Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.
Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.
"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal dan Masakan
Setelah selesai membereskan dapur yang kini tampak berkilau dan mencuci seluruh tumpukan piring bekas makan malam mereka, Zea mengelap tangannya yang basah ke celemek. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa lelah yang mulai menggelayuti pundaknya. Dengan langkah yang sedikit gontai, ia berjalan menuju ruang tamu.
Di sana, pemandangan masih sama. Erlangga masih duduk di posisi yang sama seperti beberapa jam lalu. Laptop perak itu masih bertengger di pangkuannya, jemarinya bergerak statis, dan aura keseriusan masih menyelimuti wajahnya yang tegas. Tatapannya fokus, seolah dunia luar, termasuk kehadiran Zea tidak ada dalam radarnya.
“Pak…” panggil Zea pelan, suaranya sedikit serak.
Langga tidak langsung merespons. Ia menyelesaikan satu paragraf email sebelum akhirnya mengangkat kepala perlahan. “Hmm?”
“Pekerjaan saya sudah selesai semua. Dapurnya sudah bersih, kulkas juga sudah rapi,” lapor Zea. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan angka cukup larut. “Saya pamit pulang sekarang ya, Pak. Ini sudah malam, takut tidak dapat transportasi.”
Langga menatap jam dinding sejenak, lalu kembali menatap Zea dengan tatapan datar yang sulit diartikan. Namun, bukannya mengiyakan atau menawarkan tumpangan, ia justru berkata dengan nada mutlak, “Tidak.”
Zea berkedip bingung, telinganya seolah salah menangkap frekuensi. "Apa?”
“Kamu tidur di sini,” ucap Langga pendek, seolah-olah ia sedang memesan kopi, bukan meminta seseorang menginap.
“Apa?!” Zea langsung membelalak, matanya nyaris keluar. Rasa kantuknya hilang seketika digantikan oleh keterkejutan. “Kenapa saya harus tidur di sini lagi?! Kan saya bisa naik ojek!”
Langga menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap, lalu meletakkannya dengan rapi di atas meja kopi marmer. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap Zea dengan intimidasi yang halus.
“Ini sudah terlalu malam. Tidak baik seorang perempuan pulang sendiri jam segini,” kata Langga datar.
Zea mendelik, merasa alasan itu terlalu klise untuk seorang pria sedingin Langga. “Saya bisa pesan ojek online, Pak. Di Jakarta, jam segini masih banyak yang berkeliaran.”
Langga langsung menyahut dengan tenang, seolah ia sudah memprediksi argumen Zea. “Jam segini sudah sedikit yang narik di area apartemen ini. Kalaupun ada, harganya akan dinaikkan berkali-kali lipat karena tarif malam. Dan lagi… jalanan di jam begini rawan. Kamu mau ambil risiko?”
Zea menyipitkan mata, menatap Langga penuh selidik. “Bohong. Bapak cuma bohong kan supaya saya tidak pulang?”
Langga mengangkat alis sebelah, tantangan tersirat di wajahnya. “Kamu tidak percaya? Silakan coba buka aplikasimu.”
Zea mendengus pelan, meraih ponselnya dari saku. Ia membuka aplikasi transportasi daring dan mengetik alamat rumahnya. Begitu nominal harganya muncul di layar, matanya membulat sempurna. Angka itu tiga kali lipat dari harga biasanya, dan ada notifikasi bahwa pengemudi di sekitar sangat jarang. (Ini hanya fiksi ya gess, berbeda dengan di Real life)
“Buset,” gumam Zea tak percaya. “Beneran mahal banget. Ini tarif ojek atau cicilan motor?”
Langga menyeringai tipis, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis hingga nyaris tak terlihat. “Sudah saya bilang, kan?”
“Tapi saya tetap bisa pulang kalau mau—”
“Tidak,” potong Langga tegas, nadanya kini berubah menjadi otoriter. “Ini perintah. Saya tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun. Ingat, klausul tentang mematuhi perintah saya apapun itu yang tertulis dalam kontrak.”
Zea langsung melotot, rasa kesalnya kembali memuncak. “Bilang saja kalau Bapak sebenarnya tidak mau saya pulang. Gengsinya tinggi amat sih jadi orang!”
Langga berdeham keras, sedikit salah tingkah namun dengan cepat menguasai keadaan. Ia memalingkan wajah ke arah jendela. “Jangan asal bicara. Saya hanya tidak mau kehilangan babu saya, kalau kamu kenapa-kenapa di jalan gimana? Mencari pengganti tidak semudah itu.”
“…” Zea terdiam sesaat, lalu mencibir. “Dasar… mulutnya memang tidak bisa bicara baik sedikit ya. Terlalu jujur dalam menghina.”
“Fakta,” balas Langga pendek. Ia bangkit dari sofa, merapikan bajunya yang sedikit kusut. “Tidur di kamar tamu seperti kemarin. Perlengkapan mandi sudah ada di sana.”
Zea mendengus kesal, namun kakinya mulai melangkah menuju kamar tamu. Namun, baru beberapa langkah, suara berat Langga kembali menghentikannya.
“Zea.”
“Apa lagi, Pak CEO?” tanya Zea tanpa menoleh.
“Besok saya bangun agak siang, tapi jadwal saya padat. Jadi, sebelum kamu pergi, siapkan sarapan. Dan satu lagi… buatkan bekal makan siang untuk saya bawa ke kantor.”
Zea membeku, lalu memutar tubuhnya dengan dramatis. “Makan siang? Bapak mau bawa bekal? Ke kantor?”
“Ya. Kenapa?”
