NovelToon NovelToon
PEDANG ABADI:NAM LING

PEDANG ABADI:NAM LING

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:593
Nilai: 5
Nama Author: Keiro_ganteng

Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.

Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.

Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 – KEKUATAN BARU DAN TANDA BAHAYA BARU

Perjalanan pulang dari Gunung Gelap terasa berbeda dari sebelumnya. Meskipun jalanan masih berbatu dan berliku, udara yang dulu penuh dengan energi gelap kini perlahan kembali bersih, seolah alam sendiri sedang bernapas lega setelah beban berat diangkat dari pundaknya. Yue Xin berjalan di tengah rombongan, matanya masih memancarkan cahaya keemasan yang lembut—sisa dari kekuatan yang baru saja ia bangunkan. Ia tidak lagi terlihat seperti gadis ceria yang hanya pandai membuat hiasan atau menyajikan makanan; kini ia memancarkan aura seorang penjaga kuno yang memiliki tanggung jawab besar.

Nam Ling berjalan di sisinya, sesekali melirik dengan tatapan penuh perhatian. “Bagaimana perasaanmu, Yue Xin? Apakah energi itu masih terasa berat di dalam tubuhmu?” tanyanya pelan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar kecuali Liya yang berjalan tak jauh dari mereka.

Yue Xin mengangkat tangannya, melihat telapak tangannya yang bersinar samar saat ia memusatkan pikiran. “Awalnya rasanya seperti ada sungai besar yang ingin meluap dan menghancurkan segalanya, Nam Ling. Tapi saat aku berpikir tentang kalian, tentang aliansi, dan tentang apa yang ingin kulakukan dengan kekuatan ini, arus itu menjadi tenang. Seperti air yang menemukan jalannya ke laut. Kekuatan ini… rasanya seperti bagian dari diriku yang selama ini hilang dan baru saja ditemukan kembali.”

Liya tersenyum, menyentuh bahu Yue Xin dengan lembut. “Itu karena hatimu murni. Jika orang lain yang memiliki darah itu mendapatkannya dengan niat jahat, mungkin dunia ini sudah hancur. Tapi kamu menggunakannya untuk melindungi, itulah sebabnya alam semesta memberimu kendali penuh.”

Sesampainya di markas Aliansi Cahaya Sejati, sambutan yang menanti mereka bukan hanya sekadar ucapan selamat. Berita tentang keberhasilan menyelamatkan Yue Xin dan penemuan kekuatan baru telah menyebar lebih cepat daripada kedatangan mereka sendiri. Di gerbang utama, seluruh pemimpin sekte dan anggota aliansi telah berkumpul, bukan hanya untuk menyambut, tapi juga untuk menyaksikan bukti bahwa harapan baru telah lahir.

Namun, di tengah kegembiraan itu, ada satu orang yang memandang dengan pandangan berbeda. Elara, yang sejak tadi sibuk menganalisis data dan peta energi, tidak ikut bersorak. Wajahnya pucat dan tangannya menggenggam selembar kertas perkamen yang berisi garis-garis rumit dan simbol-simbol peringatan. Ia menunggu momen yang tepat, dan saat upacara penyambutan memasuki jeda, ia maju ke depan panggung.

“Maaf jika aku merusak suasana bahagia ini,” ucap Elara, suaranya tegas namun bergetar. “Tapi apa yang kita alami di Gunung Gelap bukanlah akhir dari bahaya. Itu hanyalah permulaan.”

Seluruh aula menjadi hening. Semua mata tertuju padanya. Elara membentangkan peta besar di atas meja batu. Peta itu menampilkan seluruh benua, dan di sana, terlihat titik-titik cahaya merah yang menyala menyebar bukan hanya di satu tempat, melainkan di lima lokasi berbeda yang jauh terpisah satu sama lain.

“Kita mengira Kultus Iblis Hitam hanya memiliki satu markas dan satu tujuan: membangunkan satu iblis kuno,” jelas Elara, jarinya menunjuk satu per satu titik merah. “Tapi kenyataannya jauh lebih mengerikan. Dari catatan yang aku temukan di gua mereka dan perbandingan dengan naskah kuno di perpustakaan, ternyata mereka memiliki cabang di seluruh dunia. Dan setiap cabang itu sedang mempersiapkan ritual yang sama. Mereka mencari tuan rumah atau sumber energi yang cocok untuk membangunkan lima Iblis Elemen yang berbeda.”

