NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tamu tak di undang

Seminggu setelah liburan di Danau Barat, kehidupan di kompleks militer kembali normal. Su Weiguo dan Su Jianguo telah kembali ke asrama masing-masing, berjanji akan pulang lagi saat liburan musim panas tiba. Su Weimin sibuk dengan sekolah dan teman-temannya, meski setiap pulang ia selalu menyempatkan diri main ke kamar Jinyu, entah untuk pamer mainan baru, cerita tentang gurunya yang galak, atau sekadar mengajak ngobrol.

Jinyu sendiri menikmati rutinitasnya. Pagi membantu Ibu Liu di dapur, siang membaca buku-buku pemberian Weiguo dan Jianguo, sore kadang pergi ke gunung bertemu burung-burung pipitnya. Ia sudah hafal gosip terbaru di kompleks: siapa yang istrinya cemburuan, siapa yang anaknya nakal, siapa yang diam-diam menabung untuk beli sepeda baru.

Hari itu, Selasa pagi, Udara cerah, matahari bersinar hangat. Ibu Liu sedang menjemur pakaian di halaman belakang, sementara Jinyu duduk di teras depan membaca buku-buku materi SMA pemberian Weiguo. Ia membalik halaman demi halaman dengan cepat, matanya menyapu rumus-rumus yang baginya sangat sederhana.

"Semoga saja tidak ketemu pelajaran sejarah," gumamnya pelan sambil membalik halaman. "Aku muak dengan hafalan tahun dan nama."

Dari dalam dimensi, suara Yoyo terdengar.

Shshsss~ "Aku dengar itu, Jinyu."

Jinyu tak mengubah ekspresi wajahnya, tetap tenang membaca. Tapi dalam hati ia mendengus. Dasar ular kepo.

Shshsss~ "Kamu pikir gumam pelan gak kedengaran? Aku di dimensi tapi koneksi kita jelas. Bilang aja kamu benci sejarah."

Jinyu tetap diam, berpura-pura tak dengar.

Shshsss~ "Ah, pura-pura sibuk. Padahal buku itu udah kamu baca dua kali lipat kecepatan orang normal."

Jinyu memutar mata dalam hati. Yoyo, nanti aku kunci di dimensi seminggu.

Shshsss~ "Coba aja. Nanti aku cerita ke Ibu Liu kalau kamu bisa ngomong sama ular."

Kamu...!

Shshsss~ "Hehehe."

Jinyu menghela napas, pasrah. Setidaknya Yoyo hanya bisa mengganggu lewat pikiran. Tak ada yang bisa melihatnya.

Suasana damai itu pecah menjelang sore.

Seorang penjaga gerbang datang ke rumah, melapor pada Su Yichen yang kebetulan sudah pulang lebih awal. "Komandan, ada yang ingin bertemu. Mengaku keluarga dari putri Komandan."

Su Yichen mengernyit. "Keluarga Jinyu?"

"Iya, Komandan. Seorang wanita gemuk, pria kurus, dan seorang gadis kecil. Mengaku orang tua angkat dan adik angkatnya."

Dari ruang tamu, Jinyu yang sedang minum teh langsung meletakkan cangkirnya. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya—matanya yang keemasan itu—menyala dengan sesuatu yang dingin.

Ibu Liu yang mendengar dari dapur segera keluar, apron masih terikat di pinggang. "Mereka datang? Untuk apa?"

Su Yichen menatap Jinyu. "Nak, kamu mau terima mereka?"

Jinyu tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat. "Biarkan mereka masuk, Ayah. Aku ingin lihat wajah mereka."

Keluarga Wang masuk dengan langkah gontai. Ibu Wang masih sama seperti dulu: gemuk, sombong, dengan mata yang selalu menyipit curiga. Bapak Wang lebih kusut dari sebelumnya, pakaiannya lusuh, matanya sayu. Xiaohua kini 5 tahun menggenggam erat rok ibunya, wajahnya masih sama dengan senyum palsu yang dulu Jinyu kenali.

"Wah, rumah bagus sekali!" seru Ibu Wang pura-pura kagum, matanya jelalatan ke perabotan. "Benar-benar beruntung anakku tinggal di sini."

