Ketika cinta harus dipisahkan oleh perjodohan orangtua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Periksa kandungan
Setelah menikah, mereka menjalani kehidupan yang romantis dan bahagia. Apa yang selama ini Angkasa bayangkan, kini benar-benar ia wujudkan.
Tidak ada penyesalan sedikitpun dalam dirinya telah memilih pilihan ini. Meski saat ini keadaan ekonomi mereka belum stabil, tapi rasanya ia jauh lebih bahagia dan lebih tenang. Karena bisa hidup bersama wanita yang ia cintai. Apalagi, sebentar lagi ada si kecil yang akan menemani mereka.
Hari ini sudah tiba waktunya bagi Leya untuk memeriksakan kandungannya. Untungnya sejak awal pertama, ia tidak merasakan mual, muntah atau pusing yang berlebihan. Hanya sesekali, dan itupun tidak memakan durasi yang lama.
Seperti biasa, Angkasa sebagai suami dan calon ayah siaga sudah mempersiapkan semuanya. Menu makanan sehat, buah, dan susu yang tidak pernah ketinggalan.
"Mas gak ikut makan bareng?" tanya Leya, ketika ia melihat suaminya malah kembali ke dapur.
"Masih ada cucian yang harus Mas jemur sayang!" jawabnya.
Tidak ada yang pernah menyangka, jika mantan seorang CEO sedang sibuk menyelesaikan pekerjaan rumah.
"Aku bantu ya Mas?" tawar Leya dengan semangat.
Angkasa menoleh. "Oh No, sayang! kamu sedang hamil. Ingat kata dokter, kamu gak boleh kerja berat!" sahut Angkasa.
Leya cemberut, ini kesekian kalinya Angkasa menolak tawarannya. "Aku bisa kok Mas! Ini kan bukan pekerjaan berat. Boleh ya?"
Leya berusaha untuk terus membujuk. Tapi sayangnya Angkasa tetap tidak mengizinkannya.
"Tuan putri hanya boleh duduk, makan dan bersantai!" ucapnya
Angkasa mengedipkan sebelah mata, sambil memberikan ciuman jarak jauh. Leya yang tadinya cemberut, kini merona dsn tersenyum malu-malu.
"Udah tua juga masih genit aja!" batin Leya. Tapi yang seperti inilah yang membuat hubungan mereka terasa lebih berwarna dan tidak membosankan.
Selama Angkasa bebersih, Leya hanya menonton sambil menikmati makanannya. Sesekali mereka berciuman. Tentu saja Angkasa yang mencurinya, dengan alasan suplemen penambah semangat.
Leya pun tidak masalah. Bahkan ia senang dan menikmatinya.
Setelah selesai beberes dan bersiap, mereka berdua pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Leya.
Rumah sakit terbaik menjadi pilihan Angkasa. Karena selain peralatannya yang lengkap, rumah sakit itu juga memiliki dokter ahli yang tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.
Selesai mendaftar, mereka menuju ke ruang tunggu. Duduk bersama pasien lain yang sama-sama ingin memeriksakan kandungannya.
"Ramai sekali Mas?" Leya malu. Karena ini kali pertama ia periksa dalam keadaan ramai. Sebab biasanya mereka datang saat poli kandungan hampir tutup dan sudah tidak ada pasien lain yang menunggu.
"Tidak masalah, sayang!"
Mereka duduk berdampingan. Angkasa memastikan posisi duduk istrinya terasa nyaman.
"Udah berapa bulan Mbak?" tanya seorang wanita yang duduk disebelah Leya sendirian.
"Baru 3 bulan Mbak. Mbaknya udah berapa bulan?" Leya bertanya balik. Ia kagum melihat perut wanita itu yang sudah membesar.
"Sudah 7 bulan. Itu suaminya ya mbak?" wanita itu bertanya lagi sambil memperhatikan Angkasa yang terlihat sekali sangat protektif.
Leya tersenyum dan mengangguk. "Iya Mbak, dia suami saya!" Leya diam sejenak memperhatikan sekitar. "Mbak diantar siapa?"
Ekspresi wanita itu berubah, ada kesedihan yang terlihat jelas dimatanya. "saya selalu sendirian Mbak! maklumlah ayahnya gak mau bertanggung jawab dan keluarga juga gak mau ngakuin!"
"Yang sabar ya Mbak?" Leya mengusap lembut punggung wanita itu. Ia tidak tahu harus bicara apa.
"Mbaknya beruntung, Masnya kelihatan sayang banget sama Mbak!" pujinya. Ia menghapus air matanya sendiri, lalu kembali tersenyum. Meskipun di kedua netranya selalu ada luka, saat melihat pasangan seorang istri yang ditemani suaminya.
Satu persatu pasien mulai dipanggil. Sampai tiba giliran nama Leya yang dipanggil oleh suster.
"Ibu Harleya Putri Calista!"
Leya dan Angkasa bangkit, masuk ke dalam poli kandungan yang ketiga kali ini mereka kunjungi.
"Selamat sore dokter!" sapa Leya dengan senyum ramahnya.
"Sore Leya, bagaimana kabarnya?" dokter wanita yang bernama Rara menyambut dengan ramah, dan ia sangat mengingat Leya sebagai pasien ramah yang memiliki suami over protektif yang banyak bertanya.
Leya sudah berbaring di ranjang, sesi pemeriksaan USG sudah dimulai.
Leya dan Angkasa memperhatikan layar monitor dengan seksama, sambil mendengarkan penjelasan dari dokter Rara prihal kandungan Leya.
"Jadi ini wajahnya dok?" Leya berbinar, saat dokter Rara menunjukkan bagian wajah anaknya. "tapi kalau dilihat-lihat kok mirip ayahnya ya dok?" celetuk Leya.
"Seperti iya! Lihatlah hidungnya tinggi, mirip dengan ayahnya!" puji Dokter Rara.
Leya cemberut. "Gak adil banget sih dok! padahal aku yang hamil. tapi wajahnya kenapa malah mirip sama bapaknya!" Leya mendesah kesal tapi juga bahagia.
"Itu karena Mas terlalu mencintai kamu sayang! Makanya anak kita mirip Mas!" sambung Angkasa dengan bangga.
Dokter Rara dan suster yang membantu kompak tersenyum.
"Janis kelaminnya udah keliatan belum dok?" tanya Leya lagi, penasaran.
Dokter Rara lekas memeriksa nya. "Wah dedeknya malu, ditutupi pakai tangan!"
Selesai melakukan pemeriksaan, sesi konsultasi pun dimulai. Seperti biasa, bagian ini... Angkasa yang akan maju untuk bertanya.
Berbagi pertanyaan seputaran kehamilan sudah ia tanyakan. Dokter Rara menjelaskan dengan jelas dan mudah dipahami.
"Masih ada yang mau ditanyakan?" tanya Dokter Rara sebelum mengakhiri sesi pemeriksaan ini.
"Ada satu lagi dok!" sambung Angkasa cepat. Secepat kereta api tercepat didunia. "Apa sekarang sudah boleh berhubungan suami istri dok!" tanya Angkasa.
Bukan tanpa alasan ia mempertanyakan hal itu. Masalahnya, saat pemeriksaan pertama kali... dokter Rara menjelaskan tentang bahayanya berhubungan di kehamilan pada trimester pertama. Angkasa yang terlalu khawatir langsung menjaga diri. Meskipun hal itu membuat ia sakit kepala, karena harus menahan hasrat. Padahal saat itu ia sedang ingin-ingin nya.
Dokter Rara dan sister tersenyum. Leya memerah karena malu. Ia sampai mencubit paha Angkasa yang malah terlihat santai tanpa dosa.
"Hal seperti itu ngapain ditanyakan sih Mas!" ucap Leya, melirik penuh peringatan.
"Ini Maslah penting sayang! wajar kalau Mas bertanya!" jawab Angkasa.
Leya makin bertambah malu. Rasanya ia ingin menghilang dan bersembunyi di dalam kerak bumi.
"Tidak apa-apa Leya, wajar jika hal ini dipertanyakan. Untuk berhubungan sudah boleh, mengingat kondisi kandungan Leya kuat dan janinnya juga sehat. Tapi meskipun begitu, tetap harus hati-hati dan jangan berlebihan!" jelas dokter Rara.
Angkasa mengangguk sekarang ia sudah lega. "Kalau begitu terima kasih banyak dokter!"
Merasa pamit, Angkasa keluar dari ruangan dengan senyum yang mengembang lebar dan sebuah rencana yang sudah ia susun dalam otaknya.
Kriiing! Kriiing! Kriiing!
Ponsel angkasa berbunyi saat mereka sedang menebus obat di apotek.
"Sayang, Mas angkat telepon sebentar ya?" pamit Angkasa, sedikit menjauh dari Leya. Tapi Leya tetap dalam pengawasan nya.
Leya sudah mendapatkan obatnya, tapi Angkasa belum juga kembali. Ia duduk di kursi tunggu, sambil memperhatikan suaminya yang berdiri tidak jauh darinya.
Tidak lama Angkasa kembali.
"Sepertinya ada berita baik?" tanya Leya, melihat binar dan senyum lebar diwajah suaminya.
"Mas baru aja keterima kerja sayang!" jawab Angkasa memberitahu.
Ya, karena ia gagal mendapatkan investor untuk bergabung bersamanya. Sebagai jalan lain, ia memutuskan untuk melamar di sebuah perusahaan. Bukan perusahaan biasa, tapi perusahaan yang baru buka cabang di Indonesia.