NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Keheningan yang Berteriak

Di garis depan semenanjung Utara, badai salju terakhir musim dingin mulai mereda, menyisakan lumpur dan genangan air yang membeku. Namun, suhu di dalam tenda komando Jenderal Agung Matthew von Eisenberg terasa jauh lebih dingin daripada udara di luar.

Matthew duduk di kursi kayunya, menatap tumpukan surat di hadapannya. Matanya yang berwarna dark blue menatap tajam ke satu arah—ke arah sudut meja tempat ia biasanya meletakkan balasan dari Daisy. Sudah empat minggu berlalu sejak ia mengirimkan surat singkatnya tentang janjinya untuk pulang di musim panas ketiga.

Empat minggu. Dan tidak ada satu pun baris kalimat balasan.

Biasanya, meski Daisy gengsian dan pemalu, ia akan membalas dalam waktu sepuluh hari. Balasannya singkat, terkadang hanya menceritakan tentang cuaca di Glanzwald atau perkembangan bunga-bunganya. Tapi kali ini, keheningan itu terasa pekak.

"Letnan Kyle," suara Matthew memecah kesunyian, berat dan berbahaya.

"Siap, Jenderal!" Letnan muda itu masuk dengan sikap sempurna, namun keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia tahu jika Jenderal sudah memanggil dengan nada seperti itu, berarti ada sesuatu yang tidak beres.

"Apakah ada gangguan pada jalur logistik dari Ibukota dalam satu bulan terakhir?"

"Tidak, Jenderal. Jalur aman. Semua suplai dan surat sampai tepat waktu."

Matthew terdiam. Jemarinya yang kasar mengetuk meja dengan ritme yang tidak sabar. Jika jalur aman, kenapa suratku tidak dibalas? Apakah dia sakit? Atau... apakah dia sudah bosan menungguku?

Pikiran itu menghantam Matthew lebih keras daripada peluru meriam musuh. Selama hampir dua tahun ini, Daisy adalah satu-satunya hal yang konstan dalam hidupnya yang kacau. Bayangan Daisy yang duduk di dermaga Glanzwald adalah rumah yang ia tuju.

Ia meraih surat laporan mingguan dari kepala pelayan di Eisenberg Manor yang baru saja tiba. Ia membacanya dengan cepat, mencari nama Daisy di antara baris-baris laporan inventaris.

“Nyonya Muda dalam keadaan sehat. Namun, belakangan ini Nyonya sangat sibuk dengan proyek barunya. Beliau lebih sering menghabiskan waktu di studio atau pergi ke pusat kota untuk urusan agensi. Nyonya juga terlihat sering memangkas mawar-mawar di taman hingga hampir habis. Beliau tidak lagi menghabiskan waktu di dermaga seperti biasanya.”

Rahang Matthew mengeras. Memangkas mawar hingga habis? Menyibukkan diri di kota? Ini bukan Daisy yang ia kenal. Daisy yang ia tinggalkan adalah wanita pemalu yang lebih suka bersembunyi di balik pohon ek raksasa.

Matthew merogoh saku mantelnya, menyentuh sapu tangan sutra berinisial D yang selalu ia bawa. Perasaan tidak tenang mulai menggerogoti dadanya. Ia merasa seolah-olah tanah tempatnya berpijak mulai runtuh. Tanpa balasan surat dari Daisy, ia merasa seperti kehilangan arah di tengah medan perang.

Sementara itu, di Glanzwald, suasana paviliun utama telah berubah total. Daisy tidak lagi menjadi istri yang menunggu. Ia telah berubah menjadi "The Muse" yang sesungguhnya—seorang wanita karier yang dominan dan tak tersentuh.

Wajah Daisy kini menghiasi sampul majalah Vogue edisi khusus Wanita Paling Berpengaruh Tahun Ini. Ia tidak lagi menyembunyikan paras cantiknya. Dengan rambut hitam panjang yang dibiarkan terurai dan mata coklat madu yang kini menatap kamera dengan tantangan, ia menjadi ikon kecantikan global yang baru.

Di ruang kerjanya yang luas, Daisy sedang meninjau kontrak kerja sama dengan label musik terbesar di Amerika untuk lagu barunya. Penanya menari di atas kertas dengan tegas.

"Nyonya Muda, ada surat lagi dari markas besar," ujar kepala pelayan sambil membawakan nampan perak.

Daisy bahkan tidak menoleh. "Letakkan saja di sana, Bi. Aku sedang sibuk."

"Tapi Nyonya, ini sudah surat ketiga bulan ini yang Anda biarkan tidak terbuka."

Daisy menghentikan gerakannya. Ia melirik amplop militer itu dengan sudut matanya. Ada rasa sakit yang berdenyut di dadanya saat melihat tulisan tangan Matthew yang kaku, tapi ia segera menepisnya. Rasa kecewanya atas rahasia "Pelayan M" itu masih terlalu segar.

"Biarkan saja. Lagipula, apa gunanya membaca laporan militer dari seorang pria yang tidak pernah jujur?" Gumam Daisy pelan setelah pelayan itu pergi.

Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke hutan pinus. Glanzwald sekarang tampak berbeda di matanya. Hutan ini bukan lagi tempat rahasia yang romantis, melainkan monumen kesunyian.

Daisy mulai bertanya-tanya, apakah Matthew juga mengirimkan surat sesering ini pada gadis pelayan itu dulu? Apakah Matthew juga bersikap posesif padanya karena takut Daisy akan melarikan diri seperti gadis itu?

"Kau menyebalkan, Matthew," bisik Daisy pada kabut yang turun. "Kau menikahiku agar dunia lupa kau pernah gagal mempertahankan wanita yang kau cintai. Kau menjadikanku tameng untuk harga dirimu."

Sifat mandiri Daisy membuatnya memutuskan untuk tidak akan pernah menjadi pilihan kedua. Ia mulai merencanakan perjalanan bisnis ke London dan Paris bulan depan—tepat di saat Matthew dijadwalkan akan segera pulang. Ia ingin saat Matthew menginjakkan kaki di Glanzwald nanti, paviliun ini kosong. Ia ingin Matthew merasakan apa itu kehilangan yang sesungguhnya.

1
Nia Nara
Pernikahan itu panjang, nanti 10 atau 20 tahun lagi, tiba2 maira kembali, terlalu beresiko.
Nia Nara
Kalau aku jadi daisy, aku tidak akan memberikan kesempatan kedua.
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!