NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Pabrik Gula Karang Mayit

Sisa-sisa kemegahan pabrik gula peninggalan Belanda itu berdiri bisu bagaikan kerangka raksasa prasejarah yang menolak mati. Dinding-dinding bata merahnya telah tertutup lumut tebal dan sulur-sulur tanaman rambat beracun. Atap sengnya sudah lama runtuh, menyisakan balok-balok besi berkarat yang melintang tak beraturan di udara, tampak seperti jari-jari kurus yang menggapai langit kelabu Alas Roban.

Luna melangkah masuk melalui gerbang utama yang terbuat dari besi tempa setinggi empat meter. Pintu gerbang itu hanya tersisa sebelah, sementara sebelahnya lagi tergeletak hancur di tanah, tertelan semak belukar. Begitu kaki Luna melewati batas gerbang, hawa dingin yang luar biasa tajam langsung menusuk tulang-tulangnya. Bukan dingin karena angin gunung, melainkan dingin yang membawa hawa kematian pekat.

Bau kemenyan, dupa, dan anyir darah—kombinasi aroma yang kini terlalu akrab bagi Luna—menggantung pekat di udara, membuat paru-parunya protes setiap kali ia menarik napas.

Namun, di tengah himpitan energi gelap itu, ada sebuah kehangatan kecil yang menjaga kewarasan Luna. Di balik jaketnya, tepat di atas dadanya, ransel usangnya menyimpan bola cahaya biru yang terus berdenyut konstan. Energi Nando bertindak layaknya filter tak kasat mata, menyapu hawa mual yang mencoba meracuni pikiran Luna. Pria itu, meski dalam wujudnya yang paling lemah, tetap menepati janjinya sebagai pelindung.

Bertahanlah, Nando, batin Luna, meremas gagang Keris Pangruwat di tangan kanannya hingga buku-buku jarinya memutih. Aku akan menyelesaikan ini.

Luna berjalan menyusuri halaman depan pabrik yang dipenuhi puing-puing beton. Matanya waspada menyapu setiap sudut. Di kiri dan kanannya, terdapat deretan tungku-tungku raksasa pemanas nira tebu yang kini telah berkarat dan berlubang. Dari dalam lubang-lubang tungku itu, sepasang mata merah atau bayangan hitam sesekali mengintip, namun tak ada satu pun yang berani mendekat. Cahaya putih yang memancar samar dari Keris Pangruwat membuat entitas-entitas rendahan itu mendesis mundur.

"Keluarlah!" teriak Luna, suaranya menggema memantul di dinding-dinding bata tua. "Aku membawa apa yang kau cari!"

Hening. Hanya suara tetesan air dari atap yang jatuh menimpa genangan lumpur.

Luna terus melangkah masuk ke bangunan utama, sebuah aula raksasa tempat mesin-mesin penggiling tebu dulu beroperasi. Ruangan ini jauh lebih gelap. Sinar matahari senja nyaris tidak bisa menembus masuk. Luna menyalakan senter ponselnya dengan tangan kiri.

Saat cahaya senter menyapu ruangan, napas Luna tercekat.

Aula ini tidak kosong. Di sekeliling dinding ruangan, terdapat puluhan—mungkin ratusan—tengkorak manusia yang ditumpuk rapi membentuk semacam pilar-pilar mengerikan. Di antara tengkorak-tengkorak itu, terikat boneka-boneka jerami, kain kafan usang, dan kendi-kendi tanah liat yang ditutup kain merah. Ini bukan sekadar tempat pesembunyian; ini adalah sebuah mahakarya ilmu hitam, perpustakaan kutukan yang telah memakan ratusan nyawa selama puluhan tahun.

Dan di tengah-tengah aula raksasa itu, berdiri sebuah altar batu berbentuk bundar. Altar itu dialiri oleh parit kecil yang memancarkan bau anyir darah segar. Di atas altar, duduk bersila sesosok pria tua. Sangat tua, hingga kulitnya terlihat seperti kulit kayu jati yang mengering dan pecah-pecah.

Pria tua itu mengenakan kain hitam yang dililitkan di pinggangnya, membiarkan dada kurusnya yang dipenuhi tato rajah Jawa kuno terekspos. Matanya terpejam. Rambut putihnya panjang dan kusut masai, menyapu lantai altar yang bernoda darah.

"Akhirnya kau datang juga, Nak..."

Suara pria tua itu terdengar sangat pelan, namun entah bagaimana bergema langsung di dalam kepala Luna, seolah pria itu berbicara tanpa menggerakkan bibirnya. Nadanya serak, bergetar, dan dipenuhi oleh kejahatan murni yang telah mengendap bertahun-tahun.

