Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Geruduk
Ratih terdiam. Tangannya meraih sisa kembalian uang sebesar tiga puluh ribu saja.
Baginya uang segitu, sudah sangat ia syukuri, yang terpenting ada untuk dimakan.
"Maaf, Nem. Saya msih betah dengan kehidupan saya. Terimakasih atas sarannya,"
"Kalau kamu butuh, silahkan hubungi saya. Nanti saya kenalkan dengan kuncen yang dapat menghubungkan dengan jin Ba'al, dan kamu bisa langsung kaya raya," bisik Inem, dan membuat Ratih bergidik ngeri.
"Terimakasih, Nem. Saya tidak berminat," Ratih terus menolak.
"Tumbalnya bisa di pilih—Kok. Sesuai kemauan," Inem tampaknya tak berputus asa dalam memberikan bisikan dan rayuan yang cukup manis dan sangat menjanjikan.
Ratih mengulas senyum datar, memilih membawa pergi barang belanjaannya. Jika semua warga bersikap seperti itu, maka ia sangat bingung, menebak siapa yang membuat Bayu sampai seperti itu.
****
Malam telah tiba. Bagas sedang menyeruput kopi hitam buatan si Mbok. Ditangan kirinya, sebatang rokok filter masih menyala, dengan asap yang mengepul di udara.
Bagas sadar, di antara para pemuda desa, hanya dia yang belum menikah. Semua itu karena kondisi ekonominya.
Jika Bayu sudah menikah, itu karena ia keluar dari desa,dan bertemu dengan wanita yang menerima apa adanya.
Ia teringat akan Novita, gadis yang berada tepat di depan rumahnya, saat itu ia menyatakan cinta, tetapi Ratna memberikannya pilihan, harus mengikuti jejaknya, dan memberikan mahar jiwa si Mboknya.
Bagas masih menggunakan akalnya, dan memilih untuk mundur, karena itu adalah hal konyol baginya.
Saat ini, ia masih terus memantau jendela kaca kamar Novita yang tertutup gorden— dengan lampu menyala.
Setiap malamnya, Bagas sering melihat aktifitas Novita yang tak biasa, ada sosok tinggi besar dan berbulu yang selalu berada di kamar gadis tersebut.
Dalam keheningan yang sedang di ciptakannya, tiba-tiba saja ia mendengar suara Alawiyah sedang membaca surah Yasin, dan suaranya cukup begitu merdu.
"Dia, pandai membacanya?" gumamnya dalam hati.
Bagas terdiam, meresapi setiap alunan yang keluar dari mulut adik iparnya. Kedua matanya terpejam, seolah suara lantunan itu cukup lama sekali tak didengarnya.
Rasa rindu pada masa kecilnya yang dahulu, hadir dalam sekejap saja.
Baru saja berada dipertengahan ayat, tiba-tiba, rumah Ratna terguncang hebat, seperti ada gempa yang cukup hebat.
Bagas yang berada diluar melongo meihatnya.
Bukan hanya rumah Ratna, tetapi juga rumah tetangga lainnya.
Guncangan semakin hebat, hingga tanpa di duga, seluruh warga yang rumahnya terguncang datang menggeruduk rumah Ratih
"Astaga! Gawat!" Bagas bergegas masuk ke dalam rumah, lalu memberitahu Ratih yang sudah tertidur.
"Ratih! Ratih! Buka pintunya!" suara warga yang sudah ramai diluar sana.
"Ada apa, Gas?" Ratih mengusap matanya yang masih merasa kantuk.
"Gawat, Mbok. Warga datang menggeruduk rumah," bisik Bagas dengan sangat pelan.
Ratih membolakan kedua matanya. "Memangnya ada apa?" Ratih beranjak bangkit dari ranjangnya.
"Adik ipar, dia sedang membaca yasin, dan membuat rumah warga terguncang.
Ratih menarik nafasnya yang terasa sesak. "Temani si Mbok." ajaknya, lalu keluar dari kamar.
Bagas iku mengekorinya dari arah belakang.
Sedangkan Alawiyah yang mendengar suara kegaduhan—yang ada diluar, lalu menghentikan sejenak bacaannya.
Ia merasa penasaran, dan masih dengan mukena yang dikenakannya, ia keluar dari kamar.
"Mbok, ada suara apa diluar? Ribut sekali?" tanya Alawiyah, saat mereka berpapasan tanpa sengaja.
Ratih meletakkan jemari telunjuknya didepan bibirnya sendir, lalu meminta Alawiyah untuk masuk ke dalam kamar.
"Masuklah, dan jangan keluar kamar, sebelum mereka pergi.
