Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bab 14
Tidur di dalam pesawat kapsul terasa seperti masuk ke dalam pelukan dunia yang masih waras.
Tidak ada bau lembap. Tidak ada suara serangga aneh yang merayap di dinding. Tidak ada rasa waspada yang menggantung seperti bayangan di tengkuk. Hanya dengungan lembut mesin, udara bersih yang berputar teratur, dan suhu hangat yang pas seperti selimut yang tahu batasnya.
Bumi membuka mata perlahan.
Langit-langit kapsul yang berwarna putih keperakan menyambutnya. Lampu-lampu kecil menyala redup, seperti bintang buatan yang tidak pernah berkedip.
Ia menarik napas panjang.
“Ini… hidup,” gumamnya.
Di seberangnya, Pam sudah bangun lebih dulu. Ia duduk sambil menyobek bagian bawah bajunya yang sudah usang. Gerakannya tenang, seperti seseorang yang terbiasa mengubah kekurangan jadi alat bertahan hidup.
“Kamu ngapain?” tanya Bumi, masih setengah mengantuk.
Pam tidak langsung menjawab. Ia merobek kain itu menjadi beberapa bagian kecil, lalu mengikat rambutnya ke belakang. Rambutnya yang sebelumnya terurai kini terikat rapi dalam ekor kuda sederhana.
Gerakan itu membuat bajunya sedikit terangkat.
Bumi… terpaku.
Perut Pam terlihat—rata, dengan garis otot yang tegas seperti pahatan halus. Bukan berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa tubuh itu sudah melewati banyak hal.
Pam menyadari tatapan itu.
“Kenapa?” tanyanya santai, tapi matanya sedikit menyipit.
Bumi langsung menoleh ke arah lain, terlalu cepat.
“Nggak apa-apa,” jawabnya, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.
Pam tersenyum kecil, lalu mengencangkan ikatan rambutnya.
“Aku nggak sekeriput waktu jadi nenek-nenek ya?” tanyanya tiba-tiba, nada suaranya ringan.
Bumi masih menatap panel kontrol, pura-pura sibuk.
“Hah? Oh… iya. Maksudnya—eh…” ia menggaruk tengkuknya. “Waktu jadi nenek-nenek, kamu kelihatan tetap cantik kok.”
Pam mengangkat alis.
“Aku nggak nanya soal cantik atau nggak,” katanya, menatap Bumi dengan tatapan yang setengah menggoda. “Aku nanya soal keriput.”
Bumi terdiam sesaat.
Pipinya mulai terasa hangat.
Ia langsung memutar kursinya, menekan beberapa tombol di panel.
“Kita ke hutan aja,” katanya cepat. “Emma, kita jalan ke hutan.”
Suara sistem menjawab lembut, “Baik.”
Pam tertawa kecil, tidak mengejar lagi.
Mesin kapsul menyala. Getarannya halus, seperti jantung yang mulai berdetak lebih cepat.
Kapsul itu meluncur keluar dari tempat persembunyian mereka, menembus udara pagi yang masih diselimuti kabut tipis. Hutan terbentang di depan, hijau dan misterius seperti kemarin, tapi kini terasa… berbeda.
Ada sesuatu yang menunggu.
Atau mungkin… sesuatu yang tidak datang.
—
Mereka tiba di tempat yang sudah disepakati.
Sebuah area terbuka kecil di tengah hutan, dengan pohon besar yang batangnya melingkar seperti pelukan raksasa.
Bumi mematikan mesin.
Sunyi.
Hanya suara angin dan dedaunan.
“Di sini,” kata Pam.
Bumi mengangguk.
Mereka turun dari kapsul.
Waktu berjalan.
Satu jam.
Dua jam.
Matahari mulai naik lebih tinggi, cahayanya menembus celah daun dan menciptakan pola-pola terang di tanah.
Bumi mulai gelisah.
Ia berjalan mondar-mandir, sesekali menatap ke arah langit, seolah berharap helikopter akan muncul begitu saja.
“Pam,” katanya akhirnya. “Kita yakin di tempat yang bener?”
Pam bersandar di batang pohon, tangannya dilipat.
“Iya.”
“Yakin banget?”
Pam menatapnya. “Aku nggak main tebak-tebakan buat hal kayak gini.”
Bumi menghela napas panjang. “Tapi dia belum datang.”
Pam tidak menjawab.
Itu justru membuat Bumi semakin tidak tenang.
“Kita balik aja ke kerajaan,” kata Bumi tiba-tiba.
Pam langsung menggeleng. “Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena dia bilang kita harus pergi kalau dia nggak datang.”
Bumi mendengus kesal. “Percuma kita pergi kalau nggak ada inti bumi!”
Pam terdiam.
Kalimat itu seperti batu yang dilempar ke permukaan yang sudah retak.
Ia menatap Bumi.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu… Pam terlihat kesal.
“Ya… kamu benar,” katanya akhirnya pelan.
