NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15 — Berhasil, Raja Obat Kecil Lainnya!

Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya menyingsing, Li Yao sudah kembali ke lembah air terjun.

Kabut masih tebal, menutupi kolam dan tebing-tebing di sekitarnya. Udara dingin menusuk pori-pori. Suara air terjun jatuh terdengar seperti bisikan terus-menerus. Di tengah kabut itu, sesekali terlihat kedipan api biru dari ekor singa hitam—masih menyala, masih terjaga, meskipun pemiliknya tampak terlelap.

Li Yao sudah menyusun rencana sejak semalam. Tidak ada teknik rumit, tidak ada jurus apapun. Hanya satu prinsip, kecepatan! Ia akan berlari sekencang mungkin, memetik buah dalam satu gerakan, lalu terbang rendah menembus kabut menuju tebing di belakang air terjun.

Dari peta yang Li Yao pelajari, di balik tebing itu ada jalur sempit menuju pegunungan tandus. Tubuh singa api yang terlalu besar kemungkinan tidak akan bisa melewati celah itu.

Tidak ada jaminan, tapi setidaknya ada harapan.

Ia menarik napas panjang.

Kabut mulai menipis.

Sekarang!

Li Yao melompat.

Tubuh Kekacauan-nya melepaskan energi spiritual yang terkumpul semalaman dalam satu dorongan. Tanah di bawah kakinya retak ringan. Ia melesat seperti anak panah, melompati bebatuan, menyeberangi aliran tipis. Begitu kakinya meninggalkan tanah untuk kedua kalinya, Li Yao melesat terbang.

Li Yao melayang rendah, setengah meter di atas tanah, cukup untuk menghindari akar-akar dan batu-batu tajam. Kecepatannya meningkat drastis. Udara berdesing di telinga.

Tanaman raja obat terlihat jelas sekarang. Batang ungu keemasan, daun berbentuk hati, dan di pucuknya—buah merah menyala sebesar telur ayam, berdenyut pelan seperti jantung kecil.

Li Yao melayang melewati kolam, air di bawahnya bergelombang karena hembusan energinya. Tiga langkah lagi. Dua. Satu.

Ia meraih buah itu. Satu sentakan—batangnya putus. Buah itu jatuh ke telapak tangannya, hangat, berdenyut.

Dan pada saat itu, bumi berguncang.

Raungan singa api itu bukan sekadar suara. Getarannya merambat ke tulang, membuat gigi Li Yao terasa ngilu. Gelombang kejut dari raungan itu menyapu seluruh lembah, memantul dari tebing-tebing, menciptakan gema yang berkali-kali lipat lebih keras dari aslinya.

Mata merah menyala menatap langsung ke arahnya. Terkejut dan bingung, seorang anak manusia berani memasuki wilayah dan mencuri Raja obat kecil nya?

Cari mati!

Li Yao tidak menunggu. Ia membalikkan tubuh di udara, dan dengan satu dorongan energi, ia melesat ke kiri – terbang rendah, menyusuri dinding tebing, menjauhi singa itu secepat mungkin.

Singa api itu bangkit dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya. Api di ekornya membesar—bukan biru pucat lagi, tapi biru terang hampir putih, membakar udara di sekitarnya. Panasnya terasa di punggung, bahkan dari jarak puluhan langkah.

Cepat. Terbang lebih cepat.

Li Yao memfokuskan seluruh energi spiritualnya ke tubuh bagian bawah, menciptakan dorongan yang membuatnya melesat seperti anak panah. Namun terbang kecepatan penuh di ranah Pantai Seberang masih sangat melelahkan. Ia tidak bisa mempertahankannya lama—maksimal beberapa menit sampai setengah jam sebelum energinya habis.

Tapi beberapa menit sudah cukup.

Ia berbelok ke kiri, menuju tebing di belakang air terjun. Air dingin membasahi seluruh tubuhnya saat ia menembus tirai air—membantu menetralisir panas yang mulai terasa. Di belakangnya, semburan api biru menyambar, menguapkan air terjun dalam sekejap, menciptakan ledakan uap yang memekakkan telinga.