Karena suara gedoran dipintu semakin kuat, Alawiyah memilih untuk menurut, lalu berjalan dengan kepayahan menuju kamar.
Setelah melihat menantunya masuk ke kamar, Ratih mengatur nafasnya yang tersengal, lalu melangkah menuju pintu depan.
Kreeeeek
Pintu dibuka, dan terlihat tiga orang tetangganya sudah berkumpul didepan pintu rumah dengan tatapan yang sangat sangar.
"Kamu ngapain—Hah? Kamu baca yasin?" tanya Ratna yang sudah berkacak pinggang, tatapannya begitu sangat tajam.
"Kamu mau buat kita celaka?" Tekno menimpali. Wajahnya tak kalah sangar dari Retno. "Liat, tuh! Rumah Tresno terbakar, pasti ini ada hubungannya sama kamu!" Tunjuknya ke arah sisa reruntuhan rumah Juragan Tresno yang tinggal puingnya saja.
Duuuug
Traaang
Sebagain warga yang kesal melempari atap seng rumah Ratih dengan batu.
Ratih menahan amarahnya, dan tampak seng terasnya bocor karena lemparan batu dari salah satu warga yang tak dapat menahan amarah.
"Kamu ya, Ratih! Kalau kamu itu tetap berpendirian gak mau ikut jejak kita, ya itu urusanmu! Tapi setidaknya kau itu ya sadar diri! Jangan buat kita-kita ini marah, dan terkena imbasnya." Suketi juga ikut menyerang Ratih. Ketiganya adalah tetangga belakang, depan dan juga sisi Kanan.
"Kalau sampai ada rumah kita yang terbakar, maka rumahmu juga kita bakar!" ancam Juminten, wajahnya tak.kalah kesal.
"Iya! Kita udah sepakat! Kalau sampai kamu baca Al-Qur'an lagi, kita bakar rumahmu!" Ginah ikut menimpali.
"Eh, Mbak! Rumah kalian yang bergetar, kenapa nyalahin kita?!" Bagas ikut angkat bicara.
"Eh, Gas! Gak usah cari pembelaan, lalau udah salah jangan ngelak. Kamu mau juga dibakar?!" Ratna tak.mau kalah, seolah ingin melampiaskan kekesalannya.
"Maaf, saya tidak ada melakukan hal yang kalian tuduhkan, harap kalian pulang. Sebab saya masih ada urusan lain," Ratih mencoba menghindari pertanyaan tetangga yang selarut, ini datang melabrak.
Alawiyah mengintai dari jendela. Tubuhnya gemetar, dan wajahnya memucat. "Mengapa pula warga tak menyukai mendengar suara Adzan, suara lantunan Al-Qur'an, apa yang terjadi pada mereka?" gumamnya dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.
"Awas, ya—kau Ratih, kalau sampai kau buat lagi hal yang sama, kami akan mengusirmu! Sebaiknya kau tinggalkan kampung ini, karena tidak sesuai dengan prinsip yang kau anut!" cibir Ratna sembari menunjukkan jarinya ke wajah wanita paruh baya tersebut.
"Bukan cuma di usir, tapi dibakar! Dibakar! Ingat itu!" Juminten seolah ingin memperjelas kalimat ancamannya.
Ratih memilih diam. Sebab jika menjawab pun akan kalah juga.
Taaak
Pintu ditutup, dan Ratih melangkah menuju dapur, ia hanya diam membisu, dan tampaknya hatinya terlalu banyak tekanan yang tak dapat ia ungkapkan.
Entah dorongan dari mana, Alawiyah kembali membaca Yasin, namun kali ini, ia memilih membacanya dalam senyap, bibir bergerak, tetapi tanpa suara.
Drrrrrk drrrrk
Dinding rumahnya bergerak, dan dengan tekad yang cukup kuat, Alawiyah terus membacanya, hingga getaran itu berhenti dengan sendirinya.
"Aku butuh enam kali lagi, semoga saja ada jawabannya."
Saat melihat ke arah Bayu, ia mendengar suara suaminya mengerang. "Mas Bayu." ia duduk ditepian ranjang, sembari terus mengawsi. "Mas, aku tadi mendengar suaramu." Ia menggenggam jemari tangan sang pria yang terasa cukup dingin.
"Mas, sadarlah. Aku datang untuk menemuimu," ia meletakkan punggung tangan suaminya dipipi, dan itu terasa sangat dingin.
Bayu kembali diam, hening, dan sunyi.
Alawiyah berbaring disisi kiri suaminya, dan lelah dalam mencari jawaban, membuat ia tertidur.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