Su Yichen duduk di kursi utama, wajahnya tegas. Ibu Liu duduk di sampingnya, tangan sedikit gemetar tapi berusaha tenang. Jinyu duduk di kursi kecil di samping Ibu Liu, sementara Weimin yang kebetulan sudah pulang sekolah berdiri di belakang kursi Jinyu dengan tatapan curiga.

"Anakmu?" Su Yichen mengulang kata itu dengan nada dingin. "Jinyu adalah anakku, Ibu Wang. Secara sah, terdaftar di catatan keluarga Su."

Ibu Wang tersenyum canggung. "Maksud saya, anak angkat kami dulu. Tentu, tentu, sekarang beliau anak Komandan. Kami hanya... ingin bersilaturahmi. Merindukan dia."

"Merindukan?" Ibu Liu tak bisa menahan diri. "Kau usir dia di tengah musim dingin, nyaris mati kedinginan, dan sekarang kau bilang merindukan?"

Ibu Wang memasang muka sedih—pura-pura. "Ah, Ibu Liu, itu semua salah paham. Waktu itu saya sedang emosi. Anak kandung saya baru pulang, saya pusing. Tapi begitu sadar, saya cari dia, tak ketemu. Syukurlah Komandan Su menemukannya."

Bohong, pikir Jinyu. Kalau benar cari, pasti sudah dari dulu.

Bapak Wang yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. Suaranya serak, lemah. "Kami... hanya ingin lihat dia baik-baik. Itu saja."

Jinyu mengamati mereka. Bapak Wang terlihat tulus mungkin memang menyesal. Tapi Ibu Wang? Matanya berkilat licik, tangannya gelisah meremas ujung bajunya. Ada maksud lain.

"Baiklah, kalian sudah lihat dia," kata Su Yichen tegas. "Sekarang silakan pulang."

"Tapi Komandan..." Ibu Wang ragu, lalu pura-pura terisak. "Kami... sebenarnya... ada perlu."

Nah, mulai, pikir Jinyu.

"Kami sedang kesulitan," lanjut Ibu Wang. "Suami saya sakit, usaha kecil kami bangkrut. Utang di mana-mana. Kami... kami hanya ingin pinjam sedikit. Untuk makan sehari-hari."

Ibu Liu mengeratkan genggaman tangannya. Su Yichen diam, wajahnya tak terbaca.

"Berapa?" tawar Ibu Wang ragu. "Mungkin... lima puluh yuan?"

Lima puluh yuan di tahun 1963 adalah jumlah besar. Bisa untuk makan satu keluarga kecil selama dua bulan.

Su Yichen menatap Jinyu. Putri kecil itu masih duduk tenang, wajahnya tanpa ekspresi. Lalu Jinyu berdiri, berjalan pelan mendekati Ibu Wang.

"Ibu Wang," panggilnya lembut. Suaranya manis, seperti anak baik-baik.

Ibu Wang tersenyum, mengulurkan tangan ingin mengelusnya. "Ya, Nak?"

Jinyu menghindar dengan halus. "Ibu Wang, apa kabar simpanan rahasia Ibu di pasar gelap?"

Wajah Ibu Wang membeku.

"Simpanan?" ulang Su Yichen tajam.

Jinyu tersenyum manis. "Iya, Ayah. Ibu Wang punya dagangan tekstil ilegal yang dijual tanpa izin. Lumayan untungnya, katanya. Tapi sayang, akhir-akhir ini sering digrebek polisi ekonomi, jadi merugi."

Ibu Wang pucat. "A-apa? Kau... dari mana kau tahu?"

Jinyu tak menjawab. Ia menoleh pada Bapak Wang. "Bapak Wang, apa Ibu Wang sudah tahu kalau Bapak punya anak dari wanita lain di desa sebelah? Bayi laki-laki, umurnya baru setahun. Ibu Wang pasti senang punya saudara tiri untuk Xiaohua."

Bapak Wang tersentak, wajahnya berubah abu-abu. Xiaohua mengernyit bingung. Ibu Wang sudah berdiri, wajahnya merah padam.

"KAU!" teriaknya pada suaminya. "KAU SELINGKUH?!"

"S-sayang, dengar dulu—"

"DIAM! JADI UANG YANG KAU BILANG HILANG ITU BUAT PEREMPUAN LAIN?!"

