Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Leluhur
Mereka bertiga berjalan cepat mengikuti arah yang ditunjukkan peta. Langkah mereka pasti dan Gak ragu.
Udara di sekitar terasa semakin dingin. Aroma tanah basah dan kayu lapuk tercium kuat di hidung.
"Gue nggak nyangka tempatnya sejauh ini," ucap Endric sambil menatap deretan pohon besar yang menjulang tinggi.
"Tempat ini memang disengaja dibuat tersembunyi. Hanya orang yang punya darah murni yang bisa menemukan jalannya tanpa tersesat."
Gandhul melayang di depan, membuka jalan. Wajahnya tampak antusias namun tetap waspada.
"Ini wilayah sakral, Rek. Dulu sini pusat kekuasaan klan lo sebelum mereka diusir."
Ningsih berjalan di samping Endric. Matanya mengamati setiap sudut dengan penuh perhatian.
"Mas Endric Gak merasakan apa-apa? Perasaan hangat atau familiar yang menjalar dari dalam dada?"
"Gue rasakan. Semakin dekat, semakin tenang sekaligus semakin berat. Rasanya gue pulang ke tempat yang sudah lama ditinggalkan."
"Itu naluri darah yang bicara. Tubuh lo mengenali tanah asal lo sendiri."
Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah gerbang besi besar yang sudah berkarat. Di baliknya tampak sebuah bangunan rumah yang sangat megah namun tampak terbengkalai.
Temboknya terbuat dari batu alam tebal. Atapnya tinggi dan kokoh meski sebagian sudah rusak dimakan waktu.
"Ini dia..." bisik Endric pelan. Jantungnya berdegup kencang.
"Rumah leluhur gue. Rumah asli keluarga gue."
"Betul Rek. Ini istana kecil yang dibangun ratusan tahun lalu buat kepala keluarga lo."
Gandhul tersenyum lebar, menampakkan giginya yang putih.
"Sugeng enjang, Tuan Muda! Akhirnya pemilik sah rumah ini datang juga."
"Jangan panggil begitu dulu. Kita belum tahu apa yang menunggu di dalam," jawab Endric singkat.
Ia melangkah maju dan mendorong gerbang besi itu. Pintu itu terbuka dengan mudah tanpa suara, seakan sudah menunggu dibuka sejak lama.
Halaman dalam rumah luas dan tertata rapi meski ditumbuhi rumput liar. Ada sebuah kolam besar di tengah yang airnya masih jernih.
"Gila... ini rumah keren banget. Kenapa bisa ditinggalin dan dilupain begini?" tanya Gandhul heran.
"Karena mereka yang diusir. Siapa pun yang tinggal di sini dianggap pengkhianat negara. Jadi warga lain menghindari tempat ini."
Endric berjalan menuju tangga utama. Kakinya menapak di atas lantai batu yang licin karena lumut.
Saat ia menginjak anak tangga pertama, seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Garis hitam di lehernya bersinar terang. Cahaya hitam pekat menyelimuti kakinya seolah menyapa tuannya.
"Lihat itu Rek! Tanah dan rumah ini menerima lo! Mereka mengakui kehadiran lo!"
Endric tersenyum tipis. Perasaan bangga dan marah bercampur menjadi satu di dadanya.
"Jadi ini tempat gue seharusnya lahir. Ini tempat gue seharusnya besar."
"Sayangnya takdir berkata lain. Lo dikirim keluar buat bertahan hidup, terus dipanggil balik sekarang."
Mereka masuk ke dalam ruangan utama. Udara di dalam sejuk dan berdebu. Cahaya matahari masuk lewat celah atap, menciptakan garis-garis cahaya yang membelah ruangan.
Di dinding bagian dalam, tergambar sebuah lambang besar yang sama persis dengan tanda di tubuh Endric.
"Gue merasa... gue kenal setiap sudut sini. Gue ingat di mana pintu rahasia, di mana gudang bawah tanah."
"Itu ingatan leluhur yang nyalur lewat darah. Lo bawa sejarah ini di dalam urat nadi lo sendiri."
Endric berjalan menuju sebuah altar kecil di ujung ruangan. Di atasnya terdapat sebuah kotak kayu yang tertutup rapat.
Ia meraih kotak itu dan membukanya tanpa ragu.
Isinya bukan harta benda atau emas permata. Hanya ada sebuah belati hitam dan sebuah buku tebal yang terikat kulit.
"Belati warisan dan catatan harian," ucap Endric pelan.
"Ini yang selama ini disembunyikan dan dijaga ketat."
"Ambil itu Rek! Itu senjata dan kunci buat buka semua rahasia desa!" seru Gandhul semangat.
Endric menggenggam gagang belati itu. Aliran energi dingin namun kuat langsung mengalir masuk ke seluruh tubuhnya.
Kekuatan itu luar biasa besar. Ia merasa bisa merobek angin dan membelah tanah hanya dengan satu ayunan.
"Gue rasakan kekuatannya. Ini bukan senjata biasa. Ini benda sakral."
"Tentu saja. Itu belati pemimpin klan. Bisa memutus ikatan roh dan melukai makhluk gaib."
Tiba-tiba, buku di atas altar itu terbuka sendiri. Halamannya berbalik cepat tertiup angin yang Gak jelas asalnya.
Sampai berhenti di satu halaman yang gambarnya membuat darah Endric membeku.
Di sana terlukis wajah Ningsih. Persis sama.
Dan di bawah gambar itu tertulis kalimat panjang yang sangat jelas.
"Penjaga Gerbang. Ciptaan darah suci. Milik mutlak keturunan terakhir. Wajib diserap atau dinikahkan demi keabadian klan."
Endric menatap tajam ke arah Ningsih yang berdiri mematung di pintu.
"Jadi selama ini... lo bukan cuma menunggu gue."
"Lo memang barang warisan yang harus gue ambil hak miliknya."
Ningsih menunduk dalam. Suaranya bergetar saat menjawab.
"Benar, Mas. Saya milik Mas. Sejak awal penciptaan, saya memang milik Mas Endric."
Tiba-tiba, seluruh tanah di bawah rumah ini bergetar hebat.
Suara guntur terdengar dari langit yang mendadak gelap.
"Peringatan terakhir..." suara bergema dari segala arah.
"Kembalikan apa yang bukan hakmu. Atau hancur bersama rumah ini selamanya."