Bumi menatapnya, sedikit terkejut.
“Jadi?” tanya Bumi.
Pam berdiri tegak. “Kita cari dia.”
Bumi tersenyum tipis. “Akhirnya.”
—
Mereka meninggalkan kapsul, berjalan pelan menyusuri hutan menuju arah kerajaan.
Langkah mereka hati-hati. Setiap ranting yang patah, setiap suara kecil bisa jadi tanda bahaya.
“Kita nggak bisa masuk sembarangan,” bisik Pam.
Bumi mengangguk. “Kita butuh penyamaran.”
Seolah menjawab, dua sosok muncul dari balik semak.
Pasukan bertopeng.
Bumi dan Pam saling pandang.
Tidak perlu kata.
Pertarungan terjadi cepat.
Satu pasukan menyerang lebih dulu, tapi Pam menghindar dengan gerakan halus, seperti angin yang bergeser. Ia menjatuhkan lawannya dengan satu pukulan tepat di leher.
Bumi menghadapi yang lain. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia ingat latihan kemarin.
Fokus.
Tarik napas.
DOR!
Tembakannya tepat.
Pasukan itu jatuh.
Hening kembali.
Bumi menatap tangannya sendiri, sedikit gemetar.
“Aku… berhasil,” gumamnya.
Pam sudah berjongkok, melepas pakaian pasukan itu.
“Cepat. Kita pakai ini.”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berubah. Seragam gelap, topeng yang menutupi wajah, senjata di tangan.
“Gimana?” tanya Bumi.
Pam menatapnya sebentar. “Lumayan. Jangan banyak bicara, nanti ketahuan.”
Mereka masuk ke wilayah kerajaan.
Suasana di dalam tetap sama—teratur, hidup, tapi penuh ketegangan yang tidak terlihat. Orang-orang berjalan, bekerja, berlatih. Semua seperti roda yang berputar tanpa henti.
Bumi memperhatikan setiap sudut, berharap melihat Nuri.
Tidak ada.
Mereka berjalan lebih dalam.
Di kejauhan, terlihat Raja Arbuck—masih di kursi rodanya, dikelilingi penjaga.
Dan…
cincin itu masih ada di jarinya.
Bumi menahan napas.
“Itu dia,” bisiknya.
Pam melirik cepat. “Iya. Tapi bukan sekarang.”
“Kenapa?”
“Terlalu banyak penjaga.”
Bumi menggigit bibirnya.
“Kalau gitu… ke mana?”
Pam berpikir sejenak.
“Penjara.”
Bumi mengangguk.
—
Mereka menyelinap ke area penjara.
Lorongnya sama seperti kemarin—gelap, lembap, sunyi.
Dua penjaga berdiri di depan.
Pam memberi isyarat.
Cepat.
Diam.
Dua gerakan.
Dua tubuh jatuh.
Tidak ada suara yang tersisa selain napas mereka.
“Cepat,” bisik Pam.
Mereka masuk.
Sel-sel berderet seperti mulut-mulut yang diam.
Bumi berjalan cepat, matanya menyapu setiap ruang.
Lalu—
“Nuri!”
Suara itu hampir pecah.
Di salah satu sel, Nuri berdiri.
Matanya membesar.
“Kalian?” katanya kaget. “Kenapa kalian di sini?!”
Pam langsung membuka kunci sel.
“Kami jemput kamu,” katanya singkat.
Pintu terbuka.
Nuri keluar, masih tidak percaya.
“Aku bilang kalian harus pergi!” katanya pelan tapi tegas.
“Dan ninggalin kamu?” sahut Bumi. “Nggak mungkin.”
Nuri menatapnya.
Ada sesuatu di matanya—antara marah dan… tersentuh.
Pam menyodorkan pakaian prajurit. “Pakai ini.”
Nuri menurut, bergerak cepat mengganti pakaian.
“Kita harus pergi sekarang,” katanya. “Ini tempat nggak aman.”
Pam menggeleng. “Belum.”
Nuri menatapnya tajam. “Apa maksudmu belum?”
“Kita butuh cincin itu.”
Sunyi.
Bumi menatap keduanya, jantungnya berdetak lebih cepat.
“Pam…” katanya pelan.
“Percuma kita kabur kalau nggak bisa balik,” lanjut Pam. “Kita butuh inti bumi.”
Nuri menghela napas panjang, menutup mata sejenak.
“Ini gila,” gumamnya.
“Semua ini memang gila,” jawab Pam.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya, Nuri membuka mata.
“Oke,” katanya. “Ikut aku.”
Ia berjalan ke arah lorong belakang.
“Ada jalan lain,” katanya. “Jalan yang nggak banyak orang tahu.”
Bumi dan Pam saling pandang, lalu mengikuti Nuri masuk ke area belakang kerajaan. Ada sebuah lorong. Lorong itu lebih sempit, lebih gelap, seperti bagian dari kerajaan yang sengaja dilupakan.