik menatap Briella, wajahnya yang keras mendadak melunak oleh rasa kecewa yang mendalam. "Briella, Ayah membesarkanmu untuk menjadi wanita yang bermartabat. Ayah mendukungmu menjadi dokter agar kau tidak perlu bergantung pada pria mana pun, terutama pria yang pernah menginjak-injak hatimu."
Pilihan itu akhirnya keluar dari mulut Johan Xander, sebuah kata-kata yang tidak pernah disangka oleh siapa pun di ruangan itu.
"Sekarang, pilihlah," ucap Johan dingin. "Tetaplah bersama Lexington Valerio yang angkuh ini, jadilah bagian dari dinastinya yang penuh kepalsuan, dan lupakan bahwa kau memiliki keluarga Xander. Atau, kau lepaskan cincin itu sekarang, pulang ke rumah ini, dan kita selesaikan perceraian ini secara terhormat."
Briella terpaku. Dunianya seolah terbelah menjadi dua. Di satu sisi, ada Lexington—pria yang baru saja memberikan malam pertama yang penuh gairah, pria yang secara posesif melindunginya, namun juga pria yang memberinya luka masa lalu yang belum kering. Di sisi lain, ada Ayahnya—pria yang selalu menjadi pelindungnya, keluarga yang selalu menjadi tempatnya pulang.
"Ayah, ini tidak adil..." bisik Briella.
"Hidup tidak pernah adil, Briella," sahut Johan. "Pilih sekarang. Valerio, atau Xander. Jika kau melangkah keluar dari pintu ini bersama pria itu, maka semua asetmu di bawah nama Xander, namamu di silsilah keluarga, dan hubungan kita sebagai ayah dan anak... berakhir hari ini."
Lexington merasakan jemari Briella mulai bergetar dalam genggamannya. Untuk pertama kalinya, Lexington merasa tidak berdaya. Ia bisa meretas sistem keamanan tercanggih, ia bisa merancang mesin paling rumit, namun ia tidak bisa meretas hati seorang ayah yang terluka demi putrinya.
"Bri..." Lexington berbisik, menatap istrinya. "Apa pun pilihanmu... aku..."
Lexington tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ego Valerio-nya ingin berteriak agar Briella tetap bersamanya, namun melihat air mata Briella yang jatuh, ia tersadar bahwa kecerobohannya di masa lalu telah menciptakan lubang yang terlalu besar untuk ditutup hanya dengan satu malam pernikahan.
Briella menatap cincin berlian di jarinya, lalu menatap tanda kemerahan di dadanya yang mulai tersembunyi di balik kerah jasnya. Ia kemudian menatap Ayahnya yang berdiri dengan harga diri yang teguh.
"Ayah benar," ucap Briella tiba-tiba, suaranya mendadak stabil namun dingin.
Lexington menegang. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Lima tahun lalu, dia memang membuangku," lanjut Briella. Ia melepaskan genggaman tangan Lexington secara perlahan. "Dia memang angkuh, dia egois, dan dia memperlakukanku seolah aku adalah unit yang rusak."
Lexington memejamkan mata, bersiap untuk merasakan hantaman kehilangan yang kedua kalinya.
"Tapi Ayah..." Briella melangkah maju, mendekati Johan. "Ayah juga mengajarkanku bahwa seorang Xander tidak pernah lari dari peperangan. Menikah dengannya adalah peperanganku. Jika aku pergi sekarang, aku akan selamanya menjadi 'si ceroboh' yang melarikan diri."
Briella berbalik, menatap Lexington dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lexington Valerio, kau dengar pilihan Ayahku? Dia ingin aku meninggalkanmu."
"Dan apa pilihanmu, Briella?" tanya Lexington dengan suara parau.
Briella tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah kembali ke arah Lexington, meraih kerah jas suaminya, dan menciumnya tepat di depan mata Johan Xander. Sebuah ciuman yang singkat, namun penuh dengan tantangan.
"Aku tetap istrimu," bisik Briella di depan bibir Lexington. "Tapi jangan senang dulu. Aku memilihmu bukan karena aku memaafkanmu, tapi karena aku ingin kau menyaksikan bagaimana si ceroboh ini akan menghancurkan kesempurnaanmu setiap hari."
Briella menoleh pada Ayahnya. "Maafkan aku, Ayah. Aku memilih menjadi Valerio. Bukan karena aku tidak menyayangi Ayah, tapi karena aku harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Jika Ayah ingin membuangku... lakukanlah."
Johan Xander terdiam, wajahnya mengeras sebelum akhirnya ia berpaling. "Pergi. Pergi dari rumah ini, Briella. Dan kau, Valerio... jika setetes saja air mata putriku jatuh lagi karena ulahmu, aku tidak peduli seberapa kuat dinastimu, aku akan meratakannya dengan tanah."
Lexington mengangguk hormat, sebuah rasa lega sekaligus beban baru menghujam dadanya. Ia merangkul bahu Briella dan membawanya keluar dari kediaman Xander.
Di dalam mobil, Briella langsung menangis tersedu-sedu di dada Lexington. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang, Lex... Kau puas?"
Lexington memeluknya sangat erat, mencium puncak kepalanya dengan penuh penyesalan yang mendalam. "Kau punya aku, Bri. Seluruh duniaku adalah milikmu sekarang. Dan aku bersumpah demi nyawaku, Ayahmu tidak akan pernah mendapatkan alasan untuk membunuhku, karena aku akan menjagamu lebih dari aku menjaga jantungku sendiri."
Namun, di balik pelukan itu, Lexington tahu... perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Bukan hanya perang melawan keluarga Xander, tapi perang untuk memenangkan kembali hati istrinya yang kini memilih bersamanya hanya untuk membalas dendam dengan cinta yang rumit.
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya