NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:757
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Nama yang Dipanggil

Pecahan cermin masih berserakan di lantai ketika Raka terdiam di sudut kamar. Napasnya berat, dadanya terasa sesak.

Ia belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi, tetapi satu hal jelas—itu bukan hal biasa.

Buku di atas meja masih terbuka.

Halaman yang sama.

Cara kedua: Memanggil nama mereka tiga kali di tempat sunyi. Pastikan kamu sendiri… atau kamu tidak akan tahu siapa yang menjawab.

Raka menelan ludah.

“Nama mereka… siapa?” gumamnya pelan.

Seolah menjawab pertanyaannya, angin dingin tiba-tiba berhembus dari arah jendela.

Tirai bergerak perlahan, meski jendela tertutup rapat. Halaman buku itu bergetar, lalu muncul sesuatu yang sebelumnya tidak ada.

Tulisan baru.

Perlahan, seperti ditulis oleh tangan tak terlihat.

Sebut namaku.

Jantung Raka berdegup kencang.

Di bawahnya, huruf demi huruf mulai terbentuk:

S A R A

Raka mundur selangkah.

“Sara…?” bisiknya ragu.

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih dingin.

Sunyi yang menyelimuti bukan lagi sekadar keheningan—melainkan sesuatu yang menekan, membuat telinga berdenging.

Ia menggeleng cepat. “Nggak. Ini cuma halusinasi.”

Namun matanya kembali tertuju pada buku itu.

Nama itu masih ada.

Tidak hilang.

Dan entah kenapa… terasa memanggil.

Raka mengepalkan tangan. Rasa takut dan penasaran bertarung di dalam dirinya. Ia tahu seharusnya berhenti.

Menutup buku itu, membuangnya, melupakan semuanya.

Tapi langkahnya justru bergerak maju.

Ia mematikan lampu kamar.

Kegelapan kembali menyelimuti.

Hanya suara hujan di luar yang terdengar samar.

Raka berdiri di tengah kamar.

Sendiri.

“Aturannya… harus sendiri,” bisiknya pelan.

Ia menarik napas panjang.

Lalu mengucapkannya.

“Sara…”

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Ia mencoba lagi.

“Sara…”

Masih tidak ada apa-apa.

Raka hampir merasa lega.

Namun saat ia menyebut nama itu untuk ketiga kalinya—

“Sara—”

Suara lain memotong ucapannya.

“Tiga.”

Bukan suaranya.

Bukan dari luar.

Tapi… dari belakangnya.

Napas Raka langsung tercekat.

Ia membeku di tempat.

Perlahan, rasa dingin menjalar dari tengkuknya, turun ke punggung, seperti ada sesuatu yang berdiri sangat dekat.

Terlalu dekat.

“Sekarang… giliranku,” bisik suara itu.

Raka tidak berani menoleh.

Kakinya terasa berat, seperti tertanam di lantai.

Lalu terdengar langkah pelan.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semakin mendekat.

Dan tepat di samping telinganya—

“Sara…”

Suara itu kini jelas.

Lebih dekat dari yang seharusnya.

Lebih nyata dari yang bisa ia terima.

Lampu tiba-tiba menyala sendiri.

Raka langsung menoleh.

Kosong.

Tidak ada siapa pun.

Namun di lantai, tepat di depan kakinya…

Muncul jejak kaki basah.

Satu per satu.

Mengarah ke dalam kamarnya.

Seolah ada seseorang yang baru saja masuk—

Dan belum keluar.

Raka menatap jejak itu dengan tubuh gemetar.

Sementara di atas meja, buku itu kembali bergerak.

Halaman berikutnya terbuka.

Cara ketiga: Dengarkan suara di antara keheningan.

Mereka selalu berbicara… hanya saja tidak semua orang bisa mendengarnya.

Raka menutup telinganya.

Namun suara itu tetap ada.

Pelan.

Berbisik.

Dari segala arah.

Memanggil namanya.

Suara di Antara Keheningan.....

Raka menutup telinganya rapat-rapat, namun bisikan itu tidak berhenti.

Suaranya bukan datang dari luar—melainkan dari dalam.

Seolah-olah pikirannya sendiri telah menjadi tempat tinggal bagi sesuatu yang tak diundang.

“Raka…”

Namanya dipanggil lagi.

Kali ini lebih jelas.

Lebih dekat.

Ia membuka mata perlahan. Kamar itu tampak sama seperti sebelumnya—lampu menyala, meja di tempatnya, buku terbuka.

Namun suasananya… berubah. Udara terasa lebih berat, seperti dipenuhi sesuatu yang tak terlihat.

Jejak kaki basah di lantai belum menghilang.

Malah… bertambah.

Kini jejak itu tidak hanya menuju ke dalam kamar, tetapi juga berputar mengelilingi tempat ia berdiri.

Seolah ada yang berjalan… mengamatinya.

Raka mundur pelan hingga punggungnya menyentuh dinding.

“Ini nggak nyata… ini nggak nyata…” ulangnya, mencoba meyakinkan diri.

Namun suara itu kembali muncul.

Kali ini bukan satu.

Banyak.

Berbisik bersamaan.

Tumpang tindih.

Tak jelas.

Seperti ratusan orang berbicara dalam satu waktu.

Raka teringat tulisan di buku.

Dengarkan suara di antara keheningan.

Dengan tangan gemetar, ia menurunkan telapak tangannya dari telinga.

Ia mencoba fokus.

Mengabaikan semua suara yang saling bertabrakan.

Mencari satu… yang paling jelas.

Dan di antara kekacauan itu—

Ia menemukannya.

Satu suara.

Pelan.

Serak.

“Di… belakangmu…”

Tubuh Raka langsung menegang.

Jantungnya berdegup sangat kencang.

Ia tahu seharusnya tidak menoleh.

Namun rasa takut jauh lebih kuat dari logika.

Perlahan… sangat perlahan… ia memutar kepalanya.

Kosong.

Tidak ada siapa pun.

Raka menghela napas lega.

Tapi kelegaan itu hanya bertahan satu detik.

Karena saat ia kembali menghadap depan—

Seseorang sudah berdiri di sana.

Sangat dekat.

Wajah pucat dengan mata kosong menatap lurus ke arahnya. Rambutnya basah, menempel di pipi, dan dari tubuhnya menetes air yang membasahi lantai.

Itu… sosok yang sama dari cermin.

“S… Sara…” suara Raka nyaris tidak terdengar.

Sosok itu memiringkan kepala.

Perlahan.

Tidak wajar.

Lalu bibirnya bergerak.

Namun tidak ada suara yang keluar.

Sebaliknya—

Suara itu muncul di dalam kepala Raka.

“Kau sudah mendengar kami.”

Raka mundur dengan panik hingga menabrak meja.

Buku itu jatuh ke lantai, halamannya terbuka lebar, bergetar seperti tertiup angin.

Bisikan kembali memenuhi ruangan.

Lebih keras.

Lebih jelas.

Tidak bisa diabaikan lagi.

“Sekarang… kami bisa mendengarmu.”

Lampu kamar berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu padam.

Kegelapan langsung menelan segalanya.

Raka mencoba berteriak, tetapi suaranya tercekat.

Dan di dalam gelap itu—

Ia sadar.

Ia tidak lagi sendirian.

Sesuatu… kini benar-benar bersamanya.

Menunggu.

Mendekat.

Dan tidak akan pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!