Suara gumaman khawatir terdengar di antara hadirin. Lira dari Sekte Gurun maju mendekat, alisnya berkerut tajam. “Maksudmu… jika kita gagal di satu tempat, atau jika mereka berhasil di tempat lain, dunia ini akan menghadapi lima iblis sekaligus?”

“Benar,” jawab Elara dengan berat hati. “Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, kekuatan yang baru saja bangun dalam diri Yue Xin adalah kuncinya. Energi yang dimilikinya adalah energi ‘Pembuka Gerbang’—energi yang bisa menghubungkan dimensi. Jika kultus itu menculiknya lagi, atau jika mereka menemukan orang lain dengan darah serupa, mereka bisa membangunkan kelima iblis itu secara bersamaan. Bahaya yang kita hadapi sekarang berskala dunia, bukan lagi sekadar wilayah.”

Nam Ling berdiri, memandang peta itu dengan tatapan tajam. Ia menyadari bahwa peranannya kini telah berubah. Ia bukan lagi sekadar pemimpin yang menyatukan sekte-sekte yang berseteru; ia kini adalah panglima perang yang harus melindungi dunia dari kepunahan.

“Maka rencana kita harus berubah,” ucap Nam Ling, suaranya menggema memenuhi aula. “Kita tidak bisa lagi bergerak sebagai satu kelompok besar yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Kita harus membagi kekuatan kita. Kita akan membentuk lima tim elit, masing-masing dipimpin oleh orang yang bisa dipercaya, untuk menjaga setiap titik bahaya yang ditunjukkan oleh Elara.”

Ia kemudian menatap ketujuh wanita yang selama ini berdiri di sisinya—wanita-wanita yang mencintainya dan yang juga memiliki kekuatan luar biasa. Kini, perasaan itu harus diubah menjadi strategi perang yang matang.

“Liya,” panggil Nam Ling. Wanita itu langsung menatapnya dengan mata penuh keyakinan. “Kamu memiliki energi es yang bisa membekukan aliran energi jahat. Aku menunjukmu memimpin Tim Utara. Bersama pasukan dari Sekte Pegunungan, kamu akan menjaga wilayah di mana Iblis Angin diperkirakan akan dibangkitkan.”

“Siap, Nam Ling. Aku tidak akan mengecewakanmu,” jawab Liya tegas.

“Elara,” Nam Ling beralih ke ahli strategi itu. “Kecerdasan dan pengetahuanmu adalah senjata terbesar kita. Kamu akan memimpin Tim Barat. Kerjasama dengan Sekte Valerius dan komunitas ilmuwan. Tugasmu bukan hanya bertarung, tapi juga memecahkan mantra-mantra mereka sebelum ritual selesai.”

Elara mengangguk hormat. “Aku sudah menyiapkan rencana cadangan untuk setiap kemungkinan, Pemimpin.”

“Lira,” Nam Ling menoleh ke putri gurun itu. “Kekuatan fisik dan kepemimpinan pasukanmu tak tertandingi. Kamu akan ke Tim Selatan, menghadapi kemungkinan munculnya Iblis Api. Pastikan mereka tidak bisa menyebarkan api penghancur ke desa-desa.”

Lira menepuk dada tempat senjatanya tersarung. “Biarkan aku yang mengurusnya. Mereka akan tahu rasa pedihnya pedang gurun.”

“Marina,” lanjut Nam Ling. “Kekuatan air dan koneksimu dengan laut serta sungai sangat penting. Kamu akan memimpin Tim Timur, menjaga garis pantai dan jalur air. Iblis Air adalah musuh yang licin dan sulit ditangkap; hanya kamu yang bisa menandinginya.”

Marina menunduk hormat. “Air bisa menjadi ombak yang menghantam atau sungai yang menuntun. Aku akan gunakan keduanya untuk kebaikan.”

“Serena,” Nam Ling menatap penyembuh dari hutan itu. “Kamu akan pergi ke wilayah tengah, tempat pusat kekuatan kultus diperkirakan berada. Tugasmu ganda: menyembuhkan yang terluka dan menggunakan koneksimu dengan alam untuk memutus aliran energi yang mereka gunakan untuk ritual.”

Serena menutup mata sejenak, mendengarkan bisikan alam, lalu membukanya kembali dengan tatapan tegas. “Alam akan membantuku. Akar pohon akan menjadi penjara bagi mereka.”