Luna memundurkan kakinya setengah langkah, menyeimbangkan posisi tubuhnya. "Kau dukun yang disewa Bara. Kau yang mengikat nyawa Nando!"

Pria tua itu membuka matanya perlahan. Bola matanya sepenuhnya hitam kelam, tanpa bagian putih sama sekali. Ia tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang menghitam karena kunyahan sirih dan tembakau.

"Namaku Mbah Suro," ucapnya, kali ini suaranya keluar dari tenggorokannya, terdengar seperti gesekan batu kerikil. "Dan Bara... ah, anak muda yang ambisius itu. Sama persis seperti ayahnya belasan tahun yang lalu. Mereka adalah pelanggan setiaku. Selalu membawa upeti yang menggiurkan."

Mendengar Mbah Suro menyebut ayah Bara, amarah yang selama ini tertidur di dasar hati Luna kembali mendidih, membakar rasa takutnya menjadi abu.

"Kau yang mengirim monster itu ke rumahku," suara Luna berubah menjadi geraman rendah. Air mata kemarahan mulai menggenang, namun ia menolaknya jatuh. "Lima belas tahun yang lalu. Kau membunuh ayah dan ibuku karena ayahku menolak menutup mata atas kecurangan keluarga Bara!"

Mbah Suro memiringkan kepalanya sedikit, menatap Luna dengan pandangan menilai. Pandangannya menembus fisik Luna, membaca aura masa lalu yang menempel pada gadis itu. Senyum mengerikan kembali terkembang di wajah keriputnya.

"Ah... anak dari akuntan keras kepala itu," Mbah Suro terkekeh pelan. "Aku ingat sekarang. Malam itu hujan sangat deras. Perewangan-ku menikmati hidangannya, tapi dia melaporkan ada satu jiwa kecil yang lolos. Jiwa yang bersembunyi di dalam lemari. Siapa sangka, benih kecil yang dibiarkan hidup itu kini tumbuh dan berani menginjakkan kaki di altarku?"

Luna mengacungkan Keris Pangruwat tepat ke arah Mbah Suro. Ujung keris berkarat itu memancarkan cahaya putih yang semakin terang, merespons amarah pemiliknya. "Aku datang untuk mengakhiri semuanya. Lepaskan ikatan Nando, cabut kutukanmu, atau aku akan menghancurkan altarmu ini berkeping-keping!"

Mbah Suro tertawa. Tawa yang panjang, serak, dan memekakkan telinga. Ruangan raksasa itu seakan ikut bergetar bersama tawanya. Tengkorak-tengkorak di dinding bergemeletuk, seolah menertawakan kebodohan gadis manusia di depan mereka.

"Menghancurkan altarku?" ejek Mbah Suro, matanya yang hitam kelam menatap tajam ke arah ransel Luna. "Kau membawa pusaka tua milik Ki Ardi, dan kau membawa buhul berisi Rantai Sukma itu kemari. Kau pikir kau ini pahlawan? Kau hanyalah anak ayam yang mengantarkan dirimu sendiri ke sarang musang!"

Mbah Suro mengangkat tangan kanannya yang kurus kering. Kuku-kukunya yang hitam panjang menunjuk ke arah Luna.

"Kembalikan buhul itu padaku, Nak. Dan aku berjanji akan membunuhmu dengan cepat tanpa rasa sakit. Serahkan roh pria arogan yang bersembunyi di dadamu itu. Energinya sangat murni, itu akan menjadi santapan yang luar biasa untuk menyempurnakan keabadianku."

"Langkahi dulu mayatku," desis Luna tanpa ragu sedikit pun.

"Sesuai keinginanmu," bisik Mbah Suro.

Pria tua itu memukulkan telapak tangannya ke atas lantai altar batu yang bersimbah darah. DUAARR! Sebuah gelombang kejut energi hitam meledak dari altar tersebut, menyapu lantai aula hingga menerbangkan debu dan puing-puing.

Suhu ruangan merosot drastis. Cahaya senter ponsel Luna seketika padam. Dari dalam parit darah yang mengelilingi altar, asap hitam pekat mulai menguar dengan cepat, bergulung-gulung naik ke udara. Bau anyir darah dan daging busuk meledak memenuhi ruangan, membuat perut Luna melilit hebat.

Asap hitam itu berkumpul di tengah udara, perlahan memadat, membentuk sosok yang menghantui mimpi-mimpi Luna selama lima belas tahun terakhir.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Ikut terharu banget 😭😭juga bahagia, Luna pulih dan Nando udah siuman.
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍

Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
Ai Emy Ningrum: jabatan yg sangat krusial 😽😽😽 sampe2 melekat ,ga didunia nyata dan dunia gaib jg itu yg terngiang 😙😗
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!