“Mulai sekarang, saya juga mau tiap malam dibuatkan makan malam seperti tadi. Saya malas makan di luar,” lanjut Langga tanpa beban.
Zea menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya. “Saya ini benar-benar jadi babu beneran ya? Full time?”
Langga menatapnya santai. “Kontrak tetap kontrak. Kamu sudah menandatanganinya.”
“Pak, ini mahasiswa yang bicara! Saya punya kuliah, punya tugas, bukan asisten rumah tangga yang stand by dua puluh empat jam!” protes Zea.
“Adaptasi adalah kunci kesuksesan, Zea,” jawab Langga tanpa dosa.
Zea mendengus sangat keras hingga poninya terangkat. “Baik, Yang Mulia CEO Manja. Ada perintah lain?”
Langga tampak berpikir sejenak. Ia menahan senyum melihat wajah Zea yang sudah mirip ikan buntal yang sedang marah. “Oh iya. Saya perlu nomor teleponmu.”
Zea menoleh cepat, keningnya berkerut. “Hah? Nomor saya?”
Langga berdeham, berusaha menjaga nada suaranya agar tetap profesional. “Jangan ge-er dulu. Saya butuh agar bisa menghubungi kamu langsung jika ada instruksi mendadak atau perubahan jadwal. Tanpa harus lewat perantara Rian atau pihak ketiga lainnya. Ini demi efisiensi.”
Zea menyeringai kecil, menyadari ada sedikit nada defensif di balik penjelasan panjang lebar Langga. “Padahal tinggal bilang saja kalau memang mau nomor saya, susah amat. Pakai bawa-bawa kata efisiensi segala.”
“Tidak. Jangan ge-er,” sahut Langga cepat.
“Tuh kan, makin defensif,” goda Zea.
“Nomornya, Zea. Cepat,” perintah Langga dengan wajah kaku.
Akhirnya Zea memberikan nomornya. Setelah memastikan Langga menyimpannya, ia masuk ke kamar tamu dan membanting pintu pelan sebagai tanda protes. Sedangkan Langga? Ia tetap berdiri di ruang tamu selama beberapa detik, menatap pintu kamar yang tertutup itu. Ia baru masuk ke kamarnya sendiri setelah memastikan Zea benar-benar tidak akan keluar lagi malam itu.
Keesokan Paginya
Sinar matahari pagi yang cerah menembus celah-celah tirai mahal di kamar utama, menyapu wajah Langga yang masih terlelap. Pria itu membuka mata perlahan, mengerjapkan mata beberapa kali. Ia merasakan tubuhnya jauh lebih segar dan ringan dari biasanya. Entah kenapa, tidurnya terasa sangat nyenyak malam ini, tanpa gangguan mimpi buruk tentang pekerjaan yang biasanya menghantuinya.
Ia mandi dengan cepat, bersiap untuk pergi ke kantor. Ia memilih setelan formal berwarna biru gelap yang dipadukan dengan kemeja putih bersih. Saat merapikan dasi di depan cermin, ia menyadari suasana apartemen terasa sepi.
“Sudah pergi?” gumamnya pelan.
Ia melangkah keluar menuju dapur untuk mengambil air minum. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sesuatu di atas meja makan kayu yang besar itu. Di sana, sudah tersedia sebuah kotak makan atau lunch box berwarna biru yang terisi penuh dan tertata sangat rapi. Uapnya sudah hilang, tapi suhunya masih terasa hangat.
Di samping tempat makan itu, terdapat tote bag dan secarik kertas kecil yang dijepit di bawah botol minum. Langga mengambil kertas itu dan membacanya dengan suara rendah.
'Pak, saya sudah buatkan sarapan dan bekal makan siang untuk Bapak ya. Jangan sampai tidak dimakan, capek lho masaknya. Saya panaskan sisa tongseng semalam, lalu ada bakwan jagung dan ayam goreng krispi hasil belanja semalam. Nasinya sengaja saya banyakin biar Bapak tidak galak lagi karena lapar. Saya pergi duluan karena ada kelas pagi jam 7 ini, Pak. Oh iya, saya tadi izin ngambil sedikit lauk + nasi juga buat bekal saya di kampus ya. Anggap saja upah angkut barang semalam, Pak CEO Manja :).'
Hening menyelimuti dapur itu selama beberapa saat. Langga menatap tulisan tangan yang sedikit berantakan namun jujur itu. Perlahan, sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyum kecil muncul di wajahnya, bukan senyum sinis atau seringai kemenangan, melainkan senyum tulus yang jarang sekali terlihat.
“Ada-ada saja…” gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Bukannya membuang kertas itu ke tempat sampah, Langga justru melipatnya dengan sangat hati-hati, memastikan setiap sudutnya rapi, lalu memasukkannya ke dalam saku jasnya. Ia melakukannya secara refleks, seolah kertas kecil itu adalah dokumen kontrak bernilai miliaran rupiah yang berharga.
Setelah itu, ia duduk di kursi makan. Ia mulai mengambil nasi dan lauk lalu menyantap sarapannya. Mengambil suapan pertama nasi hangat dengan potongan ayam goreng dan bakwan jagung.
Dan entah kenapa, makanan buatan rumahan yang sederhana itu terasa jauh lebih enak, jauh lebih nikmat daripada masakan restoran berbintang lima mana pun yang pernah ia cicipi di seluruh dunia.
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Langga merasa apartemen mewahnya tidak lagi terasa kosong dan dingin. Ada jejak kehidupan dan kehangatan yang tertinggal di sana, di balik aroma masakan dan secarik kertas kecil.