“Aurora,” akhirnya Nam Ling menoleh ke wanita yang bisa merasakan perubahan energi di udara. “Kamu akan menjadi mata dan telinga kita di langit. Kamu tidak terikat pada satu tim, tapi bergerak bebas mengikuti perubahan angin dan energi. Beritahu kami jika ada pergerakan musuh yang tidak terduga.”

Aurora tersenyum tipis, rambutnya seolah bergerak mengikuti angin imajiner. “Aku akan menjadi mata yang tidak pernah terpejam.”

Terakhir, matanya jatuh pada Yue Xin. Gadis itu menegakkan tubuh, siap menerima tugasnya.

“Yue Xin,” ucap Nam Ling lembut namun penuh berat. “Kamu adalah kunci dari segalanya. Energi yang kamu miliki bisa menjadi perisai terkuat atau senjata terbesar. Untuk saat ini, kamu akan tetap bersamaku di markas utama. Kita akan mempelajari cara mengendalikan dan memperkuat kekuatan itu agar suatu hari nanti, kamulah yang akan menjadi penentu kemenangan kita.”

Yue Xin mengangguk tegas. “Aku siap belajar, Nam Ling. Aku tidak akan membiarkan kekuatanku disalahgunakan lagi.”

Setelah pembagian tugas selesai, suasana di aula berubah menjadi serius dan penuh disiplin. Tidak ada lagi tempat untuk keraguan atau perasaan pribadi yang menghambat. Meskipun ketujuh wanita itu masih menyimpan perasaan cinta kepada Nam Ling, mereka menyadari bahwa cara terbaik untuk memenangkan hatinya—atau setidaknya, cara terbaik untuk membuktikan nilai diri—adalah dengan menjadi pelindung yang tangguh bagi dunia yang ia cintai. Persaingan yang dulu ada berubah menjadi semangat untuk saling melengkapi.

Malam itu, sebelum pasukan berangkat ke posisi masing-masing, mereka berkumpul di halaman utama di bawah langit berbintang. Nam Ling berdiri di tengah mereka, merasakan beban besar di pundaknya, namun juga merasakan kekuatan luar biasa dari orang-orang di sekitarnya.

“Kalian tahu perasaanku,” ucap Nam Ling pelan, hanya agar mereka bertujuh yang mendengar. Matanya menatap satu per satu wajah yang ia kenal dan cintai sebagai keluarga. “Hati ini memiliki tempat untuk kalian semua, tapi sebagai pemimpin, aku harus membagi perhatianku untuk seluruh dunia. Namun ketahuilah, setiap kemenangan yang kalian raih adalah kemenangan bagiku. Setiap luka yang kalian terima adalah luka yang juga kurasakan.”

Liya maju selangkah, menggenggam tangan Nam Ling sejenak. “Kami mengerti. Dan ketahuilah juga, di mana pun kami berada, pikiran kami akan selalu tertuju padamu dan pada kedamaian yang kita perjuangkan.”

Keesokan harinya, markas menjadi sibuk. Pasukan bergerak keluar menuju penjuru mata angin. Suasana perpisahan itu berat, namun penuh harapan. Nam Ling dan Yue Xin berdiri di menara pengawas, melihat kepergian mereka.

“Apakah kita akan berhasil, Nam Ling?” tanya Yue Xin pelan, merasa takut dengan besarnya tanggung jawab yang ada di pundak mereka.

Nam Ling menatap cakrawala yang mulai diterangi matahari pagi, di mana cahaya melawan kegelapan malam. Ia menggenggam gagang Pedang Pemersatu Dunia yang kini terasa lebih berat dan bermakna dari sebelumnya.

“Kita harus berhasil,” jawab Nam Ling dengan suara yang tak tergoyahkan. “Karena kita tidak berjuang sendirian. Kita berjuang bersama, dan cinta serta persatuan yang kita bangun adalah senjata yang tidak dimiliki oleh iblis mana pun.”

Di kejauhan, awan gelap mulai berkumpul di ufuk timur, menandakan badai perang yang akan segera datang. Namun kali ini, Aliansi Cahaya Sejati tidak lagi bersiap dengan ketakutan. Mereka bersiap dengan strategi, kekuatan, dan ikatan jiwa yang tak terputuskan. Babak baru dalam perjuangan ini telah dimulai, dan Nam Ling siap menulisnya dengan tinta kemenangan atau darah pengorbanan—apa pun yang diperlukan demi dunia ini.

1
Kaisar Abadi
bagus bagus
Kaisar Abadi
mampir bree😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!