Li Yao keluar dari balik air terjun dengan tubuh basah kuyup. Di depannya, tebing curam menjulang. Tanpa berpikir, ia mendorong tubuhnya ke atas—terbang vertikal, meniti dinding batu dengan bantuan energi spiritual.

Singa api itu berhenti di tepi kolam. Ia tidak bisa terbang. Cakarnya tidak dirancang untuk tebing curam. Tapi ia tidak menyerah. Dari mulutnya, semburan api biru terus menyembur ke atas—membakar jalur pendakian Li Yao. Batu-batu meleleh. Tanah hangus. Asap hitam mengepul.

Tangan Li Yao memegangi tepian tebing. Tubuhnya menggantung di ketinggian.

Satu dorongan lagi.

Li Yao mengumpulkan sisa energi spiritual, lalu kaki nya menapak tepian batuan tebin. Karena energinya banyak terkuras, Li Yao memutus kan untuk melakukan lompatan yang dibantu sedikit daya angkat. Ia mendarat di tanah tandus di atas tebing, berguling dua kali untuk meredam benturan, lalu berdiri.

Di belakangnya, auman singa api terdengar lebih pelan. Terdengar lebih jauh, dan tidak mengejar.

Pegunungan Tandus.

Li Yao berjalan menyusuri punggung bukit yang gersang, mencari tempat berlindung. Jubahnya hangus di beberapa tempat, basah di tempat lain. Kaki kirinya sedikit terkilir—mungkin terjadi saat ia mendarat—tapi tidak parah. Tubuh Kekacauan-nya sudah mulai memperbaikinya.

Li Yao menemukan sebuah tebing curam dengan cekungan di bagian bawahnya—cukup dalam untuk menyembunyikan satu orang. Ia merunduk masuk, duduk bersila di tanah kering, menghela napas panjang.

"Selamat."

Li Yao menarik napas, kemudian mengeluarkan perlahan. Ia mengeluarkan buah merah dari sakunya. Masih utuh. Masih hangat. Masih berdenyut pelan.

Raja obat kecil. Usia mungkin dua puluh ribu tahun. Cukup untuk membantunya mengolah ranah Istana Dao Elemen Api—setidaknya untuk tubuh Kekacauan-nya ini.

Senyum tipis terukir di wajahnya yang lelah.

Tapi sebelum ia benar-benar merasa lega, hidungnya menangkap aroma yang familiar.

Aroma itu...

Seperti rumput kering direndam air hujan, bercampur madu yang terlalu tua. Sama seperti kemarin. Sama seperti aroma raja obat kecil di lembah air terjun.

Raja obat kecil lainnya?

Li Yao mengendus lebih dalam. Aromanya tidak kuat—mungkin karena jarak, mungkin karena terhalang bebatuan. Tapi jelas. Dan tidak hanya itu.

Ada aroma lain. Lebih tajam. Lebih seperti mineral. Seperti batu yang menyimpan energi spiritual dalam jumlah besar.

Batu sumber? Tidak... batu sumber ilahi!

Matanya menyipit.

Di pegunungan tandus ini?

Ia bangkit, berjalan perlahan ke tepi tebing, dan mengamati sekeliling.

Tidak ada binatang buas yang terlihat. Hanya batu, ilalang kering, dan langit biru yang terik. Tapi di cekungan antara dua bukit batu, sekitar setengah li dari tempatnya bersembunyi, ia melihat sesuatu.

Sebuah gua dangkal—bukan gua sungguhan, lebih seperti ceruk besar yang terlindung dari angin. Di dalamnya, setitik cahaya keemasan memantul dari bebatuan.

Batu sumber ilahi. Bukan satu atau dua. Beberapa potong. Nilainya mungkin mencapai lima juta jin batu sumber—jumlah yang bahkan para tetua Lingxu Dongtian tidak akan sanggup kumpulkan dalam satu abad.

Dan di samping batu-batu itu, tumbuh sebuah tanaman. Lebih kecil dari raja obat kecil yang ia curi dari singa api. Batangnya berwarna perak, daunnya berbentuk jarum, dan di puncaknya—bukan buah, tapi bunga. Bunga berwarna biru pucat, dengan kelopak berkilau seperti embun beku.