Xiaohua mulai menangis—kali ini tangis sungguhan. Ibu Wang meraih suaminya, mencakar-cakar. Bapak Wang berusaha menghindar. Rumah keluarga Su yang tadinya tenang mendadak jadi arena perkelahian.

Su Yichen berdiri, suara lantangnya menghentikan mereka. "DIAM!"

Semua membeku. Su Yichen menatap keluarga Wang dengan jijik.

"Aku tidak tahu urusan kalian, dan aku tidak peduli. Yang jelas, kalian datang ke rumahku, mengemis, dan ternyata penuh kebohongan. Keluar."

Ibu Wang masih berusaha. "Tapi Komandan—"

"KELUAR!" Suara Su Yichen menggema. Para penjaga yang sejak tadi berjaga di luar masuk, siap mengawal.

Keluarga Wang digiring keluar dengan paksa. Ibu Wang masih berteriak-teriak menuduh suaminya, Bapak Wang hanya tertunduk lesu, Xiaohua menangis histeris.

Pintu tertutup. Hening.

Ibu Liu langsung memeluk Jinyu erat. "Nak... kamu tahu semua itu dari mana?"

Jinyu diam sejenak. Ia bisa bilang dari burung pipit—tapi itu terlalu aneh. Mungkin...

"Aku dengar mereka ngobrol dulu, Bu. Waktu masih tinggal di sana. Ibu Wang suka bicara keras kalau marah."

Alasan yang masuk akal. Ibu Liu menghela napas, percaya.

Weimin yang sejak tadi diam, kini mendekat. "Yuyu, kamu hebat! Mereka kalah telak!"

Jinyu tersenyum tipis. "Mereka memang pantas dapat balasan."

Su Yichen mengelus kepala Jinyu. "Kamu anak pemberani. Tapi lain kali, biarkan Ayah yang urus. Kamu masih kecil."

Jinyu mengangguk patuh. Dalam hati, ia berpikir, Ayah, kalau tahu apa yang kulakukan pada lima preman di gang dulu, pasti Ayah kaget.

Malam harinya, setelah makan malam, Su Yichen memanggil Jinyu ke ruang kerjanya. Ruangan kecil itu penuh buku dan peta militer. Su Yichen duduk di kursi, Jinyu duduk di depannya.

"Jinyu," panggilnya lembut. "Ada yang ingin Ayah tanyakan."

"Iya, Ayah."

"Kamu... anak istimewa. Ayah tahu itu. Tapi tolong ingat, apa pun kemampuanmu, kamu tetap anak kecil. Jangan terlalu memikirkan hal-hal orang dewasa. Nikmati masa kecilmu."

Jinyu menatapnya. Pria ini sungguh peduli. Bukan karena ingin memanfaatkan, tapi benar-benar peduli.

"Ayah, aku janji akan menikmati masa kecil."

"Gadis pintar, kamu tidak perlu sedih karena kamu punya keluarga su mulai sekarang. Kamu bisa memanfaatkan kesukaan mu lebih dahulu"

"Baik ayah, terimakasih sudah menerima ku dengan baik"

Su Yichen tersenyum. "Bagus. Sekarang, mau Ayah bacakan cerita sebelum tidur?"

Jinyu terkejut. "Cerita?"

"Iya. Ayah dulu sering bacakan cerita untuk kakak-kakakmu. Sekarang giliran kamu."

Jinyu tak tahu harus berkata apa. Di dunia akhir zaman, tak ada yang bacakan cerita. Yang ada hanya rapat strategi dan laporan pertempuran.

Ia mengangguk pelan. "Mau, Ayah."

Malam itu, Su Yichen membacakan cerita rakyat China tentang seorang gadis pemberani yang menolong keluarganya. Jinyu mendengarkan dengan saksama, sesekali tersenyum kecil.

Saat Su Yichen keluar, Yoyo muncul.

Shshsss~ "Kau suka, ya?"

Jinyu tak menjawab, tapi sudut bibirnya

terangkat.

Shshsss~ "Ratu iblis didongengin ayah angkat. Ck ck ck."

"Diam, dasar ular."

Yoyo hanya terkekeh dan kembali ke dalam dimensi nya.

Tapi tak ada kesal dalam suaranya. Jinyu menarik selimutnya dan tidur. Hangat, pikirnya.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!