Raja obat kecil lainnya. Dan umur nya mungkin juga dua puluh ribu tahun.

Ini ladang harta!

Meskipun Li Yao tergoda, iya tidak langsung bergegas mengambil.

Karena di samping harta itu, ada penjaganya.

Seekor makhluk berdiri di sana. Dari pinggang ke bawah, ia adalah laba-laba—delapan kaki panjang berbulu hitam keunguan mencengkeram dinding dan lantai gua, masing-masing ujungnya dilengkapi cakar melengkung seperti sabit kecil. Sendi-sendi kakinya bergerak-gerak tidak menentu, seolah tidak pernah benar-benar diam.

Dari pinggang ke atas, ia berbentuk manusia. Tapi jangan tertipu. Wajahnya pucat seperti mayat yang membusuk di dalam air terlalu lama. Tulang pipinya terlalu menonjol. Matanya—dua bola hitam pekat tanpa putih, tanpa kilau—bergerak cepat ke sana kemari tanpa arah yang jelas. Mulutnya terbuka sedikit, memperlihatkan deretan gigi runcing di dalam gusi hitam.

Rambutnya panjang dan kusut, menjuntai seperti akar pohon mati. Dadanya yang kurus memperlihatkan tulang rusuk di bawah kulit pucat. Di sana, terukir pola seperti jaring laba-laba berwarna merah tua, seolah ada sesuatu yang hidup di bawah kulit. Tangannya panjang dan kurus, jari-jarinya terlalu panjang untuk proporsi manusia, kuku-kukunya hitam dan runcing seperti bilah besi kecil.

Makhluk itu tidak bernapas. Atau setidaknya, tidak terlihat bernapas. Dadanya tidak bergerak naik turun. Ia hanya berdiri—atau bertengger—di samping tanaman, bola mata hitamnya bergerak cepat, sesekali berhenti seolah menatap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata biasa.

Monster, pikir Li Yao. Bukan manusia. Jangan pernah menganggapnya manusia.

Ia sudah cukup dekat untuk melihat detail mengerikan itu—dan cukup dekat untuk merasakan tekanannya.

Makhluk itu tidak mengeluarkan aura seperti singa api yang panas dan menggelegak. Tekanannya dingin. Kering. Seperti angin dari kuburan tua yang tidak pernah tersentuh cahaya matahari. Li Yao merasakan bulu kuduknya merinding, bukan karena takut, tapi karena naluri bertahan hidup yang berteriak: jangan mendekat.

Istana Dao puncak. Li Yao tidak bisa memastikan, Yang jelas, makhluk ini tidak kalah berbahaya dari singa api. Karena singa api tidak memiliki kemampuan yang aneh, kemampuannya mungkin hanya berbasis api.

Tapi laba-laba ini... Racun!

Li Yao menduga kemampuan utama laba-laba ini adalah racun, jadi ia dia menjadi lebih waspada. Meskipun tubuh Kekacauan tidak takut racun, tetapi efek racun nya pasti terasa kalau tidak segera di netralisir.

Dan mengeluarkan racun dari tubuh memerlukan waktu, jadi Li Yao tidak akan bertindak gegabah.

"Raja obat kecil, batu sumber ilahi. Semua ada di sana."

Tapi penjaganya...

Li Yao mundur selangkah demi selangkah, perlahan. Hampir tidak terdengar.

Bukan sekarang. Belum waktunya.

Ia kembali ke cekungan tebing, duduk bersila, menutup mata.

Dalam diam, ia menyusun rencana. Satu raja obat kecil sudah di tangan. Satu lagi dan ada beberapa potong batu sumber ilahi di depan mata.

"Tidak perlu terburu-buru. Aku punya waktu."

Untuk saat ini, ia akan mencoba menembus ranah Istana Dao!

Hanya ketika mencapai Dao Palace, Li Yao yakin dapat mengalahkan siapapun di ranah yang sama.

1
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!